Pembenihan Kepiting Bakau

“Tingkat konsumsi masyarakat terhadap kepiting tidak dipengaruhi oleh perubahan iklim. Permintaan kepiting yang tetap tinggi dari waktu ke waktu membuat persediaan terbatas dan harganya terbilang tinggi. Semakin mahal dan langka, konsumen kalangan atas semakin suka,” ungkap Guru Besar Universitas Hasanuddin, Prof. Dr. Ir. Yushinta Fujaya, M.Si.

 

Kepiting bakau (Scylla paramamosain) merupakan salah satu jenis kepiting bernilai ekonomis penting. Pasalnya, selain ketersediaan di alam cukup banyak, rasa dagingnya yang enak membuatnya sangat digemari. Kepiting bakau hidup di daerah estuaria dan pantai/rawa-rawa yang didominasi hutan mangrove. Kepiting dapat hidup dan tumbuh pada kisaran salinitas yang cukup besar sehingga penyebarannya cukup luas dan dapat dijumpai sepanjang tahun.

 

Ibnu Rusdi, Peneliti Madya Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Budidaya Laut (BBPPBL) Gondol mengungkapkan, “Spesies kepiting bakau dapat dibedakan dengan empat spesies lainnya berdasarkan ciri morfologi, terutama bentuk duri baik pada karapas, capit, serta warnanya. S. paramamosain betina memiliki ukuran Minimum Biological Size (MBS) berdasarkan ukuran lebar karapas, yaitu antara 10,7—11,5 cm, S. olivacea antara 8,9—9,5 cm, sedangkan S. tranquebarica dan S. serrata dengan ukuran lebar karapas berkisar 11,9—14,2 cm.”

 

Sampai saat ini, kebutuhan terhadap kepiting bakau sebagian besar masih dipenuhi dari hasil penangkapan di alam. Selain itu, para pengumpul menangkap kepiting secara intensif, yang jumlahnya tidak tentu. Kegiatan ini mengakibatkan overfishing serta gangguan pada habitat kepiting, terlihat dari adanya aktivitas penebangan mangrove. Senada dengan hal itu, Yushinta mengatakan, “Faktor yang memperparah adalah anggapan masyarakat bahwa lebih mudah dan murah menangkap dari alam.”

 

Berdasarkan pertimbangan kontinuitas produksi maka perlu dikembangkan budidaya kepiting bakau secara terkendali. “Saya kira, peran pemerintah sangat mendesak dalam hal ini.  Pelarangan menangkap benih kepiting di alam sudah betul. Namun, keseriusan dalam membangun hatchery kepiting yang representatif tampaknya belum dilakukan oleh pemerintah. Padahal, swasta pun masih ragu.  Pemerintah seharusnya membuat percontohannya, lalu membagikan teknologinya ke masyarakat. Bukan kemudian menjadi pelaku dan pesaing masyarakat,” ungkap Yushinta.

 

Secara alami, kepiting bakau dewasa akan beruaya ke laut untuk melakukan pemijahan yang dapat berlangsung sepanjang tahun. Namun, dalam pembenihan yang telah dilakukan di Indonesia, survival rate-nya masih kecil. “Rendahnya tingkat keberhasilan ini diakibatkan oleh infrastruktur pembenihan yang belum memenuhi syarat dan keseriusan dalam mengelola pembenihan belum cukup,” jelas Yushinta.

 

Selama  ini, para pembudidaya melakukan usaha budidaya kepiting meliputi usaha penggemukan, pembesaran, softcrab (kepiting cangkang lunak), dan kepiting bertelur.  “Dalam kegiatan pembenihan kepiting bakau, penguasaan pengetahuan mengenai aspek biologi sangat diperlukan, di antaranya sistematika, morfologi, habitat, cara kawin, dan siklus hidupnya,” terang Ibnu.

 

Incoming search terms:

  • pembenihan kepiting
  • cara embibitan keiting
  • pembenihan kepiting bakau
  • benih kepiting
  • budidaya ikan di bakau
  • pembibitan kepiting bakau
  • cara pembenihan kepiting
  • telur kepiting bakau
  • CARA PEMBENIHAN HUTAN BALAK
  • Cara mencari benih kepiting bakau

Leave a comment

Your email address will not be published.

*



Artikel menarikclose