Mengenal Obat Ikan (Drh. Abadi Soetisna MSi)

udang-vannameiDalam beberapa tahun terakhir ini perikanan budidaya di Indonesia mengalami perkembangan yang cukup pesat. Ini disebabkan karena konsumsi ikan makin meningkat akibat pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan ekonomi.

Salah satu aspek penting dalam budidaya ikan adalah obat-obatan ikan yang juga mengalami banyak perkembangan dari berbagai aspek. Obat ikan kini bukan lagi hanya berperan dalam mengobati penyakit ikan, melainkan juga untuk mencegah penyakit, meningkatkan pertumbuhan dan berbagai fungsi lainnya.

Jenis obat hewan

Pada umumnya pemahaman masyarakat menganai fungsi obat adalah untuk menyembuhkan penyakit, padahal fungsi obat sekarang ini sudah semakin luas. Setidaknya ada 6 fungsi obat ikan , yaitu:

  1. Untuk pengobatan/penyembuhan penyakit, misalnya antibiotik
  2. Untuk pencegahan penyakit , misalnya vaksin
  3. Untuk peningkatan produksi/reproduksi , misalnya Growth Promotor
  4. Untuk alat diagnostik, misalnya antigen
  5. Untuk mengurangi rasa sakit/stress dalam perlakuan ikan/transportasi
  6. Untuk kosmetik , misalnya agar warnanya lebih cerah

Sementara itu dari jenis sediaannya, obat ikan, dapat dikasifikasikan menjadi tiga kategori utama yaitu Farmasetika ( antara lain jenis antibiotika ), Biologik (antara lain vaksin, serum, antiserum) dan premiks.

Pengertian premiks dalam perundang-undangan, terdiri dari feed additive (imbuhan pakan) dan feed suplement (pelengkap pakan). Banyak orang mencampuradukkan pengertian feed additive dan feed suplement. Bahkan di kalangan industri, semua yang dicampur di pakan disebut sebagai feed additive. Untuk memudahkan pengertian, penjelasannya begini. Feed additive atau imbuhan pakan, adalah zat yang dicampurkan di pakan yang merupakan zat yang baru sama sekali. Misalkan pakan ditambah dengan antibiotika yang bisa mempercepat pertumbuhan. Kalau sekarang kita banyak mendengar pembahasan tentang antibiotic growth promoter (AGP), itu adalah antibiotika yang dicampur dalam pakan. Karena di dalam pakan, aslinya tidak ada AGP, maka AGP termasuk kategori feed additive.

Namun jika kita menambahkan zat yang sudah ada di pakan, maka zat itu termasuk feed suppplement (pelengkap pakan). Vitamin sering disebut sebagai Feed Additive, padahal yang tepat adalah feed supplement.

Nah, selain farmasetik, biologik dan premik, ada kategori baru yaitu obat alami dan obat herbal. Obat alami adalah obat-obatan yang dibuat dari bahan alami, baik dari hewan, tanaman maupun dari tanah. Sedangkan obat herbal adalah obat-obatan yang berasal dari zat aktif tanaman.

Kapan Obat Ikan Diberikan?

Bagi dokter hewan, pemberian obat untuk ikan harus melalui tahapan yang benar, yaitu sebagai berikut:

  1. Tegakkan diagnose. Dokter hewan harus dapat menegakkan diagnose, mencari penyebab penyakitnya
  1. Setelah diagnose, langkah selanjutnya adalah menjawab pertanyaan : betulkah diperlukan pemberian obat ?
  2. Jika jawabannya perlu, segera dipilih obatnya , bagaimana memberikannya, berapa lama, serta berapa dosisnya
  3. Perlu dikaji juga bagaimana efek terhadap pemberian obat tersebut.
  4. Tidak kalah pentingnya adalah soal nilai ekonomis, alias berapa harga obatnya. Inilah bedanya pemberian obat untuk manusia dengan obat untuk hewan dan ikan.     Misalnya : ikan sakit karena infeksi kuman maka obat tertentu. Jika harga obatnya lebih mahal dari harga ikan, maka pemberian itu tidak akan dilakukan, perlu dicari alternative solusinya.

Cara Pemberian Obat

Ada beberapa cara pemberian obat ikan yang perlu kita ketahui, yaitu:

  1. Pemberian secara oral (melalui mulut). Dalam hal ini pemberian bisa langsung dicekok, bisa juga dicampur ke dalam pakan
  2. Parenteral (melalui suntikan). Ada beberapa cara pemberian melalui suntikan, yaitu suntikan intra muscular, intra vena serta intra peritoneal
  3. Dipping dan flushing. Pemberian obat ikan juga bisa dilakukan dengan cara dipping (direndam di air) dan Flushing (dicelupkan).

Perlu diperhatikan bahwa meskipun sama-sama diperlakukan pemberian obat dengan cara direndam, tapi gurame dengan ikan mas bida memberikan response yang berbeda. Hal ini kaitannya dengan perbedaan struktur sisik ikan.

Demikian sekilas informasi mengenai obat ikan. Semoga bermanfaat. ***

Drh. Abadi Soetisna, MSi. Pakar Farmakologi Veteriner, IPB, Dewan Pakar Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI)

Incoming search terms:

  • udang vaname
  • udang vannamei
  • obat manusia untuk ikan
  • Obat obatan untuk udang vaname
  • obat obatan ikan dan udang
  • obat herbal untuk udang vaname
  • antibiotik buat ud
  • abadi soetisna
  • GAMBAR UDANG VANNAMEI
  • informasi obat perikanan

Leave a comment

Your email address will not be published.

*



Artikel menarikclose