Domestifikasi Ikan Gabus Haruan Asli Kalimantan

 

Si Kepala Ular yang punya nilai ekonomis tinggi

Tingginya permintaan ikan gabus dari penangkapan perairan umum mengakibatkan populasi ikan gabus semakin menurun. Menurunnya populasi ikan gabus juga disebabkan rusaknya habitat perkembangbiakan, rusaknya lingkungan karena pertambangan, penebangan hutan, dan limbah  industri.

Hal ini mendorong dilakukannya usaha budidaya ikan gabus melalui proses domestikasi yaitu proses adaptasi pada lingkungan budidaya dari generasi ke generasi, hal ini merupakan salah satu langkah ke arah pengembangbiakan yang meliputi aspek eksplorasi, koleksi, dokumentasi, karakterisasi, dan penguasaan teknologi pembenihan secara alami maupun buatan serta pembesarannya.

Perekayasa Pertama Balai Perikanan Budidaya Air Tawar (BPBAT) Mandiangin, Kalimantan Selatan, Tulus, S. St. Pi, mengatakan, sejak tahun 2011 BPBAT Mandiangin telah berhasil melakukan proses domestikasi ikan gabus sebagai upaya meningkatkan jumlah sumber daya hayati perikanan asli Indonesia dan pelestarian plasma nutfah.

Ikan gabus berasal dari penangkapan di alam berupa benih dan dibesarkan selama ±1 tahun hingga mencapai induk dan disebut sebagai Induk Generasi 0 (G0). Untuk menghasilkan induk ikan gabus hasil domestikasi sampai Generasi ke-3 (G3) membutuhkan waktu ± 3 tahun.

Menurut Tulus, selama ini ikan-ikan lokal seperti ikan gabus Haruan dikenal sebagai ikan predator yang bersifat karnivor yaitu suka memangsa ikan yang lain sehingga banyak orang yang tidak berminat memelihara karena sulitnya memberi makan ikan ini.

Karena hal tersebut, tambahnya, akhirnya penangkapan ikan gabus Haruan di alam menjadi kegiatan yang marak dilakukan masyarakat selama bertahun-tahun untuk memperoleh ikan gabus sebagai ikan konsumsi tanpa memikirkan kondisi di alam yang semakin menurun populasinya.

Keunggulan ikan gabus Haruan, Tulus menjelaskan, yang telah dihasilkan adalah telah adaptif terhadap pakan buatan (pakan apung) sehingga tidak tergantung pada pakan segar (rucah atau ikan segar), tahan terhadap pH dan oksigen rendah karena memang dari benih dibesarkan dilingkungan lahan gambut yang identik dengan pH rendah.

Adaptasi terhadap pakan buatan dalam hal ini pelet apung dapat berhasil dengan baik apabila dilakukan pada ikan gabus mulai dari ukuran larva. Cara makan ikan gabus yang menyambar mangsanya membuat ikan gabus hanya tertarik dengan pakan yang berada di permukaan air.

“Oleh karena itu, pelet apung lebih disukai ikan gabus dibanding pelet yang tenggelam serta dari hasil adaptasi pakan buatan yang telah dilakukan diketahui ikan gabus lebih responsif terhadap pelet apung ketimbang pelet tenggelam,” jelas Tulus.

Selanjutnya Baca di Majalah Info Akuakultur

Incoming search terms:

  • pakan alami ikan gabus
  • gabus sudah berhasil didomestikasi di BPBAT kalimantan
  • Pelet tenggelam untk gabus

Leave a comment

Your email address will not be published.

*



Artikel menarikclose