Outlook Seminar Nasional Penyakit Ikan dan Udang 2019

Sebagai rangkaian pelaksanaan Aquatica Asia dan Indoaqua 2018, maka                     Majalah Info Akuakultur bekerjasama dengan Indonesian Network on Fish Health Manajemen (INFHEM) bermaksud menyelenggarakan Seminar Nasional Outlook Penyakit Ikan dan Udang 2019, dengan tema “Biosekuriti Tepat Produksi Meningkat”, yang akan dilaksanakan pada:

 

Hari/tanggal    : Kamis, 29 November 2018

Waktu             : Pukul 09.00 – 14.30

Tempat            : Ruang Lawu 2. Gedung Pusat Niaga, Lantai 6

Jakarta Internasional Expo (JI-Expo) Kemayoran, Jakarta.

Narasumber:

  1. Dr. Slamet Budi Prayitno (Guru Besar FPIK UNDIP)
  2. Heny Budi Utari, Ph. D (Head of Animal Health Service PT. Central Proteina Prima)
  3. rer.nat. Rahmania Admirasari, M.Sc. (Badan Pengkajian dan Penerapaan Teknologi)
  4. Heru Dwi Wahyono, M. Kom. (Badan Pengkajian dan Penerapaan Teknologi)

Moderator:

  1. Maskur, M.Si (Ketua Indonesian Network on Fish Health Management (INFHEM))

JADWAL SEMINAR NASIONAL

OUTLOOK PENYAKIT IKAN DAN UDANG 2019

 

 

Waktu Acara
08.30 – 09.00 Registrasi
09.00 – 09.10 Pembukaan
09.10 – 09.25 MoU majalah Info Akuakultur dengan Himpunan Perekayasa Indonesia (HIMPERINDO)
09.25 – 09.30 Foto Bersama
09.30 – 10.30 Outlook Penyakit Ikan dan Udang 2019

Oleh : Prof. Dr. Ir. Budi Slamet Prayitno, M.Sc

10.30 – 11.30 Perkembangan Penyakit Udang di Indonesia

Oleh : Dr. Heny Budi Utari, M.Sc

11.30 – 12.00 Diskusi
12.00 – 13.00 ISHOMA
13.00 – 13.30 Pengembangan Mikroalgae dalam Mendukung Industri Akuakultur

Oleh : Dr.rer.nat. Rahmania Admirasari, M.Sc.

13.30 – 14.00 Pengembangan Monitoring Kualitas Air dengan Sistem Online untuk Mendukung Industri Akuakultur Indonesia

Oleh : Ir. Heru Dwi Wahyono, M.Kom

14.00 – 14.30 Diskusi
14.30 Penutupan

Sehubungan dengan hal tersebut, maka kami harapkan bagi stakeholder perikanan semua kami tunggu kehadirannya. Atas kerjasamanya kami ucapkan terima kasih

Info Pendaftaran

Anang 081316312042

Rizky 089654733750

Mariyam 087778296375

Email: [email protected]

 

Biaya Pendaftaran : Rp 400.000,-/Orang

Fasilitas: Coffee Break, Lunch, Goodie bag, Name Tag, Certifikate

Transfer ke Bank Mandiri no. rek. 126.0002074119 a/n PT Gallus Indonesia Utama

Potensi Pasar Ikan Nila

Oleh : Ir. Anang Hermanta

Penyakit KHV (Koi Herpes Virus) menjadi momok menakutkan untuk perikanan air tawar sekitar tahun 2003, terlebih ikan mas yang paling banyak terjangkit penyakit ini. Hal tersebut membuat pembudidaya kemudian beralih ke ikan nila, terbukti dengan permintaan ikan nila di pasaran tergolong masih tinggi.

Hal ini wajar karena ikan nila merupakan komoditi ikan air tawar nomor dua terbesar setelah lele, diikuti oleh ikan mas, patin, gurame, bawal dan lain-lain. Dagingnya yang lembut dan tebal, bisa difillet, tidak banyak duri, bisa dijual dalam keadaan hidup atau mati, mudah diolah, menjadikan ikan nila banyak disukai masyarakat.

Permintaan akan nila tidak hanya dari pasar domestik, tetapi juga pasar ekspor. Beberapa perusahaan sudah secara berkala melakukan ekspor ikan nila ke Amerika dan Eropa. Tahun 2017 juga kami yakin budidaya ikan tawar akan meningkat, khususnya ikan nila dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia diatas 5%.

Pembangunan infrastruktur yang terus digarap akan menggairahkan perekonomian. Menggeliatnya harga produk tambang (batubara), produk perkebunan (sawit dan karet), akan meningkatkan daya beli masyarakat sehingga berefek positif terhadap konsumsi ikan, apalagi potensi budidaya ikan nila masih terbuka luas.

Beragam teknik dan area budidaya nila bisa dilakukan, mulai dari KJA, tambak, kolam deras, kolam air tenang dan lain-lain. Tidak seperti jenis ikan lain, keunggulan lainnya yang dimiliki ikan nila yang menjadikannya mudah untuk dibudidayakan yakni ikan nila bisa hidup di segala macam perairan dan berbagai kondisi.

Hal inilah yang membuat nila hampir bisa diterima oleh semua lapisan masyarakat dan semua etnis, sehingga tidak sulit menemukan ikan nila disemua pasar-pasar di Indonesia. Kisaran harga untuk ikan nila tentu berbeda-beda disetiap sentra budidaya, tergantung pada jumlah permintaan dan penyediaan layaknya produk pertanian.

Namun harga ikan di Jawa lebih rendah dibanding di luar Jawa. Pada kondisi normal harga di tingkat pembudidaya, dirata-rata dari berbagai daerah sekitar Rp 19 ribu per kilogram. Saat ini sudah dikembangkan nila salin yang bisa dibudidayakan di air asin (laut) dan menurut beberapa sumber, Indonesia termasuk negara produsen ikan nila terbesar no 2 setelah Tiongkok.

Angka produksi ikan nila di Indonesia, belum diketahui secara pasti, karena jika mengacu angka dari pemerintah, produksi ikan di Indonesia tinggi sekitar 4,5 juta ton. Sedangkan merilis dari data GPMT (Gabungan Perusahaan Makanan Ternak), produksi pakan ikan di Indonesia pada tahun 2015 sekitar 1,2 juta ton.

Selanjutnya Baca di Majalah Info Akuakultur

Pesisir Barat, Primadona Baru Petambak Udang Lampung

Sempat mengalami penurunan produksi tidak lantas membuat para petambak udang Lampung pasrah. Didukung soliditas dan perasaan senasib yang kuat, para praktisi tambak saling berkomunikasi lewat forum yang mereka bentuk, Forum Komunikasi Praktisi Akuakultur (FKPA). Adanya wadah komunikasi ini sangat membantu para praktisi petambak, yang nota bene-nya adalah para manajer pengelola yang bertanggung jawab atas keberhasilan usaha budidaya.

Serangan wabah penyakit WFD (white feses disease) dan WSSV (white spot syndrom virus) beberapa tahun lalu masih menyisakan luka. Tak hanya lokal Lampung, serangan wabah penyakit ini berimbas pada penurunan produksi udang secara nasional. Maklum, selama ini Lampung menjadi lumbung udang andalan ekspor Indonesia.

“Informasi terakhir dari teman-teman DKP, produksi nasional beberapa tahun belakangan ini agak menurun. Hal ini disebabkan adanya serangan penyakit, baik di Jawa Timur dan Lampung. Penyakit yang terbaru adalah white feses disease (WFD),” tutur Abeng.

Jangan melawan alam

Ketua FKPA Korwil IV ini juga mengatakan bahwa kunci paling utama dalam menjalankan usaha budidaya udang yang terjamin keberlanjutannya adalah manajemen kualitas air. Di samping itu juga jeli menilai kondisi lingkungan.

“Yang pasti, kalau kita mau budidaya yang bagus, artinya suistinable-nya jalan, ya kita harus bersahabat dengan alam. Itu kuncinya. Selama kita bisa bersahabat dengan alam, Insya Allah, budidaya masih bisa berjalan dengan bagus. Saya yakin,” ucapnya meyakinkan.

Sebagai ketua Korwil yang membawahi para petambak di wilayah Padang Cermin, Punduh Pidada, dan Hanura, ia selalu mengingatkan rekan sesama petambak saat berkumpul bersama untuk tidak berusaha melawan alam.

“Tidak ada ceritanya manusia bisa melawan alam. Pasti digulung oleh alam. Inilah pentingnya mempelajari dan memahami karakteristik alam,” ujarnya.

Salah satu bentuk memahami alam itu dengan mengamati karakteristik tambak saat pergantian musim. Pada saat kondisi kemarau, cuaca panas terik menyebabkan salinitas air tambak menjadi tinggi. Sementara pada musim hujan, suhu air turun drastis. Selain itu, air hujan yang turun dari gunung menuju muara dan laut lepas membawa polutan organik. Air menjadi keruh dan bisa menimbulkan masalah jika diambil untuk mengisi tambak. Dengan memahami kondisi lingkungan, pola budidaya bisa disesuaikan.

Sulitnya persoalan sumberdaya air ini juga dialami oleh Bimo, salah seorang petambak dari Kalianda. Ia mengaku bahwa sumber air memanfaatkan air sungai yang juga dihunakan oleh 3 farm atau tambak lainnya. Selain sebagai air masuk, sungai itu juga digunakan sebagai tempat pembuangan.

“Ini karena jarak tambak yang terlalu jauh dari laut, sekitar 1 km,” terangnya.

Untuk mengatasi kelemahan tersebut, anggota FKPA ini juga menerapkan sistem tandon sebagai langkah biosekuriti.

Dampak serangan WFD selama dua tahun terakhir memang luar biasa. Produksi tambak menurun jauh dengan SR 50—70%. Indikasinya bisa dilihat. Pada saat beban bahan organik di perairan kolam mulai naik, seiring dengan banyaknya polutan yang kita masukkan dan ketidakmampuan pembudidaya mengelola limbahnya, penyakit ini akan muncul.

Meskipun demikian, dibandingkan dengan negara lain seperti Thailand, produksi per hektar Lampung secara garis besar masih terkategori standar, antara 12—15 ton/hektar. Untuk pesisir Lampung Timur, pesisir Selatan (Kalianda dan Teluk Lampung) sampai ke Padang Cermin tampaknya agak sulit meningkatkan kapasitas produskinya. Rata-rata 12—15 ton, dan angka paling top 20 ton/hektar. Angka tersebut bisa dicapai setelah ada perombakan di konstruksi kolam.

Selengkapnya>> Baca Info Akuakultur Edisi Mei 2015