Penerapan Keramba Jaring Apung dalam Budidaya

KJA

keramba jaring apung

Salah satu teknik budidaya dalam akuakultur yang berkembang saat ini adalah Keramba Jaring Apung (KJA). Tidak hanya budidaya ikan, KJA juga dapat diterapkan pada budidaya udang.

Pemenuhan kebutuhan protein hewani dapat diperoleh dari hewan/ternak di daratan maupun protein hewani yang berasal dari perairan. Seiring dengan meningkatnya pemahaman akan kesehatan maka terjadi kecenderungan peralihan sumber protein asal ternak (berdaging merah) menjadi protein hewani yang berasal dari ikan (berdaging putih). Selama ini, pemenuhan kebutuhan terhadap protein asal ikan berasal dari usaha penangkapan di alam. Sebagaimana diketahui, penangkapan yang dilakukan secara terus menerus akan berdampak terhadap terancamnya kelestarian sumberdaya ikan. Salah satu upaya alternatif yang dapat dilakukan untuk menekan upaya penangkapan dan memenuhi kebutuhan protein asal ikan adalah melalui upaya budidaya.

Kegiatan budidaya bukan lantas memecahkan persoalan akan kebutuhan protein. Permasalahan baru yang diakibatkan oleh kegiatan budidaya ikan adalah masalah pencemaran. Pencemaran pada lingkungan perairan yang disebabkan oleh kegiatan budidaya bersumber dari buangan pakan yang tidak terkonsumsi (Dias et al, 2012), bahan sisa metabolik /feces dan urin (Erlania, 2009), serta penggunaan bahan kontruksi yang tidak ramah lingkungan.

Dalam budidaya ikan, kita bisa melakukannya dalam beberapa media, salah satunya adalah sistem Keramba Jaring Apung (KJA). Budidaya ikan keramba jaring apung bisa dilakukan baik di sungai yang dalam, danau, di atas kolam terpal, hingga laut. Budidaya ikan keramba jaring apung merupakan salah satu cara budidaya pembesaran ikan yang efisien dan efektif. Dengan luasan media yang sempit, kita bisa melipatgandakan hasil panen ikan. Pola yang dipakai adalah mengintensifkan pola budidaya ikan tersebut, yang memang akhirnya akan berdampak pada biaya tinggi namun bisa didapatkan keuntungan yang lebih tinggi pula.

Teknologi budidaya ikan dengan sistem Keramba Jaring Apung (KJA) telah lama dikenal oleh masyarakat Indonesia. Budidaya dengan sistem keramba jaring apung mulai dikembangkan di perairan pesisir dan perairan danau. Beberapa keunggulan ekonomis usaha budidaya ikan dalam keramba yaitu: 1). Menambah efisiensi penggunaan sumberdaya; 2). Prinsip kerja usaha keramba dengan melakukan pengurungan pada suatu badan perairan dan memberi makan dapat meningkatkan produksi ikan; 3). Memberikan pendapatan yang lebih teratur kepada nelayan dibandingkan dengan hanya bergantung pada usaha penangkapan.

Berdasarkan laporan yang disusun oleh Dewan Nasional Perubahan Iklim Republik Indonesia (DNPI) 2014, Keramba Jaring Apung (KJA) adalah suatu sarana pemeliharaan ikan atau biota air yang kerangkanya terbuat dari bambu, kayu, pipa pralon atau besi berbentuk persegi yang diberi jaring dan diberi pelampung seperti drum plastik atau styrofoam agar wadah
tersebut tetap terapung di dalam air. Kerangka dan pelampung berfungsi untuk menahan jaring agar tetap terbuka di permukaan air, sedang jaring yang tertutup di bagian bawahnya digunakan untuk memelihara ikan selama beberapa bulan.

Penggunaan KJA di perairan laut berkembang seiring dengan perkembangan teknologi budidaya perikanan laut, terutama untuk pembesaran ikan-ikan yang mempunyai nilai ekonomis tinggi. Berkembangnya usaha pembesaran ikan dalam KJA selain berpengaruh pada aspek sosial ekonomi dan budaya masyarakat, juga berdampak pada aspek lingkungan baik yang bersifat positif maupun negatif, langsung maupun tidak langsung.

Perkembangan teknologi KJA tidak terlepas dari perkembangan ke arah budidaya yang ramah lingkungan, karena isu mengenai budidaya ikan yang identik dengan pencemaran merupakan hal yang sangat sensitif. Oleh karena itu, baik teknologi budidaya maupun bahan dan peralatan yang digunakan harus mempunyai standard tertentu yang sesuai dengan kriteria ramah lingkungan. Selain itu, kondisi lingkungan setempat serta ketersediaan spesies lokal akan juga menentukan perkembangan teknologi KJA di setiap
wilayah.

Penerapan KJA untuk budidaya ikan di Indonesia dimulai dari konstruksi bangunan keramba yang sederhana. Konstruksi keramba jaring apung terdiri dari kerangka, pelampung, pengikat, kurungan atau jaring, jangkar dan pemberat. Kerangka atau rakit berfungsi untuk menempatkan kurungan atau jaring pembesaran Kerangka jaring apung terbuat dari kayu, papan serta bambu. Pelampung berfungsi untuk mengapungkan keseluruhan sarana budidaya. Pelampung yang digunakan berupa drum yang terbuat dari bahan sintesis dengan kapasitas 200 liter. Dalam satu petak keramba diperlukan
minimal 4 buah pelampung. Gubuk kecil juga didirikan untuk berbagai fungsi mulai dari penyimpan pakan, tempat istirahat, hingga berteduh. Saat ini konstruksi KJA sudah berkembang dengan manggunakan bahan HDPE (High Density Polyethylene) yang diperkirakan dapat bertahan hingga 20 tahun. Selain dipergunakan untuk budidaya ikan, KJA juga dapat dimanfaatkan untuk budidaya udang vanamae dan udang lobster.

Sementara itu, menurut Taufik J. Rasyidi (2012), budidaya ikan dijaring terapung dapat dilakukan untuk komoditas ikan air tawar dan ikan air laut. Sebelum membuat konstruksi wadah karamba jaring terapung pemilihan lokasi yang tepat dari aspek sosial ekonomis dan teknis benar. Aspek sosial ekonomis yang sangat umum yang harus dipertimbangkan adalah lokasi tersebut dekat dengan pusat kegiatan yang mendukung operasionalisasi suatu usaha seperti tempat penjualan pakan, pembeli ikan dan lokasi yang dipilih merupakan daerah pengembangan budidaya ikan sehingga mempunyai prasarana jalan yang baik serta keamanan terjamin. Persyaratan teknis yang harus diperhatikan dalam memilih lokasi usaha budidaya ikan di karamba jaring terapung antara lain adalah :

  1. Arus air

Arus air pada lokasi yang dipilih diusahakan tidak terlalu kuat namun tetap ada arusnya agar tetap terjadi pergantian air dengan baik dan kandungan oksigen terlarut dalam wadah budidaya ikan tercukupi, selain itu dengan adanya arus maka dapat menghanyutkan sisa-sisa pakan dan kotoran ikan yang terjatuh di dasar perairan.

Dengan tidak terlalu kuatnya arus juga berpengaruh terhadap keamanan jaring dari kerusakan sehingga masa pakai jaring lebih lama. Bila pada perairan yang akan dipilih ternyata tidak ada arusnya (kondisi air tidak mengalir), disarankan agar unit budidaya atau jaring dapat diusahakan di perairan tersebut, tetapi jumlahnya tidak boleh lebih dari 1% dari luas perairan. Pada kondisi perairan yang tidak mengalir, unit budidaya sebaiknya diletakkan di tengah perairan sejajar dengan garis pantai.

  1. Kedalaman perairan

Kedalaman perairan sangat berpengaruh terhadap kualitas air pada lokasi tersebut. Lokasi yang dangkal akan lebih mudah terjadinya pengadukan dasar akibat dari pengaruh gelombang yang pada akhirnya menimbulkan kekeruhan. Sebagai dasar patokan pada saat surut terendah sebaiknya kedalaman perairan lebih dari 3 meter dari dasar waring/jaring.

  1. Tingkat kesuburan

Pada perairan umum dan waduk ditinjau dari tingkat kesuburannya dapat dikelompokkan menjadi perairan dengan tingkat kesuburan rendah (oligotropik), sedang (mesotropik) dan tinggi (eutropik). Jenis perairan yang sangat baik untuk digunakan dalam budidaya ikan di jaring terapung dengan sistem intensif adalah perairan dengan tingkat kesuburan rendah hingga sedang. Jika perairan dengan tingkat kesuburan tinggi digunakan dalam budidaya ikan di jaring terapung, maka hal ini sangat beresiko tinggi karena pada perairan eutropik kandungan oksigen terlarut pada malam hari sangat rendah dan berpengaruh buruk terhadap ikan yang dipelihara dengan kepadatan tinggi.

  1. Bebas dari pencemaran.

Dalam dunia perikanan, yang dimaksud dengan pencemaran perairan adalah penambahan sesuatu berupa bahan atau energi ke dalam perairan yang menyebabkan perubahan kualitas air sehingga mengurangi atau merusak nilai guna air dan sumber air perairan tersebut.

Bahan pencemar yang biasa masuk ke dalam suatu badan perairan pada prinsipnya dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu bahan pencemar yang sulit terurai dan bahan pencemar yang mudah terurai. Contoh bahan pencemar yang sulit terurai berupa persenyawaan logam berat, sianida, DDT atau bahan organik sintetis. Contoh bahan pencemar yang mudah terurai berupa limbah rumah tangga, bakteri, limbah panas atau limbah organik. Kedua jenis bahan pencemar tersebut umumnya disebabkan oleh kegiatan manusia, baik secara langsung maupun tidak langsung. Penyebab kedua adalah keadaan alam seperti banjir atau gunung meletus.

Jika lokasi budidaya mengandung bahan pencemar maka akan berpengaruh terhadap kehidupan ikan yang dipelihara di dalam wadah budidaya ikan tersebut.

Yang menjadi permasalahan pada budidaya ikan di keramba jaring apung adalah sisa pakan. Sisa pakan yang tidak terkonsumsi dan metabolik berupa senyawa nitrogen dan fosfor, apabila terbuang di kolom air dan tidak dimanfaatkan oleh organisme di sekitar danau (ikan, organisme bentik) maka akan menjadi partikel tersuspensi dalam bentuk partikel koloid di dasar perairan. Partikel tersebut akan dimanfaatkan oleh mikroorganisme khususnya bakteri untuk pertumbuhan dan perkembangbiakannya. Selain pencemaran akibat nitrogen dan fosfor, sisa pakan juga dapat menyebabkan tingginya kekeruhan. Akibatnya, cahaya matahari akan susah menembus kolom air.

Upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampak pencemaran akibat budidaya ikan sistem Keramba Jaring Apung (KJA) antara lain: 1). Menggunakan dosis yang tepat dalam pemberian pakan, 2). Menggunakan bahan pakan dengan tingkat kecernaan yang tinggi, 3). Jika memungkinkan maka dapat menggunakan bakteri probiotik untuk meningkatkan daya cerna, 4). Menggunakan komposisi nutrisi yang sesuai dengan organisme yang dipelihara, 5). Dilakukan treatmen terhadap limbah, 6). Perlu dilakukan analisa kesesuaian lahan sebelum dilakukan kegiatan budidaya.

  1. Kualitas air

Dalam budidaya ikan, secara umum kualitas air dapat diartikan sebagai setiap perubahan (variabel) yang mempengaruhi pengelolaan, kelangsungan hidup dan produktivitas ikan yang dibudidayakan. Jadi perairan yang dipilih kualitas airnya harus memenuhi persyaratan bagi kehidupan dan pertumbuhan ikan yang akan dibudidayakan. Kualitas air meliputi sifat fisika, kimia dan biologi.

  1. Lokasi keramba jaring apung bukan daerah up-welling

Lokasi ini terhindar dari proses perputaran air dasar kepermukaan (up-welling). Pada daerah yang sering terjadi up-welling sangat membahayakan kehidupan organisme yang dipelihara, di mana air bawah dengan kandungan oksigen yang sangat rendah serta gas-gas beracun akan kepermukaan, yang dapat menimbulkan kematian secara massal. Lokasi seperti ini sebaiknya dihindari, kecuali sistem keramba dipasok oksigennya dengan suatu mekanisme tertentu. (althaf)***

 

 

 

Incoming search terms:

  • keramba jaring apung
  • cara membuat keramba jaring apung
  • pengertian keramba jaring apung
  • cara membuat keramba apung sederhana
  • keramba jaring apung air tawar
  • jaring apung
  • jaring keramba
  • konstruksi keramba jaring apung
  • keramba apung
  • kja adalah

Leave a comment

Your email address will not be published.

*



Artikel menarikclose