Bogor Jadi Kiblat Minapolitan

Bogor jadikan Minapolitan sebagi sarana mensejahterahkan masyarakat

Kota yang dikenal dengan Kota Hujan ini sukses menjadi juara nasional Minapolitan pada tahun 2015. Tidak hanya itu, kini Bogor menjadi salah satu kota penghasil komoditi budidaya air tawar terbesar di Indonesia. Lantas apa kunci Bogor bisa menjadi yang terdepan dalam urusan penghasil komoditi perikanan budidaya?

Menurut Kepala Bidang Produksi Perikanan Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Bogor Deden Sukmaaji, hal paling dasar yang dimiliki Bogor dan Jawa Barat adalah anugerah dari Allah SWT diberikan tanah dan air yang baik.

Selain itu, tambah Deden, yang menyebabkan berhasilnya Bogor menjadi juara nasional Minapolitan yang pertama adalah letak geografis, karena Bogor sangat berdekatan dengan Jakarta yang menjadi pusat ekonomi dan pasar se-Indonesia sebagai lokomotif usaha.

“Dari situ sehingga pasar sangat terbuka, ketika pasar terbuka satu digit maka budidaya akan meningkat tiga digit, permintaan komoditi akan meningkat,” jelasnya.

Kemudian yang menjadikan Bogor begitu solid adalah peran pemimpin daerah yang komitmen. Bupati sangat menginginkan Kabupaten Bogor tetap dijadikan sebagai sentra agribisnis. Walaupun kota penyanggah Jakarta, seperti halnya Tangerang dan Bekasi yang lebih menjadi kota industri, Bogor tetap berkomitmen menjadi sentra agribisnis.

Komitmen tersebut terlihat dari dikeluarkannya peraturan Bupati tentang revitalisasi pertanian. Di dalam revitalisasi pertanian itu, di dalamnya juga membahas mengenai perikanan.

Selain itu, di dalam peraturan Bupati tersebut mencakup ketahanan pangan, kelembagaan pertanian secara umum, kemudian komoditas unggulan. Kebijakan inilah yang membuat pertanian lingkup pertanian menjadi lebih maju karena dibagi zona-zona.

Misal dari 40 kecamatan itu dibagi menjadi 8 zona, seperti zona 1 terdiri dari 5 kecamatan itu komoditas ikan nila, yang harus dibangkitkan mulai dari nila, gurame, kemudian ada satu lagi one village one product.

“Satu kecamatan harus memiliki komoditas unggulan, dari situlah ketahuan bahwa di kecamatan A potensi ikan lele lebih banyak dari yang lain,” ujar Deden.

Dari kebijakan tersebut dapat terlihat potensi di setiap kecamatan. Deden menjelaskan, seperti halnya di Kecamatan Ciseeng yang memiliki potensi ikan lelenya luar biasa, berdasarkan potensi yang ada, kemudian dilihat dari masyarakatnya ternyata di sana usaha perikanan sudah menjadi usaha pokok masyarakatnya.

Dari situ, kata Deden, dilihatlah usaha pokok yang terbesar ternyata di 4 kecamatan tersebut yang masyarakatnya menjadikan perikanannya sebagai usaha pokok, disitulah penentuan kawasan Minapolitan.

Sehingga Minapolitan di Kabupaten Bogor dari mulai payung hukumnya, potensinya, pasarnya, komoditasnya, dan masyarakatnya jelas yang menjadikan perikanan sebagai usaha pokok.

“Sehingga pemerintah hanya memberikan motivasi dan fasilitasi kepada masyarakat supaya usahanya lebih maju, bagi kami ketika komitmen program Minapolitan ini pimpinan daerahnya sudah ada, program dari pemerintah pusat untuk minapolitan ada, masyarakatnya mendukung, jadi saling bersinergi,” terangnya.

Selanjutnya Baca di Majalah Info Akuakultur

Leave a comment

Your email address will not be published.

*



Artikel menarikclose