Efisiensi dan Kinerja Pakan Fungsional

Pakan, bagi sebagian besar pembudidaya ikan ditujukan untuk membesarkan ikan. Tak heran jika formulasi pakan awalnya berkembang untuk tujuan ini. Seiring semakin dalamnya pemahaman ahli nutrisi pakan ikan dan majunya riset nutrisi manusia, munculah istilah pakan fungsional.

AK12 Pakan 1 4Pakan fungsional memiliki fungsi tertentu di luar fungsi dasarnya. Istilah ini sering diusung oleh produsen pakan terkini. Dalam ilmu nutrisi manusia, makanan fungsional seringkali difokuskan untuk meningkatkan status kesehatan serta mengurangi risiko penyakit dan mengobatinya. Dalam akuakultur, sepertinya jangkauan ini menjadi lebih luas.

Antara idealitas dan realitas

Lingkungan yang paling dekat dengan ikan adalah pakan. Pakan digolongkan sebagai lingkungan sebelum ia menjadi bagian dari tubuh ikan. Mikroba patogen berada di luar tubuh dan jika pun masuk hanya berada pada bagian tubuh tertentu. Namun, pakan masuk ke dalam saluran pencernaan, dipecah, dan masuk ke seluruh tubuh ikan. Dengan demikian, pakan dapat menjadi teman baik atau justru menjadi musuh yang berbahaya.

Sebagai musuh, pakan adalah musuh dalam selimut yang melemahkan ikan dari dalam. Setelah serangan dari luar terdeteksi, seperti cuaca memburuk atau berkembangnya patogen, semua cara penyelamatan ternyata sudah terlambat. Tubuh ikan terlanjur keropos karena gizi yang rendah.

Ramuan pakan memperhitungkan kebutuhan energi ikan, protein untuk membentuk jaringan, serta vitamin dan mineral sebagai pengatur kerja tubuh ikan. Kebutuhan gizi sebagian ikan telah diteliti dengan seksama oleh para ilmuwan. Namun, kondisi ideal tidak selalu bisa diwujudkan. Sains nutrisi ikan tidak selalu mewujud menjadi teknologi pakan ikan. Seringkali, pakan di pasaran tidak selalu tepat memenuhi kebutuhan ikan, tetapi mengikuti proses pembuatan pakan yang dikuasai dan pertimbangan ekonomis bisnis budidaya.

Sebagai gambaran, pada praktiknya, kebutuhan nutrisi ikan harus berkompromi terhadap teknik pembuatan pakan. Ikan yang tidak membutuhkan zat pati dalam jumlah tertentu harus tetap mengonsumsinya saat memakan pakan apung. Proses ekstrusi membutuhkan pati untuk mengikat partikel pakan dan mengapungkannya. Ikan yang membutuhkan lemak dalam jumlah tinggi terpaksa tidak dapat memperolehnya karena pakan yang mengandung lemak tinggi mudah tengik. Apalagi asam lemak tak jenuh, tidak dapat disimpan lama. Pakan untuk komoditas ekonomis rendah selalu mengandung banyak karbohidrat karena unsur ini adalah yang paling murah. Sementara tepung ikan dan minyak ikan dibuat untuk ikan dengan nilai ekonomis tinggi.

Efisiensi pakan

Sebagian besar pakan ikan diproduksi untuk tujuan pembesaran dan diarahkan untuk mengejar pertumbuhan. Namun, menargetkan pesatnya pertumbuhan ikan hanya dengan formulasi pakan bukan tujuan yang masuk akal. Hal ini disebabkan pertumbuhan dibatasi faktor genetik.

Seandainya para ahli genetik berhasil membuat strain ikan dengan pertumbuhan sangat cepat, ini juga bukan menjadi jawaban jika nilai konversi pakan membengkak. Biaya pakan yang membesar membuat keunggulan genetik ini menjadi pepesan kosong belaka. Dengan demikian tujuan yang tepat adalah menghasilkan pakan dengan konversi pakan yang layak secara ekonomis dengan kecepatan pertumbuhan ikan yang normal. Oleh karena itu, nilai FCR pakan dan kecepatan pertumbuhan ikan adalah relatif per komoditas.

Kinerja pakan semakin efisien jika nilai konversi pakan untuk menjadi berat ikan semakin rendah.  Nilai konversi pakan dapat diturunkan dengan memperbaiki 5 hal, yaitu (1) daya tahan pakan, (2) daya terima, (3) daya cerna, (4) daya serap, dan (5) daya guna. Jadi, sangat tidak tepat jika strategi menurunkan FCR hanya fokus pada satu hal saja, misalnya meningkatkan daya cerna dengan memberikan enzim eksogen pada pakan.

Ketahanan pakan di air ditentukan oleh daya rekatnya. Sementara ukuran partikel penyusun pakan dan komposisi pakan merupakan hal yang paling menentukan. Ketertarikan ikan untuk mengonsumsi pakan dapat ditingkatkan dengan atraktan. Kemudian, pakan yang dikonsumsi akan mudah dicerna jika teksturnya cukup halus, partikel penyusunnya lembut, dan enzim pada saluran pencernaan terangsang dengan baik. Selanjutnya, pakan akan mudah diserap jika sudah dilumatkan oleh enzim.

Terlalu mudah diserap juga sama buruknya dengan sulit diserap. Pakan dengan kandungan asam amino bebas dan glukosa yang tinggi memang meningkatkan daya serap, tetapi menurunkan daya guna. Selain akan dimanfaatkan oleh mikroba usus, nutrisi siap serap ini juga membuat ikan kewalahan untuk menggunakannya dalam waktu singkat. Namun, kandungan nutrisi siap serap dalam jumlah sedikit juga penting untuk memberi rangsangan dan energi awal untuk persiapan pemanfaatan pakan.

Pakan yang sudah tercerna dengan baik tidak banyak berguna jika usus ikan luka atau tidak berkembang baik. Lipatan usus harus cukup lebar untuk menyerap pakan dengan efisien. Selain itu, lipatan usus yang berkembang baik juga menunjukkan kesehatan saluran pencernaan.

Nutrisi yang diserap akan menjadi bagian dari tubuh ikan jika komposisinya seimbang. Dua hal yang harus diperhatikan yaitu jumlah dan perbandingan. Keduanya sama-sama penting dan tidak layak dipertentangkan. Nilai energi pakan penting, tetapi kandungan nutrisi esensialnya juga tidak kalah penting. Seperti halnya kandungan protein pakan penting, perbandingan dan jumlah asam amino esensialnya juga penting. Kandungan karbohidrat penting, penyusun karbohidratnya juga sangat menentukan pemanfaatannya. Seperti halnya asam lemak esensial yang harus lebih diperhatikan selain total lemak.

Pakan fungsional

Jika formula pakan tersebut sudah layak untuk tumbuh kembang ikan, tugas berikutnya adalah mengoptimalkan kinerja pakan ikan. Pada saat tertentu, pakan ikan membutuhkan zat pakan atau non-pakan agar ikan menunjukkan hasil tertentu. Inilah yang disebut pakan fungsional.

Pakan fungsional bukanlah suplemen, tetapi pakan utuh yang diperkaya dengan bahan tambahan pakan dengan klaim fungsi tertentu. Dengan demikian, pemberian bahan tambahan pakan telah berinteraksi positif dengan komposisi pakan aslinya. Bisa jadi, penambahan suplemen tertentu justru tidak berfungsi pada formula pakan tertentu. Dengan demikian klaim pakan fungsional dalam bentuk pakan harus dapat dibuktikan secara ilmiah, bukan suplemen belaka.

Oleh: Ibnu Sahidhir

Incoming search terms:

  • pakan fungsional
  • ibnu sahidir
  • Enzim ibnu sahidhir
  • ibnu sahidhir
  • ramuan pakan FCR rendah
  • prof Ibnu Sahidhir
  • nilai konversi pakan prof ibnu sahidhir
  • keunggulan ak 12
  • ibnu sahidir enzym larva
  • ibnu sahidir blog

Leave a comment

Your email address will not be published.

*



Artikel menarikclose