Usaha Budidaya Bandeng di Tambak

 

Pembukaan pasar baru, menempatkan bandeng sebagai komoditas penting dan memasukkannya pada ranah industrialisasi agar usaha budidaya bandeng optimal.

 

Budidaya bandeng telah diinisiasi di Indonesia, khususnya di Bali mulai tahun 1986 melalui kegiatan penelitian pembenihan, dan telah diaplikasikan dimasyarakat melalui sistem berkelompok antara pegawai balai penelitian dan masyarakat pada awal 1990an. Selanjutnya, animo masyarakat dan pengusaha yang ditunjang dengan peraturan daerah menyebabkan pertumbuhan pembenih dan investasi meningkat dengan tajam.

 

Akibatnya, seringkali terjadi over supply pada bulan-bulan tertentu. Meskipun demikian, Bali khususnya telah diklaim sebagai sentra produksi nener bandeng nomor satu di dunia. “Saat ini, pembenihan bandeng telah memasuki masa jenuh yang dibuktikan dengan menurunnya investasi baru dibidang pembenihan bandeng,” ungkap Staff Peneliti dari Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Budidaya Laut (BBPPBL) Gondol, Gigih Setia Wibawa, S.Pi

 

Namun demikian, karena alasan biaya operasional yang rendah, akses ke berbagai destinasi yang relatif luas dan mudah, serta kemampuannya dilakukan pada skala rumah tangga menyebabkan produksi nener bandeng tetap menjadi komoditas yang prospektif bagi masyarakat pantai utara Bali.

 

Senada dengan Gigih, Perekayasa Madya dari Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Situbondo, Agus Suriawan, SP., MSc., mengatakan, prospek budidaya bandeng untuk saat ini kurang baik karena harga produk tetap tetapi komponen biaya utama yaitu pakan terus meningkat.

 

Lanjut Agus, bandeng biasanya dijual dalam bentuk konsumsi, dengan harga fluktuatif berkisar antara 12 – 15 ribu rupiah, di pasar lokal Pasuruan – Sidoarjo. Size yang bagus untuk konsumsi adalah size 3-4, namun masa pemeliharaannya membutuhkan waktu yang lebih lama.

 

Dari sisi kebutuhan pasar, segmentasi budidaya bandeng setidaknya memiliki 3  produk hilir, yaitu nener bandeng bagi pembenih, umpan tuna dan gelondongan bagi petambak pendederan, serta bandeng konsumsi bagi sebagian petambak lainnya.

 

Saat ini, sektor hulu yaitu produksi nener bandeng tidak mengalami kendala. Namun, sektor hilir pada umpan gelondongan dan bandeng konsumsi masih terkendala pasar akibat menurunnya industri penangkapan tuna serta hanya pasar tradisional yang menjadi tujuan akhir ikan ini.

“Untuk itu, perlu dipikirkan tentang sektor hilir yang terkait dengan size konsumsi, bila perlu berorientasi eksport. bandeng sangat prospektif bila ditunjang oleh sinergisitas 3 elemen pelaku, yaitu pembudidaya, pemerintah, dan pelaku industri,” ungkap Gigih.

Selanjutnya baca di Majalah Info Akuakultur

Incoming search terms:

  • budidaya bandeng dari hulu ke hilir
  • Size bandeng yang di produksi
Artikel menarikclose