Langkah Praktis Budidaya Udang Berkelanjutan

Dalam tiga dekade terakhir, usaha budidaya air payau di tambak berkembang sedemikian pesat. Konstribusinya terhadap produksi perikanan di pasar internasional pun cukup tinggi. Sayangnya, masih banyak para produsen yang kurang memperhatikan usaha budidaya berawawasan lingkungan dan keamanan pangan (food safety).

Beberapa permasalahan yang cukup merisaukan negara konsumen, terutama Uni Eropa, Amerika Serikat, dan Jepang terkait dengan isu perusakan lingkungan serta ikan atau udang hasil budidaya, yang terdeteksi banyak mengandung residu beberapa jenis antibiotik yang melebihi batas ambang. Dampaknya, sebagai contoh kasus penolakan terhadap 23 kontainer udang Indonesia sejak tahun 2006—2007 oleh Jepang dengan alasan mengandung residu antibiotik dan bakteri yang membahayakan manusia.

Menurut Supito, S.Pi., M.Si., Perekayasa BBPBAP Jepara, dengan memperhatikan permintaan pasar internasional saat ini dan adanya kasus penolakan udang Indonesia oleh beberapa negara importir akibat residu antibiotik dan kandungan bakteri berbahaya pada tubuh udang, kegiatan budidaya udang dituntut untuk menerapkan cara budidaya yang baik atau Good Aquaculture Practaces (GAP).

Terkait dengan hal tersebut, terdapat langkah praktis dalam mengelola usaha budidaya udang yang berkelanjutan. Berikut langkah praktis yang dibeberkan Supito dalam publikasi berjudul “Konsep Budidaya Tambak Berkelanjutan”, yang ditulis bersama Darmawan Adiwijaya dan Tri Supratno KP.

Kurangi polusi limbah organik

Permasalahan pada tambak ikan atau udang berawal dari akumulasi bahan organik. Selanjutnya, polusi bahan organik tersebut berimbas pada berbagai aspek pemeliharaan, seperti menurunnya kualitas media pemeliharaan akibat kadar gas racun meningkat dan menurunnya kandungan oksigen, turunnya daya tahan udang, hingga merebaknya wabah penyakit.

Faktanya, lingkungan budidaya perairan tidak hanya menanggung beban polusi dari kegiatan akuakultur sendiri (internal pollutant/self-pollutant), tetapi juga pencemaran dari kegiatan lain (external pollutant) seperti limbah industri/pabrik, rumah tangga, atau pun pertanian. Secara komprehensif, kemampuan lingkungan menjadi pembatas bagi produksi budidaya perairan, dalam hal ini produksi udang budidaya. Keberlanjutan (sustainability) usaha tambak ikan/udang bergantung kepada kemampuan dalam mengidentifikasi dan mengelola daya dukung lingkungan sehingga tetap menunjang  kegiatan produksi budidaya ikan/udang secara lestari.

Sebenarnya, proporsi terbesar nutrien atau limbah organik pada sistem tambak ikan/udang berada dalam bentuk padatan tersuspensi sehingga relatif mudah dikendalikan dengan hanya melalui proses pengendapan sederhana. Langkah efektif untuk mengatasinya dengan jalan mengendapkan atau menampung limbah buangan saat panen pada petak pengendapan. Jadi, tidak dibuang langsung ke lingkungan sekitar. Jika pergantian air selama masa pemeliharaan relatif jarang dilakukan, proporsi luas lahan untuk pengendapan (settling ponds) terhadap petak pemeliharaan tidak perlu terlalu besar. Saat pengeringan, limbah padat dari petak pengendapan diangkat dan dikeringkan sehingga bahan organik teroksidasi dan terurai. Padatan ini bisa dimanfaatkan kembali untuk penggunaan lain, misalnya pupuk. Dalam beberapa hal, settling ponds dalam suatu sistem budidaya udang nampak cukup sederhana dan relatif murah, sebagai suatu mata rantai dalam pengolahan limbah budidaya.

Keberadaan mangrove diyakini dapat membantu memulihkan lingkungan pantai yang tercemar bahan organik. Beberapa alternatif lain seperti pemanfaatan hewan moluska (misalnya kekerangan), ikan pemakan plankton (tilapia, bandeng), atau rumput laut (seperti Gracilaria) telah banyak dikaji dalam mengelola limbah organik tambak ini.

Selanjutnya Baca di Majalah Info Akuakultur

Incoming search terms:

  • Konsep budidaya lele berkelanjutan
  • maksut siten vudidaya udang yang sustinable
  • sistem sustainabel untuk budidaya ikan

Leave a comment

Your email address will not be published.

*



Artikel menarikclose