Tangkal KHV dengan Immunostimulan, Efektifkah?

AK13 Kesling 1 2Tak hanya menyerang ikan koi, koi herves virus (KHV) merupakan penyakit ganas yang menyerang jenis ikan konsumsi penting lainnya, yaitu ikan mas. Dalam waktu singkat, KHV mengakibatkan kematian secara massif hingga 100%.

Sejak tahun 2002, KHV telah membuat budidaya ikan mas mengalami kelesuan. Dimulai dari Pulau Jawa, serangan KHV merambah Pulau Bali, Kalimantan Selatan, hingga Pulau Sumatera, terutama kawasan Danau Toba. Akibat penyebaran penyakit tersebut, berlaku larangan pengiriman ikan mas dari Jawa ke Sumatera sebagai kawasan karantina.

KHV ditemukan pertama kali di Israel pada tahun 1997. Selanjutnya, serangan penyakit ini ditemukan di beberapa negara Eropa seperti Inggris, Belanda, bahkan di seberang benua, Amerika Serikat.

Di Asia, sebaran penyakit mulai ditemukan pada tahun 2000-an. Di Indonesia, kasus serangan virus koi herves terjadi pada tahun 2002. Haenen mengungkapkan bahwa serangan di beberapa negara di Asia lain, di antaranya Taiwan dan Jepang, terjadi berturut-turut pada tahun 2003. Sementara Soenarto mengungkapkan bahwa KHV mulai menyerang ikan mas di daerah Blitar, Jawa Timur, dan dalam tempo satu bulan sudah menyerang Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Bali.

Mengenal virus koi herves

Seperti namanya, virus koi herpes menyerang ikan koi dan juga ikan mas. KHV merupakan penyakit viral yang akut dan ganas. Gejala infeksinya dapat dilihat dari adanya bercak putih pada sisik ikan yang terserang. Selanjutnya, insang ikan yang terinfeksi mengalami kerusakan sehingga berwarna gelap.

KHV menular dalam waktu relatif singkat. Seringkali serangan diikuti dengan infeksi sekunder berupa bercak putih di sekujur tubuh ikan oleh bakteri jenis Aeromonas hydrophila ataupun Flexibacter columnaris.

Gejala klinis yang dapat diamati pada ikan mas yang terserang KHV berupa penampakan organ insang. Pada ikan yang sakit, insang pertama-tama tampak pucat dan tidak berwarna merah segar. Selanjutnya, muncul bercak-bercak putih pada lembaran insang dan diikuti kerusakan. Pada kasus serangan yang cukup parah, terjadi pendarahan pada organ pernapasan ikan tersebut.

Gejala klinis lainnya terlihat dari mata cekung, hilang nafsu makan, dan produksi lendir yang berlebih. Jika dilakukan pembedahan, organ dalam seperti ginjal dan limpa tampak berwarna tidak normal dan mengalami kerusakan.

 

Penyebaran penyakit efektif melalui air atau media budidaya, termasuk kontak dengan cairan dari ikan yang terserang. Diyson mengungkapkan, air atau cairan yang mengandung virus ini mengenai insang atau usus ikan sehat. Selanjutnya, virus akan menginfeksi inang baru dan menyebabkan penyakit. Ikan yang paling rentan terkena serangan ini adalah ikan dengan daya tahan tubuh rendah, misalnya ketika mengalami stres akibat kondisi lingkungan yang buruk atau kurangnya asupan nutrisi pakan. Dalam kurun waktu 24—48 jam setelah gejala serangan, ikan yang sakit akan terkapar.

Lantas, bagaimana pola sebaran virus ini? Hendrick mengungkapkan, virus koi herpes akan berdampak fatal pada ikan dalam lingkungan bersuhu 18—27 oC.  Laju kematian ikan akan menurun, bahkan terhenti, jika suhu air di bawah atau di atas kisaran tersebut. Dalam kisaran suhu 22—27 oC, kasus kematian dapat terjadi dalam kurun waktu 2 hingga 3 hari. Dalam lingkungan air dengan suhu di atas 30 oC, tidak ditemukan kasus serangan penyakit. Kesimpulannya, faktor suhu air sangat berpengaruh terhadap kelangsungan virus ini. Pada kasus wabah, tingkat kematian ikan dapat mencapai 80—100% dalam kurun waktu 10 hari.

Pencegahan infeksi dengan immonostimulan

Hingga saat ini, belum ada metode pengobatan yang dapat menyembuhkan ikan yang telah terjangkit KHV. Salah seorang peneliti perikanan dari Situbondo, Arman Faries, mengungkapkan bahwa penyakit KHV masih sulit dikendalikan, bahkan hingga saat ini. Pasalnya, virus penyebab penyakit ini berada di dalam sel. Oleh karena itu, salah satu langkah yang paling efektif dalam mengendalikan serangan virus ini adalah langkah pencegahan.

Salah satu upaya pencegahan KHV dilakukan dengan memperkuat sistem kekebalan tubuh ikan terhadap serangan virus. Terkadang, sistem imunitas tubuh ini memerlukan rangsangan agar dapat bekerja optimal melawan serangan penyakit, yaitu dengan menggunakan bahan immunostimulan. Aplikasi pemberian bahan imunostimulan salah satunya lewat pakan.

Salah satu ujicoba aplikasi dilakukan BBPBAT Sukabumi dengan teknik pemberian zat perangsang sistem kekebalan tubuh (immunostimulan) melalui aplikasi pakan. Uji coba tersebut dilakukan di kawasan perairan Waduk Cirata, Cianjur, Jawa Barat, dalam media pemeliharaan berupa keramba jaring apung (KJA). Dalam pengujian tersebut, Ciptoroso dkk., menggunakan bahan chromium yeast, zat immunostimulan yang kerap digunakan sebagai campuran pakan hewan ternak.

Dalam kegiatan tersebut, beberapa kelompok ikan mas ditempatkan dalam KJA yang berbeda. Perlakuan yang diberikan pun beragam, mulai dari frekuensi pemberian chromium yeast yang sering hingga kelompok ikan tanpa pemberian zat tersebut sama sekali.

Dari hasil pengujian tersebut, terungkap bahwa penggunaan chromium yeast yang dicampurkan dengan pakan mampu memberikan kekebalan tubuh ikan mas terhadap serangan virus KHV. Hal ini terbukti dari sintasan atau tingkat kelulusan hidup yang lebih tinggi. Sementara sintasan ikan mas dengan pakan tanpa campuran chromium yeast lebih rendah.

Tingginya sintasan tersebut disebabkan meningkatnya daya tahan tubuh dalam menangkal penyakit. Peningkatan ini diduga dari bertambahnya jumlah sel leukosit di dalam tubuh. Seperti diketahui, leukosit merupakan sel darah putih, komponen yang berperan sebagai pertahanan non-spesifik dalam tubuh. Sel ini diketahui akan melokalisasi dan mengeliminasi patogen melalui pagositosis.

Dalam pengujian tersebut, tingkat sintasan tertinggi terdapat pada ikan dengan aplikasi chromium yeast selama masa pemeliharaan. Dari kegiatan pengujian tersebut, peneliti menyarankan dosis aplikasi chromium yeast sebanyak 4 gram untuk setiap 1 kilogram pakan. Pemberian pakan dilakukan sebanyak tiga kali dalam sehari selama masa pemeliharaan.

Efektifkah immunostimulan tangkal KHV?

Menurut Arman, immunostimulan merupakan substansi yang dapat merangsang atau menstimulasi sistem kekebalan tubuh (imunitas). Cara kerjanya dengan memicu aktivasi atau meningkatkan aktivitas  komponen-komponen sistem kekebalan tubuh. “Contohnya, zat ini mengaktivasi sel-sel fagosit. Sel-sel ini bertugas untuk melokalisasi dan mengeliminasi patogen melalui proses fagositosis,” papar peneliti di BBAP Situbondo ini. “Mengingat perannya sebagai peningkat kekebalan non-spesifik,” lanjutnya, “immunostimulan dapat diaplikasikan pada semua jenis ikan, tidak hanya ikan mas.”

Lebih lanjut, Arman menuturkan, chromium yeast (Cr yeast) dianggap mampu meningkatkan sistem kekebalan tubuh non-spesifik dalam tubuh ikan. Maksud kekebalan tubuh non-spesifik adalah tidak bersifat khusus pada penyakit tertentu. Berbeda dengan vaksin yang dapat memicu produksi antibodi untuk mencegah timbulnya penyakit spesifik tertentu.

Chromium yeast dianggap berdampak positif dalam meningkatkan sistem kekebalan tubuh non-spesifik sehingga penggunaanya dapat mencegah serangan KHV. Meskipun demikian, efek yang ditimbulkan imunostimulan ini relatif singkat, sekitar 2 hingga 3 minggu dan tidak menghasilkan sel memori di dalam tubuh ikan. Dengan begitu, aplikasi chromium yeast perlu dilakukan berulang-ulang untuk memperkuat kembali sistem daya tahan tubuh ikan.

Lantas, adakah langkah efektif pengendalian terhadap KHV? Menurut Arman, salah satu langkah yang dianggap dapat mengendalikan penyakit KHV adalah melalui vaksinasi. (Noerhidajat)

Incoming search terms:

  • obat ikan mas cromium yeast
  • tip buat kekebalan penyakit khv
  • penyakit khv
  • penyakit ikan mas di danau toba
  • obat ikan mas danau toba
  • obat ikan cromium yeast
  • nonspesifik pada udang maksudnya adalah
  • majalah asia akuakultur tahun 1997
  • kekebalan ikan mas
  • harga vaksin khv

Leave a comment

Your email address will not be published.

*



Artikel menarikclose