Drh. A. Harris Priyadi, “Industri Akuakultur Perlu Kembangkan Vallue Added Chain”

Keunggulan sektor akuakultur kita yang masih EMS (Early Mortality Syndrome) free, harusnya ditonjolkan dan dijaga. Saat ini ada kasus “white feces” yang ditengarai sebagian pihak adalah awal sebelum terjadinya EMS, sepertinya pihak industri mencoba melakukan dan mencari solusinya sendiri-sendiri.

 

Begitulah pernyataan menarik dari Drh Akhmad Harris Priyadi, Country Manager Sales & Marketing PT Trouw Nutrition Indonesia, dalam sebuah perbincangan dengan majalah Info Akuakultur usai Rapat Panitia Munas Asosiasi Obat Hewan (ASOHI) belum lama ini.

Drh Harris sedang foto selfie di pabrik Pasuruan

Harris, demikian panggilan akrabnya, menambahkan, di negara kita jarang pihak universitas melakukan secara serius dan benar-benar “blusukan” mencari solusi bersama dengan platform kerja yang jelas dan sinergis. Sinergi segitiga antara pemerintah, swasta dan akademisi harusnya sama sisi dan bahu-membahu berkolaborasi.

“Situasi yang ideal adalah kebijakan yang “nyambung”, penelitian dan keilmuan yang bermanfaat langsung (bukan hanya teori) serta swasta yang kooperatif dan supportif, “ tambahnya. Ia mengaku khawatir dengan kasus white feces karena beberapa kejadian di negara lain, mewabahya penyakit EMS (Early Mortality Syndrome) di beberapa lokasi didahului dengan kasus white feces.

Hari itu wawancara dengan Harris di kantor ASOHI dilakukan dengan mencuri waktu di sela-sela serangkaian rapat pengurus ASOHI. Di organisasi yang menghimpun sekitar 180 perusahaan obat hewan ini Harris menjabat Ketua ASOHI Bidang Hubungan Antar lembaga. Sedangkan pada panitia Munas VII ASOHI yang rencananya akan berlangsung 6-7 Mei 2015, ia dipercaya sebagai Ketua Sterring Committee (panitia pengarah), sebuah posisi penting yang ikut menentukan jalannya sejumlah sidang yang membahas penyempuraan Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga , Kode Etik , Program Kerja Organisasi serta Tata Tertib Munas dan proses pemilihan ketua umum.

“Saya harus lebih sering lagi mondar-mandir ke kantor ASOHI, nih,” ujarnya di sela-sela wawancara dengan Info Akuakultur. Perbincangan pun berlangsung singkat namun banyak hal yang diperoleh dari alumni Fakultas Kedokteran Hewan IPB tahun 1989 ini.

Harris lahir di Bandung 27 Mei 1965 di tengah-tengah keluarga guru (Almarhum ayahanda adalah guru kimia yang pernah menjadi dosen kimia di UKM Malaysia dan Kepala Sekolah Indonesia di Kairo). Ia menempuh pendidikan SD dan SMP di Surabaya, selanjutnya melanjutkan SMA di Sekolah Indonesia di Kairo Mesir, karena harus mengikuti tugas ayahnya. Lulus SMA tahun 1983, ia kembali ke Indonesia untuk melanjutkan kuliah di FKH IPB, sementara orang tuanya masih bertugas di Mesir.

Ia mengaku kurang berminat kuliah di Kairo misalnya di Universitas Al Azhar , karena kendala bahasa dan basic pendidikannya bukan dari pesantren. Ditanya soal pilihannya ke FKH ia menegaskan“Saya pilih Fakultas Kedokteran Hewan karena sejak kecil senang dunia hewan dan mata pelajaran biologi”.

“Selain itu saya masuk melalui jalur perintis II, yaitu jalur masuk tanpa test. Ini kan kesempatan bagus, saya kalau nggak diambil,” tambahnya lagi.

Sejak lulus dari IPB tahun 1989, ayah berputra 3 ini meniti karirnya di perusahaan obat hewan, baik perusahaan asing maupun lokal. Tercatat sudah 6 perusahaan yang ia “singgahi” sebagai tempat berkarya. Dan tahun 2009 ia memasuki perusahaan ke-7 untuk menjalankan amanah sebagai Country Manager Sales & Marketing PT Trouw Nutrition Indonesia, sebuah perusahaan feed additive & feed supplement yang pabriknya di kawasan Industri MM-2100 Cibitung, Bekasi. Pabrik ini memproduksi feed supplement untuk pasar Indonesia dan kawasan Asia Pasifik.

 Prospek Cerah

Mendiskusikan soal prospek perikanan Indonesia, Harris dengan nada semangat mengatakan, prospek perikanan sangat bagus untuk jangka menengah dan jangka panjang, walaupun jangka pendek masih banyak kendala. “Kelak, saat pendapatan masyarakat makin meningkat, katakanlah 5.000 USD per kapita per tahun, masyarakat tentu tidak setiap hari makan ayam, telur dan daging sapi, tapi ada variasi ikan. Jadi bukan dari segi ketercukupannya, tetapi ada level optimal yang konsumen akan jenuh dan butuh variasi yang halal dan thoyib, yaitu dari perikanan,” kata Harris.

Eksekutif yang hobi baca novel ini melihat perkembangan perikanan di Indonesia masih lambat tapi cenderung makin cepat. Produksi pakan ikan saat ini hanya sekitar 1,6 juta ton per tahun (pakan unggas di atas 14 juta ton per tahun), namun pertumbuhan produksi pakan ikan bergerak lebih cepat setidaknya dua tahun terakhir.

Setelah cukup lama mendalami dunia bisnis peternakan dan perikanan melalui industri feed additive, Harris menyimpulkan, para pelaku usaha perikanan perlu didorong untuk lebih kreatif menciptakan pengembangan di Value Added Chain. “Kalau hanya berfokus pada produksi dan efisiensi, akhirnya fokus pada saving yang kalau kebablasan akan mengorbankan mutu dan bisa jadi bumerang, misalnya ledakan penyakit akibat mengurangi aspek biaya kesehatan”.

Terobosan sebaiknya bukan hanya di budidaya, tapi juga di pasca panen. Misalkan saat ini sudah ada produk Pompano fillet, Patin fillet dan sejenisnya. Kalau bisa dibuat Mujaher fillet atau Nila fillet yang sudah berbumbu dan sebagainya melalui proses riset yang mendalam tentang rasa dan kecocokan selera, niscaya peluang keberhasilan akan makin baik.

Di pasar unggas dunia, Brazil dikenal sebagai produsen unggas termurah alias paling efisien, namun negara Eropa lebih memilih daging ayam dari Thailand. “Ini perlu dijadikan pelajaran bagi kita, bahwa yang paling efisien bukan berarti yang paling diterima di pasar. Ada aspek lain, yaitu value added chain, entah itu berupa pelayanan, kreativitas produk dan sebagainya,” tegasnya. Kalau hanya berpikir harus lebih murah, Indonesia akan kewalahan, dan akhirnya secara psikologis “mengakui” sebagai bangsa yang kalah bersaing. Agaknya inilah yang menjadi kekhawatiran sekaligus kepedulian Harris.

 Baca Novel

 Di tengah kesibukannya sebagai country manager, Harris masih menyempatkan untuk menjalankan hobinya travelling bersama keluarga dan membaca novel. Waktu SMA dan kuliah, ia suka novel petualangan asli berbahasa Inggris. Ini adalah cara paling praktis belajar bahasa Inggris. “Jadi saya pegang novel dan kamus. Dengan mengikuti alur cerita, saya cepat menghafal kosa kata Bahasa Inggris,” katanya, mengungkap rahasia cara cepat belajar Bahasa Inggis.

Khusus untuk novel Indonesia, Harris menyukai novel karya Habiburrahman, antara lain yang berjudul “Ayat-ayat Cinta” dan “Ketika Cinta Bertasbih” dimana keduanya novel best seller yang diangkat ke layar lebar. Karena pernah tinggal di Mesir, ia bisa menyelami cerita novel tersebut yang setting ceritanya sebagian di Mesir. (bams) ***

 

BIODATA

 

Nama                                      : Akhmad Harris Priyadi, drh.

Tempat, tanggal Lahir        : Bandung, 27 May 1965

E mail                                      : harris.priyadi@nutreco.com

Jabatan                                   : Country Manager Sales & Marketing PT Trouw Nutrition Indonesia.

Nama Istri                               : Sinto Wulandari drh

Anak                                        :

1. Muhammad Bagus Harianto

  1. Maulana Ichsan Harianto
  2. Prasetyo Rahadi (keponakan ikut dari kecil).

 Pendidikan                             : FKH IPB lulus 1989

Personal Development Training : .Elanco Training development, Kemin University,             Gustav Kasser, Miller Heinman, CCL – Singapore, Emergenetics dan lain-lain

 

 

Incoming search terms:

  • pt trouw nutrition indonesia pasuruan
  • haris priyadi trouw
  • email pt trow nutrition pasuruan
  • drh akuakultur
  • haris priyadi
  • trouw nutrition pasuruan
  • keunggulan trouw nutrition adalah
  • drh abadi fkh ipb
  • alumni akuakultur
  • ground breaking pabrik pt di jawa timur

Leave a comment

Your email address will not be published.

*



Artikel menarikclose