Teropong Geliat Tambak Udang di Lampung Timur

Dengan panjang pesisir 62 kilometer, Lampung Timur memiliki potensi perikanan budidaya air payau cukup besar. Tercatat, potensi luas tambak yang dimiliki kabupaten ini sekira 8.271 hektar.

“Dari potensi luas tersebut telah tercetak tambak seluas  5.865 hektar, terdiri dari tambak intensif 1.095 hektar, semi-intensif  970 hektar, dan  tradisional plus  3.800 hektar,” ungkap Dardjono, SP., Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Perikanan Budidaya Lampung Timur.

Menurutnya, jenis udang yang dibudidayakan oleh petambak di Lampung Timur adalah udang windu (Penaeus monodon) dan udang vaname (Litopenaeus vannamei). Sementara jenis udang yang lebih disukai petambak saat ini adalah udang vaname karena bisa dibudidayakan dengan kepadatan tinggi, permintaaan pasarnya tinggi, lebih tahan penyakit, dan harganya lebih tinggi pada size kecil.

Perkembangan budidaya udang di Lampung Timur, terutama udang vaname, diawali dengan Program Demfarm Udang Vannamei pada tahun 2014. Program kegiatan Tugas Perbantuan (TP) dari Kementerian Kelautan dan Perikanan—melalui Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Lampung Timur—di kelompok Mina Purwa I, Desa Muara Gading Mas, Kecamatan Labuhan Maringgai itu dirasa menguntungkan.

“Selanjutnya, program dilanjutkan dengan kegiatan Demfarm pada tahun 2015 di kelompok Sido Makmur dan kelompok Lestari Gemilang di Desa Purworejo, Kecamatan Pasir Sakti. Program menunjukkan hasil yang baik dan tumbuh hingga saat ini,” papar Dardjono.

Keberhasilan kegiatan Demfarm Budidaya Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) pada tahun 2014 dan tahun 2015 membangkitkan kembali semangat petambak untuk membudidayakan udang. Setelah melihat budidaya udang vaname dengan penerapan teknologi dan CBIB ternyata berhasil dan menguntungkan, masyarakat yang sebelumnya awam serta pembudidaya udang windu, bandeng, dan nila secara tradisional pun menjadi tertarik.

Keberhasilan ini tidak lepas dari ketersediaan sumberdaya manusia yang mendukung. Dengan tutupnya dua perusahaan tambak udang yang ada di Lampung (PT. CPB dan PT. DCD), arah  pasar pakan yang semula ke tambak inti perusahaan beralih ke pasar tambak rakyat, yang dibarengi dengan pendampingan oleh teknisi berpengalaman dalam budidaya dan alih teknologi. Apalagi harga udang vaname yang tinggi di pasaran membuat petambak bergairah untuk berbudidaya.

Potensi Usaha dan Terobosan Teknologi

Teknologi selalu berkembang, untuk saat ini, teknologi yang digunakan pembudidaya udang vaname di Kabupaten Lampung Timur adalah tambak mulsa. Selain itu, ada tambak semimulsa—yang hanya menggunakan mulsa pada dinding dan kaki tanggulnya—dan tambak tanah. Adapun luasannya berkisar 1.000 m2 sampai 5.000 m2.

“Penerapan teknologinya menggunakan tandon dan sumur bor; menggunakan aerasi kincir; memanfaatkan bioremediasi untuk pengolahan limbah tambak, baik aerob maupun anaerob; dan sebagian besar telah menggunakan SOP dengan kaidah CBIB,” jelas Dardjono.

Kepala UPTD Perikanan Budidaya Lampung Timur ini juga menjelaskan bahwa ke depan, dengan semakin kompleknya masalah yang dihadapi dalam budidaya udang, perlu penerapan teknologi terobosan seperti busmetik dan budidaya salinitas rendah.

Meskipun terkategori teknologi lama besutan Bagian Administrasi Pendidikan dan Pelatihan Lapangan (BAPPL) STP Serang, Teknologi Budidaya Udang Skala Mini Empang Plastik (Busmetik) dengan luasan antara 600 m2 hingga 1.000 m2 dan menggunakan plastik HDPE penuh diharapkan memiliki biosekuriti lebih bagus.

Selain hemat air dan mudah pembersihannya, ukuran kolam yang mini juga membutuhkan modal relatif kecil, mengingat di Lampung Timur hampir 100% adalah tambak rakyat. Ukurannya yang mini juga memudahkan penanganan saat terjadi masalah.

Adapun budidaya udang pada salinitas rendah sudah dicoba tebar pada salinitas 0 0/00 di Dempond atau percontohan Labuhan Maringgai pada tahun 2015. Menurut Dardjono, hasilnya baik dan sudah diaplikasikan di  beberapa pembudidaya. Ke depan sangat baik dikembangkan, apalagi sebagian besar potensi lahan adalah lahan tambak yang sekarang menjadi lahan pertanian.

Menurut Rudy Kusharyanto, Head of Sales & Marketing, PU & PI Regional Sumatera PT Matahari Sakti, terobosan yang bisa di lakukan oleh pabrik pakan untuk membantu meningkatkan produktivitas lahan adalah antara lain dengan terus mengadakan sharing budidaya ke semua petambak Lampung Timur agar pola-pola budidaya yang sustainable bisa di jalankan oleh petambak, dari pabrik pakan juga bisa me-support pakan yang berkualitas dan sesuai dengan kondisi perairan Lampung Timur.

“Potensi tambak sekarang lebih menjanjikan dibandingkan dulu,” ujar M. Ansori Maskur, Ketua Pokdakan Mina Sakti Mandiri. Ia pun memberikan gambaran bahwa penghasilannya dari mengelola tambak seluas 3 hektar dulu hanya cukup untuk makan sehari-hari.

“Mau menguliahkan anak masih mikir-mikir. Beda jauh dengan sekarang, mengolah tambak 4 kolam dengan ukuran 1.500 meter persegi per kolam, penghasilannya lebih dari cukup dan bisa untuk menguliahkan anak,” imbuhnya.

Dimulai pada tahun 1998,  usaha tambak Ansori menggunakan pola polikultur antara udang windu dengan ikan bandeng secara tradisional. Pada akhir tahun 2015, LIPI bekerja sama dengan Unila mengadakan program budidaya udang vaname salinitas rendah. “Berangkat dari kegiatan ini, saya termotivasi untuk beralih komoditas, dari udang windu ke udang vaname dengan pola monokultur dan teknologi semi-intensif,” kenang Ansori.

Dengan beralih teknologi, tambak milik Ansori bisa menghasilkan 1—1,5 ton udang per 1.500 meter persegi. Padahal, tambaknya dulu hanya menghasilkan udang sebanyak 2 kuintal dan ikan bandeng sekitar 3 kuintal per hektar.

Cerita senada juga diungkapkan H. Suparman, salah satu petambak udang di Lampung Timur. Ia memulai usaha budidaya udang windu dengan tambak tradisional sejak tahun 1987. “Kalau dulu, udang dibiarkan saja, kita bisa panen. Kalau sekarang harus melalui serangkaian SOP pengolahan air sebelum budidaya. Kalau dilihat dari tonase per hektar lebih menguntungkan sekarang, tetapi dengan syarat SOP sesuai CBIB,” ulasnya.

Dilansir dari Lampungpro.com, usaha budidaya udang vaname menjadi usaha paling menggiurkan. Meskipun berpotensi menimbulkan kerugian yang tidak sedikit bagi pembudidaya udang pemula yang tidak jeli dalam merawat udang. Hal ini disampaikan Marsan, warga Desa Sriminosari, Kecamatan Labuhan Maringgai.

Jika dilakukan dengan tekun dan telaten, satu hektar lahan tambak bisa menghasilkan keuntungan Rp380 juta per 90 hari. Untuk menghasilkan keuntungan tersebut, diperlukan modal setidaknya Rp250 juta untuk pembelian benur, pakan, biaya perawatan, dan listrik. Dengan penebaran benur menjelang musim kemarau, hasil panennya akan lebih banyak. Pasalnya, udang tidak mudah terserang virus dibandingkan musim hujan.

Potensi usaha budidaya udang vaname yang menggiurkan ini berdampak pada kenaikan harga lahan yang bergandengan dengan laut. Jika dulu harga tanah di lokasi dekat laut seperti tak ada harganya, kini banyak orang yang mencari untuk dijadikan sebagai lokasi bertambak udang.

“Jangankan membeli, disuruh garap sama pemilik lahan saja banyak yang tidak mau. Sebab, lahan terlalu becek ditanami apa pun susah. Tapi, sekarang orang pada berebut sewa. Dalam satu hektar mereka berani menyewa Rp100 juta. Per tahunnya, dua kali musim udang,” kata Marsan. 

Sinergi Peningkatan Produksi

Sebagai salah satu daerah yang diharapkan bisa menjadi lumbung udang di Provinsi Lampung, geliat usaha budidaya udang vaname perlu mendapatkan perhatian yang serius. Dari pihak Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Lampung Timur, beberapa langkah diupayakan dalam membantu peningkatan produksi udang. Sebagai contoh, penetapan Pasir Sakti dan Labuhan Maringgai sebagai kawasan Minapolitan.

Kawasan budidaya di kecamatan Pasir Sakti dan Labuhan Maringgai merupakan kawasan Minapolitan sesuai keputusan Menteri Kelautan Dan Perikanan (KKP), dengan Nomor KEP.32/MEN/2010 Tentang Penetapan Kawasan Minapolitan. Selanjutnya, keputusan tersebut diperbarui dengan KEP.35/MEN/2013 Tentang Penetapan Kawasan Minapolitan dan keputusan Bupati Lampung Timur Nomor: B.324/04/SK/2010 tentang Penetapan Kecamatan Pasir sakti dan Kecamatan Labuhan Maringgai sebagai kawasan Minapolitan Kabupaten Lampung timur.

Pengelolaan paskapenetapan kedua wilayah tersebut menjadi kawasan Minapolitan menjadi tanggung jawab lintas sektoral. Kegiatan normalisasi saluran primer dan sekunder dikerjakan oleh Kementrian PUPR melalui Balai Besar Pengelolaan Sungai Mesuji Sekampung dan sudah berjalan mulai tahun 2016. Ketersediaan listrik oleh PLN, yang ditandai dengan masuknya listrik ke tambak pada tahun 2018.

Normalisasi saluran tersier melalui program Pengelolaan Irigasi Tambak Partisipatif (PITAP) sudah dilakukan sejak tahun 2015 dan revitalisasi saluran dari Kementrian Kelautan dan Perikanan sejak tahun 2015. Pengecekan hama dan penyakit Ikan oleh BKIPM Lampung dan sertifikasi CBIB oleh DKP Propinsi Lampung.

“Adapun penyuluhan budidaya udang diselenggarakan melalui kerjasama KKN Unila, MAI Korda Lampung, serta Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Lampung Timur. Kami bersinergi untuk mensukseskannya,” ungkap Dardjono.

Kerjasama antara Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Lampung Timur dengan Universitas Lampung dan Dikti lewat Program Hi-Ling, dengan dibuatnya Tambak Pembelajaran Masyarakat  tahun 2015 di  desa Purworejo, Kecamatan Pasir Sakti. Tak ketinggalan pula peran serta penyuluh swadaya atau teknisi dari perusahaan pakan (CP Prima) yang mendampingi petambak dalam berbudidaya udang vaname.

Melalui dana TP dari KKP, Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Lampung Timur melaksanakan program Demfarm Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) sejak tahun 2014 sampai 2016. Sementara untuk tahun 2017 sampai 2018, Program Demfarm Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) dilaksanakan dengan dana APBD untuk menyosialisasikan bahwa budidaya udang masih menguntungkan jika dilakukan dengan penerapan teknologi dan CBIB, apalagi jika diikuti dengan harga jual di pasaran yang tinggi.

Kegiatan pembinaan dan pengembangan perikanan dilakukan secara rutin. Juga pemberian apresiasi penerapan Cara Berbudidaya Ikan Yang Baik (CBIB), yang didalamnya menekankan untuk penerapan SOP pada budidaya udang, penyuluhan di lapangan, dan  bantuan sarana prasarana budidaya seperti kincir air, plastik mulsa tambak, Plastik HDPE, pompa submersibel, genset listrik, pompa sedot lumpur untuk sipon, hingga pemberian benur dan pakan udang.

Lampung Timur adalah salah satu sentra pertambakan di lampung yang sejauh ini perkembangannya menunjukkan peningkatan terutama untuk produksi udang vaname. Namun, menurut Rudy, dengan semakin banyaknya penyakit yang baru-baru ini menjadi tren yang kurang baik bagi perkembangan budidaya khususnya udang vaname.

“Maka harapan untuk Lampung Timur di butuhkan koordinasi dan saling support semua penggerak budidaya udang agar bisa berbudidaya secara baik dengan mengikuti langkah-langkah SOP yang benar sesuai dengan perhitungan carrying capacity-nya sehingga budidaya udang di sana terus di tingkatkan serta berkesinambungan,” tutur Rudy. (Rochim/Adit/Resti)

Tabel 1. Produksi Udang di Kabupaten Lampung Timur

NO PRODUKSI TAHUN
  (Ton)   2014 2015 2016 2017   2018
1 Udang Vaname 507,3 974,05 1481,27 6.448,78 15.000
2 Udang Windu 318,38 384,47 382,22 467,02 346 

   Sumber: Statistik Perikanan Budidaya 2018

Tabel 2. Potensi Tambak dan Tambak tercetak di Kabupaten Lampung Timur

      LUAS TAMBAK TERCETAK (Ha)
NO KECAMATAN/ DESA POTENSI INTENSIF SEMI INTENSIF TRADISIONAL PLUS
1 2 3 4 5 6
1 LABUHAN MARINGGAI 2.974,00 335 210 2.702
  1. Margasari 330,00 30 10 265
  2. Sriminosari 357,00 50 20 240
  3. Muara Gading Mas 460,00 75 30 235
  4. Bandar Negeri 539,00 100 50 449
  5. Karya Makmur 431,00 50 50 210
  6. Karya Tani 857,00 30 50 640
2 PASIR SAKTI 5.801,00 760 760 2.516
  1. Pasir Sakti 920,00 50 30 334
  2. Mekar Sari 3,00 0 0
  3. Mulyosari 923,00 50 30 435
  4. Rejomulyo 5,00 0 0
  5. Kedung Ringin 3,00 0 0
  6. Purworejo 1.578,00 500 200 316
  7. Labuhan Ratu 1.369,00 150 100 426
  8. Sumur Kucing 1.000,00 10 20 250
    8.775,00 1.095 970 3.800

Sumber: Statistik Perikanan Budidaya tahun 2018