Kenali Fitoplankton dari Ciri dan Potensinya

Beberapa contoh jenis plankton yang baik (Green Algae dan Diatom), jenis yang diharapkan tumbuh stabil dengan kemelimpahan yang terkendali di tambak udang

Bagai dua sisi mata pisau, fitoplankton pun ada yang baik dan dan buruk. Kenali jenis dan cirinya agar budidaya udang tetap aman.

 

Keberadaan dan ketersediaan plankton dalam air media pemeliharaan udang khususnya jenis fitoplankton yang menguntungkan dan persentase dominanasi (keseimbangan) sangatlah dibutuhkan, baik dari segi keanekaragamannya maupun kemelimpahannya.

 

Darmawan Adiwidjaya Prekayasa di BBPBAP Jepara menjelaskan, fungsi dan peranan plankton pada air media pemeliharaan udang  diantaranya adalah sebagai pakan alami untuk pertumbuhan awal udang yang dipelihara dan sebagai penyangga (buffer) terhadap intensitas cahaya matahari.

Beberapa contoh jenis plankton (blue Green Algae) yang beracun, jenis yang harus diwaspadai keberadaannya di tambak udang

 

Selain itu, tambah Darmawan, plankton juga berfungsi sebagai indikator kestabilan lingkungan air media pemeliharaan. Pembuangan jenis plankton melalui pintu air, plankton negatif dan posistif yang ditemukan dalam air tambak dapat dikendalikan populasinya dengan manajemen pembukaan pintu air (monik), dengan mengenal karakteristik lapisan air yang disenangi masing-masing plankton (seperti terlihat pada Tabel 1).

 

Tabel  1.        Lapisan air yang dihuni berbagai jenis plankton dalam jangka waktu berbeda

 

Lapisan air

di Tambak

Pagi pk  08.00 Sore  pk 15.00 Tengah malam pk 03.00
1.      Permukaan

 

 

Cyanophyceae Ciliophora

Phytoflagellata

Annelida

Dinoflagellata

Arthropoda

Rotifera

2.      Tengah Air

 

 

Ciliophora

Phytoflagellata

Dinoflagellata

Arthropoda

Rotifera

3.      Dasar

 

 

Annelida (cacing)

Dinoflagellata

Arthropoda

Rotifera

Cyanophyceae Ciliophora

Phytoflagellata

Annelida

Keterangan:        Biota dengan huruf tebal  (bold)  merupakan jenis yang harus diperhatikan kemelimpahannya (tidak boleh lebih dari 50 % ) melalui  pengamatan pada  sedwich rafter atau haemocytometer.

 

Darmawan mengatakan, untuk mempertahankan kondisi kestabilan plankton tersebut maka dilakukan pemupukan awal dengan dosis 5 – 10 ppm (jenis pupuk yang siap pakai, pupuk hasil permentasi kombinasi) dan pemupukan susulan dengan dosis 3 – 5 ppm.

 

Karena pada awal pemeliharaan biasanya sering terjadi fluktuasi pertumbuhan dan kemelimpahan plankton, maka dilakukan inokulasi plankton secara periodik (susulan) dengan dosis disesuaikan dengan kecerahan air.

 

Kecerahan air akibat keberadaan plankton yang baik pada petak pembesaran jenis udang putih lokal ini adalah berkisar antara 40 – 50 cm, sedangkan kecerahan air pada petak distribusi air suplai diusahakan selalu di atas 50 %.

 

“Apabila pada petak pembesaran terjadi kepekatan (blooming) plankton (kecerahan air di bawah 25 cm), maka dilakukan pengenceran air dengan cara menambah air baru yang sudah steril (disuplai dari petak air baku siap pakai/petak karantina),” ujar Darmawan.

Selanjutnya Baca di majalah Info Akuakultur

 

 

Leave a comment

Your email address will not be published.

*



Artikel menarikclose