Resirkulasi, Tingkatkan Produksi Massal Benih Kakap Putih

Dengan resirkulasi, BPBL Batam mampu meningkatkan tingkat kelulusan hidup larva kakap putih hingga 30%.

Kakap putih merupakan salah satu hasil perikanan dengan permintaan pasar global terbesar di dunia. Warna dagingnya yang putih dengan tekstur lembut membuat ikan ini sangat disukai masyarakat, terutama masyarakat yang mulai menghindari daging berwarna merah.

Kakap putih mampu beradaptasi dengan perubahan salinitas, mulai dari 19—34 ppt. Dengan begitu, areal budidayanya cukup luas, mulai dari perairan payau hingga ke perairan laut. Teknologi produksi benih dan pembesarannya pun telah lama dikenal dan dikuasai dengan baik, baik di tambak maupun karamba jaring apung.

Salah satu contoh daerah yang produksi massal kakap putih adalah Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL) Batam. BPBL Batam mulai mengembangkan pembenihan kakap putih sejak Tahun 1996 dan puncaknya pada tahun 2003—2004. BPBL Batam mampu memproduksi benih ikan kakap putih dengan jumlah dan kualitas yang cukup baik. Sampai dengan Tahun 2014 telah dilakukan perbaikan teknologi untuk produksi benih ikan kakap putih seperti penggunaan sistem resirkulasi menyeluruh, penggunaan air baru yang steril, dan penggunaan pemanas air untuk melakukan temperatur shock.

AK13 Benih1 2

Foto2. Resirkulasi tingkatkan kelulusan hidup larva (Sumber foto: dok. BPBL Batam)

Dipilihnya teknologi ini dengan alasan penggunaan sistem resirkulasi dapat meminimalisasi kontaminasi penyakit dari perairan dan menghindari terjadinya perubahan kualitas air yang akan mengganggu produksi benih. Hasilnya, produksi benih ikan kakap putih mengalami peningkatan cukup signifikan dengan kualitas yang jauh lebih baik. Penerapan teknologi ini mampu meningkatkan tingkat kelulusan hidup larva ikan kakap putih hingga 30%.

Berikut proses pembenihan kakap putih yang dilakukan di BPBL Batam, yang meliputi seleksi induk, pemijahan induk, dan pemeliharaan larva.

Seleksi induk

Induk jantan yang siap dipijahkan berukuran 3—4 kg, sedangkan induk betina lebih besar dengan berat lebih dari 5 kg. Seleksi induk dilakukan langsung di tempat pemeliharaan induk dengan menyerok ikan menggunakan serokan dan dimasukan ke dalam bak kecil yang sudah diberi anestetik, yaitu ethylineglicol monophenilether dengan dosis 5 ppm, yang bertujuan untuk memingsankan ikan agar tidak stres. Pemingsanan bertujuan untuk memudahkan proses seleksi.

AK13 Benih1 3

Foto3. Seleksi induk (Sumber foto: dok. BPBL Batam)

Seleksi induk siap pijah dilakukan dengan cara pengecekan terhadap kelamin induk. Pengecekan induk jantan dilakukan dengan cara stripping, sedangkan induk betina dengan kanulasi. Induk jantan siap pijah akan mengeluarkan cairan putih dan induk betina menghasilkan telur berbentuk bulat, berwarna bening, dan akan terurai jika telah matang gonad.

Induk yang telah matang gonad kemudian dipindahkan ke dalam bak pemijahan yang terbuat dari fiber dengan volume 250 m3, yang sebelumnya telah diisi air laut. Perbandingan jumlah induk jantan dan induk betina yaitu 1 : 1.

Pemijahan Induk

Pemijahan induk dilakukan secara alami dengan mengaplikasikan sistem resirkulasi penuh pada pemeliharaan induk. Sistem resirkulasi mempunyai beberapa keuntungan dibandingkan sistem tradisional, di antaranya konsistensi kualitas produk, penghematan penggunaan lahan dan air, terjaganya kualitas air, pendeknya siklus produksi, serta meningkatnya konversi pakan. Perbaikan ini telah menghasilkan induk yang bertelur setiap bulan tanpa harus dibantu dengan manipulasi lingkungan maupun injeksi hormonal.  Hal tersebut dijelaskan oleh Koordinator Produksi Benih, Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL) Batam, Tinggal Hermawan, S.Pi., M.Si.

AK13 Benih1 4

Foto4. Tinggal Hermawan, Koord. Produksi Benih BPBL Batam (Sumber foto: dok. BPBL Batam)

Pemijahan induk kakap putih terjadi pada pukul 19.00—23.00 WIB pada suhu air 29—31°C. Induk umumnya memijah secara alami pada bulan terang dan gelap. Diameter telur yang dihasilkan berukuran 750—850 µm dengan tingkat pembuahan 80—90%.

Pengumpulan telur dilakukan menggunakan egg collector, sedangkan pemanenannya dilakukan pada pagi hari pada pukul 07.00—08.00 WIB. Telur yang sudah terkumpul di dalam egg collector selanjutnya dipindahkan ke baskom kecil untuk dihitung jumlahnya. Selanjutnya dilakukan seleksi dengan membuang telur yang tidak dibuahi. Telur yang dibuahi akan terapung dan berada di permukaan air dengan warna transparan, berbentuk bulat, dan kuning telur berada di tengah. Sementara telur yang tidak dibuahi akan mengendap di dasar permukaan dan berwarna putih susu.

Penetasan telur dilakukan di bak inkubasi telur dengan volume 500 liter, yang dilengkapi dengan aerasi berkekuatan sedang dan saringan outlet, dengan sistem air mengalir. Waktu penetasan telur berkisar antara 20—24 jam setelah pembuahan dengan suhu 29—31°C. Tingkat penetasan telur yang dicapai berkisar antara 85—90%.

Pemeliharaan larva

Sebelum dilakukan pemeliharaan larva, terlebih dahulu dilakukan sterilisasi alat dan bahan yang akan digunakan. Air laut yang akan digunakan diberi klorin terlebih dahulu dengan dosis 25 ppm selama 12 jam untuk menghasilkan air laut yang steril dan bebas kontaminan. Selanjutnya, untuk menetralkan kandungan klorin dalam air, ditambahkan larutan tiosulfat dengan dosis yang sama, yaitu 25 ppm. Sementara untuk peralatan lainnya, sterilisasi dilakukan dengan perendaman peralatan pada air yang telah diberi larutan klorin dengan dosis 50 ppm selama 6 jam, lalu dibilas hingga bersih.

Proses selanjutnya adalah memindahkan larva yang terdapat di dalam bak inkubasi ke bak pemeliharaan dengan volume 10 m3 secara manual. Caranya dengan mengambil langsung larva dengan menggunakan ember dan dituang secara perlahan. Bagian atas bak pemeliharaan larva ditutup dengan plastik agar tidak ada kotoran yang masuk ke dalam bak, selain untuk menjaga suhu agar tetap stabil. Larva ditebar dengan kepadatan 10—20 ekor per liter, dengan volume awal air media pemeliharaan sebanyak 8 m3.

Selama pemeliharaan, larva diberi pakan alami dan pakan buatan. Pakan alami yang digunakan di antaranya fitoplankton jenis Nannochloropsis oculata, zooplankton jenis Brachionus plicatilis/rotifera, dan naupli artemia. Kualitas air juga perlu diperhatikan.. Kualitas air yang kurang baik akan menyebabkan stres dan munculnya penyakit pada larva yang dipelihara. Suhu optimal untuk pemeliharaan larva ikan kakap putih adalah 30—32 oC, salinitas 30—32 ppt, pH 6,5—8,5, dan oksigen terlarut minimal 4 mg/L.

Pemeliharaan larva ikan kakap putih dengan shocking temperature menggunakan water heater untuk menjaga suhu media pemeliharaan agar berada pada kondisi optimal. Penggunaan water heater ini juga dilakukan bila ditemukan indikasi stres dan serangan penyakit pada ikan (black body) serta terjadi kematian yang meningkat dalam 2—3 hari berturut-turut. Untuk larva, penggunaan water heater dilakukan dengan menaikkan suhu hingga 35 oC.

Proses pemanasan, menyebabkan ikan yang tidak sehat akan mati, sedangkan ikan yang sehat akan tetap hidup. Selanjutnya ikan yang mati dibuang dari bak pemeliharaan. Proses ini juga menjadi upaya pencegahan sekaligus penanggulangan serangan penyakit yang menyerang pada fase larva.

Lama pemeliharaan pada fase larva berkisar 25—30 hari dengan tingkat kelangsungan hidup 50—60%, dihitung dari tebar awal. Selanjutnya pada umur 25 hari, dilakukan pemilahan ukuran (gradding) untuk menjaga pertumbuhan tetap optimal. Setelah berukuran minimal 2,5—3,0 cm, ikan masuk pada tahap pendederan. (Resti Setiawati)

Incoming search terms:

  • jumlah telur barramundi di alam
  • pemeliharaan larva ikan kakap putih
  • balai benih ikan aies laut d batam
  • tingkat hidup larva kakap
  • bisnis ikan kakap
  • warna daging kakap puth
  • bibit ikan siakap dibtm
  • berapa lama pertumbuhan ikan kakap dari masa pemijahan sampai perawatan larva
  • Balai benih ikan kakap putih
  • alat sortir benih kakap

Leave a comment

Your email address will not be published.

*



Artikel menarikclose