Pesisir Barat, Primadona Baru Petambak Udang Lampung

Sempat mengalami penurunan produksi tidak lantas membuat para petambak udang Lampung pasrah. Didukung soliditas dan perasaan senasib yang kuat, para praktisi tambak saling berkomunikasi lewat forum yang mereka bentuk, Forum Komunikasi Praktisi Akuakultur (FKPA). Adanya wadah komunikasi ini sangat membantu para praktisi petambak, yang nota bene-nya adalah para manajer pengelola yang bertanggung jawab atas keberhasilan usaha budidaya.

Serangan wabah penyakit WFD (white feses disease) dan WSSV (white spot syndrom virus) beberapa tahun lalu masih menyisakan luka. Tak hanya lokal Lampung, serangan wabah penyakit ini berimbas pada penurunan produksi udang secara nasional. Maklum, selama ini Lampung menjadi lumbung udang andalan ekspor Indonesia.

“Informasi terakhir dari teman-teman DKP, produksi nasional beberapa tahun belakangan ini agak menurun. Hal ini disebabkan adanya serangan penyakit, baik di Jawa Timur dan Lampung. Penyakit yang terbaru adalah white feses disease (WFD),” tutur Abeng.

Jangan melawan alam

Ketua FKPA Korwil IV ini juga mengatakan bahwa kunci paling utama dalam menjalankan usaha budidaya udang yang terjamin keberlanjutannya adalah manajemen kualitas air. Di samping itu juga jeli menilai kondisi lingkungan.

“Yang pasti, kalau kita mau budidaya yang bagus, artinya suistinable-nya jalan, ya kita harus bersahabat dengan alam. Itu kuncinya. Selama kita bisa bersahabat dengan alam, Insya Allah, budidaya masih bisa berjalan dengan bagus. Saya yakin,” ucapnya meyakinkan.

Sebagai ketua Korwil yang membawahi para petambak di wilayah Padang Cermin, Punduh Pidada, dan Hanura, ia selalu mengingatkan rekan sesama petambak saat berkumpul bersama untuk tidak berusaha melawan alam.

“Tidak ada ceritanya manusia bisa melawan alam. Pasti digulung oleh alam. Inilah pentingnya mempelajari dan memahami karakteristik alam,” ujarnya.

Salah satu bentuk memahami alam itu dengan mengamati karakteristik tambak saat pergantian musim. Pada saat kondisi kemarau, cuaca panas terik menyebabkan salinitas air tambak menjadi tinggi. Sementara pada musim hujan, suhu air turun drastis. Selain itu, air hujan yang turun dari gunung menuju muara dan laut lepas membawa polutan organik. Air menjadi keruh dan bisa menimbulkan masalah jika diambil untuk mengisi tambak. Dengan memahami kondisi lingkungan, pola budidaya bisa disesuaikan.

Sulitnya persoalan sumberdaya air ini juga dialami oleh Bimo, salah seorang petambak dari Kalianda. Ia mengaku bahwa sumber air memanfaatkan air sungai yang juga dihunakan oleh 3 farm atau tambak lainnya. Selain sebagai air masuk, sungai itu juga digunakan sebagai tempat pembuangan.

“Ini karena jarak tambak yang terlalu jauh dari laut, sekitar 1 km,” terangnya.

Untuk mengatasi kelemahan tersebut, anggota FKPA ini juga menerapkan sistem tandon sebagai langkah biosekuriti.

Dampak serangan WFD selama dua tahun terakhir memang luar biasa. Produksi tambak menurun jauh dengan SR 50—70%. Indikasinya bisa dilihat. Pada saat beban bahan organik di perairan kolam mulai naik, seiring dengan banyaknya polutan yang kita masukkan dan ketidakmampuan pembudidaya mengelola limbahnya, penyakit ini akan muncul.

Meskipun demikian, dibandingkan dengan negara lain seperti Thailand, produksi per hektar Lampung secara garis besar masih terkategori standar, antara 12—15 ton/hektar. Untuk pesisir Lampung Timur, pesisir Selatan (Kalianda dan Teluk Lampung) sampai ke Padang Cermin tampaknya agak sulit meningkatkan kapasitas produskinya. Rata-rata 12—15 ton, dan angka paling top 20 ton/hektar. Angka tersebut bisa dicapai setelah ada perombakan di konstruksi kolam.

Selengkapnya>> Baca Info Akuakultur Edisi Mei 2015

Incoming search terms:

  • tambak udang kalianda
  • tambak udang lampung barat
  • lele kalianda
  • harga keramba jaring apung plastik
  • Forum komunikasi praktisi akuakultur
  • fkpa lampung
  • wfd udang
  • budidaya udang vaname saat musim hujan
  • budidaya udang saat musim hujan
  • budidaya udang di kalianda lampung

Leave a comment

Your email address will not be published.

*



Artikel menarikclose