Teknik Budidaya Udang Galah Dengan Padi

 

 

Serupa namun tak sama dengan teknik minapadi, budidaya udang galah bisa bersama dengan padi

 

Pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) sedang menggalakkan program Ugadi, dengan mengoptimalkan fungsi lahan sawah irigas. Lahan sawah semakin tergerus akibat alih fungsi, seperti kegiatan pembangunan perumahan dan sarana publik.

 

Ugadi merupakan upaya optimasi pemanfaatan lahan serta meningkatkan pendapatan dari hasil panen padi dan juga udang galah. Budidaya udang galah yang terintegrasi bersama padi di lahan persawahan juga sebagai bentuk pemanfaatan secara nyata dari keterbatasan lahan, serta meningkatkan produksi perikanan.

 

Teknik budidaya ugadi tidak jauh berbeda dengan minapadi, beberapa aspek teknis yang perlu diperhatikan antara lain konstruksi lahan, pengelolaan air, penebaran benih dan pemberian pakan.

 

Persiapan yang dilakukan pertama kali yaitu pengolahan lahan untuk penanaman padi serta pembuatan saluran keliling (kemalir), peninggian pematang dan pembuatan kobakan, dengan ukuran seperti (i) Tinggi pematang 100 cm, lebar dasar 100 cm, lebar atas 75 cm. (ii) Lebar saluran keliling 100 – 200 cm dengan kedalaman 50 cm. (iii) Ukuran kobakan 100x100x20 cm, dilengkapi pembuangan air piva PVC diameter 4 inchi.

 

Pengelolaan kualitas air dalam pelaksanaan ugadi, air di sawah harus terus mengalir, melakukan pemupukan ulangan bila densitas plankton kurang optimal yang ditandai semakin cerahnya air dan memonitor kualitas air seperti suhu, pH, dan oksigen terlarut (DO).

 

Penebaran benih dilakukan 10 hari setelah tanam padi. Benih berkualitas ditandai dengan ukurannya yang seragam dan gerakannya lincah. Benih ditebar setelah melalui proses adaptasi atau aklimatisasi untuk menghindari stres pada udang. Benih udang galah sebaiknya ditebar berukuran tokolan ukuran bobot 6 – 9 gram/ekor supaya lebih tahan dibanding juvenile. Padat penebaran di sawah adalah 5 – 10 ekor/m2 untuk bobot udang 6 – 8 gram/ekor.

 

Selama pemeliharaan, udang galah diberi makanan tambahan berbetuk pelet dengan protein 30% serta dosisya 4 – 2 % biomassa/hari, frekuensinya yaitu 2 kali/hari, yakni pada sore hari serta malam hari dikarenakan pada saat itu udang lebih aktif.

 

 

Udang galah Siratu dibudidayakan dengan padi

Udang galah strain baru yang di release pada tahun 2015 lalu diberi nama udang galah Siratu. Baik secara fisiologi maupun morfologi, Siratu dengan strain lainya tidaklah berbeda. Tubuh terdiri dari kepala, abdomen dan ekor dengan kaki jalan kedua membesar sebagai alat pencapit. Memiliki duri rostrum 11-14 atau 8-14 yang menjadi penciri spesies Macrobrachium rosenbergii dan warna kuning kehijauan atau biru kehijauan.

 

Larva hidup dengan baik pada salinitas 10-15 ppt dan besar di air tawar. Bersifat omnivora dan makan lebih banyak pada malam hari. “Yang membedakan hanyalah pertumbuhannya yang lebih cepat dan keseragaman lebih tinggi. Hal ini pertanda udang galah Siratu tumbuh baik karena sering berganti kulit, sehingga warna udang akan cerah dan bersih dari organisme penempel seperti lumut dan parasit,” ungkap Perekayasa Madya, Instalasi Pembenihan Udang Galah Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (IPUG BBPBAT) Sukabumi, Dasu Rohmana, S.Pi.,M.Si

Dasu menambahkan, peluang pengembangan Siratu masih sangat besar, karena udang galah sangat diminati oleh masyarakat kita dan merupakan luxury food sehingga pasar sangat terbuka dan apabila ketersediaannya banyak tidak menutup kemunginan akan tercipta pasar ekspor.

 

Banyak pulau di wilayah  Indonesia yang memiliki lahan luas dan air cukup melimpah seperti Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi, sehingga prosfektif sekali untuk dikembangkan budidaya udang galah ini di samping perairan-perairan umum seperti danau, waduk dan sungai-sungai besar dalam bentuk CBF (culture based fisheries).

 

Dasu menambahkan kembali, penebaran benih udang galah di lahan padi pada sistem budidaya ugadi dilakukan pada saat umur padi sekitar 15 hari dimana perakaran padi sudah tahan digenangi air. Umur padi sejak tanam sampai panen biasanya berkisar 110-120 hari. Panen udang dilakukan sekitar lima hari sebelum panen padi, sehingga masa tanam udang pada budidaya sistem ugadi hanya berkisar 90-100 hari.

 

“Untuk mendapatkan ukuran udang konsumsi (size 30 ekor/kg) selama masa pemeliharaan 90-100 hari harus ditebar benih udang yang berukuran >5 gram. Biasanya diistilahkan dengan tokolan 2 atau benih hasil pendederan dari juvenil selama 60-75 hari,” pungkasnya.

Selanjutnya Baca di Majalah Info Akuakultur

Incoming search terms:

  • budidaya udang galah padi
  • budidaya udang galah dan padi
  • budidaya udang galah di sawah
  • mina padi udang galah
  • parameter budidaya udang galah
  • teknik pembesaran udang galah dan padi
  • pelet udang galah di kolam terpal
  • udang sawah
  • video budidaya udang galah dengan hasil melimpah
  • budidaya udang galah bersama padi

Leave a comment

Your email address will not be published.

*



Artikel menarikclose