Benur Berkualitas Tentukan Suksesnya Budidaya

Memilih benur berkualitas adalah langkah awal menuju suksesnya budidaya udang

Teliti dalam memilih benur yang akan dipakai tentu menjadi sebuah kewajiban jika ingin memulai usaha budidaya udang vaname, baik secara tradisional apalagi dengan sistem intensif dan supra intensif.

Sukses budidaya udang vaname sangat erat kaitannya dengan 3 komponen penting yakni kualitas air yang terjaga, manajemen pakan yang baik dan benur pemilihan yang berkualitas. Benur yang bermutu dapat dilihat apakah bisa sampai panen (size besar), bisa tahan terhadap penyakit, seragam atau tidak memiliki ukuran yang berbeda (blantik), serta pertumbuhan yang cepat.

Pengawas Perikanan Muda Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Takalar, Guno Gumelar mengatakan, di Indonesia sendiri ada beberapa jenis strain benur unggulan yang beredar di pasaran. Seperti benur F1, asal induk impor yang banyak digunakan pada tambak intensif memiliki pertumbuhan cepat (ADG dapat mencapai 0,3-0,4), seragam (80-90%) dan SPF.

Kemudian ada benur Vaname Nusantara (VN) yang digunakan mulai dari budidaya jenis tradisional sampai intensif. Kelulushidupan cukup bagus namun ADG masih kalah dengan F1, aman dari penyakit karena sudah SPF.

Lalu ada benur F2/Jumper, benur hasil Hacthery Skala Rumah Tangga (HSRT) yang induknya diambil dari hasil budidaya tambak masyarakat, digunakan untuk budidaya udang tradisional, harga murah dan ukuran cukup seragam.

“Pembenihan vaname sudah sangat massal di Indonesia, meski belum ada data pastinya jika melihat kebutuhan benur pertahun di pasaran, maka panti benih dapat menghasilkan lebih dari 40 milyar benur pertahun” ujar Guno.

Untuk terus menggenjot produksi budidaya udang vaname di Indonesia, belum lama ini Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melaluli Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) mengumumkan membangun Naupli Center Udang Vaname di Jepara yang berkapasitas sekitar 450 juta ekor pertahun.

Direktur DJPB Slamet Soebjakto mengatakan, Naupli Center ini merupakan bagian upaya untuk membangun sistem logistik benih yang lebih tertata dan terintegrasi. Selama ini menurut Slamet mata rantai benih kurang tertata dengan baik dan masih bersifat parsial, dampaknya ketersediaan benur seringkali tersendat dan kualitas benur juga sulit dikontrol.

Pentingnya membangun mata rantai proses produksi secara terintegrasi. Untuk itu, DJPB tengah menata sistem logistik perbenihan melalui pembangunan naupli center yang ke depannya diharapkan akan menjangkau sentral-sentral produksi udang.

Mekanismenya menurut Slamet, UPT seperti BBPBAP Jepara yang akan memproduksi Nauplius udang berkualitas, dan HSRT/panti benih masyarakat tinggal beli nauplius tersebut untuk dibesarkan sampai ukuran siap tebar di tambak.

“Naupli center ini nantinya akan terkoneksi dengan panti benih/ HSRT milik masyarakat disentral-sentral produksi budidaya udang. Melalui naupli center ini, akan ada jaminan kualitas benur yang dihasilkan, disisi lain keberadaan naupli center ini juga akan memicu segmen usaha HSRT semakin bergairah. Paling penting adalah, para pembudidaya udang tidak harus repot-repot mendatangkan benur dari luar daerah,” jelas Slamet.

Slamet berharap pembangunan naupli center BBPBAP Jepara ini akan mampu mensuplai kebutuhan benur berkualitas, sekaligus sebagai embrio bagi pembangunan naupli center lainnya di daerah lain, dengan demikian ketersediaan benur bermutu akan mampu terpenuhi di seluruh Indonesia.

Selanjutnya Baca di Majalah Info Akuakultur

Leave a comment

Your email address will not be published.

*



Artikel menarikclose