Ketika Aku Bersyukur

 

 

Bambang Suharno

 

Ketika aku ingin hidup kaya

Aku lupa bahwa hidup itu sebuah kekayaan

Ketika aku takut memberi

Aku lupa bahwa semua yang aku miliki juga adalah pemberian

Ketika aku takut rugi

Aku lupa bahwa hidupku adalah sebuah keberuntungan karena anugerah-Nya

Ternyata hidup ini sangat indah, ketika kita selalu bersyukur kepada-Nya

(WS Rendra)

 

Hari ini saya bersyukur masih diberi kesempatan untuk menulis artikel Inspirasi di majalah ini. Kesempatan untuk menulis artikal adalah kesempatan yang langka, jika saya mengeluh bahwa menulis adalah sebuah beban, sungguh sangat tidak patut. Betapa banyak orang lain yang ingin menampilkan artikelnya di media cetak nasional. Sejatinya betapa banyak yang harus saya syukuri, tapi saya lebih banyak mengingat hal yang saya anggapburukbagiku.

Agama mengajarkan, jika kita bersyukur  maka Tuhan akan menambah nikmat kita, dan sebaliknya jika kita kufur, maka akan datang azab Tuhan yang sangat berat.

Mari kita coba pahami sikap Syukur dari kajian ilmuwan. Sudah banyak ahli yang meneliti tentang sikap bersyukur. Bahkan “gratitude research” atau “penelitian tentang sikap bersyukur” menjadi salah satu bidang yang banyak diteliti ilmuwan abad ke-21 ini.

Profesor psikologi asal University of California, Davis, AS, Robert Emmons, sekaligus pakar terkemuka di bidang penelitian “sikap bersyukur”, telah memperlihatkan bahwa dengan setiap hari mencatat rasa syukur atas kebaikan yang diterima, orang menjadi lebih teratur berolah raga, lebih sedikit mengeluhkan gejala penyakit, dan merasa secara keseluruhan hidupnya lebih baik.

Saya sempat berpikir kenapa orang bersyukur jadi rajin olah raga? Rupanya kalau kita mensyukuri kesehatan, secara spontan menjadi bersikap menjaga kesehatan, yakni dengan olah raga.

Dikatakan dalam penelitian itu bahwa dibandingkan dengan mereka yang suka berkeluh kesah setiap hari, orang yang mencatat daftar alasan yang membuat mereka bersyukur akan, bersikap lebih menyayangi, memaafkan, gembira, bersemangat dan berpengharapan baik mengenai masa depan mereka. Di samping itu, keluarga dan rekan mereka melaporkan bahwa kalangan yang bersyukur tersebut tampak lebih bahagia dan lebih menyenangkan ketika bergaul.

Dalam sebuah penelitian Prof Emmons mewajibkan sebagian mahasiswa untuk menuliskan lima hal yang menjadikan mereka bersyukur setiap hari. Sedangkan mahasiswa selebihnya diminta mencatat lima hal yang menjadikan mereka mengeluh. Tiga pekan kemudian, mahasiswa yang bersyukur memberitahukan adanya peningkatan dalam hal kesehatan jiwa-raga dan semakin membaiknya hubungan kemasyarakatan dibandingkan rekan mereka yang suka menggerutu.

Di tahun-tahun berikutnya, profesor Emmons melakukan aneka penelitian yang melibatkan beragam kondisi manusia, termasuk pasien penerima organ cangkok, orang dewasa yang menderita penyakit otot-saraf dan murid kelas lima SD yang sehat. Di semua kelompok manusia ini, hasilnya sama: orang yang memiliki catatan harian tentang ungkapan rasa syukur mengalami perbaikan kualitas hidupnya.

Penelitian lain dilakukan dengan melatih pembiasaan sikap bersyukur setiap hari pada diri sendiri. Kondisi positif seperti: waspada, bersemangat, tabah, penuh perhatian, dan daya hidup pada orang muda dewasa meningkat akibat pembiasaan sikap bersyukur. Perbaikan kondisi sebaik ini tidak dijumpai pada orang yang dilatih bersikap menggerutu.

Orang sakitpun tak luput dari penelitian ini. Dengan melibatkan sejumlah orang dewasa pengidap penyakit otot-saraf, pelatihan membiasakan sikap bersyukur berdampak baik pada pasien tersebut. Di antaranya adalah kualitas dan lama tidur yang lebih baik, lebih optimis dalam menilai kehidupan, lebih eratnya perasaan persahabatan dengan orang lain, serta suasana hati tenteram yang lebih sering dibandingkan dengan mereka yang tidak dilatih bersikap syukur.

Pribadi-pribadi yang bersyukur dilaporkan memiliki sifat materialistis yang rendah. Mereka tidak begitu menaruh perhatian penting padahal-hal yang bersifat materi. Mereka cenderung tidak menilai keberhasilan diri sendiri dan orang lain dari jumlah harta benda yang mereka kumpulkan.

Dibandingkan dengan kaum yang kurang berterima kasih, kalangan yang bersyukur cenderung tidak berwatak pendengki terhadap kaum kaya, dan bersikap mudah memberikan apa yang mereka punya kepada orang lain.

Profesor Emmons menuangkan hasil-hasil temuan ilmiahnya itu dalam buku terkenalnya “Thanks! How the New Science of Gratitude Can Make You Happier” (Terimakasih!Bagaimana Ilmu Baru tentang Bersyukur Dapat Menjadikan Anda Lebih Bahagia). Buku ini memaparkan pula 10 kiat untuk menanamkan rasa syukur sepanjang tahun demi mendapatkan nikmat karunia yang bermanfaat dalam kehidupan.***

Incoming search terms:

  • ketika aku
  • artikel membiasakan bersyukur
  • ketika aku merasa kan tidak syujur aku lupa hidup adalah keberuntungan
  • ketika aku merasa rugi aku lupa bahwa hidupku adalah keberuntungan
  • ketika aku tidak memberi saya lupa bahwa hiidup iini pemberian
  • penelitian gratitude
  • Tak kusangka aku dapat keberuntungan seperti ini betapa aku bersyukur dengan rejekiku ini

Leave a comment

Your email address will not be published.

*



Artikel menarikclose