Atur Pola Pemberian Pakan, Raih Hasil Optimal

saat akan memberikan pakan

Untuk mencapai hasil yang optimal, pemberian pakan pada udang perlu memperhatikan aspek-aspek yang terkait dengan teknologi budidaya yang digunakan, umur dan ukuran udang, dan kondisi lingkungan yang ada.

Agar pakan dapat dimanfaatkan secara efisien bagi pertumbuhan udang secara optimum, pakan yang diberikan harus berkualitas baik. Menurut Ketua Kelompok Peneliti Nutrisi, Balai Riset Budidaya Air Payau dan Penyuluhan Perikanan, Maros, Sulawesi Selatan, Usman, faktor penentu kualitas tersebut antara lain kandungan nutrisi yang seimbang (makro dan mikro nutrient, misalnya asam amino dan asam lemak essensial, kolesterol, fosfolipid, vitamin, mineral, carotenoid,  serta energi), memiliki nilai kecernaan yang tinggi, daya atraktan tinggi serta water stability yang baik. Di samping itu, pakan yang akan diberikan tidak boleh disimpan terlalu lama. Agar kandungan nutrisinya tidak rusak, penyimpanan pakan tidak boleh melebihi 3 bulan sejak diproduksi. Tempat penyimpanan pakan yang baik di antaranya tidak kena matahari langsung, kering dan suhunya tidak panas (<30oC).

Menurut Usman, pemberian pakan juga perlu memperhatikan aspek efisiensi dan kelestarian lingkungan. Untuk itu, sebaiknya pakan diberikan tidak sampai 100% ikan kenyang. Pasalnya, ketika udang sudah benar-benar kenyang, pasti ada pakan yang tersisa sehingga dapat menjadi limbah yang mencemari lingkungan. Di samping itu, tingkat kecernaan pakan juga cenderung menurun ketika kondisi udang kenyang. Namun cara makan udang yang lambat dan habitanya banyak di dasar tambak menyebabkan sangat sulit memantau tingkat kekenyangannya. Hal ini berbeda dengan ikan yang dapat langsung diamati ketika diberi pakan karena dapat langsung dipantau. Oleh karena itu, pemberian pakan pada udang hanya didasarkan atas persentase dari total biomassanya dan sangat diperlukan pemasangan anco (tray pakan) yang cukup di tambak. Idealnya, setiap hektar lahan tambak dipasang anco sebanyak 6 hingga 8 buah.

 

Akibat pemberian pakan berlebih

Lebih lanjut Usman menuturkan, pola pemberian pakan akan berpengaruh terhadap tingkat konsumsi pakan oleh udang. Dalam arti bahwa jika dosis dan frekuensi pemberian pakannya kurang, maka tingkat konsumsi pakannya akan rendah (pertumbuhan lambat). Tetapi jika dosis pemberian pakannya tinggi, maka udang akan memakan pakan sampai kenyang (tetapi akan ada sisa pakan yang tidak termakan). Pemberian pakan berlebih akan menyebabkan paling tidak dua kerugian yaitu merusak kualitas air, menaikkan rasio konversi pakan. Sehingga menyebabkan biaya untuk pakan membengkak. Penumpukan pakan yang tidak termakan dapat merusak kualitas air dan dasar tambak. Sehingga secara tidak langsung akan menurunkan nafsu makan dan kesehatan udang.

Agar proses pemberian pakan memberikan hasil yang optimum, maka perlu adanya peralatan yang dapat menjamin kualitas air selalu dalam kondisi optimum, antara lain kincir atau sejenisnya, pompa, dan alat pengukur kualitas air. Selanjutnya, memberi pakan secara tepat sesuai dosis dan waktu (frekuensi), dan memonitor nafsu makan udang setiap waktu pemberian pakan (memasang anco, sekitar 6-8 buah/ha). Jika pakan tersisa, takaran perlu dikurangi. Akan tetapi, jika kebalikannya, pakan cepat habis, takaran atau jumlah pakan perlu ditambah. Seperti yang dituturkan oleh Usman, berikut ini adalah acuan umum dalam pengelolaan pakan untuk udang yang dibudidayakan secara semi intensif  dan intensif. Pola pemberian pakan juga perlu mempertimbangkan sifat udang yang lambat makan, dan lebih aktif pada malam hari, terutama udang windu. menghindari nutrient pakan banyak tercuci dalam air (larut), lama waktu pakan tercerna dalam usus udang, sifat udang yang banyak aktif pada waktu malam hari (khususnya udang windu), dan keberadaan pakan alami di dalam tambak.

Selanjutnya Baca di majalah Info akuakultur

Leave a comment

Your email address will not be published.

*



Artikel menarikclose