Outlook Penyakit Ikan dan Udang 2018

Screenshot_2017-10-26-12-01-44

“Menjaga Stabilitas Produksi dan Memenangkan Kompetisi di Pasar Global”

Keberhasilan Indonesia dalam mencegah masuk dan tersebarnya penyakit Early Mortality Syndrome (EMS)/Acute Hepatopancreatic Necrosis Disease patut diapresiasi. Bagaimana tidak? Dampak serangan EMS telah menurunkan produksi udang secara nasional di beberapa negara seperti Tiongkok, Vietnam, Thailand, Malaysia, India, dan Meksiko. Tercatat, selama periode 2011—2013, produksi udang Thailand mengalami penurunan drastis sebesar 47%, sedangkan Vietnam mengalami penurunan sebesar 43%. Sebaliknya, keberhasilan Indonesia dalam menangkal masuknya EMS justru meningkatkan produksi udang sebesar 42,0% (Trisno Utomo, Kompasiana, 2016).

Indonesia pun aman dari wabah Tilapia Lake Virus (TiLV) yang mewabah di beberapa negara (beritadewata.com).

Tidak mengherankan jika kesuksesan Indonesia dalam mencegah dan mengendalikan berbagai penyakit ikan ini mendapatkan apresiasi dari masyarakat internasional. Fish Health Section–Asian Fisheries Society (AFS-FHS) pun menjadikan Indonesia sebagai tuan rumah dalam penyelenggaraan event 3 (tiga) tahunan Symposium On Disease in Asian Aquaculture yang ke-10 (DAA10) di Bali pada 28 Agustus 2017 lalu.

Meskipun demikian, keberhasilan yang telah diraih saat ini hendaknya tidak membuat industri perikanan budidaya Indonesia terlena. Kegagalan budidaya akibat KHV, WSSV dan IMNV pada masa lalu menjadi pelajaran yang jangan sampai dilupakan. Perubahan iklim global dan pola distribusi produk perikanan lintas negara akibat globalisasi menuntut kewaspadaan. Berbagai upaya mencegah penyebaran penyakit harus dilakukan secara menyeluruh demi keberlanjutan usaha budidaya dan peningkatan target produksi di waktu yang akan datang.

Melihat pentingnya sosialisasi cegah-tangkal penyakit yang potensial menyerang lahan perikanan budidaya, Majalah Info Akuakultur bekerjasama dengan Indonesian Network on Fish Health Management (INFHEM) dan Sekolah Tinggi Perikanan (STP) berinisiatif menyelenggarakan seminar nasional tentang Outlook Penyakit Ikan dan Udang 2018 dengan tema Menjaga Stabilitas Produksi Akuakultur dan Memenangkan Kompetisi di Pasar Global.

Dalam seminar ini akan diundang narasumber yang professional dalam bidang kesehatan ikan terutama penyakit ikan, udang dan piawai dalam penyampaiannya sehingga mudah dipahami dan dimengerti oleh peserta seminar yang berasal dari peneliti, praktisi, pelaku usaha akuakultur dan pemangku kepentingan yang terkait lainnya.

Deteksi dini penyakit dapat meminimalkan risiko kegagalan budidaya. Dengan mengikuti kegiatan ini, para peserta diharapkan mengetahui ragam jenis penyakit ikan, meliputi penyebab, karakteristik patogen, gejala klinis, pola penyebaran, diagnosis, serta cara pengendaliannya. Semakin banyak pelaku usaha di bidang perikanan budidaya yang memahami dan mengaplikasikan ragam upaya cegah-tangkal penyakit ikan tersebut, semakin optimis pula kemajuan yang akan diraih industri perikanan budidaya di masa datang. Dengan komoditas yang sehat dan kepastian stabilitas produksi, meraih juara di pasar global bukan sekadar impian.

Pembicara :

  1. Dr. Slamet Budi Prayitno (Guru Besar FPIK UNDIP)”
  2. Taukhid (Peneliti di Badan Riset dan SDM Kelautan dan Perikanan, KKP)
  3. Yuri Sutanto (Peneliti PT. Central Proteina Prima)
  4. Ir. Maskur, M.Si (Ketua Infhem) sebagai Moderator

Acara akan berlangsung pada:

  • Hari/ tanggal  : Rabu, 29 November 2017
  • Pukul                : 10.00 -14.00
  • Tempat             : Sekolah Tinggi Perikanan (STP), Jl. AUP Pasar Minggu, Jakarta Selatan
  • Biaya                 : Rp 400.000/ orang
  • Informasi selengkapnya hubungi: Rudi E Alamsyah hp 0812 8811 2073 , Rizky hp 0896 5473 3750.

Leave a comment

Your email address will not be published.

*



Artikel menarikclose