Raup Untung Berlimpah dari Si Lincah

Gantikan udang windu dengan udang vaname, Pokdakan Mina Sakti Mandiri mendapatkan keuntungan berlipat ganda.

 

Budidaya udang vaname tetap menjadi peluang bisnis yang sangat menjanjikan, ditambah, udang vaname adalah udang yang tinggal di kawasan sub-tropis, udang primadona ini jika dibudidayakan di Indonesia memiliki prospek yang bagus.

Banyak kelebihan yang dimiliki jenis udang satu ini yakni proses budidaya yang relatif cepat, dengan demikian keuntungan akan semakin cepat didapatkan dan perputaran modalpun semakin cepat.

Selain itu, harga udang vaname terbilang cukup tinggi di pasaran. Ketika dijual di pasar tradisional, harganya berkisar di angka Rp 40 ribu sampai Rp 50 ribu per kilogram, sedangkan udang untuk ekspor ke Asia seperti Jepang dan China/Tiongkok, harganya bisa tembus Rp 60 ribu hingga Rp 90 ribu per kg. Ketika panen, petambak tidak perlu susah payah menjual, biasanya sudah ada tengkulak yang akan datang ke tambak bila petambak sudah menjalin kerja sama dengan mereka.

Kelompok pembudidaya ikan (Pokdakan) Mina Sakti Mandiri yang berlokasi di Desa Purworejo, Kecamatan Pasir Sakti kabupaten Lampung Timur contohnya, telah berhasil  mengembangkan budidaya udang vaname secara semi intensif dan intensif.

Pokdakan yang beranggotakan 10 orang petambak tersebut awalnya mengandalkan budidaya udang windu secara tradisional dengan hasil yang tidak menentu.  Seperti yang dikatakan Ketua Pokdakan Mina sakti mandiri, Anshori Maskur, produktivitas tambak udang windu yang mereka kelola  produktivitasnya rendah, +/- 200 kg per hektar.

Hasil ini tidak dapat mencukupi kebutuhan keluarga petambak yang kian hari kian meningkat. Pada tahun 2014, Tim dari Unila dan Dinas Perikanan setempat mengadakan kegiatan pengenalan dan pendampingan budidaya udang vaname secara semi intensif.

Kaprodi S2  Manajemen Wilayah Pesisir dan Laut Universitas Lampung (Unila), Supono, mengatakan, pada awalnya petambak kurang tertarik untuk melakukan budidaya udang vaname karena keterbatasan pengetahuan dan biaya investasi dan operasional yang cukup besar.

“Namun berkat pendampingan dan pengarahan dari Fakultas Pertanian Unila dan Dinas perikanan setempat, petani mulai memahami teknik budidaya udang vaname secara benar,” ujar Supono.

Pada panen perdana udang vaname, produktivitas tambak rata-rata mencapai 1.000 kg/tambak (ukuran 1.000 m2) atau 10 ton per hektar. Produktivitas ini jauh dari sistem budidaya udang sebelumnya .

Saat ini, kata Supono,  semua anggota kelompok  telah melakukan budidaya udang vaname sendiri dengan mengoperasikan satu-dua tambak, bahkan yang menarik dari perkembangan budidaya udnag vaname di Kecamatan Pasir Sakti ini adalah budidaya udang tidak dimonopoli pengusaha besar (modal besar) dari luar daerah tetapi juga dilakukan oleh petambak setempat yang dukungan modalnya sangat terbatas. Melihat keberhasilan petambak tersebut, dukungan dari perbankan kini dapat dengan mudah didapatkan.

Selanjutnya Baca di Majalah Info Akuakultur

Leave a comment

Your email address will not be published.

*



Artikel menarikclose