Kembangkan Potensi Marikultur Secara Terintegrasi

Oleh: I Nyoman Adiasmara Giri

Pengembangan marikultur saat ini baru di spot-spot daerah tertentu dan masih terpencar, akan lebih baik bila marikultur dikembang secara kawasan dan terintegrasi, tentunya sesuai dengan daya dukung lingkungan yang ada.

Saat ini kita lebih fokus mengembangkan marikultur untuk jenis ikan karnivora, sehingga masih banyak mengandalkan ikan rucah sebagai pakannya. Namun hal ini, tergantung dari ketersediaan ikan rucah di alam dan pakan buatan di lokasi budidaya.

Seperti kita ketahui banyak lokasi budidaya berada di daerah Remote, terpencar dengan skala yang masih terbatas. Sementara produsen pakan buatan sangat jauh dari lokasi tersebut sehingga cost seperti biaya angkut pakan akan menjadi lebih tinggi.

Jika dibuat secara kawasan dan terintegrasi maka masalah ini akan teratasi. Teknologi pakan  sudah cukup berkembang, namun  diperlukan perbaikan-perbaikan untuk mendapatkan pakan yang efektif dan efisien. Memang ada catatan bahwa banyak bahan pakan yang kita masih harus impor, khususnya tepung ikan.

Potensi marikultur kita mencapai sekitar 12,5 juta Ha, sedangkan yang sudah dimanfaatkan baru 2,6% dari potensi tersebut. Peluang untuk pengembangannya masih sangat besar.

Kita mempunyai banyak spesies ikan laut kandidat budidaya. Beberapa spesies ikan sudah dapat diproduksi benihnya di hatchery secara masal, seperti berbagai spesies ikan kerapu, termasuk kerapu hibrid, kakap putih, bandeng, bawal bintang, dan abalon.

Jenis-jenis ini telah dapat dikembangkan budidayanya secara masal dengan memperhatikan aspek pasar dan pasca panennya. Lobster juga punya peluang besar untuk dibudidayakan dengan memanfaatkan benih alam yang berlimpah.

Untuk memacu perkembangan marikultur, tentunya kita harus melihat dulu isu dan kendala yang ada. Seperti infrastruktur, sumber daya manusia, isu penurunan mutu lingkungan, berkembangnya penyakit, mutu benih dan induk ikan, isu produktivitas yang rendah, biaya produksi yang terus meningkat terkait dengan sarana produksi, perubahan iklim, serta pengolahan dan pemasaran hasil.

Maka secara bertahap kita harus terus mengembangkan teknologi dan mencari inovasi untuk antisipasi isu/kendala tersebut seperti mendapatkan benih dan induk unggul, memperbaiki sistem budidaya menjadi lebih efisien dan berkelanjutan, dan lainnya.

Khusus untuk perbaikan mutu benih dan induk unggul, kita telah mempunyai “Jejaring Pemuliaan” untuk komoditas laut meliputi ikan kerapu, kakap, bandeng, abalon dan rumput laut.

Selanjutnya Baca di Majalah Info Akuakultur

Incoming search terms:

  • budidaya terintegrasi
  • marinkultur
  • on the spot isu lele

Leave a comment

Your email address will not be published.

*



Artikel menarikclose