Tingkatkan Nafsu Makan Ikan dengan Atraktan

Pakan berkualitas memiliki tingkat palatabilitas yang tinggi. Secara cepat, ikan merespon pakan yang merangsang penciumannya akibat mekanisme kemoreseptor. Senyawanya dikenal sebagai atraktan.

AK13 Pakan 1 1Sistem akuakultur yang produktif dan menguntungkan sangat bergantung pada ketersediaan pakan berkualitas dengan harga terjangkau. Kebutuhan pakan terus meningkat seiring pesatnya perkembangan kegiatan budidaya perikanan. Kondisi tersebut menyebabkan harga pakan selalu meningkat. Selain itu,  tingginya harga juga dipengaruhi ketersediaan bahan baku sumber protein seperti tepung ikan yang berfluktuasi dan masih diimpor.

Permasalahan tersebut mendorong para pembudidaya dan perusahaan pakan mencari bahan baku pakan lokal, jumlahnya berlimpah, dan kontinuitasnya terjaga sebagai alternatif pengganti tepung ikan dan bungkil kedelai.

Beberapa bahan baku pakan lokal yang mempunyai potensi sebagai bahan baku pakan alternatif berasal dari limbah industri pertanian seperti bungkil kelapa sawit, onggok singkong, dan limbah peternakan seperti isi rumen.

Pengetahuan yang relatif terbatas mengenai komponen utama nutrisi pakan dan pengaruhnya terhadap kondisi fisiologis ikan memunculkan masalah, yaitu palatabilitas dan kecernaan yang rendah terhadap pakan tersebut. Akibatnya, pertumbuhan ikan lambat dan produktivitasnya rendah.

Selain ditentukan oleh kecukupan; keseimbangan energi; dan kandungan nutrisi pakan seperti protein, lemak, vitamin dan mineral; kualitas pakan juga dipengaruhi beberapa unsur yang mampu menstimulus ikan untuk merespons keberadaan pakan tersebut, yang dikenal dengan atraktan.

Atraktan merupakan bahan yang dicampurkan dalam pakan dalam jumlah sedikit untuk meningkatkan asupan pakan (feed intake), pertumbuhan, dan konsumsi ikan terhadap pakan. Zat ini memberi sinyal yang sesuai sehingga memungkinkan ikan mengenali pellet tersebut sebagai sumber makanannya. Supaya ikan merespon kehadiran pakan dan aktivitas pencarian terhadap pakan lebih efisien, pakan buatan ditambahkan senyawa phagostimulatory atau dikenal dengan atraktran kimiawi (chemo-attractant).

Penggunaan atraktan pada industri pakan ikan telah menjadi hal yang sangat penting. Bahan kimia berbahan dasar bahan organik, betaine, terpene, dan senyawa sulfur dapat menginduksi rangsangan rasa dan bau bagi ikan. Berpedoman pada beberapa variasi kebiasaan ikan seperti rangsang tanggap, pencarian (searching), memakan (uptake), dan fase penyerapan, sangat realistis bahwa penambahan atraktan pada pakan akan membuat ikan lebih cepat tertarik pada pakan tersebut. Dengan begitu, waktu ikan untuk kegiatan makan menjadi lebih pendek dan nilai nutrisi yang masuk ke dalam lambung ikan terjaga. Serangkaian penelitian menunjukkan bahwa penambahan atraktan pada pakan dapat mempercepat waktu produksi. Penambahan atraktan yang sesuai mengakibatkan sisa pakan berkurang sehingga kualitas media pemeliharaan dan lingkungan lebih baik.

Ketertarikan ikan terhadap pakan atau rangsangan untuk memakan pakan merupakan hal yang sangat penting dalam formulasi pakan ikan. Dengan kata lain, keseimbangan komponen nutrisi menjadi kurang efektif jika pakan tidak mengandung komponen yang dapat memacu respon ikan terhadap pakan tersebut.

Bau atau aroma pakan memang seringkali menjadi perhatian para pembudidaya ikan. Pakan yang baunya kurang tajam biasanya tidak disukai oleh pembubidaya. Tentu saja, bau pakan berasal dari bahan baku yang terkandung di dalam pakan, sesuai dengan resep atau formula dari pakan tersebut.

Pakan dengan kandungan protein rendah biasanya berisi banyak sumber nabati seperti dedak, tepung kedelai,  atautepung gandum. Biasanya, pakan jenis ini tidak berbau amis karena kandungan unsur hewaninya rendah. Jika sudah berumur agak lama, pakan cenderung berbau apek.

Umumnya, atraktan dihasilkan dari asam amino bebas. Menurut Michael dan Hara, keberadaan asam amino mempunyai peranan penting untuk proses osmoregulasi. Peran lain asam amino bebas adalah sebagai komponen untuk memacu pertumbuhan, sebagai sumber energi, dan sebagai bahan atraktan pada makanan.

Sumber atraktan

Setidaknya, terdapat dua sumber senyawa atraktan yang digunakan dalam pakan, yaitu atraktan kimiawi dan atraktan alami.

Untuk atraktan kimiawi, sejumlah referensi menyebutkan bahwa beberapa senyawa seperti L-asam amino, nukleotida, dan betaine merupakan stimulus pada mekanisme tanggap ikan terhadap pakan. Menurut Gaylord et al, asam amino bebas yang berperan dalam mekanisme kemoreseptor terhadap pakan adalah taurin yang merupakan asam 2-aminoethanmesulfonic dan terbentuk dari metabolisme metionine dan sistein. Fungsi utama taurin untuk penglihatan, perkembangan otak, sistem saraf, dam jantung.

Adapun sebagian besar bahan atraktan alami yang dikenal luas dan digunakan pada pakan ikan yaitu tepung ikan maupun tepung cumi. Tepung cumi memiliki kandungan protein yang tinggi, yaitu 70—90%.

Bau amis tidak selalu berhubungan langsung dengan nafsu makan ikan. Adakalanya ikan lebih tertarik pada bau pakan tertentu meskipun tidak berbau amis. Minyak ikan dan minyak cumi merupakan atraktan yang baik, tetapi bau yang dihasilkan tidak amis seperti tepung ikan. Tepung ikan yang sudah terfermentasi atau mengalami pembusukan akan menghasilkan bau amis yang lebih tajam, tetapi mutu proteinnya mungkin sudah menurun sehingga kualitas pakan yang dihasilkan kurang baik.

Hasil penelitian El-Dakkar pada tahun 2008 menyatakan bahwa penggunaan ekstrak daun bawang putih dan marjoram (dried basil leaves, DBL) sebagai bahan atraktan dalam pakan ikan nila dapat meningkatkan kecernaan protein dan energi serta menurunkan level pencernaan terhadap lemak dan karbohidrat. Penambahan 2% DBL juga secara signifikan memberikan pertumbuhan lebih baik terhadap ikan uji dibandingkan kontrol.

Indeks palatabilitas meningkat sebanding dengan peningkatan level DBL dan ternyata memberikan pengaruh terhadap berkurangnya limbah pakan,  dari 33,48% pada kontrol menjadi 8,43% pada perlakuan 2% level DBL. Terdapat dua keuntungan dengan penambahan ekstrak daun tersebut, yaitu nilai biaya pembuatan pakan yang rendah dan indeks kuntungan yang tinggi karena FCR lebih kecil.

Terkait aspek keamanan pangan (food safety), penggunaan bahan aditif alami pakan akan lebih memiliki prospek dibandingkan bahan aditif kimiawi. Efek kumulatif bahan aditif kimiawi biasanya terjadi pada makanan yang mengandung bahan kimiawi sehingga penggunaan dalam jangka panjang dapat berdampak pada kesehatan manusia. (Althaf)

Incoming search terms:

  • perangsang nafsu makan ikan
  • cara membuat atraktan
  • obat perangsang nafsu makan ikan
  • obat nafsu makan ikan nila
  • cara membuat atraktan alami
  • perangsang nafsu makan ikan mas
  • obat perangsang nafsu makan ikan nila
  • perangsang makan ikan nila
  • atraktan ikan
  • obat nafsu makan ikan

Leave a comment

Your email address will not be published.

*



Artikel menarikclose