Pijah Buatan untuk Si Jelawat

Dikenal sebagai ikan khas pedalaman Kalimantan dan Sumatra, ikan air tawar yang nikmat disantap setelah digoreng atau dikukus ini sudah merambah pasar Jakarta. Keberhasilan teknik pembenihan jadi kuncinya.

Tak hanya nikmat disantap, ikan jelawat ternyata memiliki penampilan yang cantik. Tubuhnya yang memanjang seperti terpedo memiliki sisik berukuran besar berwarna perak. Sementara sisik punggungnya berwarna kelabu kehijauan. Sementara sirip dada dan perutnya terdapat warna merah. Konon, sisik ikan jelawat yang dikukus rasanya enak, kenyal seperti tulang muda. Jika digoreng seperti kerupuk.

Ikan jelawat (Leptobarbus hoevani Bleeker) memiliki banyak nama lokal. Di Jambi, Sumatera Selatan, dan Lampung, ikan ini disebut lemak atau klemak, tetapi saat masih berukuran kecil—antara 10—20 cm—disebut jelejar. Di Kalimantan Tengah, ikan jelawat disebut dengan manjuhan. Sementara di Malaysia, sebutannya ikan sultan dan di Thailand diberi nama pla ba.

 

Sebagai ikan konsumsi khas daerah, sebagian besar pemenuhan kebutuhan pasarnya ikan jelawat mengandalkan alam. Bisa diterka, keberadaannya di perairan alam pun ikut menipis. Upaya budidaya yang dilakukan secara tradisional pun masih mengandalkan benih dari alam, menunggu saat air sungai naik dan induk memijah secara alami.Tak pelak, keberadaannya masih tergantung pada musim. Sementara Jambi merupakan pemasok utama benih alam ikan jelawat di Pulau Sumatera.

 

Induce breeding

Melihat potensi dan keterbatasan pasokan benih ikan yang masih satu kerabat dengan ikan mas ini, pihak Balai Perikanan Budidaya Air Tawar (BPBAT) Sungai Gelam, Jambi, pun berupaya melakukan terobosan dalam hal budidaya, khususnya pembenihan. Pada 2006, BPBAT Jambi berhasil melakukan teknologi pemijahan dengan melakukan induce breeding yang pertama kali di Sumatera.

 

Menurut Wahyu Budi Wibowo, S.St.Pi, Perekayasa Madya pada BPBAT Sungai Gelam, Jambi, masih banyaknya pembudidaya yang tergantung dengan benih tangkapan alam membuat kelestarian ikan jelawat dialam terancam ketersediaannya.

 

Adanya rekayasa pembenihan ikan jelawat hasil domestikasi diharapkan akan memberikan dampak secara sosial bagi para  pelaku budidaya ikan jelawat. Berhasilnya domestikasi dan budidaya ikan jelawat mampu melindungi salah satu plasma nutfah ikan spesifik lokal asli Indonesia.

 

Lebih lanjut Wahyu membeberkan langkah-langkah dalam teknologi induce breeding yang telah dilakukan. Langkah awal dilakukan dengan persiapan kolam dan indukan. Sebelum digunakan, kolam persiapan induk diolah dengan cara penggemburan tanah dasar, pembalikan tanah, dan pengeringan. Selanjutnya, kolam diisi air dan calon induk jantan dan betina dimasukkan dengan kepadatan 1—2 ekor induk per 5 meter persegi. Selama masa persiapan, induk diberi pakan pelet komersial dengan protein 30—32% sebanyak 3% dari berat biomassa ikan. Sementara itu, pakan tambahan berupa daun singkong diberikan sebanyak 2% biomassa setiap dua hari sekali.

Selanjutnya Baca di Majalah Info Auakultur

Incoming search terms:

  • cra melihara bibit ikan jelawat tau ikan sultan
  • Ikan tawar sisik seperti krupuk
  • potensi hasil ikan jelawat budidaya kolam terpal
  • makanan ikan jelawat kecil
  • makanan ikan jelawat di daerah alami
  • laporan pembenihan ikan jelawat jelawat di bpbat jambi
  • kepala balai bpbat sungai gelam jambi
  • ikan yang dapat di pijah buatan
  • ikan jelawat kecil
  • bibit ikan jelawat

Leave a comment

Your email address will not be published.

*



Artikel menarikclose