Fish welfare dan Etika Budidaya

Perkembangan teknologi budidaya sudah demikian pesatnya. Dalam luasan yang lebih sempit, hasil budidaya ikan bisa ditingkatkan lewat intensifikasi dengan beragam faktor penunjangnya. Namun, sudahkan terpenuhi nilai etisnya?
Bicara soal etika tentunya tak lepas dari bicara antara hak dan kewajiban. Dalam hal budidaya ikan, setiap manusia mendapatkan haknya dalam mengambil ikan dari alam, mengadaptasikan ikan alam dalam media buatan, serta mengembangkan jumlahnya untuk memenuhi kebutuhan pangan dan urusan komersialisasi. Namun, jangan lupakan kewajiban yang dibebankan Allah swt. selaku pemilik alam semesta ini ke pundak manusia, yaitu soal hak dari ikan yang perlu dipenuhi.
Logisnya, hak berbanding lurus dengan kewajiban. Sama seperti hasil panen yang berbanding lurus dengan pengorbanan dan ikhtiar selama proses budidaya. Untuk mendapatkan hasil panen yang melimpah, tentu saja fasilitas budidaya juga perlu ditambah. Tak hanya fasilitas, perhatian pun dituntut lebih lewat manajemen budidaya ikan secara baik dan benar.
Contoh sederhana, jika ingin membudidayakan udang dengan fasilitas apa adanya atau tradisional, ruang tambak yang harus disediakan harus lebih luas. Satu meter persegi tambak hanya untuk 10 ekor udang.
Ingin hasil lebih banyak? Mudah saja. Tambahkan jumlah udangnya. Masalah selesai?
Ternyata tidak. Semakin padat populasi udang dalam luasan petak yang sama berarti ada perebutan atau kompetisi. Tak hanya berebut pakan, tetapi juga berebut oksigen. Semakin sempit ruang gerak juga memperbesar terjadinya kanibalisme. Maklum, udang membutuhkan tempat yang aman tatkala melakukan pergantian kulit. Sedikit ruang berarti sedikit tempat persembunyian.
Cukup di situ masalahnya? Ternyata belum cukup. Ada masalah lain yang sangat sensitif, yaitu pencemaran lingkungan akibat limbah kotoran. Semakin padat jumlah udang ternyata menambah jumlah limbah organik yang akan terurai menjadi senyawa anorganik yang membahayakan kesehatan. Apalagi ditambah adanya limbah dari sisa pakan yang tidak termakan akibat manajemen pemberian pakan yang tidak baik.
Tak hanya pada udang, permasalahan yang timbul akibat kesenjangan antara keinginan dan pengorbanan yang harus dilakukan juga berlaku pada semua komoditas ikan budidaya. Kemampuan akal manusia dalam memindahkan habitat alami ikan ke habitat buatan manusia harus diimbangi dengan etika budidaya.
Tak hanya manusia yang harus dipenuhi hak asasinya sebagai manusia, tetapi begitu juga dengan makhluk hidup ciptaan Allah swt. lainnya, seperti hewan. Hak-hak asasi ikan ini dikenal dengan istilah fish welfare. Jika kita biasa mendengar istilah peri-kemanusiaan, sekarang kita dikenalkan dengan istilah peri-keikanan.
Menurut Wolfrom (2004), setidaknya terdapat lima etika yang perlu dipenuhi dalam perikanan budidaya, yaitu: (1) mendapatkan pakan komplit sesuai spesies dan umur; (2) memenuhi kualitas air, arus air, suhu, dan intensitas cahaya; (3) penanganan yang hati-hati, mencegah infeksi dan penyakit melalui sanitasi yang baik, vaksinasi, dan mencegah malforasi; (4) mendapat ruang hidup yang cukup luas dengan fasilitas memadai; dan (5) memastikan memperoleh perlakuan yang baik, misalnya prosedur stunning sebelum dipotong.

Selanjutnya baca di majalah info akuakultur

Incoming search terms:

  • budi daya udang bago

1 Comment on Fish welfare dan Etika Budidaya

Leave a comment

Your email address will not be published.

*



Artikel menarikclose