Kepiting Rajungan dari Induk Alam

Sebagai salah satu hasil laut yang terkenal nikmat dan bernilai gizi, kepiting rajungan menjadi salah satu hasil laut yang permintaan pasarnya tinggi.

Kepiting rajungan juga dikenal dengan nama blue crab atau Portunus pelagicus. Kepiting rajungan memiliki bentuk, warna, dan penampakan yang berbeda dengan kepiting bakau. Jenis kepiting ini dapat ditemukan di daerah pasang-surut, dari Samudera Pasifik, Samudera Hindia, Timur Tengah, sampai pantai di Laut Mediterania.

Sebagai salah satu komoditas ekspor Indonesia, sampai saat ini seluruh kebutuhan ekspor rajungan masih mengandalkan hasil tangkapan laut. Dikhawatirkan, populasinya di alam akan menurun. Indikasinya terlihat selama tiga tahun terakhir, ekspor kepiting rajungan mengalami fluktuasi karena tidak stabilnya hasil penangkapan oleh nelayan. Sebagai salah satu komoditas ekspor, budidaya kepiting rajungan bisa dikategorikan sebagai peluang usaha baru.

Pembenihan dari induk tangkapan alam

Salah satu kendala dalam pengembangan teknologi pembenihan rajungan adalah rendahnya persentase sintasan benih atau tingkat kelangsungan hidup yang dihasilkan. Belum ada teknologi pembenihan kepiting rajungan yang mudah diaplikasikan. Namun, bukan berarti budidayanya tidak bisa dilakukan. Salah satu upaya memperoleh benih yaitu menggunakan induk rajungan hasil tangkapan alam yang sudah gendong telur.

Foto 2 (www.chesapeakebay.net)

Faktor yang paling menentukan dalam keberhasilan budidaya kepiting rajungan adalah pemilihan lokasi pembenihan, yang disarankan berada di tepi atau di daerah sekitar pantai agar memudahkan penyedian air laut. Kondisi air laut yang digunakan untuk budidaya harus jernih dan tidak berlumpur. Di samping itu, syarat utama lainya adalah kemampuan memompa air paling tidak selama 20 jam terus-menerus.

Suhu air kolam kepitingan rajungan disarankan pada kisaran 30—31 oC. Selama pemeliharaan, induk rajungan diberi pakan berupa cumi-cumi 2 kali sehari. Bak pemeliharaan dilengkapi dengan sistem sirkulasi yang mampu memompa air selama 20 jam non-stop dan diberi aerasi. Pergantian air dilakukan 2 minggu sekali sebanyak 50% total volume air.

Hal lain yang harus diperhatikan adalah proses atau siklus perkembangbiakan dan preferensinya. Kepiting rajungan jantan hanya mau kawin ketika betina sudah dewasa dan dalam tahap terakhir pergantian kulit (molting).

Salah satu hal yang paling menguntungkan adalah kepiting rajungan betina dapat menghasilkan dua juta telur setiap kali memijah. Walaupun tingkat kelangsungan hidup (survival rate) benih-benih di alam rendah, dengan penjagaan lingkungan yang terkendali, tingkat keberhasilannya bisa ditingkatkan.

Pemindahan induk gendong telur harus dilakukan dengan hati-hati. Telur sebaiknya ditunggu dari berwarna kuning, berubah jingga, lalu hitam. Setelah itu, induk kepiting rajungan dipindahkan ke dalam bak penetasan yang sudah dibersihkan dengan air laut steril. Proses pemindahan sebaiknya dilakukan pada sore hari.

Penetasan memakan waktu selama 1—2 hari. Selama waktu tersebut, induk kepiting rajungan biasanya tidak mau makan dan air dalam kolam harus diganti 100% setiap harinya. Induk kepiting rajungan juga tidak diberi pakan untuk mengurangi risiko kontaminasi bibit penyakit lewat pakan segar.

Selengkapnya baca di majalah Info Akuakultur Edisi 8/September 2015

Incoming search terms:

  • budidaya kepiting di kolam terpal
  • rajungan untuk pakan lele
  • budidaya rajungan kolam terpal
  • cara budidaya rajungan
  • budidaya rajungan
  • budidaya rajungan pkai terpal
  • kepiting di kolam terpal
  • kepiting rajungan bagusnya di air pasang atau surut
  • budidaya kepiting rajungan
  • budi daya Rajungan

2 Comments on Kepiting Rajungan dari Induk Alam

  1. BENNY CHANDRA // January 30, 2017 at 9:34 am // Reply

    saya mau langganan majalah anda .mohon info biaya .apakah bisa konsultasi juga dengan penulis anda .thanks.

Leave a comment

Your email address will not be published.

*



Artikel menarikclose