5 Kiat Tingkatkan SR dan Persingkat Waktu Budidaya Kakap Putih

Sebagai komoditas marikultur yang sedang naik daun, kakap putih (Lates calcalifer Bloch) digalakkan budidayanya di berbagai tempat. Bukan tanpa aral, budidaya di laut dengan KJA pun terimbas kualitas air laut (carrying capacity) yang mulai turun. Bagaimana menyikapinya?
Kondisi sebagian besar perairan laut saat ini sudah mengalami degradasi lingkungan. Salah satu penyebabnya adalah keberadaan kegiatan rumah tangga dan industri yang limbahnya mengarah ke perairan laut. Demikian ungkap Sahidan Muhlis, S.Pi. MP, Koordinator Keramba Jaring Apung Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL) Batam Jembatan III Pulau Setoko- Batam, Provinsi Kepulauan Riau
“Sementara permintaan ikan kakap putih ukuran konsumi, 500—700 g, di Kepulauan Riau—khususnya di Pulau Batam—saat ini mengalami kenaikan yang pesat. Kondisi tersebut memberikan peluang yang besar kepada pembudidaya untuk memenuhi kebutuhan pasar ikan kakap putih melalui usaha pembesaran ikan kakap putih di keramba jaring apung,” ujarnya.
Menimbang fakta tersebut, BPBL Batam melakukan kegiatan uji perbaikan teknologi pembesaran ikan kakap putih di KJA. Hasilnya?
“Jika dibandingkan, pada pemeliharaan di KJA sebelumnya, angka kelulusan hidup jarang mencapai angka 50% dan waktu panen yang dibutuhkan biasanya berkisar 7—8 bulan. Dengan perbaikan teknologi ini, tingkat kelulusan hidup mencapai 80% dan waktu pemeliharaan bisa dipersingkat menjadi 6 bulan. Terdapat efisiensi dalam produksi pembesaran ikan kakap putih di KJA. Dengan begitu, peningkatan produksi tersebut juga akan berdampak terhadap penghasilan pembudidaya,” ungkap Sahidan.
Ada 5 perlakuan yang diberikan sepanjang kegiatan uji perbaikan teknologi pembesaran ini, yaitu: ukuran benih saat tebar, vaksinasi sebelum penebaran, padat tebar, penambahan suplemen dalam pakan, serta pencegahan penyakit.
Perhatikan ukuran benih saat tebar
Sebelum penebaran benih, terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan. Idealnya, benih berasal dari panti benih (hatchery). Ukuran benih tebar sebaiknya lebih dari 10 cm atau berbobot 15—20 g. Beberapa keunggulan benih dari panti benih yaitu berukuran seragam dan kualitas serta kuantitasnya terjaga. Sementara benih hasil tangkapan alam mempunyai banyak kelemahan, di antaranya: ukuran sering tidak seragam, jumlah dan waktunya tidak dapat ditentukan, dan sering terdapat luka akibat penangkapan atau transportasi.
Aplikasikan vaksin sebelum penebaran
Biasanya, bakteri yang sering menyerang ikan kakap putih adalah bakteri streptococcus dan bakteri vibrio. Oleh sebab itu, vaksinasi mutlak dilakukan terhadap benih ikan kakap putih untuk mencegah serangan bakteri patogen tersebut. Aplikasi vaksin dapat diberikan dengan cara penyuntikan terhadap benih ikan kakap putih yang sudah berukuran lebih dari 10 cm.

Selanjutnya Baca di Majalah Info Akuakultur

Incoming search terms:

  • pakan tambahan udang vaname

1 Comment on 5 Kiat Tingkatkan SR dan Persingkat Waktu Budidaya Kakap Putih

  1. Apa perbedaan kakap putih dan merah?

Leave a comment

Your email address will not be published.

*



Artikel menarikclose