Ikan Bandeng: Meraup Sisa Rejeki di Tambak Pantura

Sempat mencicipi masa-masa kejayaan di era tahun1980-an hingga1990-an, Kawasan Pantura (Pantai Utara Jawa) ibarat tempat mendulang emas bagi para petambak. Bagaimana dengan kondisi saat ini?

Di dekade 1980-an hingga menjelang tahun 1990, Pantura mengalami masa-masa keemasan dengan komoditas tambak unggulannya, udangwindu. Pada masaitu, kawasan ini menjadi sentra penghasil komoditas ekspor yang menghasilkan devisa dalam jumlah yang besar. Para investor berbondong-bondong membenamkan modalnya di tambak. Akibat derasnya aliran modal, banyak lahan-lahan pantai yang disulap menjadi tambak. Produktivitas tambak digenjot dengan pemberian pakan yang ‘jor-joran’. Semua itu untuk mengeruk keuntungan yang menggiurkan.

Tak lama menunggu, petaka pun menyerang. Tanpa ampun, penyakit menyerang hamper semua tambak-tambak pantura. Ketika wabah menyebar, sebagian besar petambak kalang-kabut. Kerugian yang diderita tidak sedikit. Banyak dari mereka yang gulung tikar dan pada akhirnya menelantarkan tambak-tambak mereka.

Saat ini, kondisi lahan-lahan bekas tambak Pantura sebagian besar terbengkalai. Dari data yang ada, saat ini luas tambak Pantura di Jawa Barat mencapai 1,5 juta Ha. Namun, dari luasan tersebut, hanya sekitar 60.000 Ha saja yang tergarap. Dari jumlah tersebut, hanya 40% saja yang benar-benar beroperasi. Sementara sisanya diterlantarkan begitu saja.

Namun, Rasbin, satu dari sekian petambak yang masih mencoba bertahan menggarap tambak. Ditemani oleh istri dan dua anaknya, ia tetap berjuang mengais rejeki yang tersisa. Tambaknya masih termasuk dalam kawasan pantai utara Jawa, salah satu kabupaten paling timur Jawa Barat, Cirebon, yang berbatasan dengan Provinsi Jawa Tengah. 

Monokulturi kan bandeng

Rasbin sudah bertahun-tahun membudidayakan ikan di air payau, dengan komoditas utama budidaya ikan bandeng. Meskipun harga jualnya tidak setinggi udang, memelihara bandeng tetap bisa mendatangkan keuntungan. Di samping itu, pemeliharaan bandeng lebih sederhana dibandingkan udang. Tingkat risikonya pun tidak lebih besar dari budidaya udang.

Setiap petak tambak Rasbin berukuran1.500 m2. Tanggul-tanggulnya dibangun  menggunakan dinding tanah dengan sedikit aplikasi zat pengencang tanah. Perawatan hanya pada penggantian air tambak. “Secara berkala, saya mengganti air tambak setelah tiga hari,” ungkap suami dari Sokemah ini. Sebagian sumber airnya berasal dari air laut, sebagian lagi dari air tanah. Untuk perlakuan air, Rasbin menggunakan kaporit dan klorin.

Sehari-hari, Rasbin berbudidaya dengan teknik sederhana. Ia tak pernah menggunakan berbagai teknologi dan hasil temuan-temuan terkini, hanya mengandalkan pakan alami berupa alga yang tumbuh di air tambak. Ia hanya memberi sejenis zat yang bisa merangsang nafsu makan ikan bandengnya. Tak mengherankan, mengingat bandeng adalah ikan herbivora. Dengan demikian, ikan ini mengandalkan pakannya dari tumbuh-tumbuhan mikro yang hidup di air tambak.

Foto 3

Kuncinya adalah kesuburan tanah tambak sendiri. Tambak dengan tanah yang subur akan memberikan cukup zat hara bagi tumbuhan atau plankton. Dengan demikian, fitoplankton akan tumbuh subur sehingga pasokan pakan alami untuk ikan melimpah. Indikasi dari pertumbuhan plankton ini adalah berubahnya warna air menjadi kehijau-hijauan.

Ikan bandeng tentu tak lepas dari penyakit yang mengintai. Bahkan beberapa di antaranya bisa mematikan. Namun, bagi Rasbin, hal itu bukan menjadi masalah besar. Ketika ditanya perihal pencegahan terhadap serangan penyakit, ia mengaku tak ada perawatan khusus untuk bandengnya. Ia hanya melakukan perawatan air secara telaten agar kesehatan ikan tetap terjaga.

Dalam memperoleh benih, Rasbin bekerja sama dengan bakul atau pemasok benih. Kelak, ketika masa panen, ia tak perlu repot memasarkan produknya karena langsung ditampung oleh pemasok benih tersebut. “Kisaran harga satu paket benihnya Rp 100.000, yang terdiri dari 1.000 benih bandeng,” ungkap ayah dua anak ini.

Pemanenan

Periode pemeliharaan hingga masa panen ikan bandeng biasanya mencapai empat bulan dalam kondisi tanah tambak yang subur. Akan tetapi, jika tanahnya kurang subur, masa panen bias lebih lama. “Biasanya bisa 5 sampai 6 bulan untuk tanah yang kurang subur,” terang Rasbin. Teknik panen yang digunakan biasanya ikan bandeng ditangkap dengan menggunakan jaring penangkap ikan. Ia mengaku, tidak melakukan penyimpanan hasil panennya. Alih-alih, ia langsung menjualnya kepada bakul yang mendatangi tambaknya ketika masa panen.

Setiap kali panen, dari setiap luas tambak 1.500 m2, ia memperoleh keuntungan kotor sebesar Rp 4—5 jutaan. Jumlah ini ia peroleh dari hasil panen ikan yang mencapai 4 kuintal.

Adapun modal yang di keluarkan untuk setiap petaktambak ikan seluas 1.500 m2 sekitar 2 juta. Dengan demikian, keuntungan bersih dari setiap petak antara 2—3 jutaan per periode pemeliharaan.

Selengkapnya baca di majalah Info Akuakultur Edisi 8/September 2015

Incoming search terms:

  • Masa panen ikan bandeng
  • content
  • tambak bandeng
  • masa panen bandeng
  • keuntungan budidaya ikan bandeng
  • umur ikan bandeng siap panen
  • foto tambak ikan bandeng
  • panen bandeng
  • omset membudidayakan ikan bandeng
  • masa panen ikan ban

Leave a comment

Your email address will not be published.

*



Artikel menarikclose