Cegah Myo pada Udang Vaname

Anda tahu myo (mio)? Bukannya sebuah motor matic, sporty, keren, dan gaya; tapi myo yang dimaksud di sini adalah biang penyakit ganas yang bisa membuat udang mati massal dan membuat rugi petambak.

Apa sih, Myo? Pertama kali, virus myo atau Infectious Myo Necrosis Virus (IMNV) ditemukan di Brazil dan Pantai Amerika Selatan pada tahun 2003. Di Indonesia, IMNV ditemukan pertama kali di Situbondo pada tahun 2006, yang menyebabkan 300 ribu benur vaname mati. “Khususnya pembudidaya udang vaname, begitu takut dengan virus ini karena mereka beranggapan myo muncul berarti harus siap merugi,” ujar Deni Hamdani S.St.Pi Koordinator Instalasi Cibalong Balai Pengembangan Budidaya Air Payau dan Laut Wilayah Selatan (BPBAPLWS) Garut.

Deni menyebutkan, gejala myo ditandai dengan terjadinya nekrosis atau kerusakan jaringan otot pada tubuh udang dengan ciri warna putih pada otot yang terserang. Udang mengalami kram, lalu pada segmen badannya terdapat seperti gumpalan awan putih. Jika sudah parah, jaringan otot akan mati dan berwarna merah.

AK13 Kesling 2 2

Foto2. Gejala awal IMNV tampak dari gumpalan awan putih di ruas badan dalam (Sumber foto: dok. Deni Hamdani)

AK13 Kesling 2 3

Foto3. Serangan fatal myo ditunjukkan dari warna merah tubuh (Sumber foto: dok. Deni Hamdani)

Penyebab wabah virus myo

Faktor pendukung lain penyebab virus myo cukup tinggi yaitu dampak perubahan iklim. Perubahan cuaca dan suhu perairan tersebut memicu stres pada udang dan menyebabkan daya tahan tubuh udang menurun. “Penyebab terjangkitnya penyakit ini ditengarai oleh menurunnya kualitas air atau tidak stabilnya kualitas air media budidaya, terutama fluktuasi suhu,” ungkap Deni.

Radi, petambak udang vaname di Jawa Tengah mengungkapkan, “Penyebab virus myo bukan karena masuk musim kemarau, tetapi dari suhu ekstrim dan tak menentu, yaitu suhu di atas 31 oC dan 32 oC. Jarang menyipon atau membersihkan tambak udang juga menjadi penyebab serangan myo.” Sisa pakan yang mengendap dan terakumulasi di dasar perairan akan berubah menjadi amoniak. Jika tidak dibersihkan akan menjadi racun bagi udang tersebut.

Jarak antar tambak yang saling berdekatan serta desain dan tata letak antar-tambak yang tidak teratur menyebabkan IMNV mudah menyebar. “Akibat virus, penyebaran penyakit myo cepat dan luas, mulai dari kontak langsung, dibawa carrier seperti burung dan kepiting, serta air media,” ungkap Deni.

Ketidaksesuaian penempatan inlet dan outlet dari pertambakan menyebabkan air buangan, yang banyak mengandung limbah dan kemungkinan mengandung bibit penyakit, dari salah satu tambak menjadi air masukan pada inlet tambak lain. Air buangan yang digunakan untuk kegiatan budidaya memiliki kualitas yang buruk sehingga menyebabkan udang yang dibudidayakan stres dan rentan terserang penyakit.

Seperti yang pernah disampaikan Agus Setyawan, S.Pi.,M.P, Dosen Universitas Lampung, “Sebagian besar sifat infeksi virus hanya mengenali inangnya secara spesifik. Jika sel inangnya bukan sel yang dikenali maka tidak akan menginfeksi. Biasanya inang yang diinfeksi oleh virus tertentu memiliki karakter atau masih dekat tingkat kekerabatannya.” Oleh sebab itu, serangannya terbatas hanya udang vaname saja, tidak ke udang galah, udang windu, atau pun ikan karena kekerabatannya jauh berbeda.

Dampak myo terhadap hasil panen

Keberadaan virus myo jelas menjadi ancaman bagi budidaya udang di Indonesia, bahkan dunia. “Di awal, IMNV terdeteksi sekitar tahun 2006—2012. Penyakit ini merupakan penyebab kegagalan panen yang paling utama pada budidaya udang vaname. Meskipun bisa ditangani, petambak jangan mengharapkan keuntungan. Cukup mengurangi kerugian,” ungkap Deni.

IMNV membunuh hingga 70% populasi udang vaname di Indonesia. Akibatnya, produksi udang secara nasional anjlok dan menyengsarakan 65 ribu petambak. Diperkirakan jumlah kerugian selama 2006—2010 mencapai US$ 150—500 juta.

Patogenisitas virus myo cukup ganas, yaitu mampu menyebabkan angka mortalitas mencapai 40% hingga 70%. “Kasus penyakit ini ditemui di Kabupaten Pangandaran tahun 2010—2012. Kemudian berkembang dengan pesat tahun 2013 akhir. Banyak petambak di Pangandaran yang gulung tikar akibat terserang virus ini, walau pun sampai saat ini ada beberapa petambak yang masih bertahan,” tutur Deni.

Sekitar 80% kawasan tambak udang di Indonesia terkategori menggunakan budidaya ekstensif dengan padat tebar 1—10 ekor/m2. Drh. Abadi Soetisna, M.Si., Anggota Komisi Kesehatan Lingkungan DKP Pusat, mengungkapkan, “Mudahnya penyebaran virus myo pada udang vaname dengan pola tambak ekstensif, salah satu faktornya karena tidak mempunyai tandon yang dilengkapi dengan arang, ijuk, dan kapur yang berfungsi sebagai filter air.”

Deni menambahkan, “Sampai saat ini penyakit Infectious Myo Necrosis Virus (IMNV) merupakan penyakit yang paling ditakuti dan menjadi penyebab kegagalan pada tambak serta menempati urutan kedua setelah White Spot Syndrome Virus (WSSV).”

Sementara 20% kawasan tambak udang sisanya terkategori menggunakan budidaya intensif. “Meskipun intensif, jika padat tebar dan pemberian pakannya berlebih, serta adanya bangkai udang yang tidak dibuang juga mengundang hadirnya virus myo,” ungkap Radi.

Pencegahan dan pengobatan IMNV

Dengan penanganan yang benar, wabah IMNV bisa dicegah. Pemilihan induk dan bibit yang terbebas dari penyakit jelas meminimalkan risiko serangan. Pengurangan kepadatan tebar memberi lebih banyak tempat atau ruang mengurangi faktor terjadinya stres pada udang. Bangkai udang yang telah terinfeksi maupun yang tidak terinfeksi diambil dan dibakar.

Selain itu, penggunaan probiotik dan kapur dilakukan secara rutin pada pagi hari. Jumlah pakan diturunkan hingga 30—40% keadaan normal hingga tingkat kematian berkurang dan tidak ada kematian lagi. Multivitamin atau vitamin C diberikan secara terus-menerus hingga kondisi udang kembali normal.

Penggantian air cukup dengan membuang air pada siang hari dan diisi kembali pada malam hari.  Kualitas air perlu diperhatikan dan diperbaiki, hindari pergantian air secara drastis, dan berikan partial droping plankton.

Saat ini, belum diperoleh cara dan obat untuk mengendalikan virus ini. Beberapa bahan alami yang diketahui memiliki efek antiviral pada manusia maupun hewan terestrial, misalnya bawang putih, daun jambu biji, dan meniran. Di samping itu, obat herbal tersebut mempunyai kemampuan untuk meningkatkan sistem imun pada ikan. Namun menurut Deni, “Ketika udang sudah terkena myo, tindakan yang paling aman adalah panen. Itu pun jika dari ukurannya sudah bisa di jual.”

Senada dengan hal tersebut, Agus menyebutkan bahwa,”Semua penyakit yang disebabkan virus pada dasarnya belum ada obatnya karena sifat infeksi virus biasanya intraseluler sehingga tidak terjangkau oleh obat-obatan. Hal yang perlu diperhatikan adalah dengan menjaga kualitas air tambak agar tetap layak untuk budidaya udang, meningkatkan imunitas udang, dan penerapan biosekuriti yang baik untuk mencegah masuknya patogen dalam area tambak.”

Deni mengatakan bahwa yang perlu dingat dalam penanganan sebuah penyakit yaitu jangan mencari obat dulu, tetapi perbaiki kualitas air terlebih dulu. Setelah stabil, dilanjutkan penanganan pada udang. Dengan penanganan yang benar, berdasarkan pengalamannya, kolam yang telah terjangkit myo di usia 40 hari bisa di-recovery kembali. Panen dilakukan pada usia 65—70 hari dengan rata-rata SR 60%.”

Deni menyebutkan, beberapa cara menangani penyakit myo yang pernah ia dilakukan di antaranya: (1) penggantian air 10—20%, merupakan cara paling cepat dan efektif, tetapi risiko paling besar; (2) penyiponan pada titik mati secara rutin, efektif jika cara dan waktu penyiponan tepat; (3) penggunaan probiotik; serta (4) penggunaan multivitamin, efektif jika kualitas air lingkungan sudah stabil.

(Resti Setiawati)

Incoming search terms:

  • cara mengatasi penyakit udang vaname
  • manfaat bawang putih untuk udang vaname
  • penyakit udang vaname
  • penyebab udang vaname mati mendadak
  • penyakit mio pada udang vannamei
  • cara mengatasi udang stres
  • penyebab udang vaname mati
  • obat udang vaname
  • Obat udang stres
  • khasiat bawang putih untuk udang vaname

Leave a comment

Your email address will not be published.

*



Artikel menarikclose