Kandidat Bodyguard untuk Sang Lobster

Terkendala stres dan serangan penyakit, pembenihan lobster pasir belum berhasil mengatasi kelangkaan benih. Namun, Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Budidaya Laut GondolBali telah menyiapkan ‘pasukan’ penangkalnya.

Terkendalanya budidaya akibat stok benih yang terbatas membuat jumlah lobster pasir (Panulirus homarus) di alam semakin menurun akibat penangkapan. Maklum, hewan bercapit ini banyak diminati sebagai bahan kuliner yang istimewa. Harga bandrolnya pun luar biasa.

Harga yang tinggi membuat lobster pasir potensial dijadikan salah satu komoditas budidaya ekonomis tinggi. Terlebih, budidaya lobster saat ini belum marak akibat terkendala pengadaan benih.

“Prospek budidaya lobster sangat bagus karena harga lobster ukuran konsumsi dengan ukuran lebih dari 200 gram sangat mahal. Di tingkat eksportir, di Denpasar dan kota besar di Indonesia lainnya, harganya mencapai Rp 400.000 sampai 500.000,” ujar Drs. Bejo Slamet, M.Sc, Ketua Kelompok Peneliti Teknologi Budidaya BBPPBL Gondol, Bali.

Melihat peluang tersebut, BBPPBL Gondol berupaya mengembangkan budidaya lobster sejak dua tahun lalu. Pengembangan budidaya ini dilakukan di pantai selatan Gunung Kidul dengan menggunakan keramba dasar, sedangkan di Lombok dengan keramba jaring apung.

Dalam budidaya tersebut, BBPPBL Gondol menggunakan dua macam ukuran benih, yaitu puerulus dan baby lobster. Puerulus adalah anak lobster yang masih transparan. Sementara baby lobster adalah anakan yang memiliki berat 50—100 gram.

Selama budidaya, kualitas air optimal yang disarankan di antaranya salinitas atau kadar garam 30—35 ppt; suhu 27—29 oC; pH 8,0—8,3; dan DO terlarut lebih dari 55 ppm. Untuk puerulus, masa pemeliharaan hingga panen ukuran konsumsi atau bobot 200 g/ekor membutuhkan waktu 15—20 bulan. Sementara baby lobster membutuhkan waktu 4—5 bulan.

Kendala budidaya

Pengadaan benih masih menjadi faktor utama belum berkembangnya usaha budidaya lobster secara massif. “Benih puerulus masih sangat mahal karena diekspor secara ilegal ke Vietnam, walaupun sudah dilarang pemerintah,” ungkap Bejo.

Bukan tanpa bukti. Rabu (25/5), operasi gabungan Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) KKP dan Direktorat Bea dan Cukai kembali berhasil menggagalkan penyelundupan 150.800 ekor benih lobster yang akan dikirim ke Singapura melalui Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng.

Selain kendala benih, masalah pada budidaya lobster lainnya adalah tingginya kematian akibat penyakit dan kanibalisme. “Kematian yang masih tinggi diakibatkan wabah penyakit seperti milky dan badan merah yang belum bisa ditanggulangi. Selain itu kanibalisme, saat lobster lemah ketika ganti kulit sehingga mudah dimangsa lobster lain,” terang Bejo.

Selanjutnya Baca di Majalah Info Akuakultur Edisi Agustus 2016

Incoming search terms:

  • budidaya lobster gondol
  • biodata peneluti perikanan drs bedjo slamet
  • lobster pasir
  • peluang untuk jual lobster di bali
  • peternakan lobster laut di bali

Leave a comment

Your email address will not be published.

*



Artikel menarikclose