Potensi Udang Vaname Di Jabar

Jabar terus genjot potensi udang vaname

Udang merupakan komoditas unggulan di Indonesia khususnya Provinsi Jawa Barat (Jabar) yang terus dimaksimalkan potensinya. Dulu, udang windu pernah menjadi primadona Jabar tahun 1980-an dengan angka produksi menembus 100 ton lebih per bulan, namun kini seiring berjalannya waktu, masyarakat pembudidaya Jabar beralih ke budidaya udang vaname yang dinilai memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi dari udang windu.

Kepala Bidang Perikanan Budidaya Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Barat Dodi Sudenda, menjelaskan produksi udang vanname tahun 2014 sebanyak 60.120,24 ton atau 106,16% dari target yang telah ditetapkan 56.634,00 ton, kemudian mengalami peningkatan 1,33% menjadi 60.920,49 ton atau 102,45% dari yang ditargetkan sebesar 59.465,70 ton pada tahun 2015.

Lanjut Dodi, pada tahun 2016 ditargetkan sebesar 62.438,99 ton, namun hanya tercapai 62.124,02 ton (99,50%). Walaupun demikian dari segi volume, produksi udang vaname tahun 2016 mengalami peningkatan sebesar 1,98% dari tahun sebelumnya.

“Target Produksi udang vaname Jawa Barat tahun 2018 sebesar 65.560,94 Ton,” ungkap Dodi.

Produsen udang vaname tahun 2016 didominasi oleh Kab. Indramayu sebanyak 48.722,21 ton atau 78,43% dari total produksi udang vanname Jawa Barat, kemudian disusul Kab. Subang 5.230,08 ton (8,52%), dan Kab. Cirebon 4.408,92 ton (7,10%).

Menurut Dodi, kendala yang sering muncul di awal pengembangan budidaya udang vaname adalah penurunan kualitas benur dan sumberdaya air, seperti: ketidakstabilan lingkungan dan penerapan sistem terbuka tanpa tandon dan treatment air.

Serta merebaknya penyakit, seperti: TSV (taura syndrome virus), WSSV (white spot syndrome virus) dan IHHNV (infectious hypodermal hematopoetic nicrosis virus) tahun 2003, dan IMNV (infectious myonecrosis virus) tahun 2005.  Kemudian mulai tahun 2009 sampai sekarang, beberapa tambak di kawasan pantai utara dan selatan ditemukan terjangkit penyakit TSV, IMNV dan IHHNV.

Oleh sebab itu, kata Dodi, untuk mengatasi kendala dalam pengembangan budidaya udang vaname dilakukan dengan dua cara yakni Pengembangan Unit Pembenihan Udang (Hatchery) Tanpa Antibiotik yang meliputi penerapan biosecurity, penggunaan induk unggul, SPR (Spesific Pathogen Resistant), penggunaan Immunostimulan sebagai suplemen pakan, dan pengolahan air baku dan pembenihan yang baik.

Kemudian kedua Pengembangan Unit Pembesaran Udang (Tambak) Berkelanjutan meliputi penerapan biosecurity, plesterisasi/plastikisasi tambak, menebar benur berkualitas dan SPR dengan Kepadatan 80 -100 ekor/m2, serta pengolahan air dengan Ikan Nila sebagai pengendali bahan organik dan penekan bakteri vibrio pada tambak plastik.

Seperti yang sudah diketahui, Dodi mengatakan, pemenuhan benur udang vaname di Jawa Barat diperoleh dari UPT Pusat, UPTD Provinsi, Swasta, maupun Petambak Oslahan. Seperti Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Situbondo, Balai Pengembangan Ikan Air Payau dan Laut Wilayah Selatan (BPIAPLWS) Pangandaran, PT. Surya Tani Pemuka (STP) Lampung, PT. Central Pangan Pertiwi (CPP) Eretan Indramayu dan Anyer, PT. Windu Sukses Indramayu dan Petambak Oslahan/Pengoslah.

Selanjutnya Baca di majalah Info Akuakultur

Leave a comment

Your email address will not be published.

*



Artikel menarikclose