Laba 50% Lebih dari Tambak Skala Rumah Tangga

Dari modal Rp 59.530.000 rupiah, petambak bisa mengangguk laba sebesar Rp 30.030.000!

Demikian ungkap Supito dari Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara. “Teknologi budidaya udang skala rumah tangga  ini  merupakan modifikasi tambak dengan mengatur volume atau luas petak pembesaran udang sehingga dapat menerapkan tenologi budidaya yang baik dan benar (CBIB),” terangnya.

Menurut Supito, penerapan sistem tambak skala rumah tangga memiliki beberapa keunggulan. Di antaranya fleksibilitas dalam penentuan lokasi pembuatan tambak. Tambak skala rumah tangga ini bisa memanfaatkan lahan tambak tradisional maupun lahan idle pada kawasan estuari. Mencakup kawasan yang masih terpengaruh pasang-surut, mulai kawasan dekat garis pantai hingga kawasan yang terletak menjorok ke daratan, selama masih mudah mendapatkan sumber air payau.

Ramah lingkungan

Dengan luasan berkisar 500—2.000 meter persegi, pengelolaan air tambak menjadi lebih mudah dilakukan. Desain atau tata letak tambak yang menerapkan konsep biosekuriti menjadikan tambak skala rumah tangga lebih mudah dalam urusan pengendalian penyakit. Dengan sistem budidaya semitertutup, pemilihan teknologi bisa diatur dari semiintensif hingga intensif berkapasitas produksi 0,5—1 kilogram per hektar. Tentunya, disesuaikan dengan ketersediaan sarana aerasi.

“Teknologi yang diterapkan dalam tambak skala rumah tangga tergolong ramah lingkungan. Sebab, pemanfaatan lahan bisa simultan dengan ikan herbivora seperti bandeng dan nila untuk merubah kotoran menjadi daging ikan sehingga dapat meningkatkan nilai tambah,” ungkap Supito.

Selama budidaya, teknologi yang digunakan tetap menjaga keseimbangan lingkungan kawasan budidaya dengan memanfaatkan aktifitas  biologi, misalnya penggunaan probiotik pada petak  pemeliharaan. Begitu pula pengelolaan pada petak pengolah limbah, yang memanfaatkan makroalga sebagai biofilter untuk memperbaiki kualitas air buangan.

 

Biaya produksi relatif rendah

Konstruksi tambak skala rumah tangga dibangun dengan prinsip kedap dan tidak keruh saat penggunaan kincir. Dengan begitu, konstruksi tambak dapat berupa tambak tanah; tambak pasir; serta tambak yang dilapisi (lining) plastik, semen, atau bahan lain yang direkomendasikan. Untuk hasil yang memuaskan, sarana dan prasarana budidaya udang lainnya harus mengikuti rekomendasi dari otoritas yang berkompeten sesuai standar CBIB.

Mahalkah?

Pengelolaan lingkungan media budidaya perlu dilakukan secara baik  agar kualitas  air selama proses budidaya optimal dan stabil. Namun, teknologinya bisa disesuaikan dengan jenis dan jumlah ketersediaan sarana budidaya.

Sebagai contoh, pengadaan alat aerasi untuk pengelolaan air dapat dilakukan melalui inovasi atau modifikasi peralatan mekanik, sesuai karakteristik lokasi tambak. Untuk lokasi kawasan tambak di mana tersedia jaringan listrik  3 phase (330 volt)  dapat menggunakan  kincir/pompa dengan tipe motor 3 phase (330 volt) atau tipe motor 1 phase (220 volt).

Untuk lokasi kawasan tambak yang terdia jaringan listrik  1 phase atau 220 volt, kincir mengunakan motor kincir/pompa 1 phase atau 220 volt. Sementara lokasi kawasan tambak yang belum ada jaringan listrik dapat menggunakan sumber energi dari diesel  untuk penggerak kincir atau pompa.

“Dengan penyesuaian sarana budidaya dengan ketersediaan sarana sumber energi listrik atau diesel, teknologi tambak skala rumah tangga dapat diterapkan di semua lokasi kawasan tambak. Modal usaha yang dibutuhkan untuk membangun tambak skala rumah tangga pun relatif rendah, berkisar 30—40 juta rupiah,” terang Supito lebih lanjut.

 

Selanjutnya baca di Majalah Info Akuakultur

Incoming search terms:

  • tambak busmetik skala rumah tangga

Leave a comment

Your email address will not be published.

*



Artikel menarikclose