Campur Pellet Dengan Ikan Rucah, Turunkan Biaya Pakan

Permintaan pasar terhadap produk perikanan laut seperti bawal dan kerapu terus meningkat. Sementara itu, daya dukung lingkungan terhadap perikanan tangkap semakin menurun akibat penangkapan yang melampaui kapasitasnya (overfishing). Sehingga, budidaya laut (marine culture) menjadi solusi ketimpangan tersebut

Budidaya ikan laut sudah dikenal masyarakat pembudidaya terutama untuk jenis ikan yang bernilai ekonomi tinggi, antara lain ikan bawal, ikan tenggiri, dan lain-lain. Seiring dengan kemajuan dan meningkatnya budidaya laut (marine culture), produktivitas pun semakin ditingkatkan. Salah satu aspek produktivitas tersebut di antaranya adalah efisiensi penggunaan pakan dan biaya yang dikeluarkan. Sebagaimana diketahui secara umum, pakan menjadi salah satu masalah utama dalam budidaya, termasuk dalam hal ini perikanan budidaya laut. Tidaklah mengherankan, hal ini karena biaya pakan mencapai 80% dari biaya operasional yang dikeluarkan oleh pembudidaya. Hal ini terutama terjadi untuk budidaya perikanan intensif di mana pemberian pakan untuk ikan dilakukan secara intensif menggunakan pakan komersial, terutama jenis pellet.

Sementara itu, kualitas pakan untuk perikanan laut dituntut berkualitas tinggi. Hal ini di antaranya adalah dengan adanya kandungan protein yang tinggi. Pasalnya, ikan laut membutuhkan protein yang lebih banyak daripada perikanan air tawar dalam pertumbuhannya. Mengingat dalam budidaya perikanan intensif pasokan nutrisi berasal dari pakan, konsekuensinya, pakan harus mengandung jumlah protein yang mencukupi. Dengan demikian, kandungan protein yang cukup menjadi kunci utama dalam tinjauan nutrisi pakan.

Dalam budidaya perikanan laut intensif, pakan buatan menjadi pilihan utama, misalnya saja pakan berbentuk pellet. Sayangnya, kandungan protein pakan pellet menjadi penentu tinggi rendahnya harga. Semakin tinggi kandungan protein pakan, semakin mahal harga pellet tersebut. Padahal, kandungan protein menjadi penentu pertumbuhan optimal ikan budidaya. Sehingga, Untuk menyiasati mahalnya harga pakan pellet, maka dilakukan dengan metode pencampuran pellet dengan bahan baku pakan lain yang harganya labih murah. Hal ini tentu saja dapat menurunkan biaya yang dikeluarkan untuk menyediakan pakan yang cukup. Akan tetapi, bagaimanakah kualitas pakan tersebut? apakah pencampuran tersebut mempengaruhi kualitas pakan? Menjawab pertanyaan tersebut, beberapa peneliti yang terdiri dari Salsal Purba, Endang Widiastuti, Joni Agus Rusdian mengkaji pengaruh pencampuran pakan tersebut terhadap laju pertumbuhan ikan kakap putih dalam budidaya laut. Ujicoba dilakukan di Balai Perikanan Budidaya Laut Batam, Jembatan III Pulau Setoko, Batam, Kepulauan Riau.

Pencampuran pellet dan ikan rucah

Salsa Purba dan kawan-kawan melakukan uji coba pencampuran pakan pellet dengan bahan baku ikan rucah untuk pakan ikan kakap. Pakan pellet dapat menghasilkan ikan tumbuh dengan optimal karena kandungan nutrisinya yang sudah dirancang. Hal ini dapat diketahui dengan rendahnya rasio konversi pakan yang mencapai 2. Sementara itu, ikan yang diberi ikan rucah saja membengkakkan angka rasio konversi pakan menjadi 6. Artinya, untuk mendapatkan pertambahan bobot ikan budidaya seberat 1 kg, diperlukan 6 kg ikan rucah. Untuk menyiasati harga pakan pellet yang tinggi, pencampuran pakan menjadi salah satu alternatif.

Selanjutnya Baca di Majalah Info Akuakultur

Incoming search terms:

  • ikan rucah untuk pakan ikan bawal air tawar
  • rajungan menghabiskan pakan ikan rucah per 1000 ekor

Leave a comment

Your email address will not be published.

*



Artikel menarikclose