Untuk Benih yang Berkualitas, Sertifikasi CPIB Perlu!

Spread the love

Merebaknya wabah TiLV di sejumlah negara membuat segmen pembenihan mendapatkan sorotan. Terlebih dalam urusan impor benih dan induk tilapia dari wilayah yang terkena wabah. Nama baik hatchery pun jadi pertaruhan.

Sejak dikeluarkannya Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor Kep. 02/MEN/2007 tentang Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB), sertifikasi—dalam hal ini CPIB—menjadi penentu kelas sebuah Unit Pembenihan (UP). Dengan menggunakan benih dari UP bersertifikat, jaminan keamanan pun lebih terjamin.

Pada prinsipnya, CBIB maupun CPIB mengatur cara pembudidayaan ikan yang baik dan pemilihan benih yang bermutu. “Benih ikan bermutu yang dimaksud adalah berasal dari Unit Pembenihan yang bersertifikat dan memenuhi persyarakatan mutu dan keamanan,” papar Lisa Ruliaty dari Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara.

Masih menurut Lisa, CPIB merupakan standar sistem mutu pembenihan paling sederhana, yang harus diterapkan pembenih ikan dalam memproduksi benih ikan bermutu. Penerapannya dilakukan dengan manajemen induk, pemijahan, penetasan telur, serta pemeliharaan larva/benih dalam lingkungan terkontrol, lewat teknologi yang memenuhi persyaratan SNI atau syarat teknis lainnya. Di samping itu, pembenihan harus memerhatikan aspek biosekuriti, ketelusuran (traceability), dan keamanan pangan (food safety).

Sertifikasi CPIB jelas akan meningkatkan daya saing unit pembenihan atau hatchery karena kepercayaan konsumen meningkat. Pasalnya, konsumen bisa mendapatkan jaminan konsistensi kualitas benih yang dihasilkan dan ketelusuran dokumen lebih teliti. Bagi hatchery sendiri, penerapan CPIB membuat struktur kerja lebih jelas dan transparan, lingkungan hatchery lebih rapi dan bersih, dan ketrampilan karyawan meningkat karena pembinaan SDM-nya terprogram.

“Pada akhirnya, efisiensi dan efektivitas kerja, juga produktivitas, akan meningkat,” terang Lisa.

Empat syarat

Dalam slide presentasinya yang berjudul “Cara Pembenihan Ikan yang Baik (CPIB) dan Sertifikasi CPIB”, Lisa memaparkan empat syarat yang harus dipenuhi unit pembenihan. Dengan memenuhi keempat persyaratan tersebut, hasil keluarannya berupa benih yang sehat dan bermutu, bebas residu antibiotik dan logam berat, aman bagi kesehatan, dan ramah lingkungan.

Pertama adalah persyaratan teknis, meliputi kelayakan lokasi, kelayakan sarana dan prasarana, dan proses produksi. Lokasi yang dinilai layak untuk usaha pembenihan si antaranya bebas banjir. Selain itu, lokasi bebas dari pengikisan daerah pantai dan terhindar dari cemaran limbah, baik limbah industri, pertanian, maupun pemukiman.

Kelayakan sarana dan prasarana ditujukkan dengan ketersediaan dan kecukupan fasilitas produksi, di antaranya wadah/kolam, mesin/pompa, peralatan, gudang pakan, serta bangunan lainnya. Salah satu contohnya adalah sarana water treatment.

Adapun proses produksi yang diperhatikan mencakup manajemen induk, manajemen benih, manajemen air, serta pemanenan benih. Titik tekan manajemen induk adalah memastikan kelayakan umur dan ukuran induk, serta asal dan sertifikat kesehatan yang menunjukkan induk bebas dari virus.

Kedua, persyaratan manajemen. Persyaratan ini meliputi organisasi unit pembenihan, di mana personil yang ditempatkan sesuai fungsi dengan kompetensi berdasarkan pendidikan, pelatihan, keterampilan, serta pengalaman. Selain itu, dokumentasi dan rekaman juga masuk dalam kriteria uji. Adapun jenis dokumentasi CPIB yang dipersyaratkan adalah Standar OPerasional Prosedur (SPO)/IK, Formulir, dan Rekaman.

SPO adalah dokumen berisi petunjuk baku pengoperasian suatu proses kerja dari satu atau beberapa orang yang fungsi tugasnya bisa memengaruhi efektivitas produksi. Sementara formulir adalah sarana yang digunakan untuk merekam data penerapan CPIB. Adapun rekaman merupakan salah satu dokumen yang menjadi bukti obyektif dari Unit Pembenihan (UP) untuk menunjukkan efektivitas implementasi CPIB.

Ketiga, persyaratan keamanan pangan. Persyaratan ini meliputi sumber air, penggunaan obat-obatan, serta sarana dan prasarana biosekuriti. Sumber air hendaknya tersedia sepanjang tahun dan bebas dari logam berat untuk parameter Cd, Hg, dan Pb. Bebas pula dari ecoli. Pengaturan terhadap penggunaan obat ikan serta bahan kimia dan biologi dalam proses produksi benih juga diperhatikan. Unit pembenihan hendaknya tidak menggunakan obat dan bahan kimia yang dilarang. Sementara pada biosekuriti, penilaian mencakup pengaturan tata letak; pengaturan akses masuk ke lokasi; sterilisasi wadah, eralatan, dan ruangan; sanitasi lingkungan; pengolahan limbah; pengendalian hama dan penyakit; serta pengaturan personil/karyawan.

Keempat, persyaratan lingkungan. Persyaratan ini mencakup upaya sanitasi lingkungan dengan tersedianya alat kebersihan yang memadai serta perlakuan pengelolaan limbah sebelum dibuang untuk mencegah pencemaran lingkungan. Sebelum dibuang ke lingkungan sekitar pembenihan, limbah harus ditampung atau diendapkan terlebih dulu dalam bak pengemdapan. Selanjutnya limbah disalurkan ke bak pengolahan limbah dan disterilisasi dengan kaporit 20 ppm selama 60 menit atau secara biologi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *