Tiga Jurus Menang Bersaing (Bambang Suharno)

Bambang suharno

Bambang suharno

Ketika Indonesia dilanda krisis ekonomi dahsyat tahun 1998, saya sempat bertemu dengan pengusaha nyentrik Bob Sadino. Saya bertanya, bagaimana Om Bob menghadapi krisis. Ia, dengan gaya khasnya yang meyakinkan menjawab,” saya tidak menghadapi krisis, tapi menerima krisis”.

“Dari cara berpikir saja, saya beda dengan mereka kan?” ujarnya. Mereka yang dimaksud adalah para pengusaha dan juga pemerintah .

Dengan menerima krisis, artinya kita tidak mengeluh mengalami goncangan ekonomi. Bukan hanya goncangan ekonomi dan politik 1998, pelaku bisnis sukses pada umumnya memahami bahwa persaingan itu secara alami akan semakin ketat. Coba kita lihat, minimarket 10 tahun lalu hampir selalu dipenuhi pelanggan dari pagi hingga sore. Kini, ketika di semua sudut kota ada minimarket, pembeli cenderung sepi. Sebagian di antara mereka harus tutup karena tak layak untuk diteruskan. Jika anda bisnis computer, telepon seluler maupun pulsa, juga mengalami persaingan yang makin ketat dan makin tipis margin yang anda terima. Untunglah, jumlah penduduk terus bertambah, pendapatan masyarakat juga meningkat sehingga penjualan secara total berkembang pesat.

Kini ketika Indonesia akan memasuki tahap globalisasi melalui terbentuknya MEA, saya teringat dengan adanya MEA persaingan makin ketat, dan semua pelaku bisnis harus menerima persaingan, bukan melawan persaingan.

Bagaimana caranya? Beberapa tahun lalu saya bertanya kepada seorang guru bisnis; apa kiat sukses memenangkan persaingan. Berikut ini jawabannya .

Pertama, jadilah pelopor. Dalam sejarah bisnis, air minum dalam kemasan merk Aqua adalah pelopor. Demikian pula teh botol Sosro sebagai pelopor produsen teh dalam kemasan botol. Kedua merk ini menjadi pemenang dalam persaingan di kelasnya, karena menjadi pelopor.

Masalahnya, tidak semua pelaku bisnis dapat menjadi pelopor. Jadi apa yang harus dilakukan ? inilah kunci rahasia kedua, yaitu jadilah yang terbaik. Jika anda bukan pelopor, anda tetap bisa menjadi pemenang persaingan jika anda menyajikan yang terbaik. Jejaring Sosial facebook bukanlah yang pertama, namun ia menjadi pemenang persaingan, mengalahkan para pelopor, karena facebook menyajikan yang terbaik untuk penggunanya.

Hal yang sama berlaku untuk mesin pencari Google yang kini menguasai 80% market search engine dunia. Google bukanlah yang pertama alias pelopor. Ia adalah yang terbaik di antara search engine yang ada di dunia .

Masalahnya, tidak semua pelaku bisnis bisa menjadi yang terbaik. Jika demikian, ada jurus ketiga sebagai jurus pamungkas, yaitu jadilah yang berbeda. Bukankah banyak pebisnis yang tidak menjadi yang terbaik bisa eksis, bisa berkembang karena menyajikan sebuah perbedaan? Di sekitar kita banyak warung makan yang tidak menyajikan makanan paling enak namun bisa berkembang karena memberikan perbedaan. Perbedaan pun kadang bukan konten melainkan konteksnya saja. Ada soto gebrak, misalnya, yang terkenal “gebrakannya” ketika melayani pembeli. Ini tidak ada kaitannya dengan rasa soto, namun hanya menyajikan keunikannya saja, dan ternyata mampu menarik pembeli.

Alkisah, di suatu perusahan bir, suatu hari direksi mengundang konsultan marketing ke pabriknya untuk membantu membuat promosi yang lebih menarik dan berdampak. Ahli marketing itu langsung mengamati proses produksi bir. Singkat cerita, setelah mengamati proses produksi, ia langsung membuat kalimat promosi seperti ini,” Bir ini dibuat melalui 10 tahapan mulai dari penyaringan, penyimpanan……dst”.

Kalimat promosi ini diprotes oleh bagian produksi. Mereka berkilah,” semua bir juga dibuat dengan tahapan itu, buat apa dibuat kalimat promosi seperti itu?”

Inilah jawaban ahli marketing,” Ya, boleh saja pabrik lain melakukan hal yang sama, tapi mereka tidak mengatakannya kepada konsumen. Kitalah yang mengatakannya, sehingga konsumen merasa, inilah bir yang baik buat mereka”.

Begitulah, perusahaan Bir tersebut akhirnya menjadi pemenang dalam persaingan, hanya karena menyampaikan sesuatu yang berbeda kepada konsumen. Meski yang lain juga melakukan hal yang sama. Itulah perbedaan dalam segi konteks, bukan konten.

Bagaimana dengan anda?***

Incoming search terms:

  • pelopor search engine pertama
  • bagaimana caranya biar menang dalam bersaing dalam segi bisnis
  • pelopor search engine pertama adalah
  • bob sadino menghadapi krisis
  • kiat bersaing masyarakat ekonomi asean
  • biar bisa menang bersaing bisnis
  • menang bersaing
  • menang dalam bersaing bisnis
  • bagaimana kita menang bersaing
  • mea bambang suharno

Leave a comment

Your email address will not be published.

*



Artikel menarikclose