Waspada dan Cegah Penyakit Udang Bercak Putih atau White Spot Syndrome Virus

Penyakit udang bercak putih dan myo sangat membuat petambak udang cemas. Pasalnya, akibat yang ditimbulkan tidak tanggung-tanggung, kematian massal pada udang. Meskipun akibat myo tidak separah bercak putih, akhir-akhir ini muncul istilah ‘myo rasa WSS’, lantas, bagaimanakah pencegahan dan penanggulangannya?

Kematian udang di tambak

Penyakit bercak putih yang disebabkan oleh white spot syndrome virus (WSSV), menjadi kendala besar bagi para petambak udang, baik udang windu dan vaname dalam budidaya. Melacak jejaknya di masa lalu, penyakit ini pernah menjadi biang dari bangkrutnya industri udang windu nasional. Virus ini dapat mengakibatkan terjadinya kematian massal pada udang budidaya di segala usia.

Sementara itu, penyakit myo yang disebabkan oleh infectious myonecrosis virus (IMNV), meskipun tidak separah penyakit bercak putih, juga menyebabkan kerugian yang cukup serius diderita petambak.

Menurut catatan sejarah, pertama kali penyakit ini dideteksi pada kolam budidaya udang vaname di negara Brazil, Amerika Latin di tahun 2002. Penyakit yang menyebabkan nekrosis otot rangka, saluran pencernaan, dan ekor ini dapat menjadi penyebab kematian sekitar 70% pada udang vaname budidaya dalam satu siklus.

Empat tahun kemudian, tepatnya pada tahun 2006 sejak ditemukannya penyakit tersebut di seberang samudera, telah ditemukan penyakit serupa yang menyerang pertambakan di daerah Situbondo, Jawa Timur, Indonesia. Selanjutnya, penyakit menyebar ke berbagai daerah hingga kini dan menjadi musuh bersama para petambak udang vaname.

Faktor Lingkungan, Pemicu Terjadinya Penyakit Udang                      

Faktor lingkungan ditengarai menjadi salah satu pemicu terjadinya serangan penyakit WSSV dan myo. Menurut pemaparan salah seorang praktisi tambak udang, Eko Winasis, kedua penyakit tersebut biasanya muncul pada saat terjadi goncangan/perubahan kualitas air di tambak.

Di samping itu, kata Eko, kondisi lingkungan sekitar yang terpapar kedua virus tersebut sangat berpengaruh terhadap kemungkinan serangannya. Misalnya saja, serangan penyakit dapat terjadi pada saat petambak memasukkan air baru dan terdapat organisme carrier kedua virus tersebut yang terbawa masuk ke dalam tambak. Sehingga, pada akhirnya, kedua penyakit tersebut berkembang biak di tambak.

Seperti yang sudah diketahui umum, kedua penyakit ini dapat menyerang udang dengan akibat yang mematikan. Penyakit WSSV dapat menyerang udang vaname maupun udang windu.

Sementara itu, kata Eko, penyakit myo kebanyakan menyerang udang vaname. Kasus serangan penyakit myo pada udang windu jarang terjadi. Bahayanya, virus penyebab WSS menyerang udang pada segala usia. Serangan dapat terjadi pada awal tebar benur, pertengahan maupun pada fase akhir budidaya. Lain halnya, penyakit myo pada umumnya menyerang udang yang sudah berumur di atas 50 hari.

Penyebab Penyakit Udang dan Carrier

Baik penyakit bercak putih maupun penyakit myo, keduanya disebabkan oleh serangan virus yang banyak membuat para petambak udang khawatir. Tidak hanya pada udang windu, penyakit bercak putih juga dapat menyerang jenis udang vaname.

Kemunculan penyakit tidak hanya disebabkan oleh satu faktor saja. Di samping faktor lingkungan, faktor yang terkait dengan kondisi udang dapat memicu terjadinya infeksi. Inang dari virus ini adalah dari kelompok crustacea.

Eko mengungkapkan, hewan carrier/pembawa bibit penyakit dapat berupa cacing, burung, jentik nyamuk, dan makhluk hidup lainnya. Pada awalnya, udang yang pertama kali terserang adalah udang dengan kondisi tubuh yang paling lemah. Dari udang yang sudah terinfeksi, penyakit akan menyebar dan menular ke udang-udang lain yang sehat.

Secara umum, penyebaran dapat terjadi melalui peristiwa kanibalisme pada udang. Dimana, udang yang terinfeksi dimangsa oleh sesamanya sehingga terjadi perpindahan virus. Selain itu, pemanenan udang yang terkena penyakit berisiko tinggi menyebarkan penyakit pada udang-udang di tambak lain yang sehat.

Hal ini dimungkinkan terjadi karena peralatan-peralatan panen yang digunakan dapat membawa virus dan bibit penyakit dari tambak yang sudah terjangkit penyakit. Sementara itu, udang yang terinfeksi masih dapat mengandung bibit penyakit yang dapat menyebar ke udang lainnya yang sehat.

Gejala Serangan Penyakit Bercak Putih

Lebih jauh, menurut pemaparan Eko, udang yang sudah terinfeksi virus WSSV dapat ditengarai dari beberapa gejala yang tampak, di antaranya adalah udang berenang secara disorientasi, mengapung, dan terdapatnya bercak-bercak putih yang ditemukan pada karapas. Bahkan, lebih jauh lagi, berdasarkan temuan di lapangan, Eko menjumpai udang yang terinfeksi penyakit ini berwarna kemerahan seperti air teh.

Selanjutnya, pada tubuh udang terjadi perubahan warna dari merah muda menjadi kemerahan. Nafsu makan hilang pada udang yang sakit, beberapa hari setelah terjadi infeksi, udang akan berenang di permukaan air tambak dan tampak sekarat sebelum akhirnya mati.

Virus WSSV akan tumbuh optimal pada kisaran 18 – 30 oC, suhu normal pada tambak udang. Akan tetapi, virus akan cenderung berkembang biak lebih optimal pada suhu yang lebih tinggi pada rentang angka tersebut. Sementara itu, salinitas air tambak yang tinggi, pada kisaran 30 ppt, juga menjadi faktor lingkungan air yang dapat memicu perkembangbiakan virus WSS.

Lain lagi dengan penyakit myo, menurut pengakuan Eko, udang yang terserang penyakit myo biasanya ditengarai dengan kemunculan warna putih pada segmen 5 dan 6 (dekat ekor) pada badan udang. Selanjutnya, warna putih tersebut dapat berubah menjadi merah. Hal itu menjadi tanda adanya kerusakan daging pada bagian abdomen hingga ekor.

Sehingga, sekilas udang yang sakit tampak seperti udang yang sudah direbus. Meskipun penyakit myo dapat menyerang udang pada semua rentang usia, akibat penyakit ini tidak separah WSSV. Seperti halnya, WSSV, kanibalisme juga ditengarai menjadi salah satu penyebaran penyakit pada udang yang sehat.

Akibat Serangan Penyakit

Lebih jauh terkait akibat serangan penyakit, Eko memaparkan pengamalannya. Menurutnya, penyakit yang disebabkan WSSV dapat mengakibatkan membengkaknya angka kematian (mortalitas) pada udang. Tidak main-main, menurut Eko, populasi udang bisa habis dalam kurun waktu 2 hingga 3 hari saja pasca-infeksi. Hal inilah yang membuat para petambak ketar-ketir.

Sementara itu, angka mortalitas yang disebabkan penyakit myo cenderung tidak separah yang disebabkan WSSV. Akan tetapi, Eko mengakui, akhir-akhir ini, muncul banyak kekhawatiran di kalangan para petambak.

“Sekarang, muncul istilah ‘myo rasa WSS’, penyakit myo dengan tingkat mortalitas yang cepat dan tinggi,” papar Eko.

Pada udang yang terinfeksi penyakit myo, kematian akan terjadi pada hari ke-9 dan hari ke-13 pasca-serangan. Penyakit ini menyebabkan petambak boros dalam pemberian pakan. Pasalnya, rasio konversi pakan dapat merangkak naik pada kisaran 4,4 akibat serangan virus myo.

Dampaknya bisa ditebak. Kedua penyakit viral ini mengakibatkan kerugian ekonomi yang signifikan terhadap para petambak. Begitu juga, naiknya angka konversi pakan ke kisaran angka 4 sangat membebani petambak. Pasalnya, mereka harus mengeluarkan uang ekstra untuk memenuhi kebutuhan pakan udang yang membengkak.

Langkah Pencegahan dan Penanggulangan

Ketika ditanya terkait langkah pencegahan serangan penyakit bercak putih dan myo, Eko memaparkan pendapatnya pada Redaksi Info Akuakultur. Menurut alumnus Universitas Diponegoro ini, jawabannya adalah penerapan biosekuriti yang ketat. Aspek ini mencakup screening (penyaringan) organisme baik inang maupun carrier, manusia (pekerja, pengunjung, dll), dan juga sarana produksi tambak. Termasuk dalam langkah pencegahan penyakit ini adalah pengaturan jarak panen dan tebar yang tidak terlalu dekat, manajemen air tambak, dan pengaturan pakan yang baik.

Lantas, bagaimana pengendalian yang perlu dilakukan jika sudah terlanjur terjadi? Menurut Eko, jika tambak sudah terserang penyakit tersebut, ada beberapa langkah yang sebaiknya diambil oleh petambak. Jika udang terserang penyakit bercak putih (WSS), segera dilakukan pemanenan dini. Udang-udang yang sudah mati segera dikubur di dalam tanah. Selanjutnya, lakukan disinfeksi air tambak sebelum dialirkan ke saluran buang. Langkah ini untuk mencegah penularan penyakit melalui air buangan yang sudah mengandung virus.

Berikutnya, berdasarkan pemaparan Eko, ketika tambak sudah terlanjur terserang penyakit myo, lakukan perbaikan kualitas air tambak. Hal ini dilakukan jika masih belum parah dan memungkinkan untuk dilakukan. Namun, jika serangan sudah parah, petambak sebaiknya melakukan panen dini. Langkah selanjutnya seperti yang terjadi jika terserang penyakit WSSV. (Noerhidajat/Adit)