Budidaya Udang di Bak Beton

panen perdana udang

Pertumbuhan cepat, mudah di kontrol, dan penggunaan padat tebar tinggi, budidaya udang di bak beton bisa jadi solusi terbatasnya lahan budidaya.

 

Di era yang serba praktis saat ini, melakukan usaha budidaya udang tidak melulu dilakukan ditambak-tambak konvensional. Akibat permintaan pasar akan udang, seperti di Ambon misalnya, karena keterbatasan lahan BPBL Ambon berupaya melakukan uji coba budidaya udang vaname di bak beton bulat.

 

Koordinator Divisi Produksi benih, Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL) Ambon, Heru Salamet mengatakan, di pasaran permintaan udang di Ambon cukup tinggi karena dengan adanya kebijakan pelarangan trowl, jadi pasokan di alam kurang sehingga potensi budidaya cukup menjajikan.

 

“Awalnya bak bulat beton ini sebagai tempat pemeliharaan induk-induk ikan laut dan sekarang digunakan untuk budidaya udang vaname, bahkan kita sudah dua kali panen”, ujar Heru.

 

Bak beton yang digunakan sebagai tempat pemeliharaan udang vaname memiliki kapasitas 30 dan 300 ton. BPBL Ambon manfaatkan bak bekas induk ikan, dengan kedalaman 2,5 meter serta diameter 10 meter dengan padat tebarnya 500/ m2, masa pemeliharaan 85 hari, bisa mendapatkan size 80.

 

Mengenai kelebihan budidaya di bak beton bulat, kata Heru, lebih cepat pertumbuhan, mudah di kontrol, penggunaan padat tebar tinggi. Namun ada kekurangannya seperti kontrol oksigen dan air harus lebih banyak dan kualitas air terutama kandungan oksigen diatas 4 mg/l amoniak dibawah 0,02, nitrit dibawah 0,02.

 

Selain itu suplay pakan juga minimal 40% kandungan proteinnya, untuk di bak beton pengontrolan lebih detil dari hal pemberian pakannya juga airnya bisa kontrol langsung.

 

Pemberian pakan sehari 5-7 kali /hari, caranya lihat anco untuk mengecek jika kurang bisa diberi pakan lagi. Jadi setiap 2 jam diberi pakan atau tergantung kondisinya. Pakan yang ada di anco berkisar 1-2% dari total yang diberikan.

 

Heru menyarankan, dalam budidaya udang di bak beton yang penting selalu menjaga kualitas air, DO minimal 4, amoniak nitrit rendah, juga pakannya diperhatikan. Selama masa pemeliharaan di dapat survival rate (SR) 50-60 %, tapi masih bisa tingkatkan sampai 80 %.

 

Dari situ, tambah Heru, akan selalu ada perbaikan-perbaikan, seperti kualitas air dari oksigennya akan dinaikan lagi. Sebelumnya oksigen terlarut (DO) masih di 3-4 ppm, karena pada bak beton belum menggunakan kincir dan masih pakai aerasi serta blower untuk oksigen di dalam airnya, untuk penebaran berikutnya direncanakan akan menggunakan kincir.

 

Saat ini sudah ada perbaikan bisa ditingkatkan berkisar DO di 4-5 ppm, karena udang semakin banyak kebutuhan oksigen semakin besar. Untuk menjaga kadar oksigen, kata Heru, akan dilakukan panen parsial atau sebagian, kadang juga seluruhnya. Seperti jika panen parsial di size 100, panen yang kedua size 80.

 

“Karena terlalu padat mengganggu pertumbuhan udang lainnya sehingga kita panen parsial”, pungkas Heru. (Resti)

Incoming search terms:

  • jenis udang yang cocok dibak

Leave a comment

Your email address will not be published.

*



Artikel menarikclose