Untung Berlipat dari Budidaya Skala Rakyat

Oleh: Supito, S.Pi.,M.Si

 

Komoditas perikanan khususnya udang penaeid mempunyai prospek yang baik untuk dikembangkan. Kebutuhan pasar ekspor udang penaeid  masih belum terpenuhi, bahkan cenderung meningkat volumenya. Harga pasar udang serta margin keuntungan yang tinggi, prospek usaha budidaya udang  masih menjadikan kegiatan usaha  yang   menguntungkan.

 

Menurut data stastitik perikanan budidaya (2014) luas potensi lahan tambak adalah 2.964.331 Ha dan existing tambak adalah 657.346 Ha yang terdiri sekitar 16.680 Ha tambak intensif; 38.920 ha adalah tambak semi intensif dan sisanya sebesar 601.746 Ha masih dikelola secara tradisional. Hal ini merupakan potensi yang besar untuk meningkatan produksi, pendapatan pembudidaya dan dapat menciptakan peluang tenaga kerja.

 

Permasalahan utama pada kawasan tambak tradisional,  adalah penerapan teknologi budidaya yang kurang tepat. Karena tidak seimbang ketersediaan sarana dan prasarana yang ada, dengan  luas lahan budidaya. Kondisi ini menyebabkan   penerapan teknik budidaya udang yang baik (CBIB) tidak dapat diterapkan secara optimal.

 

Sebagai dampaknya parameter kualitas air menjadi rendah, yang pada akhirnya udang terserang penyakit dan gagal panen. Penerapan biosekurity untuk pengendalian penyakit  tidak dapat dilakukan secara maksimum, sehingga menyebabkan  potensi yang besar akan terserang penyakit virus.

 

Infeksi  penyakit virus pada salah satu petak tambak tradisional  yang tidak segera dilakukan pengendalian, akan berpotensi  besar dapat menyebar pada kawasan yang lebih luas. Penyakit virus pada udang apabila tidak dilakukan pengendalian dengan baik akan mudah menular. Patogen virus akan menular melalui media air yang dibuang pada saluran-saluran.

 

Krustasea  dan udang  yang hidup pada saluran tersebut akan tertular penyakit virus dan bisa sebagai carier penyakit.  Sebagai akibatnya seluruh kawasan tambak tersebut akan terinfeksi penyakit virus. Oleh karena itu perlu manajemen pengelolaan kawasan tambak sederhana/tradisional  agar dapat berproduksi dengan baik.

 

Manajemen Teknis Budidaya

Permasalahan utama pada tambak tradisional adalah  adalah pertumbuhan lambat dan gagal panen udang karena  serangan penyakit virus. Infeksi penyakit virus tambak tradisional dan tidak dilakukan tindakan sterilisasi diduga sebagai penyebab  menyebarkan patogen penyakit virus tersebut pada kawasan.

 

Desain petak tambak yang lebih kecil dengan luasan 500-2000 m2, akan memudahkan dalam pengelolaan air.  Hal ini memudahkan untuk melakukan sirkulasi air dalam petak tambak dengan optimal. Seluruh kolom air dalam petak tambak dapat bergerak sehingga dapat menyebabkan kualitas air terutama oksigen terlarut merata pada seluruh bagian petak tambak.

 

Air yang bergerak dengan kecepatan minimal 8 m/menit dan dapat membuat kotoran dan sisa pakan melayang dalam kolom air.  Kandungan oksigen terlarut pada kolom air yang tinggi maka kotoran tersebut  akan mudah diuraikan oleh bakteri probiotik untuk membentuk nutrien untuk plankton maupun flok-flok bakteri.

 

Pendekatan penggunaan teknologi budidaya udang diarahkan pada penerapan biosekurity secara maksimum mulai dari penggunaan benih dan sarana lainnya untuk mencegah penularan penyakit. Yang kedua diarahkan pada  pengelolaan lingkungan budidaya udang atau kualitas air agar stabil pada kisaran paremater  sesuai dengan kebutuhan biologis udang.

 

Untuk mempertahankan lingkungan budidaya yang baik maka saat ini telah berkembang pengelolaan air sistim heterotrof atau biofloks serta sistem semi heteotrof yang memanfaatkan bioflok dan  plankton untuk memperbaiki kualitas air. Prinsip dasar pengelolaan sistem heterotrof maupun semi heterotrof adalah untuk mencegah pembusukan kotoran udang, sisa pakan dan bahan kotoran lainnya dalam tambak.

 

Bakteri probiotik yang diaplikasikan akan merombak bahan organik menjadi unsur hara untuk plankton dengan mencegah terbentuknya senyawa beracun seperti Amonia, Nitrit dan Asam belerang. Agar proses kerja probiotik maksimum perlu media air yang seimbang C/N ratio >20 dan kandungan oksigen terlarut yang tinggi >3 ppm.

 

Pengelolaan air dapat dilakukan dengan sistem resirkulasi dengan teknologi semi flok sistem dengan mengendalikan keseimbangan plankton dan bakteri.   Bakteri sebagai pengurai sisa pakan dan kotoran udang menjadi unsur hara  yang akan diserap oleh makroalga. Pemanfaatan ikan herbivora untuk mengendalikan pertumbuhan alga/makrolga.

 

ikan nila merupakan salah satu komoditas yang dapat mengendalikan  bakteri vibrio sp (Tendencia at.al., 2004). Dengan sistem pengelolaan air tersebut dapat meningkatkan nilai tambah produksi ikan, dan mencegah penggunaan air baru sehingga akan dapat menekan biaya perbaikan kualitas air.

Selanjutnya Baca Majalah Info Akuakultur

Incoming search terms:

  • keseimbangan plangton dan bakteri
  • keseimbangan plankton dan bakteri
  • lele biofloks
  • SARANA DAN PRASARANA SKALA BUDIDAYA SEMI INTENSIF

Leave a comment

Your email address will not be published.

*



Artikel menarikclose