Panen, Indikator Evaluasi Usaha Budidaya

Panen udang merupakan kegiatan akhir dalam pembesaran udang. Hasil panen dapat dijadikan sebagai bahan evaluasi dan indikator keberhasilan usaha budidaya udang. Pemanenan pada pembesaran udang vaname, dilakukan dengan 2 metode yaitu panen parsial (sebagian) dan panen total. Bagaimanakah proses panen udang vaname skala mini?

Pemanenan udang vaname dilakukan setelah pemeliharaan udang vaname 90 -120 hari atau bergantung laju pertumbuhan udang dengan berat rata – rata udang (Average Body Weight = ABW) mencapai ukuran konsumsi 15 – 20 gram/ekor. Panen udang vaname pada tambak skala mini dilakukan pada masa pemeliharaan 100 hari.

Apabila ABW telah mencapai standar permintaan pasar (size 60-80 atau 60-80 ekor/kg) maka panen dapat dilaksanakan walaupun masa pemeliharaan belum 100 hari. Beberapa alasan mengapa pemanenan udang dilakukan yaitu udang sudah saatnya dipanen sehingga bila tetap dipertahankan, pertumbuhan udang tidak optimal lagi bahkan tidak tumbuh lagi, udang terserang penyakit dan telah menunjukkan gejala kematian jadi terpaksa dipanen untuk menghindari kerugian yang lebih besar, dan kondisi darurat yang mengharuskan udang harus dipanen.

Deni Aulia

Pemanenan udang pada tambak skala mini didahului dengan dengan persiapan pemananen meliputi penyiapan peralatan panen dan perencanaan pemanenan seperti antisipasi banyaknya udang yang mengalami ganti kulit dengan meminimalkan perubahan-perubahan yang ekstrim pada air tambak terkait dengan kualitas air.

Penambahan dan pengurangan air tidak dilakukan selama 3 hari sebelum pemanenan. Perlakuan air yang dilakukan satu minggu sebelum jadwal panen yaitu proses pengapuran setiap 2 hari sekali, dengan dosis 5-10 mg/l. Hal ini dilakukan agar pada saat panen, karapas udang dalam kondisi keras dan udang tidak molting, karena udang yang molting akan menurunkan harga jual.

Kegiatan yang dilakukan sebelum dilakukan pemanenan pada usaha budidaya udang skala mini yaitu melakukan sampling untuk mengetahui persentasi udang yang ganti kulit (molting), ukuran udang yang dipanen sesuai dengan permintaan pasar, menentukan metode panen yang digunakan, menurunkan tinggi air untuk memudahkan penanganan penangkapan.

Selain itu juga dilakukan persiapan air bersih untuk mencuci udang sebelum dimasukkan ke air dingin dan menyiapkan air dingin untuk menjaga rantai dingin agar kualitas udang tidak menurun. Pemanenan udang dapat dilakukan secara selektif maupun total. Panen selektif dilakukan untuk mengambil udang dalam jumlah tertentu sedangkan panen total yaitu panen yang dilakukan dengan mengambil seluruh udang yang dipelihara di dalam kolam.

Bahan yang digunakan dalam melakukan panen yaitu air bersih dan es, sedangkan alat yang digunakan meliputi jaring kantong, jala sebar, anco, keranjang/basket, serok dan bak penampungan serta peralatan lainnya untuk pemanenan.

Pencatatan dan penghitungan data hasil panen dalam pemanenan udang harus dilakukan sebagai bahan evaluasi usaha budidaya meliputi tingkat produktifitas, tingkat kehidupan dan konversi pakan udang sehingga dapat diketahui tingkat keberhasilan usaha budidaya yang telah dilakukan pada siklus tersebut.

Data hasil panen udang setiap siklus usaha juga dapat dibandingkan untuk mengetahui tingkat keberhasilan usaha pada masing – masing siklus. Metode budidaya pada siklus usaha yang memiliki tingkat keberhasilan terbaik dapat dijadikan rujukan metode usaha pada siklus – siklus usaha berikutnya. Hasil panen udang vaname teknologi Intensif yang baik yaitu sintasan/tingkat kehidupan minimal 75%, berat 15-20 gram dan produksi 15.000 kg/ha (SNI 01-7246-2006).

Panen Sebagian/Panen Selektif

Panen sebagian/panen selektif disebut juga sebagai panen parsial. Panen ini dilakukan dengan memanen udang sedikit demi sedikit, tergantung kebutuhan petambak atau jumlah yang dibutuhkan terbatas misalnya pada penjualan dalam bentuk hidup.

Artinya, berapapun hasil yang diperoleh disesuaikan dengan kebutuhan petambak saat itu. Oleh sebab dilakukan sebagian, air tambak saat panen tidak seluruhnya dikeringkan. Hal ini dilakukan untuk menghindari terjadinya stres. Panen sebagian dilakukan dengan menggunakan alat tangkap pasif berupa jala lempar dan dapat dilakukan sendiri oleh para petambak serta tidak memerlukan banyak tenaga pemanen, dengan begitu biaya panen yang dikeluarkan dapat diminimalisir.

Apabila secara penghitungan ekonomis telah menguntungkan untuk dilakukan panen maka panen parsial dapat dilakukan. Panen parsial tidak mempengaruhi tingkat stres udang sehingga panen parsial dapat dilakukan secara aman dalam upaya mengurangi biomassa udang agar berada pada tingkat daya dukung tambak. Salah satu alasan dilakukannya panen parsial karena biomassa udang melebihi kapasitas kolam.

Frekuensi panen parsial dapat dilakukan sebanyak 1-3 kali dalam setiap siklus dengan tenggang waktu 7 – 10 hari. Waktu panen parsial dilakukan sesuai dengan perkiraan biomassa udang pada periode tertentu setelah dilakukan sampling 2 minggu sebelum dilakukannya panen parsial.

Jumlah udang yang dipanen yaitu dengan mengurangi perkiraan jumlah udang yang masih bisa tertampung dalam 2 minggu kedepan didasarkan pada berat rata-rata udang (Average Body Weight = ABW) saat panen parsial dan rata-rata pertumbuhan harian (Average Daily Growth = ADG) udang saat sampling. Jumlah biomasa udang yang dimbil dalam setiap kali panen parsial yaitu sekitar 10 – 20 % dari estimasi biomasa udang dalam kolam.

Waktu panen parsial dilakukan pada sore/malam hari untuk meminimalisir udang yang tersisa dalam kolam agar tidak stress dan udang yang dipanen tidak mengalami kerusakan mutu. Tahapan panen parsial yaitu menyiapkan alat berupa jala, timbangan, sterofoam, blong panen, gerobak dorong, keranjang, meja sortir dan air bersih.

Selanjutnya mematikan kincir di sekitar lokasi penjalaan (hanya 1-2 kincir), menjala udang pada kolam dan memasukkan udang hasil jalaan ke dalam keranjang/basket dan dibawa menuju lokasi sortir untuk dilakukan pemilahan ukuran dan proses rantai dingin untuk mempertahankan kesegaran udang.

Panen Total

Panen total biasa dilakukan oleh petambak besar yang telah memiliki jaringan atau hubungan dengan pembeli yang siap menampung hasil panennya. Oleh sebab kebutuhan konsumen yang besar tersebut, jumlah yang dipanen pun harus dalam jumlah besar.

Dengan begitu, tidak ada cara lain selain melakukan pemanenan total. Udang yang ada di dalam kolam diambil seluruhnya, sehingga air yang ada di dalam kolam harus dikeluarkan seluruhnya. Panen total ini dilakukan pada malam hari untuk menghindari terik matahari yang dikhawatirkan akan mengurangi tingkat kesegaran udang yang dipanen.

Alat yang digunakan dapat berupa jaring listrik/selne net atau jaring kantong. Penggunaan salne net dalam proses pemanenan total membutuhkan tenaga kerja dan energi yang cukup besar karena harus membawa salne net berkeliling kolam untuk menangkap udang.

Panen juga dapat dilakukan dengan cara menggiring udang dengan jaring dan atau secara gravitasi bersamaan dengan pembuangan air ke pintu pengeluaran yang telah disiapkan perangkap berupa jaring kantong.

Pada tahap pertama petakan dikeringkan secara perlahan-lahan. Setelah mencapai kedalaman 20 cm, udang mulai ditangkap dengan menggunakan jala/jaring. Seiring dengan penjalaan, petakan terus dikeringkan sampai habis.

Pada kolam yang tidak memiliki pintu pengeluaran, pengurangan volume air menggunakan pompa, namun membutuhkan biaya yang cukup tinggi. Penggunaan pintu panen pada panen total yang digunakan pada kolam konvensional relatif lebih menguntungkan karena pengurangan volume air lebih cepat serta udang yang dipanen dapat mengikuti arus air keluar kolam sehingga petani dapat memasang jaring panen cukup di pintu panen saja.

Tahapan panen total yang dilakukan yaitu menyiapkan peralatan panen antara lain selne net, pompa panen, keranjang, dan alat angkut, dll. Memasang pompa panen untuk mengurangi volume air dalam tambak, pengurangan volume air ini dilakukan dengan menggunakan pompa, central drain dan outlet jika kolam tidak dilengkapi dengan pintu panen.

Membuang air dalam kolam melalui pintu pengeluaran air (outlet) dan central drain sampai tersisa 40-50 cm. Mematikan kincir  apabila air dalam tambak tinggal tersisa 50 cm. Melakukan penangkapan udang dengan menggunakan jaring panen (selne net) dan mengurangi volume air dengan menggunakan pompa panen secara perlahan – lahan.

Memindahkan udang pada jaring panen ke dalam keranjang, menarik keranjang udang ke atas pematang dan membawa udang menuju lokasi sortir menggunakan gerobak dorong atau alat angkut lainnya.

Penanganan Pasca Panen

               Udang yang dipanen harus segera ditangani dengan cepat dan tepat agar kesegarannya dapat dipertahankan. Penurunan mutu udang akan berdampak pada penurunan harga jual udang. Mempertahankan mutu pada panen udang vaname dilakukan dengan menggunakan rantai dingin. Udang yang dipanen akan dijual sesuai dengan ukurannya (size). Setiap size yang berbeda memiliki harga yang berbeda pula sehingga setiap ukuran udang harus dipisahkan.

            Tindakan yang perlu dilakukan pada penanganan pasca  panen udang vaname yaitu mencuci udang di tempat penampungan udang untuk menghilangkan kotoran atau lumpur yang menempel pada tubuh udang.

Kotoran ini mengandung bakteri pembusuk yang akan mempercepat penurunan mutu/kesegaran. Udang yang telah dicuci akan disortir dan kelompokkan berdasarkan ukuran dan kualitasnya (kegiatan ini biasanya juga dilakukan oleh pembeli) serta disesuaikan dengan harga pasar.

Udang yang telah disortir terlebih dahulu disampling dan ditimbang untuk menentukan size udang dan harga jual udang. Penimbangan udang dilakukan dengan menggunakan timbangan digital yang digantung atau timbangan duduk.

Udang yang telah disortir dimasukkan ke dalam keranjang/basket yang mampu menampung udang antara 25 – 35 kg/keranjang. Penimbangan udang dapat dilakukan apabila udang yang telah disortir berjumah 10 – 15 keranjang.

Tujuannya agar udang tidak terlalu lama berada diudara bebas karena akan mengalami kemunduran mutu. Udang yang telah ditimbang selanjutnya dapat dilakukan pengepakan.  Pengepakan udang dapat menggunakan coolbox, sterofoam atau kontainer yang berisi es agar suhu dingin tetap stabil sehingga udang tidak cepat busuk dan rusak.

Transportasi udang hasil panen dimulai dengan menata udang dalam coolbox dengan susunan berlapis antara udang dan es secara berselang-seling dengan bagian dasar dan atasnya tertutup oleh lapisan es sehingga kualitas udang tetap terjaga.

Perbandingan udang dan es adalah 2 : 1. Setelah udang ditata dalam wadah, maka siap dikirim ke tempat pasar, pabrik, atau rumah makan dan hotel yang menjadi pelanggan atau dapat segera dibawa ke cold storage.

Atur Asupan Nutrisi untuk Si ‘Dua Sahabat’

Irwan Dwi Susatyo (Sumber: Resti)

Ikan nila dan mas termasuk komoditas perikanan dengan tingat permintaan pasar yang tinggi. Dalam kegiatan budidaya, dua jenis ikan ini kerap dipelihara berbarengan karena saling melengkapi. Sehingga, dalam pola pemberian pakan pun, kedua ikan ini kerap disandingkan.

Dengan semakin meningkatnya populasi dunia, kebutuhan terhadap pangan pun semakin meningkat. Salah satunya adalah kebutuhan dunia terhadap protein hewani yang berasal dari ikan konsumsi.

Lebih jauh, peranan ikan sebagai pemasok protein hewani agar tercukupi menunjang kesehatan manusia. Pasalnya, seseorang yang mengalami defisiensi protein akan mengalami penurunan fungsi otak dan menurunnya daya tahan tubuh sehingga mudah terserang penyakit.

Beberapa sumber protein hewani dari ikan dapat dipenuhi dari jenis ikan nila dan ikan mas. Mengingat tingginya permintaan terhadap dua jenis ikan air tawar tersebut, sektor budidaya pun semakin bergairah.

Berdasarkan tinjauan ekonomis, harga ikan mas terbilang tinggi. Apalagi jika terjadi kelangkaan pasokan, seperti terjadinya fluktuasi karena perubahan musim. Sama halnya, ikan nila, terutama jenis nila merah, akhir-akhir ini mengalami lonjakan.

Dalam aspek budidaya, ibaratnya dua sahabat, ikan mas dan nila sering dibudidayakan secara bersamaan, terutama pada media keramba jaring apung (KJA). Pada bagian atas dipelihara ikan mas, sementara ikan nila berada jaring bagian bawah.

Hal ini beralasan karena ikan nila diketahui sebagai pemakan detritus dan plankton. Di samping itu, ikan ini juga memakan sisa pakan mas dari jaring bagian atasnya. Dengan metode demikian, jumlah pakan yang tidak termanfaatkan dapat ditekan.

Contoh feeding program untuk pakan terapung (PT Matahari Sakti)

Tingkatkan efisiensi pakan pada ikan mas dan nila

Berdasarkan hasil wawancara dengan Irwan Dwi Susatyo, yang menjabat sebagai Laboratory  & Fish Technical Support PT Matahari Sakti, pengaturan pola pemberian pakan dapat dilakukan dengan feeding program atau progam pemberian pakan.

Caranya seperti yang tertera pada kemasan masing-masing produk pakan ikan yang sudah menyertakan feeding rate. Penjelasan ini dapat dijadikan acuan ketika memberi pakan. “Dari takaran tersebut, dapat diterapkan pemotongan 10 – 20% pada setiap kali pemberian pakan,” papar Irwan.

Alternatifnya, masih menurut Irwan, dapat juga dilakukan dengan takaran yang sudah dihitung pakan yang diberikan secara ad-libitum. Hanya saja, metode ini memerlukan waktu sedikit lebih lama karena proses pengamatan terhadap aktivitas ikan selama menyantap pakan dan kondisi pakan di permukaan perairan (habis atau sisa).

Pellet tenggelam atau terapung?

Menurut Irwan, pada dasarnya, pakan pellet baik jenis tenggelam maupun terapung dapat digunakan untuk kedua jenis ikan tersebut. Akan tetapi, para pembudidaya dua ikan tersebut lebih banyak menggunakan pakan jenis tenggelam dalam praktiknya.

Hal ini karena berkaitan dengan beberapa pertimbangan. Pertama, pakan pellet terapung rentan terbawa arus/gerakan air, baik akibat tiupan angin maupun karena aliran. Sehingga, pakan akan terbawa keluar dari KJA sehingga penggunaannya lebih boros. Di samping itu, pakan jenis tenggelam juga harganya lebih murah sehingga penggunaannya dapat mengurangi biaya.

Akan tetapi, penggunaan pellet tenggelam bukan berarti tanpa kelemahan. Dalam aplikasinya di KJA, pellet yang ditebarkan tidak semua disantap ikan budidaya. Ada sebagian pakan yang belum sempat termakan dan langsung bergerak ke dasar perairan.

Hal ini tentu saja dapat mengurangi efisiensi pakan karena pakan tersebut akan menjadi endapan di dasar perairan. Untuk mengurangi jumlah pakan yang langsung tenggelam tersebut, para pembudidaya menerapkan KJA berlapis di bagian bawah petak yang utama.

Biasanya, mereka memelihara ikan nila pada lapisan bawah, sementara KJA tingkat atas diisi ikan mas. Sehingga, pakan yang tak termanfaatkan di KJA lapis atas akan disantap oleh nila yang mengisi KJA lapisan di bawahnya.

Kandungan nutrisi pellet

Pakan buatan berupa pellet diracik berdasarkan peruntukannya. Artinya, kandungan nutrisi yang ada di dalamnya disesuaikan dengan karakteristik ikan yang dibidik. Sebagai contoh, pakan yang diproduksi untuk ikan pada awal-awal pertumbuhan mempunyai kandungan protein yang lebih tinggi dibandingkan dengan pakan untuk ikan dewasa.

Di samping itu, pellet untuk ikan herbivora (pemakan tumbuhan) berbeda kandungan nutrisinya dengan ikan yang bersifat karnivora (pemakan bahan hewani), omnivora (pemakan segala), dan lain sebagainya.

Terkait ikan nila dan mas, Irwan mengungkapkan, ikan nila dipandang lebih bersifat omnivora, sementara itu ikan mas lebih bersifat herbivora. “Dengan demikian, kebutuhan protein pakan ikan nila lebih tinggi daripada ikan mas,” ungkapnya. Selain protein juga membutuhkan lemak, mineral dan vitamin guna menyempurnakan komposisi pakan dalam mendukung perkembangan ikan nila dan mas.

Pentingnya suplemen pakan nila dan mas

Selain pakan, keberadaan suplemen sangat penting untuk menunjang pertumbuhan, baik ikan nila maupun ikan mas. Beberapa jenis suplemen yang penting adalah vitamin C. Suplemen ini bersifat immunostimulant.

Fungsinya untuk membantu meningkatkan daya tahan tubuh terhadap serangan penyakit. Di samping itu, beberapa suplemen yang bersifat imunostmulant lainnya yaitu β-glucan dan mineral. Penting diketahui, bahwa suplemen tidak harus berasal dari produk pabrik/ komersial.

Akan tetapi, pembudidaya dapat memanfaatkan herbal sebagai suplemen untuk ikan. lebih lanjut, Irwan memaparkan, bahan alami seperti bawang putih, kunyit dan temulawak merupakan beberapa dari sekian herbal yang dapat dimanfaatkan untuk suplemen pakan.

Bahan-bahan tersebut disamping sebagai bahan antibakteri alami juga bersifat bersifat sebagai antibiotika alami juga berfungsi sebagai atraktan dan imunostimulant. Hal ini sejalan dengan temuan penelitian perikanan yang dilakukan salah satu universitas di Mesir, penggunaan bawang putih dalam campuran pakan dapat meningkatkan budidaya ikan nila.

Salah satunya adalah penambahan rasio berat badan, penigkatan perilaku hewan ke arah yang lebih baik. Lebih jauh lagi, allicin, kandungan senyawa dalam bawang putih terbukti sebagai zat anti-virus, anti-bakteri, anti-jamur, dan anti-protozoa, aktivitas yang sangat menguntungkan budidaya perikanan. Bawang putih pun kaya akan kandungan kalsium (Ca), karbohidrat, fosfor (P), zinc (Zn), dan zat besi (Fe), sejumlah mineral yang diperlukan di dalam tubuh ikan. (noerhidajat)