Uji Multilokasi Udang Vaname Nusantara G-4

VN G-4 jadi alternatif pengganti untuk budidaya udang vanname F1

Komoditas perikanan budidaya terutama jenis udang masih merupakan komoditas unggulan dalam program ekspor perikanan Indonesia. Di wilayah tropis seperti di Indonesia, udang vaname diproduksi secara massal dengan penerapan teknologi skala sederhana hingga super intensif dengan beberapa karakter yang spesifik bila dibandingkan dengan jenis udang lainnya.

Untuk mendukung usaha budidaya vaname yang berkelanjutan tidak terlepas dari faktor penyediaan benih yang berkualitas (unggul). Benih udang merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan budidaya di tambak, karena benih juga merupakan komponen sarana produksi yang harus memenuhi standar mutu yang dipersyaratkan untuk menjamin keberhasilan mutu produk dan keamanan pangan serta ramah lingkungan.

Susetyo Pramujo mengatakan, benih unggul hanya dapat diproduksi dari induk yang secara genetik unggul disamping pengaruh kualitas air dan pakan juga memegang peranan yang penting dalam pemeliharaannya. Pemuliaan yang telah dilakukan adalah Cross Breeding (kawin silang) dan Selective Breeding (seleksi).

Pemuliaan yang dilakukan BPBAP Situbondo ini, kata Susetyo, agar nilai pengembangbiakan (breeding value) dari suatu populasi dapat meningkat melalui kawin silang dan seleksi, serta menghasilkan udang yang lebih baik (udang yang tumbuh lebih besar, lebih berat,  lebih tahan penyakit, dan sebagainya).

Program pemuliaan  udang vaname nusantara (VN) melalui seleksi famili telah diperoleh induk – induk udang VN generasi keempat (G-4). Induk VN G-4 selanjutnya dikawin silangkan kembali dimana benih hasil persilangan tersebut akan disebarkan ke beberapa lokasi untuk dilakukan ujicoba di masyarakat.

Uji multilokasi performa benih udang VN G-4 dilakukan di tambak tradisional plus, semi intensif dan intensif. Udang vaname dibudidayakan di Sidoarjo dengan sistim tradisional plus dengan  kepadatan 10 ekor/m2, di Situbondo dengan sistim semi intensif dengan kepadatan 50 ekor/m2 dan di IBAP Lamongan dan di Probolinggo dan Bangil dengan sistim  intensif dengan kepadatan 100 ekor/m2.

“Tujuan uji multilokasi di beberapa lokasi adalah untuk mengetahui pertumbuhan udang vaname nusantara hasil pemuliaan dengan seleksi famili pada generasi keempat di tambak tradisional plus, semi intensif dan intensif”, tambah Susetyo.

Tujuan akhir adalah agar induk udang yang terpilih dapat menurunkan sifat keunggulannya pada turunannya. Apabila hal ini terjadi, ungkap Susetyo, maka generasi berikutnya akan memiliki nilai lebih karena  udang dapat tumbuh lebih cepat sehingga dapat meningkatkan hasil produksi, dan pertumbuhan udang akan lebih efisien.

 

 

Hasil uji multilokasi

Siti Subaidah menjelaskan, udang dipelihara sesuai SOP yang berlaku, monitoring dilakukan 3 kali selama masa pemeliharaan yang meliputi: kualitas air (pH, alkalinitas, Oksigen, Amonia, Nitrit), jenis plankton, penyakit (bakteri dan virus).

Dari hasil pengamatan bobot udang VN G-4 yang dibudidayakan secara tradisional sampai umur 90 hari bisa mencapai berat 12 gram atau size-nya sekitar 83 gram. Sementara untuk yang dibudidayakan pada tambak semi intensif sampai pemeliharaan di dua lokasi di kab. Situbondo dan Kab. Lamongan sampai umur 70 hari bisa mencapai bobot 8,0-8,3 gram atau size sekitar  120- 125 gram.

Sedangkan untuk benur  yang dibudidayakan pada tambak intensif di Prolinggo dan Bangil udang VN G-4  sampai umur 90 hari masa pemeliharaan didapatkan bobot  9,10 gram – 9,40 gram atau size-nya sekitar 108 gram.

“Dari hasil didapat, dengan demikian kiranya udang VN-G4 bisa sebagai alternatif pengganti udang vanname F1”, ujar Siti.

Selanjutnya baca di majalah Info Akuakultur

 

Leave a comment

Your email address will not be published.

*



Artikel menarikclose