Waspada dan Cegah Penyakit Udang Bercak Putih atau White Spot Syndrome Virus

Penyakit udang bercak putih dan myo sangat membuat petambak udang cemas. Pasalnya, akibat yang ditimbulkan tidak tanggung-tanggung, kematian massal pada udang. Meskipun akibat myo tidak separah bercak putih, akhir-akhir ini muncul istilah ‘myo rasa WSS’, lantas, bagaimanakah pencegahan dan penanggulangannya?

Kematian udang di tambak

Penyakit bercak putih yang disebabkan oleh white spot syndrome virus (WSSV), menjadi kendala besar bagi para petambak udang, baik udang windu dan vaname dalam budidaya. Melacak jejaknya di masa lalu, penyakit ini pernah menjadi biang dari bangkrutnya industri udang windu nasional. Virus ini dapat mengakibatkan terjadinya kematian massal pada udang budidaya di segala usia.

Sementara itu, penyakit myo yang disebabkan oleh infectious myonecrosis virus (IMNV), meskipun tidak separah penyakit bercak putih, juga menyebabkan kerugian yang cukup serius diderita petambak.

Menurut catatan sejarah, pertama kali penyakit ini dideteksi pada kolam budidaya udang vaname di negara Brazil, Amerika Latin di tahun 2002. Penyakit yang menyebabkan nekrosis otot rangka, saluran pencernaan, dan ekor ini dapat menjadi penyebab kematian sekitar 70% pada udang vaname budidaya dalam satu siklus.

Empat tahun kemudian, tepatnya pada tahun 2006 sejak ditemukannya penyakit tersebut di seberang samudera, telah ditemukan penyakit serupa yang menyerang pertambakan di daerah Situbondo, Jawa Timur, Indonesia. Selanjutnya, penyakit menyebar ke berbagai daerah hingga kini dan menjadi musuh bersama para petambak udang vaname.

Faktor Lingkungan, Pemicu Terjadinya Penyakit Udang                      

Faktor lingkungan ditengarai menjadi salah satu pemicu terjadinya serangan penyakit WSSV dan myo. Menurut pemaparan salah seorang praktisi tambak udang, Eko Winasis, kedua penyakit tersebut biasanya muncul pada saat terjadi goncangan/perubahan kualitas air di tambak.

Di samping itu, kata Eko, kondisi lingkungan sekitar yang terpapar kedua virus tersebut sangat berpengaruh terhadap kemungkinan serangannya. Misalnya saja, serangan penyakit dapat terjadi pada saat petambak memasukkan air baru dan terdapat organisme carrier kedua virus tersebut yang terbawa masuk ke dalam tambak. Sehingga, pada akhirnya, kedua penyakit tersebut berkembang biak di tambak.

Seperti yang sudah diketahui umum, kedua penyakit ini dapat menyerang udang dengan akibat yang mematikan. Penyakit WSSV dapat menyerang udang vaname maupun udang windu.

Sementara itu, kata Eko, penyakit myo kebanyakan menyerang udang vaname. Kasus serangan penyakit myo pada udang windu jarang terjadi. Bahayanya, virus penyebab WSS menyerang udang pada segala usia. Serangan dapat terjadi pada awal tebar benur, pertengahan maupun pada fase akhir budidaya. Lain halnya, penyakit myo pada umumnya menyerang udang yang sudah berumur di atas 50 hari.

Penyebab Penyakit Udang dan Carrier

Baik penyakit bercak putih maupun penyakit myo, keduanya disebabkan oleh serangan virus yang banyak membuat para petambak udang khawatir. Tidak hanya pada udang windu, penyakit bercak putih juga dapat menyerang jenis udang vaname.

Kemunculan penyakit tidak hanya disebabkan oleh satu faktor saja. Di samping faktor lingkungan, faktor yang terkait dengan kondisi udang dapat memicu terjadinya infeksi. Inang dari virus ini adalah dari kelompok crustacea.

Eko mengungkapkan, hewan carrier/pembawa bibit penyakit dapat berupa cacing, burung, jentik nyamuk, dan makhluk hidup lainnya. Pada awalnya, udang yang pertama kali terserang adalah udang dengan kondisi tubuh yang paling lemah. Dari udang yang sudah terinfeksi, penyakit akan menyebar dan menular ke udang-udang lain yang sehat.

Secara umum, penyebaran dapat terjadi melalui peristiwa kanibalisme pada udang. Dimana, udang yang terinfeksi dimangsa oleh sesamanya sehingga terjadi perpindahan virus. Selain itu, pemanenan udang yang terkena penyakit berisiko tinggi menyebarkan penyakit pada udang-udang di tambak lain yang sehat.

Hal ini dimungkinkan terjadi karena peralatan-peralatan panen yang digunakan dapat membawa virus dan bibit penyakit dari tambak yang sudah terjangkit penyakit. Sementara itu, udang yang terinfeksi masih dapat mengandung bibit penyakit yang dapat menyebar ke udang lainnya yang sehat.

Gejala Serangan Penyakit Bercak Putih

Lebih jauh, menurut pemaparan Eko, udang yang sudah terinfeksi virus WSSV dapat ditengarai dari beberapa gejala yang tampak, di antaranya adalah udang berenang secara disorientasi, mengapung, dan terdapatnya bercak-bercak putih yang ditemukan pada karapas. Bahkan, lebih jauh lagi, berdasarkan temuan di lapangan, Eko menjumpai udang yang terinfeksi penyakit ini berwarna kemerahan seperti air teh.

Selanjutnya, pada tubuh udang terjadi perubahan warna dari merah muda menjadi kemerahan. Nafsu makan hilang pada udang yang sakit, beberapa hari setelah terjadi infeksi, udang akan berenang di permukaan air tambak dan tampak sekarat sebelum akhirnya mati.

Virus WSSV akan tumbuh optimal pada kisaran 18 – 30 oC, suhu normal pada tambak udang. Akan tetapi, virus akan cenderung berkembang biak lebih optimal pada suhu yang lebih tinggi pada rentang angka tersebut. Sementara itu, salinitas air tambak yang tinggi, pada kisaran 30 ppt, juga menjadi faktor lingkungan air yang dapat memicu perkembangbiakan virus WSS.

Lain lagi dengan penyakit myo, menurut pengakuan Eko, udang yang terserang penyakit myo biasanya ditengarai dengan kemunculan warna putih pada segmen 5 dan 6 (dekat ekor) pada badan udang. Selanjutnya, warna putih tersebut dapat berubah menjadi merah. Hal itu menjadi tanda adanya kerusakan daging pada bagian abdomen hingga ekor.

Sehingga, sekilas udang yang sakit tampak seperti udang yang sudah direbus. Meskipun penyakit myo dapat menyerang udang pada semua rentang usia, akibat penyakit ini tidak separah WSSV. Seperti halnya, WSSV, kanibalisme juga ditengarai menjadi salah satu penyebaran penyakit pada udang yang sehat.

Akibat Serangan Penyakit

Lebih jauh terkait akibat serangan penyakit, Eko memaparkan pengamalannya. Menurutnya, penyakit yang disebabkan WSSV dapat mengakibatkan membengkaknya angka kematian (mortalitas) pada udang. Tidak main-main, menurut Eko, populasi udang bisa habis dalam kurun waktu 2 hingga 3 hari saja pasca-infeksi. Hal inilah yang membuat para petambak ketar-ketir.

Sementara itu, angka mortalitas yang disebabkan penyakit myo cenderung tidak separah yang disebabkan WSSV. Akan tetapi, Eko mengakui, akhir-akhir ini, muncul banyak kekhawatiran di kalangan para petambak.

“Sekarang, muncul istilah ‘myo rasa WSS’, penyakit myo dengan tingkat mortalitas yang cepat dan tinggi,” papar Eko.

Pada udang yang terinfeksi penyakit myo, kematian akan terjadi pada hari ke-9 dan hari ke-13 pasca-serangan. Penyakit ini menyebabkan petambak boros dalam pemberian pakan. Pasalnya, rasio konversi pakan dapat merangkak naik pada kisaran 4,4 akibat serangan virus myo.

Dampaknya bisa ditebak. Kedua penyakit viral ini mengakibatkan kerugian ekonomi yang signifikan terhadap para petambak. Begitu juga, naiknya angka konversi pakan ke kisaran angka 4 sangat membebani petambak. Pasalnya, mereka harus mengeluarkan uang ekstra untuk memenuhi kebutuhan pakan udang yang membengkak.

Langkah Pencegahan dan Penanggulangan

Ketika ditanya terkait langkah pencegahan serangan penyakit bercak putih dan myo, Eko memaparkan pendapatnya pada Redaksi Info Akuakultur. Menurut alumnus Universitas Diponegoro ini, jawabannya adalah penerapan biosekuriti yang ketat. Aspek ini mencakup screening (penyaringan) organisme baik inang maupun carrier, manusia (pekerja, pengunjung, dll), dan juga sarana produksi tambak. Termasuk dalam langkah pencegahan penyakit ini adalah pengaturan jarak panen dan tebar yang tidak terlalu dekat, manajemen air tambak, dan pengaturan pakan yang baik.

Lantas, bagaimana pengendalian yang perlu dilakukan jika sudah terlanjur terjadi? Menurut Eko, jika tambak sudah terserang penyakit tersebut, ada beberapa langkah yang sebaiknya diambil oleh petambak. Jika udang terserang penyakit bercak putih (WSS), segera dilakukan pemanenan dini. Udang-udang yang sudah mati segera dikubur di dalam tanah. Selanjutnya, lakukan disinfeksi air tambak sebelum dialirkan ke saluran buang. Langkah ini untuk mencegah penularan penyakit melalui air buangan yang sudah mengandung virus.

Berikutnya, berdasarkan pemaparan Eko, ketika tambak sudah terlanjur terserang penyakit myo, lakukan perbaikan kualitas air tambak. Hal ini dilakukan jika masih belum parah dan memungkinkan untuk dilakukan. Namun, jika serangan sudah parah, petambak sebaiknya melakukan panen dini. Langkah selanjutnya seperti yang terjadi jika terserang penyakit WSSV. (Noerhidajat/Adit)

Cara Pembuatan Probiotik

Oleh: Muhammad Fiqi Zulendra, S.S.T.Pi

Untuk memperbaiki kondisi lingkungan di tambak udang, para petambak bisa mempraktikan cara pembuatan Probiotik

Probiotik adalah mikroba yang diberikan melalui makanan maupun lingkungan yang memiliki sifat menguntungkan bagi udang yang dipelihara. Probiotik dapat diberikan melalui mulut dengan cara dicampurkan dengan pakan yang akan diberikan dan dapat juga diberikan melalui lingkungan yaitu probiotik ditebar secara merata pada air kolam pemeliharaan.

Probiotik yang digunakan adalah jenis bakteri Lactobacillus casei yang berfungsi menguraikan bahan organik dan menurunkan gas toksik dalam tambak. Jenis bakteri tersebut sangat mudah untuk didapatkan. Bakteri Lactobacillus casei dapat ditemukan pada produk susu fermentasi. Harganya pun masih terjangkau bagi para pembudidaya udang di tambak.  

Bakteri Lactobacillus casei difermentasi selama 3-4 hari dalam kondisi tertutup rapat dengan aerasi. Fermentasi tersebut ditambahkan dengan molase. Pemberian molase berfungsi sebagai makanan bakteri. Alat yang digunakan untuk membuat probiotik adalah aerator, selang aerator, batu aerator, timbangan dan ember. Sementara itu, bahan yang digunakan untuk membuat probitoik adalah bakteri Lactobacillus casei, molase, pernipan (ragi roti), garam, tepung ikan, dedak dan air tawar yang sudah dimasak. 

Cara pembuatan probiotik adalah sebagai berikut :

  1. Siapkan peralatan dan bahan yang akan digunakan
  2. Pasangkan batu aerator pada selang aerator
  3. Pasangkan selang aerator yang sudah dilengkapi batu aerator pada aerator yang akan digunakan
  4. Bolongkan tutup ember untuk memasukan selang aerator ke dalam ember yang akan digunakan
  5. Timbang masing-masing bahan yang akan digunakan

Air Tawar                             :        10 Liter

Tepung ikan                         :        500 gr

Tepung dedak                       :        500 gr

Bakteri Lactobacillus casei      :        195 ml

Molase                                 :        250 gr

Garam                                 :        250 gr

Pernipan (ragi roti)               :        11 gr

  • Rebus air tawar sampai mendidih kemudian didinginkan. Perebusan bertujuan untuk membunuh bakteri yang terdapat dalam air.
  • Masukkan air yang telah direbus kedalam wadah/ember yang akan digunakan
  • Masukkan tepung ikan dan dedak, aduk sampai melarut.  
  • Masukkan garam dan aduk sampai melarut.
  • Masukkan pernipan (ragi roti) dan molase, serta bakteri Lactobacillus casei dan aduk sampai melarut
  • Aduk sampai melarut
  • Pasang aerasi pada ember yang digunakan
  • Tunggu 3-4 hari, biasanya populasi bakteri akan tumbuh dengan pesat dan bakteri probiotiknya sudah siap untuk diaplikasikan ke tambak pemeliharaan.

Jika tepung ikan dan dedak susah untuk ditemukan, pembuatan probiotik juga dapat dilakukan dengan cara mencampurkan bahan air yang sudah direbus dengan bakteri Lactobacillus casei, molase, pernipan (ragi roti). Aduk sampai semuanya melarut dan pasang aerasi. Biarkan selama 3-4 hari.

Setelah itu, probiotik hasil fermentasi ditebar secara merata ke seluruh tambak dengan tetap menghidupkan kincir/blower agar selama penebaran probiotik terjadi juga produksi hydrogen preoksida untuk melawan vibrio. Pengaplikasian probiotik dapat juga dilakukan dengan cara mencampurkan pakan dengan probiotik yang bertujuan agar pakan udang yang telah dicampur dapat membantu proses pencernaan dan sebagai imunostimulant udang.

Probiotik ini dapat berfungsi untuk meningkatkan kualitas air yang merupakan habitat udang. Air yang berkualitas baik, akan membuat udang lebih sehat dan sulit terkena serangan penyakit yang biasa menyerang pada udang.  Selain bisa untuk memperbaiki kualitas air, probiotik juga bermanfaat untuk membantu percepatan pertumbuhan udang dan meningkatkan produktivitas udang serta berfungsi menghambat munculnya bakteri patogen yang biasa tumbuh di dalam air.*

*Penulis adalah Instruktur Pertama Budidaya Perikanan Balai Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan (BPPP) Bitung.

Alih Teknologi dan Sinergi

Budidaya udang di timur Bumi Sang Bumi Ruwa Jurai ini terus menggeliat. Sebagai bagian dari provinsi penyumbang—sekaligus lumbung—udang nasional, Lampung Timur menunjukkan gelagat ke arah produksi udang vaname. Hal ini terlihat dari peningkatan produksi udang vaname yang begitu pesat.

Data Statistik Perikanan Budidaya Tahun 2018 menunjukkan kenaikan produksi udang vaname Lampung Timur secara signifikan, meninggalkan jauh produksi komoditas kerabatnya, yaitu udang windu. Secara berturut-turut, produksi udang vaname dari tahun 2014—2018 dalam ton yaitu 507,3; 974,05;1.481,27; 6.448,78; dan 15.000. Sementara produksi udang windu dari tahun 2014—2018 dalam ton berturut-turut 318,38; 384,47; 382,22; 467,02; dan 346.

Apakah produksi masih bisa ditingkatkan? Jawabnya tentu saja, masih. Masih dari data Statistik Perikanan Budidaya Tahun 2018, terungkap bahwa potensi lahan yang bisa dijadikan tambak seluas 8.775 hektar. Sementara pemanfaatan secara faktual saat ini baru 5.865 hektar. Artinya, masih tersisa 2.910 hektar yang bisa dimanfaatkan untuk menggenjot produksi. Ini baru dari pendekatan ekstensifikasi.

Dari pendekatan intensifikasi? Ada peluang pengembangan teknologi yang bisa dilakukan untuk meningkatkan produksi. Pasalnya, dari luas lahan yang telah dimanfaatkan untuk tambak, baru 1.095 hektar yang digarap secara intensif. Sementara itu, 970 hektar digarap secara semi-intensif dan 3.800 hektar masih menggunakan sistem tradisional plus. Artinya, 81,32% lahan bisa dinaikkan kapasitasnya menjadi tambak bersistem intensi yang tingkat produktivitasnya jauh lebih baik. Tentu saja, jika dilaksanakan sesuai standar Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB).

Apakah mungkin meningkatkan kualitas semua tambak menjadi intensif? Jawabannya adalah pasti. Jika semua pihak terkait mau untuk saling bersinergi mewujudkannya.

Kendala besar pada budidaya udang di Lampung Timur saat ini masih berkutat pada masalah penyakit, terakhir WSSV (white spot syndrome virus). Jika menyerang, penyakit ini bisa mengakibatkan kematian massal. Bahkan pada Triwulan I Tahun 2019, serangan WSSV berdampak turunnya produksi hingga 30%.

Awalnya, serangan WSSV diketahui muncul di musim pancaroba, antara Bulan April—Mei dan antara Bulan September—Oktober. Namun, penyakit yang dianggap paling merugikan ini banyak ditemui sepanjang waktu.

Meskipun solusi pencegahan mewabahnya penyakit telah banyak disosialisasikan, tak ayal, program tersebut tak semua bisa dipraktikkan di lapangan. Penyebabnya bisa beragam. Ada dugaan, seringnya muncul kejadian serangan WSSV ini disebabkan akibat penggunaan air media yang sama, antara air buangan (outlet) dan air yang masuk ke tambak (inlet). Sementara itu, adanya sedimentasi pesisir pantai membuat petambak kesulitan mengambil air laut.

Pengadaan tandon masuk dan keluar petak tambak bisa saja menghadapi kendala. Maklum, secara perhitungan kasar, luasan petak tandon tentu bisa menghasilkan jika digunakan sebagai petak tambak. Apalagi bagi petambak sistem tradisional yang hanya mengandalkan luasan kolam. Logika sederhanya, pengadaan kolam tandon akan mengurangi jatah petak produksi. Semakin sempit petak produksi, semakin sedikit pula udang yang dihasilkan.

Di sinilah pentingnya pergeseran pola budidaya, dari tradisional menjadi intensif. Meskipun petak lebih sedikit akibat pengadaan tandon, tetapi bisa memberikan hasil yang sama atau justru lebih banyak. Untuk itu dibutuhkan teknologi yang mendukung budidaya dengan padat tebar yang lebih tinggi.

Meningkatkan teknologi sama dengan meningkatkan hasil, sekaligus meningkatkan biaya pengadaan alat dan teknologi. Bagi petambak bermodal cekak, tentu hal ini menjadi pertimbangan khusus. Di sinilah letak pentingnya sinergi berbagai pihak untuk memudahkan terjadinya peralihan sistem dan teknologi.

Masuknya para investor dengan dana yang cukup akan sangat membantu petambak untuk memperbaiki sistemnya. Hal ini telah terbukti dari berubahnya beberapa tambak, dari tambak tradisional menjadi intensif. Jika awalnya petak tambak tradisional berukuran 1—2 hektar, menjadi tambak intensif berukuran 1.000—2.000 meter persegi dengan peran investor dari luar daerah. Hasilnya, perkembangan produksi udang vaname melejit.

Faktor penting lain yang menjadi harapan petambak adalah pendalaman saluran air untuk mengatasi masalah pendangkalan akibat sedimentasi. Dengan normalisasi saluran tersier melalui program PITAP (Pengelolaan Irigasi Tambak Partisipatif), tentu akan sangat membantu para petambak. Di sinilah peran instansi terkait sangat berperan bagi kemajuan industri perudangan Lampung Timur.

Maklum, pergeseran sistem dari tradisional ke intensif bukan saja prestise bagi Lampung Timur sebagai salah satu penghasil udang vaname, tetapi secara nyata juga akan meningkatkan pendapatan para petambak. Dengan beralih teknologi, seorang petambak bisa menghasilkan 1—1,5 ton udang per 1.500 meter persegi. Padahal, tambaknya dulu hanya menghasilkan udang sebanyak 2 kuintal dan bandeng 3 kuintal per hektar. Nah, ingin lebih baik, mari bersinergi. (Rochim)

Teknik Stunting Budidaya Bandeng Bisa Panen 3-4 Kali Setahun

Oleh: Abdul Salam Atjo – Penyuluh Perikanan Madya

Ikan bandeng (Chanos-chanos Forks) masih menjadi komoditas andalan pembudidaya tambak di kabupaten Pinrang. Sejak udang windu banyak dilanda masalah maka beruntunglah petambak masih bisa panen bandeng.

Selama ini bandeng dibudidayakan secara polikultur dengan udang windu. Banyak pembudidaya masih bertahan diusaha tambak karena ditopang oleh ikan bandeng. Sejak dahulu bandeng sudah menjadi ikan peliharaan di tambak air payau. Selain tidak mudah terserang penyakit, cara budidayanya pun tidak sulit.

Teknologi budidaya bandeng  selama ini dilakukan tradisional secara turun-temurun. Hal inilah yang menyebabkan produksi belum meningkat secara signifikan. Sejak pertengahan tahun 2018, kelompok pembudidaya ikan (Pokdakan) Cempae desa Waetuoe kecamatan Lanrisang, Pinrang mencoba budidaya bandeng teknologi tradisional plus dengan penerapan teknik stunting (pengerdilan)

Teknik stunting atau menkerdilkan ikan bandeng sebelum dibudidayakan di tambak pembesaran merupakan teknik lama namun baru sebagian kecil petembak yang menerapkan. Padahal cara ini sangat menguntungkan pembudidaya. Selain produksi meningkat, waktu budidaya yang digunakan juga singkat. Sehingga dalam setahun petambak bisa melakukan panen 3-4 kali.

Pemilihan lokasi tambak budidaya bandeng merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan budidaya. Dalam memilih lokasi tambak paling tidak mudah dijangkau pasang surut air laut, bebas dari banjir dan tanah untuk pematang tambak tidak mudah bocor.

Dalam merancang bangunan tambak minimal ada satu petak pendederan dan satu petak pembesaran. Petak pendederan atau penggelondongan inilah yang digunakan untuk mengerdilkan pertumbuhan nener bandeng sebelum dipindah masuk ke petak pembesaran.   Pada lahan tambak percontohan di Pokdakan Cempae memiliki luas petak penggelondongan sekitar 1.500 m² ditebar 10.000 ekor nener langsung dari hatchery (pembenihan).

Mempersiapkan lahan tambak sebelum ditebar nener bandeng seperti hal yang sudah biasa dilakukan petambak pada umumnya. Lebih dahulu kita lakukan pengeringan dasar tambak agar dapat melepas gas beracun dan mematikan hama.

Selama masa pengeringan yang berlansung sekitar 15-20 hari juga dilakukan bersamaan perbaikan pematang dan pintu air tambak dari bocoran. Paling penting dalam mempersiapkan petak tambak adalah pemupukan dasar untuk meransang tumbuhnya makanan alami seperti lumut, klekap dan plankton.

Sambil mempersiapkan petak pembesaran yang luasnya sekitar 1 hektare, proses penggelondongan sudah berjalan di petak pendederan. Ketika makanan alami sudah tumbuh maka gelondongan bandeng sudah dapat dipindahkan ke petak pembesaran.

Untuk menyuburkan makanan alami di tambak dipupuk dengan Urea, SP36 dan petroganik. Pada pemupukan dasar digunakan dosis 200 kg urea, 100 kg SP36 dan 300 kg petroganik. Ketiga jenis pupuk tersebut dicampur rata kemudian disebar dibagian dasar pelataran tambak.

Pemupukan dasar dilakukan pada kondisi dasar tambak berair setinggi mata kaki lalu dibiarkan mengering sebelum dilakukan pemasukan air kembali. Hal ini dimaksdukan agar proses tumbuh klekap berjalan cepat.

Siklus pertama tambak ujicoba budidaya bandeng teknik stunting ditebar 3.200 ekor gelondongan bandeng yang berasal dari petak pendederan. Setelah dipelihara sekitar 60 hari bisa menghasilkan panen bandeng sekitar 825 kilogram.

Selama masa pemeliharaan yang selalu dipertahankan adalah kualitas air dan pertumbuhan makanan alami berupa plankton dan lumut. Memasuki bulan kedua jelang panen dipacu pertumbuhan dengan memberikan makanan tambahan berupa pellet sebanyak 30 kilogram perhari.

Setelah panen, petakan tambak  langsung dikeringkan dan persiapan untuk siklus kedua. Seperti hal dengan siklus pertama persiapan tambak meliputi peneringan, perbaikan bocoran pematang dan pintu air tambak, pemberantasan hama dan penumbuhan makanan alami.

Penebaran anakan bandeng dari petak pentokolan sebanyak 3.000 ekor  pada tanggal 19 Desember 2018. Anakan bandeng tersebut berukuran panjang 7-10 cm namun kerdil. Kerdil karena selama di petak penggelondongan makanannya tidak mencukupi dan ruang geraknya terbatas. Begitu di lepas di petakan tambak yang lebih luas dan padat makanan alami maka otomatis rakus makannya.

Itulah sebabnya, anakan bandeng yang dikerdilkan pertumbuhannya di patakan tambak yang luasnya terbatas setelah dipindah di petakan luas dan padat makanan alami maka pertumbuhan drastis dan cepat panen.

Tambak percontohan yang ditebar pada 19 Desember 2018 sudah panen pada 19 Februari 2019 lalu. Hasilnya mencapai sekitar 700 kilogram. Kini petambak sedang melakukan persiapan lahan untuk siklus ketiga kalinya.

Jadi dalam setahun petambak dapat melakukan budidaya  sebanyak 3-4 siklus. Setiap siklus petambak dapat peroleh omzet sekitar 10-15 juta. Bila dibanding dengan cara biasa yang selama ini dilakukan petambak hanya bisa dapat omzet sekitar 5-7 juta per panen atau 4-6 bulan sekali panen. (Ed: Adit)

Belajar Adalah Seni Kehidupan

“Success is walking from failure to failure with no loss of enthusiasm”

Begitulah kiranya kutipan dari Winston Churchill, seperti mengisahkan perjalanan karir Dony Riadi S. St. Pi yang kini menjabat sebagai Manager Pakan Ikan Global Feed – De Heus.

Dony meniti karir dari titik terbawah dimulai pada tahun 2000, saat itu dirinya ditempatkan sebagai nursery di salah satu farm Central Proteina Prima (CPP) di Cianjur selama 6 bulan, berlanjut hingga ke farm comercial CPP di Jatiluhur.

“Di Jatiluhur saya ditempatkan di pembesaran ikan nila merah, alhamduliah profit setelah saya handle,” ungkapnya penuh syukur.

Karirnya terus berlanjut hingga di tahun 2002 – 2004 dirinya dipercaya oleh CPP untuk meng-handle farm – farm kemitraan CPP di wilayah Bogor (nila merah dan lele). Pada awal tahun 2005 disitulah karir di marketing pakan ikan di mulai.

“Saya kembali ke Jatiluhur sebagai marketing, pada saat saya masuk di wilayah tersebut kondisi omset sedang tidak bagus, pelan-pelan dengan kerja keras dengan tim, atasan saya Bapak Sindu saat itu ikut serta management mulai naik dan melebihi target yang perusahaan bebankan di wilayah saya,” tuturnya.

Memasuki Agustus 2012, Hendi salah satu tim di CPP mengajaknya untuk bertemu seseorang dari Feedmill yaitu Global Feed dan menawarkan dirinya untuk bergabung dengan kondisi yang berbeda,

“Menurut saya ini adalah suatu tantangan yang sangat menarik, akhirnya saya terima tawaran tersebut dan mulai bergabung dan memulai dari nol,” ujar Dony dengan antusias.

Dengan berbagai tantangan bisnis yang pernah Dony rasakan, dirinya sangat berterima kasih kepada semua rekan kerja yang telah bekerjasama dengannya, “Saya sangat berterima kasih kepada Tim Produksi dan Management Global Feed yang sangat mendukung saya dan tim, terutama Pak Edi Wahyu yang membimbing saya dalam menjalankan kepercayaan sebagai Manager Marketing Pakan Ikan Global Feed, tentunya tidak terlepas dari CPP yang juga telah menggembleng saya, membesarkan serta memberikan pengalaman yang sangat berharga,” pungkasnya.

Tim Yang Solid

Kini dirinya menjadi bagian dari keluarga De Heus, “menurut saya ini sangat akan lebih menarik dan baik, karena De Heus adalah salah satu perusahaan besar di dunia, tentunya akan lebih banyak tantangan kedepannya untuk kemajuan perusahaan dan kemajuan sektor perikanan di Indonesia, dan saya sangat senang.”

Ketika ditanya bagaimana pandangannya terhadap perkembangan budidaya perikanan di Indonesia, Dony menuturkan bahwa perkembangan budidaya ikan di Indonesia sangat pesat selama 10 tahun terakhir, ini bisa lihat dari penjualan pakan ikan secara total dari tahun ke tahun selalu tumbuh, dan itu adalah peluang yang sangat baik,

“Saya rasa masyarakat Indonesia mulai merubah pola pikir dalam mengkonsumsi ikan air tawar, karena fresh dan harganya relatif terjangkau di semua kalangan. Untuk mengenai penyakit di ikan air tawar relatif tidak sehebat di udang, jadi masih bisa teratasi dengan baik,” kata Dony.

Saat ini De Heus mempunyai beberapa produk untuk di ikan air tawar, Pakan Lele, Ikan Mas, Pakan Ikan Nila, Pakan Ikan Gurame, Pakan Ikan Patin, Pakan Ikan Bandeng dan Pakan untuk Bibit ikan dan semua itu adalah unggulan produk De Heus dengan mempunyai kelebihan FCR yang bagus, pertumbuhan lebih cepat serta membuat daging ikan menjadi tebal.

Selain produk yang berkualitas ada rahasia lain yang menjadikan De Heus mampu bersaing hingga saat ini, “kestabilan kualitas yang baik itu menjadi komitmen  perusahaan, customer manjadi Independent Partner dan tentu saja ini semua tidak terlepas dari tim yang solid,” ungkap Dony.

Lebih lanjut Dony menambahkan, “Intinya bahwa kita harus menyamakan presepsi bahwa kita berpikir untuk kemajuan perusahaan dengan karyawan dilingkungan kerja, sehingga kita tidak ada yang berpolitik untuk kepentingan pribadi, kita kerja bersama, saling support sehingga tercipta suasana kerja yang nyaman, dan saya di tim saya saya tidak pernah menganggapnya sebagai bawahan saya, atau saya sebagai bos, tapi saya menganggapnya sebagai rekan kerja dan teman,” tambahnya.

Sikap low profile yang dimilikinya ternyata dipelajari melalui tokoh-tokoh besar yang menjadi motivatornya dalam berbisnis, seperti Bill Porter yang memiliki kegigihan, kesabaran Bill Porter merupakan seorang sales marketing dengan kekurangan dari fisiknya, tapi dia mampu manjadi the best sales dengan penjualan terbanyak. Karena menurut pandangan Dony sukses adalah jika kita mempunyai nilai yang baik untuk keluarga, lingkungan dan rekan kerja. (Vira)

Nama: Dony Riadi S. St. Pi

Jabatan dan Instansi: Manager Pakan Ikan Global Feed – De Heus

Budi Daya Udang Berbasis Ilmu dan Teknologi

Oleh  M. Ghufran H. Kordi K.

Penulis buku Perikanan dan Kelautan

 

Indonesia adalah salah satu produsen udang utama di dunia dan menempati urutan ketiga setelah China dan India dalam produksi udang vannamei (Litopenaeus vannamei). Hingga tahun 2018 Indonesia memproduksi udang vaname sekitar 700 ribu ton, yang di ekspor ke beberapa negara, sebagian besar untuk pasar Amerika Serikat (AS) dan Jepang.

 

Indonesia telah menjadi produsen udang dunia sejak tahun 1980-an. Tahun 1990-an Indonesia menjadi produsen udang windu (Penaeus monodon) terbesar di dunia dengan produksi udang budidaya mencapai 250 ribu ton tahun 1994. Sementara pada 1992 Indonesia mengekspor 140 ribu ton udang windu, ini merupakan capaian tertinggi dan terbesar di dunia.

 

Namun prestasi yang membanggakan sekaligus menguntungkan secara ekonomi tersebut tidak bertahan lama. Tahun 1993 udang windu mulai diserang penyakit bintik putih (white spot) atau White Spot Syndrome Virus (WSSV).

 

Virus ini melululantakkan industri perudangan nasional, ekspor udang windu yang mencapai 140 ribu ton tahun 1992 anjlok menjadi 53.000 ton pada tahun 1999. Tambak terlantar atau ”tambak parkir” ada di mana-mana. Demikian pula hatchery (balai benih) terbengkalai karena tidak memroduksi benur, diikuti dengan kredit macet dan pengangguran.

 

Hasil kajian antara lain menyatakan bahwa kegagalan budidaya udang di pantai utara Jawa (pantura) disebabkan oleh tingginya pencemaran perairan terutama oleh bahan organik, logam berat dan pestisida yang berasal dari limbah kegiatan industri, pertanian dan rumah tangga di daerah hulu (Widigdo & Soewardi, 1999).

 

Bahan-bahan pencemar tersebut diduga sangat mendukung berkembangnya berbagai mikroba patogen seperti virus WSSV, sebelumnya dikenal virus Semi Extodermal and Mesodermal Bacullo Virus (SEMBV), penyebab penyakit bintik putih yang sejak kemunculannya tahun 1992 (Wang et al., 1998) hingga kini masih menjadi momok dalam budi daya udang.

 

Riset untuk Pertumbuhan Ekonomi

Penyakit adalah faktor utama runtuhnya industri udang nasional tahun 1990-an. Sampai saat ini pun penyakit tetap menjadi penentu naik turunnya produksi udang di berbagai negara. Penyakit udang yang paling menjadi momok saat ini di antaranya Infectious Myonecrosis Virus (IMNV) atau dikenal sebagai Myo, White Spot, dan White Faeces Disease (WFD).

 

Semua negara produsen udang menghadapi permasalahan yang sama. Bahkan penyakit adalah salah satu masalah utama bagi akuakultur dunia. Pasalnya penyebaran penyakit mengikuti pemindahan biota akuatik secara global. Selain virus pada udang, penyakit akuakultur yang mengglobal adalah Koi Herpes Virus (KHV) yang menyerang ikan mas (Cyprinus carpio) dan Tilapia Lake Virus (TiLV) yang menyerang ikan nila (Oreochromis niloticus). KHV dan TiLV adalah penyakit yang pertama kali diidentifikasi di Israel.

 

Negara-negara yang akuakulturnya sangat maju, selalu cepat bangkit jika menghadapi permasalahan, termasuk serangan penyakit. Itu karena pengembangan akuakultur di negara-negara maju berbasis ilmu dan teknologi. Riset-riset akuakultur mereka diarahkan untuk mengatasi permasalahan dan mendorong pertumbuhan ekonomi.

 

Ketika tahun 1990-an, budidaya udang Indonesia mengalami keruntuhan karena serangan virus WSSV, hal yang sama juga dialami oleh berbagai negara. Negara-negara di Amerika Selatan dan Hawai yang mengandalkan udang vaname mengalami serangan virus spesifik yang menyerang udang ini, Taura Syndrom Virus (TSV). Virus TSV pertama kali ditemukan tahun 1992 di muara sungai Taura, Guayaquil, Equador.

 

Akan tetapi berkat riset yang dikembangkan sejak tahun 1992, maka pada tahun 1996 Hawai (AS) dan Equador telah berhasil memroduksi induk udang vaname massal yang bebas penyakit (specific phatogen free, SPF) dan tahan penyakit (specific phatogen resisten, SPR). Dari induk SPF dan SPR yang diproduksi melalui rekayasa genetik (improvement genetik) itulah yang menghasilkan benih tahan penyakit (SPR) dan bebas penyakit (SPF).

 

Dari penemuan tersebut, maka alir penyebaran penyakit secara vertikal dapat dieliminir. Lebih lanjut penemuan ini berdampak terhadap peningkatan produksi dan volume ekspor udang dari negara-negara di Amerika Selatan. Hawai tidak hanya meningkatkan produksi udang untuk konsumsi, tetapi juga menjadi eksportir penting induk udang vaname ke berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia.

 

Bukan berarti riset akuakultur di Indonesia, termasuk budi daya udang tidak maju. Periset bertebaran di lembaga pemerintah dan perguruan tinggi (PT). Namun, riset yang dilakukan sering tidak mendorong pengembangan akuakultur, alias tidak berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi, melainkan hanya untuk kepentingan pendidikan dan pemuatan di jurnal.   

 

Riset yang diharapkan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi haruslah inovatif dan hasilnya dapat digunakan. Namun, riset yang demikian harus dikerjakan secara berkesinambungan dan kolektif. Inovasi Hasanuddin Atjo mengembangkan sistem budidaya udang vaname super intensif dengan kepadatan 800-1.000 ekor/m² tidaklah instan, melainkan melalui riset yang cukup panjang.

 

Plasma Nutfah Lokal

 

Saat ini Indonesia menjadi produsen penting udang di dunia, namun spesies yang dibudidayakan adalah udang vaname, yang merupakan udang impor dan hasil riset dan inovasi panjang negara lain. Padahal perairan Indonesia menyimpan udang spesies asli yang merupakan plasma nutfah lokal.

Selain udang windu, juga udang putih (P. merguiensis, P. indicus) dan Udang Lambouh (Penaeus sp). Udang windu dan udang lambouh adalah udang yang berukuran besar, masing-masing dapat mencapai ukuran sekitar 260 g/ekor dan 300 g/ekor.

 

Selain udang, berbagai komoditas akuakultur yang dikembangkan di Indonesia dan menjadi komoditas andalan, sebagian besar adalah biota introduksi. Bukan berarti introduksi tidak boleh dilakukan, tetapi tentu ada yang keliru dalam kebijakan dan pengembangan komoditas budi daya nasional. Introduksi adalah jalan pintas dan kebijakan instan, yang pada banyak kasus juga berdampak buruk terhadap ekosistem perairan.

 

Di samping itu, ketergantungan pada komoditas introduksi, seperti udang vaname, menyebabkan produksi udang Indonesia bergantung pada induk impor. Induk vaname yang dirakit di dalam negeri kalah bersaing dengan induk impor. Sewaktu-waktu perakitan induk dalam negeri juga tetap mengimpor induk untuk memperkaya keanekaragaman genetik.

 

Untuk itu, mestinya perlu kebijakan untuk mendorong riset intensif yang dapat menghasilkan udang unggul spesies lokal. Dengan mengembangkan spesies lokal, maka sistem produksi udang dari hulu hingga hilir berada dalam kendali kita, sehingga produksinya tidak bergantung pada pada pihak lain. (Ed: Adit)

 

Kincir Modern di Tambak Udang Tradisional Lampung Timur

Sebagai penyuplai oksigen di dalam perairan tambak, kincir memiliki peranan penting dalam urusan ketersediaan oksigen dan menjaga kualitas air dalam tambak udang.

Menurut Direktur Manager PT Sumber Lancara (SL) Cartenius Wijaya, peranan kincir dalam tambak budidaya udang memiliki pengaruh yang cukup penting untuk proses budidaya udang itu sendiri. Kincir menjadi jalur sirkulasi pada tambak budidaya, media-media lain yang terdapat pada tambak seperti kotoran atau sisa pakan yang tidak termakan perlu ditempatkan pada titik sentral yang kemudian akan dilanjutkan oleh sistem pembuangan supaya bisa terbuang dengan sempurna.

Hal ini membutuhkan bantuan kincir untuk mengatur arus supaya media tersebut dapat terkumpul di titik sentral tersebut. “Kincir juga mengatur stabilitas kadar oksigen pada tambak, selain untuk memberi jalur sirkulasi, kincir juga berperan penting untuk mencampur serta menyetabilkan oksigen yang teroksidasi ke air pada tambak,” ujarnya.

Percikan air yang dihasilkan oleh kincir, secara otomatis akan teroksidasi pada air sehingga air pada tambak budidaya memiliki tingkat oksigen yang mencukupi untuk proses budidaya udang. Kemudian, kata Cartenius, kincir sebagai media untuk mendistribusikan dan meratakan komponen tambahan pada tambak pada masa budidaya seperti vitamin atau media lainnya untuk menunjang proses budidaya udang.

“Media tambahan tersebut perlu disebar dengan merata pada tambak agar dapat diserap oleh udang secara maksimal. Oleh sebab itu, diperlukan kincir untuk meratakan penyebaran media tambahan tersebut dan biasanya vitamin atau media tambahan disebar di depan kincir kemudian akan di distribusikan oleh kincir,” paparnya.

Jenis Kincir

Penggunaan kincir bisa dikatakan “wajib” ada dalam budidaya udang tradisional, seperti halnya para petambak udang di Desa Labuhan Maringgai, Kabupaten Lampung Timur, mayoritas petambak menggunakan kincir yang sama dari PT Sumber Lancar (SL).

Tjahyani Purwo Asturi dari PT Sumber Lancar Cabang Lampung mengatakan, “sekitar 85 % petambak udang di wilayah Lampung sudah menggunakan produk kincir dengan teknologi modern dari SL,” ujarnya.

Yani atau yang kerab disapa “Mba Kincir” oleh petambak menambahkan, saat ini petambak sudah cerdas dalam hal memilih peralatan pendukung tambak khususnya kincir. Katanya, petambak berani berinvestasi membeli kincir yang berkualitas meskipun harganya sedikit mahal karena mereka berpikir jangka panjang dan kincir yang dipakai hemat listrik sehingga dapat menekan menekan biaya listrik tiap bulan.

“Kincir SL dikenal ketahannya, tidak rewel, dan tentunya biaya operasionalnya murah,” pungkas Yani.

Lebih lanjut, Cartenius menjelaskan, SL memiliki banyak jenis kincir air yang menyesuaikan dengan sekmen dari petambak dengan berbagai merk yang berbeda, mulai dari SL Vaname, Neptune, Cakra, Garuda, dan Fortune.

Sedangkan untuk jenis kincir, SL membagi jenisnya untuk sekmen rendah biaya produksi dan rendah biaya investasi. Untuk jenis kincir dengan rendah biaya produksi, spare part yang digunakan sudah menggunakan part stainless steel serta part-part lain yang memudahkan serta mengefisienkan kinerja kincir sehingga petambak tidak perlu repot mengurus teknis pengoperasian kincir tersebut.

Selain itu, kincir dengan rendah biaya produksi ini juga memiliki konsumsi listrik yang cukup efisien dengan tujuan dapat menekan biaya produksi selama masa budidaya sehingga petambak sudah tidak perlu repot memikirkan teknis dari kincir tersebut dan sekaligus dapat menghemat pengeluaran untuk penggunaan listrik selama budidaya.

“Mengingat tidak semua petambak memiliki modal awal yang cukup besar dalam mempersiapkan teknis dalam tambak, sehingga dari sekmen inilah SL menciptakan kincir hemat untuk petambak, dengan catatan untuk spare part yang digunakan adalah yang standard untuk pengoperasian kincir di tambak,”                                                                        

Kisaran listrik yang dikonsumsi oleh kincir SL bervariasi tergantung kelasnya, ada SL Vaname, SL Neptune, dan Cakra yang memiliki konsumsi listrik paling hemat di kelasnya yaitu kisaran 425 – 475 watt. Sedangkan untuk Garuda dan Fortune bisa mencapai 500 –  550 watt.

Kincir dari SL dibuat sekokoh mungkin dan minim perawatan, kata Cartenius, mengingat daerah Lampung Timur cukup jauh dari pusat kota Lampung. “Maka kami memberikan refrensi kepada para petambak di daerah Lampung supaya menggunakan kincir yang minim perawatan dan tahan lama dalam penggunaannya,” terangnya.

SL Vaname dan Neptune adalah merk kincir yang banyak digunakan oleh petambak di Lampung Timur, mengingat konsumsi listrik yang sangat hemat serta ketangguhan dari kincir tersebut, petambak tidak perlu lagi disibukkan untuk perawatan dari kincir tersebut.

Mudah Perawatan

Untuk perawatan, Cartenius memaparkan, kincir dari SL selalu membuat inovasi bagaimana supaya kincir yang digunakan sebisa mungkin minim perawatan. Spare part yang digunkan pada kincir juga merupakan spare part yang mudah untuk dibongkar pasang jika seandainya pada masa budidaya kincir memang perlu dilakukan perawatan atau servis pada beberapa bagian dari kincir.

Kemudian untuk spare part juga, tambah Cartenius, dijamin ketersediaan untuk produk semua produk kincir serta menjamin kemudahan akses kepada seluruh petambak di Indonesia dengan kehadiran 5 kantor cabang yang terletak di Paiton, Banyuwangi, Tuban, Jogjakarta, serta Lampung.

“Hal ini kami lakukan supaya petambak di seluruh Indonesia bisa lebih mudah dalam memenuhi kebutuhan tambak mereka,” ujarnya.

Tips Memilih Kincir

Untuk petambak pemula yang pertama harus diperhatikan adalah ketersediaan dana. Pastikan dana bisa memenuhi jumlah kincir yang diperlukan. Sedangkan untuk petambak yang memang serius dalam untuk terjun ke dunia tambak, hal yang perlu diperhatikan tentu kualitas dari kincir yang digunakan.

Pastikan kincir yang digunakan memiliki spesifikasi yang baik sehingga pada masa budidaya, petambak tidak perlu lagi kerepotan untuk perawatan kincir lagi. Spare part yang digunakan juga perlu diperhatikan ketersediaannya.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah konsumsi listriknya, saat ini banyak petambak yang hanya berfokus pada investasi awal dalam pemilihan kincir, namun mereka lupa akan konsumsi listrik yang digunakan.

Bisa jadi untuk investasi awal sedikit lebih hemat namun saat masa budidaya konsumsi listrik yang diperlukan cukup tinggi sehingga akan menambah pengeluaran untuk biaya listrik yang digunakan selama masa budidaya. (Adit)

Peraturan Baru, Proses Perizinan Lebih Cepat

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menggelar Rapat Koordinasi perkembangan Regulasi Pakan dan Obat Ikan pada 15 April 2019 di Gedung Mina Bahari IV KKP, Jakarta. Acara tersebut di gelar dalam rangka sosialisasi kebijakan peredaran Bahan Baku Pakan Ikan dan dan Obat Ikan.

KKP percepat pelayanan perijinan pakan dan obat ikan. Ketentuan ini tercantum dalam Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan : Permen KP No. 55 Tahun 2018 tentang Pakan Ikan dan Permen KP No. 1 Tahun 2019 tentang Obat Ikan.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto dalam keterangannya saat sosialisasi Permen KP bidang pakan dan obat ikan di Jakarta. Perubahan Permen KP dilakukan sebagai upaya perbaikan pelayanan perijinan di bidang pakan dan obat ikan yang mengacu pada Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 2018 tentang Pelayanan Perijinan Berusaha Terintegrasi Secara Elektronik (online single submussion).  Menurutnya ada ketentuan dalam perijinan yang direvisi agar lebih efisien, transparan dan akuntabel.

“Kita ingin melalui Permen KP yang baru, proses perizinan bisa lebih cepat, sehingga pelaku usaha lebih diuntungkan karena sistem sudah online dan berbagai persyaratan tidak berbelit belit. Selain itu, percepatan layanan sertifikasi Cara Pembuatan Pakan Ikan yang Baik (CPPIB) dan Cara Pembuatan Obat Ikan yang Baik (CPOIB) akan memberikan jaminan kualitas pakan dan obat ikan yang digunakan pembudidaya ikan” tambah Direktur Pakan dan Obat ikan, Ir. Mimid Abdul Hamid, M.Sc.

David Alfian dari PT Biotek Saranatama, menyatakan bahwa perubahan permen KP terkait pelayanan perijinan bidang pakan dan obat ikan sangat membantu pihaknya, karena perijinan saat ini lebih simpel, transparan dan waktu pelayanan yang lebih cepat.

“Sangat berterima kasih atas upaya KKP dalam perbaikan pelayanan ini. Kami berharap kedepan sosialisasi terus dilakukan jika ada peraturan baru, sehingga kami lebih faham jika ada isu isu baru yang berkembang”, pinta David dalam keterangannya.

Dalam kegiatan sosialisasi Permen KP No. 55 tahun 2018 dan Permen KP No. 1 tahun 2019, yang juga dihadiri oleh stakeholder perikanan budidaya, disebutkan bahwa setidaknya ada 2 (dua) poin penting yang telah direvisi yakni terkait prosedur layanan perijinan yang semula tidak terintegrasi menjadi berbasis OSS (online single submission) dan lama waktu proses layanan yang lebih cepat dari sebelumnya.

Business Manager West Indonesia PT Evonik Indonesia, Lucia Monia Simanjuntak, acara ini sangat membantu terutama untuk memfasilitasi  penerapan Permen yang baru, terutama untuk para importir, dengan adanya kebijakan ini akan bisa menentukan langkah kedepannya seperti apa termasuk yang perlu di highliight adalah penerapan sistem OSS KKP yang nantinya akan di launching 22 April 2019 ini.

“Kedepannya kita akan lebih fokus ke arah online untuk submit data dan lain sebagainya, jadi bagi kami cukup membantu karena kita jadi lebih efektif dan efisien dalam berurusan dengan hal yang berkaitan dengan importasi maupun registrasi produk baru, jadi tidak perlu lagi bolak-balik ketemu langsung dengan pihak KKP,” tutur Lucia.

Seperti yang sudah diketahui, dalam bidang pakan ikan, layanan Surat Keterangan Teknis (SKT) impor bahan baku dan/atau pakan ikan dari semula 7 hari kerja menjadi 5 hari kerja. Layanan pendaftaran pakan ikan dari semula 25 hari kerja menjadi 20 hari kerja, dan layanan sertifikasi Cara Pembuatan Pakan Ikan yang Baik dari semula 37 hari menjadi hanya 15 hari kerja.

Sedangkan di bidang obat ikan, untuk layanan Penerbitan Surat Keterangan Teknis bahan baku, obat ikan dan sampel obat ikan dari semula 3 hari kerja menjadi 2 hari kerja; layanan penerbitan Cara Pembuatan Obat Ikan yang Baik (CPOIB) dari semula 25 hari menjadi 15 hari; dan layanan pendaftaran obat ikan dari semula 12 hari kerja menjadi hanya 10 hari kerja.

Di samping itu dalam Peraturan yang baru ini, pelaku usaha dapat langsung menjalankan usahanya setelah mendapatkan NIB (Nomor Induk Berusaha) dan pernyataan kesanggupan komitmen.

Assistant. Manager Purchasing PT Malindo Feedmill. Handy Christian, pertemuan kali ini berguna karena menjadi tahu tentang peraturan-peraturan, administrasi, regulasi dari KKP dan import perdagangan. “Diharapkan terus dilakukan sosialisasi jika ada perubahan peraturan baru agar informasi yang akan diterima lebih up to date,” ucap Handy. (Resti/Adit)

Kolaborasi KKP dan Kementerian PUPR untuk Pengembangan Infrastruktur Kawasan Perikanan Budidaya

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menggandeng Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dalam penyediaan infrastruktur bidang sumber daya air di kawasan perikanan budidaya berupa penyediaan jaluran primer irigasi tambak dan infrastruktur pendukungnya di 132 kabupaten/kota dan 3 lokasi Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu (SKPT) di Indonesia.

“Dukungan dan peran aktif dari semua stakeholder yang terlibat sangat penting dalam terlaksananya dan tercapainya tujuan dalam pengembangan dan rehabilitasi jaringan irigasi kawasan perikanan budidaya”, ujar Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, saat penandatangan kesepakatan bersama dengan Direktur Jenderal Sumberdaya Air PUPR di Jakarta, Jumat (12/4).

Perjanjian kerjasama ini merupakan tindak lanjut dari Nota Kesepahaman Bersama antara Kementerian PUPR dengan KKP yang telah ditandatangani pada tanggal 20 Februari 2018 dengan Nomor 20/MEN-KP/KB/II/2018 dan 03/PKS/M/2018 tentang Dukungan Infastruktur Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat dalam Pembangunan dan Pengembangan Kawasan Sentra Produksi Berbasis Kelautan dan Perikanan.

Slamet menjelaskan, ruang lingkup dari perjanjian kerjasama ini tidak hanya berfokus pada perbaikan saluran irigasi di kawasan sentra produksi perikanan budidaya, namun juga mencakup penyediaan infrastruktur sumberdaya air di 3 wilayah SKPT yaitu Sabang, Rote Ndao dan Sumba Timur.

“Dalam pelaksanaan kerjasama tersebut akan dilaksanakan secara bertahap mulai dari tahun 2019 hingga 2023,” sebut Slamet.

Saluran irigasi adalah kebutuhan penting sebagai penyuplai air dalam kegiatan budidaya perikanan, baik tambak maupun kolam, sehingga perlu selalu dalam kondisi baik. “Sebagian besar saluran irigasi yang ada dan dimanfaatkan pembudidaya saat ini sudah berumur dan mengalami kerusakan sehingga tidak berfungsi lagi, hal ini menyebabkan tidak optimalnya fungsi saluran irigasi dalam penyediaan air untuk kegiatan budidaya,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa dengan dukungan infrastruktur khususnya perbaikan irigasi tambak ini akan meningkatkan luas lahan tambak yang terfasilitasi sumber daya air yang baik, sehingga berdampak terhadap peningkatan produksi budidaya. Disamping itu, infrastruktur yang baik akan mempermudah aksesibilitas dan konektivitas dalam pengembangan perikanan budidaya.

“Dukungan infrastruktur, baik sarana dan prasarana penunjang ini diharapkan dapat menjadi multiplier effect bagi pergerakan ekonomi bagi masyarakat lokal. Mulai serapan tenaga kerja, pendapatan dan kesejahteraan pembudidaya,” sambungnya.

Slamet menambahkan bahwa KKP terus mendorong pengembangan perikanan budidaya berkelanjutan melalui pendekatan kawasan. Ia mencontohkan, wujud dukungan kerjasama dengan Kementerian PUPR yakni pengembangan budidaya udang berkelanjutan berbasis klaster yang ada di Kabupaten Mamuju Utara. Melalui model ini, produktivitas mampu digenjot dari semula hanya 60 – 200 kg/ha menjadi 5.000 – 10.000 kg/ha.

“Jadi sebenarnya kerjasama ini sudah kita jalin sejak tahun 2012 yang berakhir pada tahun 2017 untuk itu kita perlu memperpanjang kerjasama antar kementerian. Pada hari ini kita perkuat dengan penandatanganan perjanjian kerjasama (PKS). PKS ini sebagai pijakan bagi kami untuk mendorong kerjasama lebih luas dalam upaya pengembangan kawasan budidaya. kita akan perluas ke depan untuk kawasan budidaya air tawar juga,” imbuhnya.

Sebagaimana diketahui, melalui PKS ini, dukungan infrastruktur nantinya tidak hanya pada lokasi SKPT namun juga kawasan-kawasan lainnya sesuai dengan masterplan pengembangan perikanan budidaya.

“Kita telah siapkan DED dan lokasi potensi untuk pengembangan tambak yang nantinya sebagai acuan bagi Kementerian PUPR dalam melakukan intervensi dukungan sesuai lokasi yang telah ditetapkan. Jadi, semua pihak harus berperan aktif dan memanfaatkan kerjasama ini dengan sebaik-baiknya, sehingga kita dapat mewujudkan pembangunan perikanan budidaya di Indonesia yang berkelanjutan dan bertanggung jawab,” pungkas Slamet.

Sementara itu, Dirjen Sumberdaya Air Kementerian PUPR, Heri Suprayogi menyampaikan apresiasinya atas kerjasama ini. Ia berharap adanya peningkatan nilai tambah dari subsektor perikanan budidaya.

“Ini merupakan komitmen Kementerian PUPR untuk penggunaan air irigasi tambak yang efisien sehingga dapat berkelanjutan,” tutur Heri.

Heri menambahkan, setiap tahunnya Ditjen SDA Kementerian PUPR sudah mempunyai rencana kerja, tinggal perlu disinkronkan bersama program DJPB dengan memperhatikan desain, kelembagaan dan skenario ramah lingkungan.

“Kerjasama ini intinya ingin mengsinkronisasikan program supaya dapat mendukung fasilitas kawasan perikanan budidaya, dimana selama 5 tahun sudah dibangun 150 daerah irigasi tambak (DIT), sedangkan tahun 2019 ini ada 25 DIT di 25 kabupaten/kota,” tambah Heri.

Untuk diketahui, program pembangunan perbaikan saluran irigasi tambak terutama diperuntukkan untuk saluran tersier yang dikerjakakan secara swakelola oleh kelompok telah dilakukan KKP melalui program Pengelolaan Irigasi Tambak Partisipatif (PITAP). Tahun 2013, luas lahan terlayani 304 Ha, dengan jumlah kelompok pengelola irigasi tambak (poklina) 5 kelompok dan penyerapan tenaga kerja 150 orang.

Kemudian, tahun 2014 luas lahan terlayani 561 Ha penerima sebanyak 17 poklina serta mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 150 orang. Lalu, tahun 2015 seluas 2.190 Ha, degan jumlah poklina sebesar 146 kelompok dan penyerapan tenaga kerja 4.380 orang.

Tahun 2016 dengan luas lahan terlayani 12.100 Ha pada 234 poklina dan mampu menyerap tenaga kerja 7.020 orang, sedangkan tahun 2018, luas lahan terlayani 1.083,71 Ha dengan menyerap 1.328 orang tenaga kerja pada 16 poklina

Hal tersebut dibenarkan oleh Sugeng Riyanto Ketua kelompok Tambak Sejahtera. Menurut pemaparannya, dari target 2.200 meter saluran irigasi yang harus direhabilitasi, tercapai 3.600 meter. Pelaksanaan PITAP Poklina Tambak Sejahtera Kecamatan Kalukku, Mamuju.

“Sudah dua kali kecamatan kami dapat program PITAP, yaitu tahun 2016 dan 2018 dan itu sangat bermanfaat,” ungkap Sugeng.

Diantara manfaat dari program PITAP, Sugeng menjelaskan, seperti saluran tersier menjadi rapi, lebar dan dalam. Kemudian, sirkulasi air menjadi lancar, baik kualitas maupun kualitas, meningkatnya kesadaran dari petambak untuk selalu menjaga saluran tambak serta menurunkan serangan penyakit secara signifikan.

Senada dengan Sugeng. Sekretaris Poklina Karya Abadi Kecamatan Tayu, Pati Jawa Tengah, Yanto merasakan betul manfaat dari kerjasama antara PUPR dan KKP tahun 2018 lalu berupa normalisasi saluran tambak di tiga desa yakni Dororejo, Sambiroto, dan Tunggulsari.

“Saluran menjadi lebih baik, suplai air jadi lebih lancar dan hasil produksi panen bertambah,” tutur Yanto.

Seperti yang diketahui, Sugeng menuturkan, latar belakang permintaan program PITAP adalah banyaknya saluran-saluran tersier yang ukurannya sempit dan mengalami pendangkalan parah. Hal ini menyebabkan air buangan dari tambak tidak cepat terbuang dan akhirnya akumulasi masalah tersebut udang di tambak di daerah kami banyak terjangkit penyakit. (Resti/Adit)

Mengupas Tantangan Budidaya Udang di Pesisir Timur Lampung

Keuntungan berlipat yang diperoleh dalam waktu relatif singkat memang menjadi daya tarik budidaya udang vaname yang sangat memikat. Begitu pula potensi budidaya udang di pesisir timur Lampung. Namun, di balik keuntungan, ada pula tantangan yang harus dihadapi para petambak.

Pemilihan jenis udang vaname sebagai jenis udang unggulan dan favorit petambak udang di Lampung Timur bukan tanpa sebab. “Alasannya, kualitas benih yang bagus (SPF) tersedia,  tingkat kelangsungan hidupnya tinggi, pertumbuhannya cepat, produktivitas tinggi, dan bisa hidup dengan baik pada salinitas rendah,” ungkap Dr. Supono, S.Pi., M.Si., Kaprodi Manajemen Wilayah Pesisir dan Laut Universitas Lampung (Unila).

Meskipun memiliki tingkat kelangsungan hidup yang tinggi, udang vaname bukan lantas hidup tanpa masalah. Menurut Supono, penyakit menjadi penyebab utama kegagalan budidaya udang di Lampung Timur.

Penyakit yang paling sering menyerang budidaya udang vaname dan menyebabkan kegagalan panen adalah white spot syndrome virus (WSSV), myo, dan white feces disease (WFD). Penyakit tersebut menyebabkan kegagalan budidaya karena menyerang pada semua umur udang.

“Sebagai salah satu daerah produsen utama udang, kegagalan tersebut tentu menyebabkan penurunan produksi udang di Provinsi Lampung,” terangnya.

Hal tersebut juga diakui Muhyar petambak udang di Desa Labuhan Maringai, Kabupaten Lampung Timur. Menurut penuturannya, produksi budidaya udang menurun semenjak adanya serangan penyakit.

“Menurunnya produksi udang di wilayah Lampung Timur diduga disebabkan oleh WSSV, namun masih terus dicari sebab kebenarannya dengan dibantu oleh teknisi dari perusahaan obat,” tambah Muhyar.

Dari Penyakit Sampai Sedimentasi

“Sepengetahuan saya, penyakit sudah menjadi masalah sejak dulu. Tapi penyakit sekarang aneh jenisnya dan bermacam-macam. Ada myo, white spot, dan berak putih,” tutur Soleh, yang juga petambak udang di Desa Labuhan Maringai, Kabupaten Lampung Timur.

Menurut Soleh, serangan penyakit sangat berpengaruh pada pendapatan dari hasil panennya. Sebelum ada penyakit, modal Rp40 juta bisa menghasilkan Rp100 juta sampai Rp110 juta. Keuntungannya bisa Rp70 juta sampai Rp80 juta.

“Kalau sekarang, modal Rp40 juta, untungnya Rp 5 juta dalam 2 bulan. Kalau pas rugi, kerugiannya lumayan besar. Modal Rp40 juta bisa habis. Kalau tidak kita kontrol udangnya, dari modal Rp40 juta, kita bisa rugi Rp20 juta,” keluhnya.

Tidak jauh berbeda dengan Soleh, Bahrul Ilmi, yang juga merupakan petambak udang di Lampung Timur menuturkan, adanya penyakit yang menyerang tambak udang membuat aktifitas budidaya terganggu, ditambah cuaca yang tidak menentu mengakibatkan air di tambak mempengaruhi pertumbuhan udang.

“Petambak harus memperhatikan kualitas air baik dari awal masuk sampai akhir (panen). Untuk itu perlu dibuatkan irigasi air masuk dan air keluar sehingga dapat terkendali,” ujar Bahrul.

Menurut Herman Mude, A.Pi., MM., Kasi Tata Pelayanan di Balai Karantina Ikan, Pengendalian Mutu, dan Keamanan Hasil Perikanan (KIPM) Lampung, penyakit merupakan faktor pembatas dalam budidaya udang. Jenis penyakit yang disebabkan oleh virus di antaranya white spot syndrome virus (WSSV), infectious myonecrosis virus (IMNV), taura syndrome virus (TSV), infectious hypodermal and haematopoietic necrosis virus (IHHNV), yellow head virus (YHV), covert mortality noda virus (CMNV).

Penyakit udang akibat serangan bakteri di antaranya acute hepatopancreatic necrosis disease (AHPND) atau EMS. Sementara penyakit akibat parasit adalah enterocytozoon hepatopenaei (EHP) dan white feces disease (WFD).

“Beragam peyakit ini bisa menyebabkan kematian massal, panen dini, dan menurunkan hasil produksi budidaya udang,” paparnya.

Keterangan senada juga diungkapkan Dardjono, SP., Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Perikanan Budidaya Lampung Timur. Dari sisi penyakit, penyakit pada budidaya udang di  Lampung Timur—khususnya udang vaname—adalah WFD. Serangan penyakit ini ditandai dengan adanya kotoran putih yang mengambang pada permukaan media budidaya dan biasanya muncul pada DOC 35—45. Sebenarnya, WFD bisa dicegah dengan penerapan SOP manajemen dasar tambak yang baik, dengan penyiponan serta pemberian probiotik aerob maupun anaerob sejak awal.

Penyakit berikutnya adalah IHHNV yang ditandai dengan udang kerdil dan bagian kepala atau hepatopankreas membesar. Namun, penyakit ini masih sedikit ditemukan. Adapun penyakit WSSVditandai dengan munculnya bintik putih pada bagian karapas dan bisa mengakibatkan udang mengalami kematian masal.

WSSV sering muncul pada musim pancaroba, antara Bulan April—Mei dan September—Oktober. Pada Oktober tahun 2018, penyakit ini sempat menyerang budidaya udang di Lampung Timur yang berdampak pada turunnya produksi di triwulan I tahun 2019 hingga 30%. Kejadian serupa terjadi di hampir semua sentra produksi di Lampung.

Lebih lanjut, Joko Waluyo, Teknisi Behn Meyer, menjelaskan bahwa WSSV menyebabkan kerugian yang tinggi jika menginfeksi udang berumur kurang dari 30 hari. Udang tidak dapat dipanen karena ukuranya masih terlalu kecil.

Selain itu, WSSV pada awalnya hanya menyerang di musim hujan. Namun sekarang, infeksi penyakit yang paling merugikan ini banyak ditemukan sepanjang waktu. “Hal ini disebabkan pola budidaya di sana mengunakan sumber air yang sama, pembuangan dan pemasukan air berasal dari saluran yang sama,” terangnya.

Joko menambahkan, penyakit lain yang juga menyebabkan kerugian tinggi adalah WFD. Jika sudah terinfeksi, udang tidak mau makan sehingga pertumbuhan menjadi lambat, udang kropos, dan SR panennya rendah sehingga FCR-nya menjadi tinggi.

Sementara M. Ansori Maskur, Ketua Pokdakan Mina Sakti Mandiri, berpendapat bahwa dengan pola budidaya yang baru, tantangan yang paling menakutkan adalah penyakit dan cuaca ekstrim. Risiko yang paling berat adalah cuaca ekstrim karena sulit menduga penurunan kualitas udang.

“Kualitas air bisa turun mendadak. Solusi yang baik untuk mengantisipasi risiko cuaca ekstrim adalah menghindari tebar udang pada musim pancaroba, yaitu Bulan November sampai Bulan Februari. Pada bulan itu, komoditas diganti dengan nila salin sehingga bisa memutus rantai penyakit,” terangnya.

Selain masalah penyakit, H. Suparman, salah seorang petambak di Lampung Timur memaparkan terjadinya sendimentasi pesisir pantai. Hal ini membuat para petambak kesulitan mengambil air laut. Menurutnya, diperlukan pembenahan saluran air dari laut menuju ke tambak sehingga air masuk dengan air keluar tidak bercampur jadi satu.

Banyaknya perizinan yang muncul juga menjadi kendala seperti izin penggunaan air laut, izin genset,  izin penimbunan solar industri, izin amdal, sampai izin pipa pengambilan air laut. “Tak hanya itu, harga yang fluktuatif juga tidak mengenakkan para petambak,” ungkap Suparman.

Masalah harga juga diakui Dardjono menjadi faktor yang lebih berpengaruh terhadap produksi udang. “Harga udang yang murah, size 100 sekarang Rp47 ribu per kilo gram membuat pembudidaya menjadi kurang bergairah,” terangnya.

Menjawab Tantangan

Budidaya di Lampung Timur saat ini terus berkembang, pola budidaya pun mengalami pergeseran, dari  tambak tradisional (udang windu) dengan ukuran kolam 1—2 hektar menjadi tambak intensif (udang vaname) dengan ukuran kolam 1.000—2.000 meter persegi.

“Selalu ada tambak baru yang dicetak dengan investor dari luar Lampung,” ungkap Joko.

Menghadapi tantangan yang ada, solusi kongkret diperlukan agar usaha budidaya udang bisa berjalan secara berkelanjutan. Menurut Joko ada beberapa langkah yang bisa dilakukan, di antaranya: (1) penggunaan tandon filter biologis dan tandon treatment, (2) pengaturan waktu tebar, (3) komunikasi grup yang intensif, serta (4) perbaikan saluran inlet.  

Penggunaan tandon filter biologis dilakukan dengan memelihara ikan nila dan bandeng untuk mengetahui keamanan air media, baik yang masuk maupun keluar dari kolam tambak. Tandon treatment juga diperlukan untuk menjamin keamanan air laut yang masuk dari saluran ke dalam kolam. Jika mengunakan sumur bor, diperlukan tandon khusus untuk men-treatment parameter air sumur bor agar sesuai dengan kriteria air media yang diharapkan, terutama dari sisi kandungan mineral yang ada di dalamnya.

Pengaturan waktu tebar terkait dengan jumlah tebar benur ke dalam petak tambak. Biasanya, kasus serangan WSSV terjadi pada musim hujan. Untuk menghindari risiko kerugian yang besar akibat kematian, padat tebar disarankan dikurangi. Jika pada musim kemarau padat tebar bisa 100 ekor per meter persegi, pada musim hujan dikurangi menjadi 50—70 ekor per meter persegi.

Komunikasi grup yang intensif antar petambak bisa dilakukan lewat pembuatan grup chat WhatsApp (WA). Dengan berkumpulnya para petambak, komunikasi terkait teknis pengelolaan tambak, terutama dalam hal sumberdaya yang digunakan bersama, bisa dilakukan dengan cepat dan efektif.

Sebagai contoh, tambak yang diketahui terinfeksi WSSV dan sedang membuang air tambak memberikan informasi ke grup. Dengan begitu, petambak lain yang berdekatan tidak melakukan pengisian air dari saluran tersebut. Setidaknya, ini merupakan solusi pragmatis ketika saluran inlet dan outlet antar-tambak masih menjadi satu.

Komunikasi intensif akan lebih efektif dengan terbentuknya organisasi petambak. Dengan terbentuknya organisasi petambak, informasi teknologi budidaya udang dan penanggulangan penyakit bisa berjalan dengan lebih baik.

Organisasi menjadi wadah bagi petambak untuk menyampaikan permasalahan budidaya serta meningkatkan peran nyata pihak pemerintah daerah dan swasta dalam menyukseskan budidaya udang yang berkelanjutan.

Pendalaman dan pelebaran saluran inlet sangat diperlukan untuk menjamin pasokan air media budidaya di tambak. Mengingat pentingnya saluran ini, upaya pendalaman dan pelebaran—jika memungkinkan—dilakukan secara swadaya. Tentu saja, bantuan dari pemerintah, baik pusat maupun daerah, untuk pendalaman saluran air yang mengalami pendangkalan akibat sedimentasi sangat membantu meringankan beban petambak.

“Behn Meyer melalui teknisinya juga membantu melakukan pengukuran kualitas air di tambak langsung, supaya action permasalahan di tambak lebih cepat ditangani,” tutur Joko.

Joko menghimbau, pemerintah, melalui dinas perikanan dapat secara berkala mengandeng swasta—baik perusahaan pakan, benur, dan obat—untuk dapat lebih berperan aktif dalam mendukung budidaya udang yang berkelanjutan di Lampung Timur.

Hal senada juga disampaikan Muhammad Fitri, Teknisi Pakan Gold Coin. Menurutnya, antisipasi munculnya serangan penyakit—salah satunya—lewat manajemen pakan yang ketat. “Pakan harus kualitas baik dan menggunakan pakan protein rendah, yaitu 30—32%. Hal ini disebabkan padat tebar rendah di bawah 100 ekor per meter persegi,” terangnya.

Fitri berharap, terjalin kerja sama antara petambak, stakeholder, praktisi, dan dinas perikanan terkait untuk membuat SOP standar sesuai kondisi di Lampung Timur. Diperlukan adanya komunikasi antara petambak dan teknisi, pabrik pakan, hatchery, teknisi obat-obatan, dan pembeli udang.

“Harus ada keterbukaan antar petambak. Jika ada masalah penyakit harus saling memberi informasi dan ditangani bersama,” pungkasnya. (Rochim/Adit/Resti)