Budidaya Krustasea, Lebih produktif dengan Apartemen

Sektor perikanan budidaya merupakan andalan sector perikanan nasional. Hal ini mengingat, produksi akuakultur terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Sebagai gambaran, di tahun 2014, produksi akuakultur sebesar 16,8 juta ton dan meningkat menjadi 17,9 juta ton pada tahun 2015. Pada tahun 2016 produksi akuakultur Indonesia diperkirakan mencapai  19,5 juta ton atau meningkat 8,93 %.

 

Salah satu andalan sektor perikanan budidaya di antaranya adalah produk dari krustacea, misalnya udang air payau, udang laut, lobster, dan kepiting. Biota golongan Krustasea/Crustacea (hewan yang berkulit keras dan beruas) sangat bergantung pada ekosistem laut, payau maupun air tawar. Udang laut (Penaeus, Metapenaeus), kepiting bakau (Scylla), dan rajungan (Portunus, Charybdis, Thalamita) bergantung pada ekosistem mangrove, lamun, dan estuaria. Sedangkan lobster (Panulirus) dan udang kipas (Thenus) bergantung pada terumbu karang.

 

Namun ekosistem-ekosistem tersebut mengalami kerusakan yang terus berlangsung karena berbagai aktivitas manusia. Kerusakan tersebut menyebabkan menurunnya fungsi ekosistem dalam mendukung stok sumber daya perikanan laut. Kerusakan ekosistem-ekosistem pesisir tersebut juga mengancam kehidupan kota dan desa di pesisir dan pulau, berupa ancaman tenggelamnya pesisir dan pulau-pulau.

 

Akibat dari kerusakan ekosistem aslinya, berkembanglah sistem budidaya, baik untuk air tawar (akuakultur), air payau maupun air laut (marikultur). Di beberapa negara, marikultur bertujuan di samping untuk mencukupi kebutuhan pangan, juga untuk konservasi lingkungan. Sebagai contoh, di AS peternakan laut bertujuan untuk memperbaiki perairan pantai yang kritis dan untuk memenuhi kebutuhan permintaan makanan dari laut, di mana pengembangannya diawali dengan pengembangan teknik pembenihan, perbaikan habitat, dan teknik penebaran benih (Westley et al., 1989).

 

Untuk menjaga kestabilan stok perikanan, dapat juga diterapkan peternakan laut dalam bentuk reservat buatan. suatu wadah pemeliharaan, misalnya KJA (keramba jaring apung), ditempatkan pada lokasi yang cocok kemudian induk-induk ikan dipelihara di dalamnya. Benih yang dihasilkan dari pemijahan induk di dalam KJA langsung menjadi bagian biota untuk peningkatan stok ikan di alam (stock enhancement). Penelitian Ismail et al. (1998) dengan menggunakan kerapu lumpur (Epinephelus suillus) dan kakap mata kucing (Psammoperca waigiensis) menunjukkan bahwa cara ini dapat meningkatkan jumlah tangkapan nelayan.

 Selanjutnya Baca di Majalah Infoakuakultur 

Incoming search terms:

  • budidaya crustacea
  • budidaya klustacea
  • ternak udang sistem apartemen
  • jumlah produksi budidaya krustacea
  • info apartemen majalah
  • desain sarana marikultur crustacea
  • contoh biota marikultur
  • budidaya sistem apartemen
  • budidaya krustasea
  • budidaya krustacea

Leave a comment

Your email address will not be published.

*



Artikel menarikclose