Mengenal Ambon Lebih Dekat

Spread the love

Kalau kita bicara mengenai ikan hias laut maka kita bicara tentang keberadaan dan eksistensi dari BPBL Ambon,” ungkap  Direktur Kawasan dan Kesehatan Ikan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, Arik Hari Wibowo.

 

Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL) Ambon merupakan salah satu Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pusat Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang ditetapkan melalui Peraturan Menteri (PERMEN) Kelautan dan Perikanan No. PER.10/MEN/2006 tanggal 12 Januari 2006.

 

“Wilayah kerja BPBL Ambon meliputi Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat dan Papua,” kata Kepala BPBL Ambon, Tinggal Hermawan.

 

Lanjutnya, BPBL Ambon memiliki visi mewujudkan balai sebagai institusi pemberi pelayanan prima dalam pembangunan dan pengembangan sistem budidaya laut yang berdaya saing, berkelanjutan dan berkeadilan.

 

Selain itu, misi BPBL Ambon ialah mengembangkan rekayasa teknologi budidaya berbasis agribisnis dan melaksanakan alih teknologi kepada dunia usaha, meningkatkan kapasitas kelembagaan serta memfasilitasi upaya pelestarian sumberdaya ikan dan lingkungan.

 

Kegiatan Restocking

 

Akhir November lalu (30/11), BPBL Ambon menyelenggarakan acara penyerahan bantuan bidang perikanan, yang dilakukan secara simbolis pada beberapa kelompok penerima, kegiatan penebaran kembali (restocking) serta Pengukuhan Kelompok Pembudidaya ikan hias skala rumah tangga “Mina Oce laris” yang merupakan binaannya.

 

Rangkaian acara tersebut terbagi menjadi 5 kegiatan diantaranya: Pertama, Restocking kakap putih, ikan bubara, dan beberapa jenis ikan hias laut yang ditebar di teluk Ambon. Kedua, Penyerahan Bantuan  sarana budidaya Laut APBNP – DJPB 2017 pakan dan obat – obatan. Ketiga, bantuan benih yang berupa benih ikan hias, benih ikan konsumsi. Keempat, Pengukuhan kelompok pembudidaya ikan hias skala rumah tangga “Mina Oce laris”. Kelima Bantuan Bioflok kepada Pesantren Hidayatullah.

 

Kegiatan tersebut turut pula dihadiri oleh beberapa tokoh penting diantaranya Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Michael Wattimena, Kepala Staf Daerah Militer XVI Pattimura Ambon, Direktur Kawasan dan Kesehatan Ikan Ditjen Perikanan Budidaya Arik Hari wibowo, Direktur Kelautan dan Perikanan Bappenas, Sekretaris Dinas Perikanan dan Kelautan Propinsi Maluku, Panglima angkatan laut, Kementerian Pertanian, BRI, Kepala UPT Lingkup KKP, Kepala BPBAT Tatelu, Kelompok Pembudidaya kota Ambon, serta kepala desa, Kecamatan, dan tokoh masyarakat dari Waiheru.

 

“Semua dukungan tersebut merupakan bentuk nyata dari DJPB untuk Masyarakat Pembudidaya di Ambon,” ujar Arik.

 

Rajanya ikan hias laut

 

Tidak hanya sekedar memberikan bantuan, tugas DJPB adalah melakukan pembinaan atau penguatan kelompok. Ini juga merupakan program prioritas sehingga keberadaan Kelompok Mina Oce Laris (kelompok budidaya ikan hias laut), bisa terbentuk dan berkembang.

 

“Kedepan semoga di Ambon ini ada kampung atau desa khusus produksi ikan hias dan ini belum ada di Indonesia, semoga lahir di Ambon,” harap Arik.

 

Kalo bicara mengenai ikan hias, maka tentu bicara mengenai keberadaan dan eksistensi BPBL Ambon. Di Ambon, ada teknologi budidaya ikan hias yang sudah terbukti menghasilkan ikan-ikan hias masuk pasar ekspor.

 

Teknologi yang dikenal yaitu Teknologi pembenihan dan pembesaran Nemo, Banggai Cardinal, Mandarin Fish, Blue Devil. Sedangkan untuk ikan konsumsi saat ini BPBL Ambon telah menguasai teknologi pembenihan ikan Bubara.

 

Seperti balai perikanan lain yang ada di Indonesia yang punya ikon tersendiri, kami akan berupaya mendorong ikan hias sebagai ikon BPBL Ambon. Sebab jika bicara ikan hias laut maka Ambon rajanya karena kemajuan teknologi dalam pembudidayaan nya.

 

Saat ini para pembudidaya mengambil benih ikan hias ukuran 1-2 cm dari BPBL Ambon, kembudian dibesarkan oleh kelompok pembudidaya sekitar 4-5 bulan agar menghasilkan ikan hias berukuran 4 cm, kemudian dikembalikan ke BPBL Ambon untuk dibantu dipasarkan dan dikirim ke eksportir di Jakarta dan Bali.

 

“Kita ingin sekali melihat para kelompok budidaya ikan hias laut di Ambon bisa memasarkan langsung ikan hias mereka ke luar negeri tanpa harus dikirim terlebih dahulu ke Jakarta dan Bali karena keuntungannya berkurang dan pasar ikan hias dunia tidak mengenal Ambon sebagai penghasil ikan hias terbaik di Indonesia,” Pungkas Arik.

 

 

 

Bantuan bioflok untuk santri

 

Setelah restocking di Teluk Ambon, Info Akuakultur bersama Tim melanjutkan perjalanan ke Pesantren Hidayatullah di Jl. Raya Liang – Ambon, Desa Liang, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah.

 

Salah satu pengurus pesantren Hidayatullah, Ghifari, disela-sela waktu sebelum acara dimulai mengatakan kegiatan para santri sebelum ada bantuan budidaya lele dengan bioflok ini kegiatannya beternak dan bertani. “Ikan lele di Maluku ini kurang, sehingga ini merupakan peluang untuk memasuki pasar,” ungkapnya.

 

Dengan budidaya lele bifolok ini diharapkan akan  mendapatkan hasil 3-4 kali lipat dari budidaya secara konvensional. Selain itu, para santri bisa mandiri dan tumbuh jiwa wirausahanya. Bagi kami bantuan bioflok ini merupakan amanah, dan semoga berhasil karena kita dibimbing juga dari BPBAT Tatelu.

 

Michael Wattimena mengatakan maluku ini ada 9 (sembilan) kabupaten dan 2 (dua) kota. Ini merupakan salah satu pilot project  dan mungkin bisa dikembangkan didaerah lain, Kedepan  semoga bisa dikembangkan lagi seperti kelompok yang ada disini.

 

seperti yang disampaikan Arik, bila ini telah sukses dikembangkan di pesantren hidayatullah maka tidak menutup kemungkinan program ini akan dikembangkan pada wilayah lainnya di kabupaten kota di provinsi Maluku. “Serta untuk daerah yang sulit air tawar cukup bagus untuk diterapkan,” ujarnya.

 

Kepala BPBAT Tatelu Fernando, mengungkapkan bahwa tujuan  dari bantuan ini pertama agar para santri punya keterampilan setelah lulus dari pesantren. Kedua untuk meningkatkan tingkat konsumsi protein di pondok pondok pesantren demikian juga di yayasan lainnya. ketiga Teknologi budidaya sistem bioflok ini sangat cocok diterapkan dalam menunjang ketahanan pangan  karena dapat dilakukan pada lahan yang sempit dengan suplai air terbatas.

 

Lanjutya, untuk paket ini kita tebar 26 ribu ekor benih lele. Untuk mereduksi atau menekan biaya produksi, tentu saja usaha pembenihan lele harus berkembang di provinsi maluku. Kita mendampingi langsung dan pegawai BPBAT Tatelu menginap disini sudah 3 minggu kami menganggap cara ini yang paling efektif yang paling cepat untuk transfer teknologinya.

 

Prinsipnya  kita harus mengikuti SOP yang sudah ditetapkan dan kita harus tetap konsisten dan disiplin, karena dari kita sudah ada SOP yang sudah distandarkan seluruh Indonesia pelaksanaan bioflok hanya dengan mematuhi itu konsisten dengan itu usaha budidaya lele bioflok pasti berhasil, kita juga mengembangkan budidaya bioflok di bualemo provinsi Gorontalo dan ini cukup berhasil.

 

“Semoga perikanan budidaya di indonesia punya peran lebih besar dan berkontribusi demi kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya. (Resti)

 

 

Incoming search terms:

  • mengenal ambon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *