Waspada dan Cegah Penyakit Udang Bercak Putih atau White Spot Syndrome Virus

Penyakit udang bercak putih dan myo sangat membuat petambak udang cemas. Pasalnya, akibat yang ditimbulkan tidak tanggung-tanggung, kematian massal pada udang. Meskipun akibat myo tidak separah bercak putih, akhir-akhir ini muncul istilah ‘myo rasa WSS’, lantas, bagaimanakah pencegahan dan penanggulangannya?

Kematian udang di tambak

Penyakit bercak putih yang disebabkan oleh white spot syndrome virus (WSSV), menjadi kendala besar bagi para petambak udang, baik udang windu dan vaname dalam budidaya. Melacak jejaknya di masa lalu, penyakit ini pernah menjadi biang dari bangkrutnya industri udang windu nasional. Virus ini dapat mengakibatkan terjadinya kematian massal pada udang budidaya di segala usia.

Sementara itu, penyakit myo yang disebabkan oleh infectious myonecrosis virus (IMNV), meskipun tidak separah penyakit bercak putih, juga menyebabkan kerugian yang cukup serius diderita petambak.

Menurut catatan sejarah, pertama kali penyakit ini dideteksi pada kolam budidaya udang vaname di negara Brazil, Amerika Latin di tahun 2002. Penyakit yang menyebabkan nekrosis otot rangka, saluran pencernaan, dan ekor ini dapat menjadi penyebab kematian sekitar 70% pada udang vaname budidaya dalam satu siklus.

Empat tahun kemudian, tepatnya pada tahun 2006 sejak ditemukannya penyakit tersebut di seberang samudera, telah ditemukan penyakit serupa yang menyerang pertambakan di daerah Situbondo, Jawa Timur, Indonesia. Selanjutnya, penyakit menyebar ke berbagai daerah hingga kini dan menjadi musuh bersama para petambak udang vaname.

Faktor Lingkungan, Pemicu Terjadinya Penyakit Udang                      

Faktor lingkungan ditengarai menjadi salah satu pemicu terjadinya serangan penyakit WSSV dan myo. Menurut pemaparan salah seorang praktisi tambak udang, Eko Winasis, kedua penyakit tersebut biasanya muncul pada saat terjadi goncangan/perubahan kualitas air di tambak.

Di samping itu, kata Eko, kondisi lingkungan sekitar yang terpapar kedua virus tersebut sangat berpengaruh terhadap kemungkinan serangannya. Misalnya saja, serangan penyakit dapat terjadi pada saat petambak memasukkan air baru dan terdapat organisme carrier kedua virus tersebut yang terbawa masuk ke dalam tambak. Sehingga, pada akhirnya, kedua penyakit tersebut berkembang biak di tambak.

Seperti yang sudah diketahui umum, kedua penyakit ini dapat menyerang udang dengan akibat yang mematikan. Penyakit WSSV dapat menyerang udang vaname maupun udang windu.

Sementara itu, kata Eko, penyakit myo kebanyakan menyerang udang vaname. Kasus serangan penyakit myo pada udang windu jarang terjadi. Bahayanya, virus penyebab WSS menyerang udang pada segala usia. Serangan dapat terjadi pada awal tebar benur, pertengahan maupun pada fase akhir budidaya. Lain halnya, penyakit myo pada umumnya menyerang udang yang sudah berumur di atas 50 hari.

Penyebab Penyakit Udang dan Carrier

Baik penyakit bercak putih maupun penyakit myo, keduanya disebabkan oleh serangan virus yang banyak membuat para petambak udang khawatir. Tidak hanya pada udang windu, penyakit bercak putih juga dapat menyerang jenis udang vaname.

Kemunculan penyakit tidak hanya disebabkan oleh satu faktor saja. Di samping faktor lingkungan, faktor yang terkait dengan kondisi udang dapat memicu terjadinya infeksi. Inang dari virus ini adalah dari kelompok crustacea.

Eko mengungkapkan, hewan carrier/pembawa bibit penyakit dapat berupa cacing, burung, jentik nyamuk, dan makhluk hidup lainnya. Pada awalnya, udang yang pertama kali terserang adalah udang dengan kondisi tubuh yang paling lemah. Dari udang yang sudah terinfeksi, penyakit akan menyebar dan menular ke udang-udang lain yang sehat.

Secara umum, penyebaran dapat terjadi melalui peristiwa kanibalisme pada udang. Dimana, udang yang terinfeksi dimangsa oleh sesamanya sehingga terjadi perpindahan virus. Selain itu, pemanenan udang yang terkena penyakit berisiko tinggi menyebarkan penyakit pada udang-udang di tambak lain yang sehat.

Hal ini dimungkinkan terjadi karena peralatan-peralatan panen yang digunakan dapat membawa virus dan bibit penyakit dari tambak yang sudah terjangkit penyakit. Sementara itu, udang yang terinfeksi masih dapat mengandung bibit penyakit yang dapat menyebar ke udang lainnya yang sehat.

Gejala Serangan Penyakit Bercak Putih

Lebih jauh, menurut pemaparan Eko, udang yang sudah terinfeksi virus WSSV dapat ditengarai dari beberapa gejala yang tampak, di antaranya adalah udang berenang secara disorientasi, mengapung, dan terdapatnya bercak-bercak putih yang ditemukan pada karapas. Bahkan, lebih jauh lagi, berdasarkan temuan di lapangan, Eko menjumpai udang yang terinfeksi penyakit ini berwarna kemerahan seperti air teh.

Selanjutnya, pada tubuh udang terjadi perubahan warna dari merah muda menjadi kemerahan. Nafsu makan hilang pada udang yang sakit, beberapa hari setelah terjadi infeksi, udang akan berenang di permukaan air tambak dan tampak sekarat sebelum akhirnya mati.

Virus WSSV akan tumbuh optimal pada kisaran 18 – 30 oC, suhu normal pada tambak udang. Akan tetapi, virus akan cenderung berkembang biak lebih optimal pada suhu yang lebih tinggi pada rentang angka tersebut. Sementara itu, salinitas air tambak yang tinggi, pada kisaran 30 ppt, juga menjadi faktor lingkungan air yang dapat memicu perkembangbiakan virus WSS.

Lain lagi dengan penyakit myo, menurut pengakuan Eko, udang yang terserang penyakit myo biasanya ditengarai dengan kemunculan warna putih pada segmen 5 dan 6 (dekat ekor) pada badan udang. Selanjutnya, warna putih tersebut dapat berubah menjadi merah. Hal itu menjadi tanda adanya kerusakan daging pada bagian abdomen hingga ekor.

Sehingga, sekilas udang yang sakit tampak seperti udang yang sudah direbus. Meskipun penyakit myo dapat menyerang udang pada semua rentang usia, akibat penyakit ini tidak separah WSSV. Seperti halnya, WSSV, kanibalisme juga ditengarai menjadi salah satu penyebaran penyakit pada udang yang sehat.

Akibat Serangan Penyakit

Lebih jauh terkait akibat serangan penyakit, Eko memaparkan pengamalannya. Menurutnya, penyakit yang disebabkan WSSV dapat mengakibatkan membengkaknya angka kematian (mortalitas) pada udang. Tidak main-main, menurut Eko, populasi udang bisa habis dalam kurun waktu 2 hingga 3 hari saja pasca-infeksi. Hal inilah yang membuat para petambak ketar-ketir.

Sementara itu, angka mortalitas yang disebabkan penyakit myo cenderung tidak separah yang disebabkan WSSV. Akan tetapi, Eko mengakui, akhir-akhir ini, muncul banyak kekhawatiran di kalangan para petambak.

“Sekarang, muncul istilah ‘myo rasa WSS’, penyakit myo dengan tingkat mortalitas yang cepat dan tinggi,” papar Eko.

Pada udang yang terinfeksi penyakit myo, kematian akan terjadi pada hari ke-9 dan hari ke-13 pasca-serangan. Penyakit ini menyebabkan petambak boros dalam pemberian pakan. Pasalnya, rasio konversi pakan dapat merangkak naik pada kisaran 4,4 akibat serangan virus myo.

Dampaknya bisa ditebak. Kedua penyakit viral ini mengakibatkan kerugian ekonomi yang signifikan terhadap para petambak. Begitu juga, naiknya angka konversi pakan ke kisaran angka 4 sangat membebani petambak. Pasalnya, mereka harus mengeluarkan uang ekstra untuk memenuhi kebutuhan pakan udang yang membengkak.

Langkah Pencegahan dan Penanggulangan

Ketika ditanya terkait langkah pencegahan serangan penyakit bercak putih dan myo, Eko memaparkan pendapatnya pada Redaksi Info Akuakultur. Menurut alumnus Universitas Diponegoro ini, jawabannya adalah penerapan biosekuriti yang ketat. Aspek ini mencakup screening (penyaringan) organisme baik inang maupun carrier, manusia (pekerja, pengunjung, dll), dan juga sarana produksi tambak. Termasuk dalam langkah pencegahan penyakit ini adalah pengaturan jarak panen dan tebar yang tidak terlalu dekat, manajemen air tambak, dan pengaturan pakan yang baik.

Lantas, bagaimana pengendalian yang perlu dilakukan jika sudah terlanjur terjadi? Menurut Eko, jika tambak sudah terserang penyakit tersebut, ada beberapa langkah yang sebaiknya diambil oleh petambak. Jika udang terserang penyakit bercak putih (WSS), segera dilakukan pemanenan dini. Udang-udang yang sudah mati segera dikubur di dalam tanah. Selanjutnya, lakukan disinfeksi air tambak sebelum dialirkan ke saluran buang. Langkah ini untuk mencegah penularan penyakit melalui air buangan yang sudah mengandung virus.

Berikutnya, berdasarkan pemaparan Eko, ketika tambak sudah terlanjur terserang penyakit myo, lakukan perbaikan kualitas air tambak. Hal ini dilakukan jika masih belum parah dan memungkinkan untuk dilakukan. Namun, jika serangan sudah parah, petambak sebaiknya melakukan panen dini. Langkah selanjutnya seperti yang terjadi jika terserang penyakit WSSV. (Noerhidajat/Adit)

Tangkal TiLV Pada Ikan Nila Sejak Dini

Beberapa tahun belakangan, merebak penyakit virus pada ikan nila atau Tilapia Lake Virus (TiLV) yang diderita oleh beberapa negara produsen ikan tersebut membuat Indonesia menyetop stok impor. Kementerian Kelautan dan Perikanan melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) kemudian mengeluarkan surat edaran nomor 3975/DJPB/VII/2017 pada 14 Juli lalu.

Surat edaran tersebut berisi tentang pencegahan dan pemantauan terhadap Penyakit TiLV pada ikan nila. Setidaknya, ada lima langkah yang dapat dilakukan agar Indonesia terhindar dari TiLV, dan hal tersebut terus dilakukan secara sinergis dan koordinatif oleh seluruh stakeholder perikanan budidaya, mulai dari pelaku, peneliti/akademisi, dan pengambil kebijakan.

Dalam edarannya, DJPB mengatakan kelima langkah tersebut, pertama, melarang pemasukan calon induk, induk, dan/atau benih ikan Nila dari negara yang terkena wabah TiLV yaitu Israel, Kolombia, Ekuador, Mesir, dan Thailand.

Kedua, pemerintah membatasi pemasukan calon induk, induk, dan/atau benih ikan Nila dari negara yang tidak terkena wabah dengan memenuhi ketentuan wajib melampirkan izin pemasukan ikan hidup, melampirkan sertifikat kesehatan ikan dan uji hasil mutu.

Ketiga, Indonesia untuk sementara tidak melakukan kegiatan penebaran benih Tilapia di perairan umum. Keempat, akan dilakukan pengujian laboratorium di pintu pemasukan dan pengeluaran antar daerah untuk Nila.

Kemudian, kelima, pemerintah meminta seluruh Unit Pelaksana Teknis (UPT) lingkup DJPB dan Dinas Perikanan Provinsi/Kabupaten/Kota melakukan surveilan serta monitoring terhadap penyakit TiLV.

Hingga saat ini belum ada wabah dan atau laporan kasus penyakit TiLV di Indonesia yang menimbulkan kematian sangat tinggi dan atau kerugian ekonomi yang signifikan, seperti halnya yang terjadi di beberapa Negara terdampak.

Meskipun demikian, Taukhid mengatakan, “potensi kemunculan dan dampak negatif dari penyakit tersebut tetap harus disikapi secara proporsional dan terukur,” ujarnya.

Lantas, jika TiLV sudah terlihat menyerang kolam-kolam bagaimana antisipasi pertama yang harus dilakukan pembudidaya agar penyakit tersebut tidak menimbulkan dampak kerugian yang besar serta seperti apa pencegahan sejak dini TiLV yang harus dilakukan pembudidaya.

Taukhid memaparkan, gejala klinis umum yang mengindikasikan adanya infeksi TiLV pada ikan nila antara lain lemah, katarak (endophthalmitis), exopthalmia, penyusutan mata dan phthisis bulbi, pengelupasan kulit/erosi dan ulcus, kongesti ginjal, peradangan otak (encephalitis), dan pembengkakan di hati.

“Organ atau jaringan yang dipilih sebagai materi uji deteksi TiLV secara molekuler adalah mata, otak, hati, limpa dan ginjal,” kata Taukhid.

Langkah antisipatif untuk mencegah TiLV, menurut Taukhid, pada unit usaha atau kolam budidaya ikan nila antara lain dapat dilakukan melalui:

  1. Benih atau bibit ikan nila yang digunakan bebas dari infeksi TiLV yang dapat ditelusur (traceability) sumber populasi induk, baik dari sejarah asal usul maupun hasil pemeriksaan laboratorium.
  2. Pada kawasan budidaya ikan nila yang menggunakan sumber air yang sama (daerah aliran sungai/DAS), belum ditemukan adanya kasus penyakit tersebut.
  3. Memastikan bahwa prosedur budidaya ikan selalu dilakukan secara baik dan benar sesuai kaidah Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB).
  4. Membangun sistem informasi dini antar pelaku budidaya ikan nila terkait status penyakit tersebut.

Taukhid melanjutkan, apabila pada unit budidaya ikan nila terlihat adanya ikan-ikan yang menunjukkan gejala klinis disertai kematian yang diduga akibat penyakit tersebut, maka tindakan yang sebaiknya dilakukan adalah:

  1. Mengisolasi dan pemantauan secara intensif terhadap populasi ikan yang diduga terinfeksi TiLV.
  2. Menginformasikan kepada pihak terkait atau petugas yang kompeten untuk tindak lanjut penanganan teknis dan atau pengambilan sampel untuk pemeriksaan laboratoris dalam rangka konfirmasi penyebab utama penyakit tersebut.
  3. Pada populasi ikan nila yang sedang sakit, kurangi porsi pakan harian dan tambahkan unsur imunostimulan untuk menigkatkan ketahanan tubuh ikan.
  4. Pada kondisi kolam yang dapat dikontrol, upayakan flukutasi suhu air dalam periode 24 jam tidak lebih dari 2 oCelcius.
  5. Ikan yang mati segera diambil, selanjutnya dibuang/dikubur untuk memastikan bahwa bangkai ikan tersebut tidak berpotensi sebagai sumber penularan untuk ikan nila lainnya.

Belum ada obat atau bahan kimia yang efektif untuk mengobati ikan nila yang terinfeksi virus TiLV, kecuali penggunaan desinfektan untuk tujuan desinfeksi sarana dan prasarana selama proses produksi.

Beberapa informasi teknis menurut Taikhid yang mungkin perlu menjadi pertimbangkan dalam pengendalian penyakit TiLV pada budidaya ikan nila. Secara laboratoris, menurutnya, beberapa strain ikan nila yang telah berkembang di masyarakat memiliki tingkat resistensi yang berbeda terhadap penyakit TiLV.

Pola kematian ikan nila akibat penyakit TiLV berlangsung secara sub-akut hingga akut dengan masa inkubasi antara 1 – 14 hari. Individu ikan yang mampu bertahan hidup (survivors) akan mengalami proses penyembuhan, bertahan hidup dan terbentuk kekebalan terhadap penyakit tersebut. Namun status selanjutnya dari individu tersebut (potential carrier or totally eradicated) belum diketahui secara pasti.

“Faktor pemicu yang determinan terhadap munculnya kasus penyakit TiLV adalah fluktuasi suhu air yang cukup besar dalam periode 24 jam,” pungkas Taukhid. (Adit)

Diagnosa Cepat, Tepat dan Akurat Red Seabream Iridovirus Disease Pada Ikan Kerapu

Indonesia merupakan ekspotir ikan kerapu terbesar di dunia, Negara tujuan ekspor: Jepang, Taiwan, Thailand, Malaysia, Singapura, Vietnam, Brunei Darussalam, Filipina dan Hongkong. Ikan kerapu merupakan protogynous hermaphrodite (hermaprodit protogoni), dimana kerapu betina akan mengalami perubahan kelamin menjadi jantan.

Siklus virus Red Seabream Iridovirus Disease

Tiap jenis kerapu mengalami kematangan gonad pada ukuran dan umur yang berbeda, misalnya pada jenis kerapu lumpur, transisi dari betina dan jantan terjadi setelah ikan mencapai ukuran panjang badan 660-720 mm. Testis mulai matang pada ukuran tubuh 740 mm atau berat 11 kg.

Transformasi dari betina ke jantan memerlukan waktu yang cukup lama dan dalam kondisi alami. Kebutuhan ikan kerapu untuk konsumsi di pasaran semakin banyak sejalan dengan jumlah budidaya yang semakin meningkat.

Budidaya ikan kerapu dipengaruhi oleh penyakit menular yang disebabkan beberapa faktor salah satunya stres akibat kepadatan populasi dalam kolam pemeliharaan. Penyakit infeksius menjadi salah satu ancaman utama terhadap keberhasilan budidaya perikanan di Indonesia.

Beberapa kendala diantaranya morbiditas dan motalitas tinggi akibat penyakit Red Sea Bream Iridoviral Disease (RSIVD). Gejala klinis kerapu yang terinfeksi RSVID; ikan berenang lemah atau diam di dasar air, sehingga disebut juga penyakit tidur.

Perubahan makroskopis ascites, petechiae di insang, dan pembesaran limpa. Penularanya yang cepat dengan tingkat kematian yang tinggi menyebabkan kerugian ekonomi yang signifikan, RSIVD menjadi ancaman serius perkembangan perikanan budidaya di Indonesia.

Penularan dan penyebaran Iridovirus pada ikan dalam suatu populasi terjadi melalui air yang terkontaminasi virus. Diperlukan diagnosa yang cepat dan akurat untuk deteksi dini serangan penyakit,

Hasil Kit rapid test

sehingga dapat dilakukan langkah penanganan untuk meminimalisir dampak kerugian yang lebih besar.

Limpa merupakan salah satu organ hematopoietik, berfungsi sebagai lokasi penyaringan antigen, penyimpanan dan penghancuran eritrosit. Limpa terlibat dalam proses keradangan yang bersifat sistemik, gangguan hematopoietik dan metabolisme.

Limpa sehat bewarna merah tua atau hitam dengan tepi tajam yang terletak di antara lengkungan lambung dan usus. Limpa ikan berbeda dengan mamalia, pulpa putih dan merah yang menyebar dan tidak beraturan serta kerangka jaringan ikat yang tidak menonjol.

Limpa juga merupakan tempat berkumpulnya limfosit-limfosit aktif yang masuk ke dalam darah. Limpa memberi reaksi dengan cepat terhadap antigen yang terdapat dalam darah dan merupakan organ penting dalam proses aktivasi sistem imun adaptif.

Limpa merupakan organ filter imunologik dari sistem sirkulasi. Limpa ikan kerapu pada infeksi RSIVD terlihat beberapa sel limfoid pada pulpa putih membesar dan berisi badan inklusi (inclusion bodybearing cells: IBC) basofilik intrasitoplasma dan beberapa sel limfoid juga terlihat mengalami nekrosis (piknosis, karyorheksis dan karyolisis).

Pengembangan Diagnosa Cepat

Pada 30 November 2017, pengelola program Pasca sarjana Sain Veteriner FKH UGM   mengadakan seminar hasil penelitian yang berbasis inovasi dan teknologi. Dwi Sulistiyono mahasiswa pasca sarjana Sain Veteriner mempresentasikan hasil penelitian yang sangat menarik dengan tema Rapid Diagnostic Test Red Sea Bream Iridoviral Disease (RSIVD) Pada Ikan Kerapu  (Epinephelus. sp) Dengan Kit Ko-Aglutinasi dan Studi Molekuler.

Penelitian ini dibimbing oleh Dr. drh. Surya Amanu, SU dan Prof. drh. Kurniasih M.V.Sc, Ph.D yang menjadi pioner pengujian Rapid Diagnostic Test penyakit di Ikan di Indonesia. Kedua ahli dari FKH UGM tersebut merupakan supervisor yang sangat ahli dibidang penyakit ikan di Indonesia.

Kit ko-aglutinasi dipersiapkan dengan beberapa tahapan yang memmbutuhkan kejelian dan ketelitian dalam proses pembuatanya. Produksi antibodi RSIVD dari kelinci dengan penyuntikan antigen atau vaksin RSIVD.

Panen antibodi dilakukan setelah titer antibody mencapai level yang dipersyaratkan. Antibodi yang telah dipanen kemudian dipurifikasi untuk mendapatkan immunoglobulin G (IgG). Immunoglobulin G dicampurkan dengan volume sama dengan protein A yang diproduksi oleh Staphylococcus aureus.

Dalam presentasinya, Dwi menjelaskan bahwa metode diagnostik berbasis serologi yang memiliki kelebihan cepat, akurat dan  murah, memanfaatkan Antibodi (Ig) yang mempunyai sifat reaktifitas yang sangat spesifik terhadap antigen yang menstimulir terbentuknya antibodi tersebut, diikatkan pada protein A Staphylococcus aureus yang memiliki kemampuan unik untuk mengikat bagian Fc dari IgG meninggalkan Fab bagian imunoglobulin bebas untuk mengikat antigen.

Uji Laboratorium

Uji laboratorium menggunakan Kit rapid test untuk mengetahui adanya reaksi terhadap antigen RSIVD dalam vaksin. Antigen yang digunakan dari virus vaksin RSIVD. Satu vial vaksin RSIVD 1000 dosis diencerkan dengan NaCl fisiologis sampai 5 ml, sebanyak 0,5 ml larutan diambil kemudian ditambahkan NaCl fisiologis hingga 10 ml. Kit diteteskan di atas slide glass atau objek gelas sebanyak 50 µl ditambah antigen dalam vaksin dengan volume yang sama.

Uji reaksi silang dilakukan dengan menguji antigen yang sering menjadi penyebab penyakit pada ikan yaitu Viral Nervous Necrosa, Koi Herpes Virus, Streptococcus iniae, Edwarsiela tarda, E. ectaluri, Aeromonas salmonicida.

Uji ini untuk mengetahui apakah ada reaksi silang Kit dengan antigen lainya. Hasil positif pada uji reaksi silang akan terjadi aglutinasi ditunjukkan dengan adanya debris pasir.  Hasil negatif uji ditunjukkan tidak ada perubahan reaksi.

Uji Lapangan

Sampel ikan kerapu sakit dari tambak atau keramba diambil sampel berupa Limfa. Limfa diekstraksi dengan cara digerus dan ditambahkan PBS pH 7.2 kemudian dilakukan sentrifugasi 8000 rpm selama 20 menit.

Supernanatan diambil dan digunakan sebagai sampel antigen. Sampel antigen lapangan diteteskan di atas objek gelas sebanyak 50 µl dan ditambahkan Kit rapid test RSIVD dengan perbandingan 1:1.

Kontrol positif menggunakan antigen dari vaksin RSIVD, kontrol negatif digunakan PBS. Hasil positif RSIVD akan terbentuk aglutinasi dan terlihat adanya debris pasir. Hasil negatif tidak menunjukan perubahan. Uji ini memerlukan waktu kurang lebih 15 menit untuk melihat terjadinya reaksi ko-aglutinasi kamar.

Uji ko-aglutinasi sangat cocok dikembangkan untuk deteksi penyakit dilapangan karena cepat, murah, mudah ditafsirkan, spesifik, sensitif, dan tidak memerlukan peralatan khusus. Batas sensitivitas uji ko-aglutinasi 106 PFU/ml dalam pengujian virus pada sel kultur dan ikan yang terinfeksi dan 103 CFU/ml dalam pengujian bakteri, ko-aglutinasi sangat sederhana, cepat dan ekonomis dapat digunakan untuk deteksi langsung dari jaringan ikan yang sakit, tanpa harus mengkultur patogen terlebih dahulu dalam media.

Ko-aglutinasi merupakan metode serologi yang lebih sensitif jika dibandingkan  dengan iFAT maupun PAP, tidak memerlukan mikroskop fluoresens yang mahal sebagaimana dalam pengujian iFAT, sehingga lebih cocok digunakan untuk deteksi penyakit dilapangan. Hasil pengujian yang dapat diketahui dengan cepat memungkinkan pemilik tambak atau keramba dapat segera melakukan langkah antisipasi dan mengurangi resiko kerugian yang lebih besar.

Pengujian dengan ko-aglutinasi tidak hanya dikembangkan dalam deteksi pada penyakit ikan dan hewan, karena sensitivitas dan spesifitas yang tinggi ko-aglutinasi banyak juga dikembangkan dalam deteksi agen penyebab penyakit pada manusia, diantaranya deteksi antigen pneumococcus dalam dahak pasien pneumonia, deteksi antigen Salmonella typhi dalam penderita deman tifoid pada manusia dan pengembangan ko-aglutinasi sebagai rapid test dalam deteksi Vibrio cholerae penyebab diare langsung.

Pengujian dengan kit ko-glutinasi tidak bisa dilakukan dengan mengumpulkan beberapa sampel dalam sekali uji (pooling) karena dapat terjadi positif palsu maupun negatif palsu. Pengujian dengan Pooling dapat menyebabkan pengenceran antigen manakala sampel yang dilakukan pooling tidak semuanya positif atau mengandung antigen (virus).

Sehingga dapat menyebabkan kosentrasi antigen terlarut pada sampel tidak equivalen. Kosentrasi optimum untuk reaksi yang terlihat baik pada pengujian dengan kit ko-aglutinasi adalah 50 µl kit ko-aglutinasi dan 50 µl antigen (supernatan  sampel).

Pengujian cepat, tepat dan akurat sangat membantu menemukan permasalahan penyakit, mengurangi resiko kerugian yang lebih besar dan mementukan tindakan penanganan penyakit yang lebih cepat. (Joko Susilo)

 

Probiotik Herbal untuk Sukses Budidaya Udang

Mendengar kata herbal, yang ada dibayangan kita adalah bahan alami. CV Pradipta Paramita ciptakan produk-produk probiotik herbal untuk budidaya udang yang baik untuk udang dan aman untuk lingkingan tambak.

Pada pameran perikanan budidaya AQUATICA ASIA & INDOAQUA beberapa waktu lalu, CV Pradipta yang juga produsen obat ikan dan udang menarik perhatian pengunjung dengan produk-produk probiotik dan mineral untuk budidaya perikanan.

Pameran yang digelar 28-30 November di JIExpo Kemayoran, Jakarta ini menjadi tempat yang tepat untuk sharing informasi bagi para pelaku usaha budidaya perikanan di Indonesia. Khususnya, bagi para pengunjung yang mencari obat ikan, probiotik, atau  mineral untuk menunjang suksesnya budidaya udang.

Agnes Herarti

General Manager CV Pradipta Paramita Agnes Herarti, mengatakan, pada pameran kali ini CV Pradipta Paramita memperkenalkan produk-produk probiotik dengan bahan herbal. Lanjutnya, selain probiotik, juga punya produk mineral untuk nutrisi dan menanggulangi kesehatan tambak udang.

Agnes mengatakan, CV Pradipta Paramita ingin menyajikan produk probiotik yang terbaik untuk customer di Indonesia. Lanjutnya, probiotik yang ada di Indonesia saat ini kebanyakan dari luar negeri, sehingga harga jualnya otomatis tinggi berbeda dengan produk dari Indonesia yang lebih murah dengan kualitas yang sudah teruji.

Menurut Agnes, produk dari luar negeri belum tentu cocok untuk tambak di Indonesia karena pelru beradaptasi, berbeda jika produk dari dalam negeri seperti yang dibuat CV Pradipta Paramita yang sudah teradaptaasi untuk tambak udang di Indonesia.

Diantara produk-produk probiotik herbal untuk udang dari CV Pradipta Paramita, Agnes memaparkan, ada Aquxit Bacilus, Minaraya Udang, dan Zipro Ikan. Ketiga produk tersebut merupakan probiotik premium yang dibuat dengan bahan herbal dan uji laboratorium ketat yang baik untuk menunjang sukses budidaya udang.

Aquxit Bacilus

Aquxit Bacilus merupakan probiotik premium untuk udang yang di formulasikan dengan teknologi menghasilkan kombinasi sempurna dari probiotik konsentrasi tinggi dan nutrisi extra yang dibutuhkan untuk kekebalan dan pertumbuhan udang sejak benih hingga dewasa.

Penggunaan Aquxit Bacilus sendiri secara rutin dapat meningkatkan kualitas air, menghindarkan

penyakit, menghasilkan bakteri aktif yang menjaga ekosistem tambak dengan mengurangi sulfur/Hidorgen Sulfida (H3S), Amonia (NH3), Nitrat (NO2) sehingga efektif mengurangi Total Amonia Nitrogen (TAN), serta dan menciptakan tambak udang yang lebih menguntungkan.

Selain itu, CV Pradipta Paramita punya Minaraya Udang yang merupakan larutan yang diformulasikan secara berimbang antara probiotik pilihan dan herbal yang diproses secara higenis dalam pengawasan uji laboraturium yang mampu meningkatkan nafsu makan udang.

Nafsu makan udang dapat menurun, khususnya apabila sedang terjangkit penyakit atau pasca terjangkit penyakit. Misalnya, udang sedang terserang bakteri vibrio yang menyebabkan WFD maka nafsu makan akan menurun dan pertumbuhan udang akan terganggu/lambat.

Minaraya Udang

Herbal yang digunakan untuk menaikkan nafsu makan udang antara lain, Zingiber officinale, Curcuma domestica, Kaempferia galanga, Curcuma xanthorrizha, Curcuma aeruginosa yang mana herbal ini cukup berpengaruh dan memberikan efek positif pada nafsu makan udang.

Segudang manfaat dari Minaraya Udang diantaranya: Mengembalikan nafsu makan yang turun akibat terserang penyakit udang, meningkatkan pertumbuhan plankton sehingga menambah nafsu makan alami dan mengurangi pakan tambuhan, meningkatkan daya cerna (TDN) dan menurunkan FCR sehingga secara real dapat meningkatkan SR pada udang, meningkatkan Dissolved Oxygen (DO) dalam ekosistem kolam sehingga kolam makin bersih dan tidak terinfeksi penyakit dan meningkatkan pertumbuhan udang dan meningkatkan produksi.

Kemudian, yang jadi produk unggulan yakni Zipro Ikan. Ini merupakan perpaduan antara rempah-rempah (Zingiber officinale, curcuma xanthorrhiza, curcuma domestica, dll) yang diolah bersama Propolis menjadi antibiotik alami yang sangat cocok untuk meningkatkan kekebalan ikan dan mengikis kontaminan yang disebabkan oleh bakteri, jamur bahkan beberapa virus.

Zipro Ikan

Produk ini sangat aman sangat aman, dan bila digunakan dalam dosisi berlebihpun tidak menyebabkan residu antibiotik dalam tubuh ikan, sehingga ikan menjadi tetap aman. Manfaat yang sudah terbukti dari Zipro Ikan adalah dapat mengendalikan penyakit bercak merah pada ikan yang disebabkan oleh Aeromonas hydrophia & Pseudomonas hydrophyila.

Selain itu, dapat membantu meningkatkan stamina terhadap serangan Saprolegniasis sp. karena jamur, Saprolegnia, Achiya sp, Branchiomyses sp., membantu mencegah serangan penyakit Tuberculosis yang disebabkan oleh Mycobacterium fortoitum, mengendalikan serangan bintik putih karena infeksi jamur, SaprolegniaAchiya sp, Branchiomyces sp., mencegah serangan virus penyebab bintik putih pada ikan mas & ikan nila dari infeksi Epithelorra paputasam sp. dan mengendalikan serangan penyakit yang disebabkan infeksi bakteri, jamur atau virus (CCVD, SVC, IPN, LD, IHN, dll). (ADV)

DICARI AGEN PENJUALAN:
CV PRADIPTA PARAMITA
HUBUNGI 085725515154

Peran Probiotik Sukseskan Budidaya Vaname

Fabiola Yana Pradipta, S.TP
CV Pradipta Paramita – Biotehnology Industry

Tak dapat dipungkiri, kondisi air yang baik sangat mutlak dan penting dalam budidaya udang vaname. Hal ini disebabkan air menjadi media atau tempat bagi udang serta biota air lainnya hidup dan berkembang. Tak heran, banyak usaha dilakukan para pembudidaya untuk menjaga kualitas air dan keseimbangan lingkungan air.

Penerapan biosekuriti yang baik dapat mempertahankan kualitas air. Dengan menjaga keseimbangan pH, kecerahan air, dan parameter kualitas air lainnya, keberadaan penyakit dan virus bisa ditekan.

Salah satu poin yang dilakukan dalam biosekuriti di antaranya penggunaan probiotik, yaitu komponen dari feed suplement yang perannya saat ini tidak bisa diabaikan. Meskipun begitu, penggunaan probiotik juga harus tepat sasaran karena tidak semua probiotik memiliki fungsi yang sama.

Probiotik sebagai pengurai pakan

Probiotik bekerja dengan mengurai komponen pakan—baik dalam bentuk karbohidrat, lemak, atau protein—menjadi senyawa yang lebih sederhana seperti gula, asam lemak, dan asam amino.

Penambahan probiotik menyebabkan pakan menjadi lebih mudah dicerna oleh udang atau ikan. Dengan begitu, sisa pakan yang tidak tercerna menjadi semakin sedikit, penambahan bobot semakin tinggi, dan cemaran kolam semakin sedikit. Berkurangnya cemaran amoniak dan nitrit membuat kolam pun semakin sehat.

Enzim yang dihasilkan probiotik akan menguraikan bahan pakan yang ada. Disebabkan kandungan pakan beragam—seperti karbohidrat, protein, lemak dan mineral serta vitamin, probiotik yang berisi  mix-bacteria akan lebih efesien dalam mengurai pakan.

Keberadaan enzim pengurai yang dihasilkan probiotik membuat karbohidrat dengan gugusan komplek dan susah dicerna—baik selulosa, hemiselulosa lignin, dan pektin—lebih mudah terurai menjadi gula yang lebih sederhana. Dengan begitu, gula menjadi mudah diserap tubuh udang. Sementara enzim protease dan lipase yang dihasilkan probiotik membuat protein dan lemak lebih mudah terurai.

Probiotik yang berfungsi meningkatkan pencernaan antara lain Bacillus sp., Bacillus subtilis, Lactobacillus spp., dan beberapa jenis lainnya. Penelitian menunjukkan bahwa penggunaan Lactobacillus spp. pada udang selama 100 hari berturut-turut meningkatkan pertumbuhan dan daya tahan tubuh terhadap serangan Vibrio harveyi secara signifikan(1). Dalam Journal of Applied Microbiology ISSN 1364-5072 juga dikatakan bahwa udang yang diberi Bacillus subtilis E20 dalam pakan mengalami pertumbuhan sangat baik karena aktifitas enzim protease dalam pencernaannya meningkat.

Probiotik sebagai penjaga daya tahan tubuh

Penyakit yang disebabkan oleh bakteri dalam tambak dapat mengakibatkan rentetan masalah lain, mulai dari gagal tumbuh hingga kematian masal. Vibrio spp. merupakan salah satu bakteri patogen dalam tambak udang yang dapat menyebabkan kematian masal.

Meskipun penggunaan antibiotik dan obat kimia dapat mengatasi masalah akibat keberadaan bakteri ini, tetapi penggunaannya dapat menyebabkan drug resistance bagi konsumen udang. Penggunaan probiotik menjadi jawaban atas masalah tersebut, salah satunya dengan menggunakan Lactobacillus acidophilus.

Udang yang telah melalui treatment dengan L. acidophilus lebih tahan terhadap V. alginolyticus dalam tambak udang. (3) Sementara benur yang telah diberikan bakteri asam laktat sebanyak 5×106 CFU/g selama 4 minggu berturut-turut memiliki daya tahan tubuh yang lebih baik (SR 56-72%) ketika diserang V. Alginolyticus—lewat injeksi 0,1 ml yang mengandung 3×109 CFU/ml. (4)

Probiotik sebagai penjaga kualitas air

Dalam industri akuakultur, pengolahan tambak dan kolam biasa diikuti dengan adanya sisa pakan yang busuk, endapan kotoran, serta residu organik. Semakin lama, kualitas air semakin menurun, amoniak dan nitrit semakin menumpuk, dan potensi bahaya bagi ikan dan udang pun semakin besar.

Penggantian air secara berkala bsa menjadi solusi. Namun, selain mahal dan merepotkan, penggantian air bisa mengakibatkan polusi pada laut, sungai, dan lingkungan. Untuk mengatasinya, probiotik yang dapat digunakan sebagai solusi penjaga kualitas air di antaranya Bacillus amyloliquefaciens, yang mampu mengurangi nitrit. (2)

Masalah kualitas air tambak dan kolam lainnya adalah kehadiran BGA (blue green algae) atau cyanobacteria. Dalam tambak atau kolam, BGA menjadi momok bagi pembudidaya karena dapat menghambat pertumbuhan ikan dan udang.

Blooming BGA menyebabkan deoxygenation serta pelepasan racun yang menyerang saraf dan menyebabkan kematian, baik  pada ikan maupun udang. Kolam yang mengandung BGA mengeluarkan bau tidak sedap, yang disebabkan oleh metabolit sampingan dari BGA (geosmin dan 2-methylisoborneol). Penanggulangan cyanobacteria dapat diatasi dengan probiotik Bacillus cereus, yang dapat menyebabkan lisis atau hancurnya sel cyanobacteria.

Beberapa tambak di Indonesia telah menggunakan sistem bioflok atau semiflok, yang menggunakan keseimbangan plankton sebagai salah satu tolak ukur kesehatan tambak. Dalam Latin American Journal of Aquatic Research juga ditunjukkan bahwa probiotik dapat mempengaruhi jumlah bakteri heterotropis dalam endapan, nilai persentasi dari konsentrasi pyrrophyta, serta meningkatkan kualitas endapan dalam sistem tambak.

Manfaat penggunaan probiotik yang beragam tersebut dapat diambil sesuai kebutuhan dan kondisi yang sedang dihadapi pembudidaya. Perhatikan kesesuaian jenis probiotik dengan kondisi kolam dan dosis yang harus diaplikasikan.

Cermati pula industri penyedia probiotiknya. Pastikan perusahaan produsen probiotik tersebut sudah tersertifikasi dan memiliki Cara Pembuatan Obat Ikan yang Baik (CPOIB). (Ed: Rochim Armando)

Kecukupan Mineral Tambak, Jangan Diabaikan!

Ir. Suprapto

Technical Advisor

PT Indonesia Evergreen Feed

 

Seiring dengan maraknya usaha tambak udang, berbagai upaya untuk menyiasati lahan yang kurang memenuhi syarat untuk tambak pun dilakukan. Penerapan teknologi tambak plastik maupun semen semakin berkembang untuk mengatasi lahan dengan tanah poros, lahan gambut, maupun tambak tua, yang kondisi lahannya sudah rusak atau daya dukungnya telah menurun.

Adanya lapisan yang menyekat tanah dengan air—baik dengan penyemenan atau penggunaan plastik—tersebut membuat tanah tidak optimal dalam menyediakan mineral bagi media budidaya udang. Ditambah dengan penerapan biosekuritas yang ketat, suplai mineral dari lingkungan alam menjadi sangat terbatas. Hal ini terjadi akibat pembatasan jumlah air yang masuk ke dalam tambak dengan alasan untuk mencegah masuknya bibit penyakit. Kondisi ini diperparah dengan kecenderungan meningkatkan padat penebaran yang semakin tinggi sehingga tingkat kebutuhan mineral pun semakin naik.

Pentingnya mineral bagi lingkungan tambak

Mineral adalah substansi anorganik yang memiliki beberapa fungsi dalam tubuh hewan, di antaranya untuk menjaga proses metabolisme; sebagai pembentuk tulang, gigi, dan karapas; sebagai koenzim; serta menjaga keseimbangan tekanan osmotik dan asam-basa dalam tubuh. Namun kenyataannya, unsur-unsur tersebut sering diabaikan. (Sukarman dan Lili Solichah, 2012).

Berbagai mineral terkandung di dalam air laut dan tanah dasar tambak, baik berupa mineral makro maupun mikro. Kandungan mineral (garam) dalam air laut berkisar 31—38 gram per kg atau 31—38‰ dengan kandungan rata-rata 35‰ (35 gr/L, 599 mM) (Wikipedia). Perhitungan jumlah mineral dalam air laut dapat dilihat pada Boks 1.

Mikroba (bakteri) dan plankton merupakan organisme nabati yang sangat memerlukan mineral untuk kelangsungan hidupnya. Jika plankton dalam tambak stabil dan mikroba berkembang baik, kondisi lingkungan tambak pun menjadi baik. Dengan kondisi lingkungan yang baik, udang dan ikan yang ada di dalamnya juga tumbuh dengan baik dan tidak mudah terserang penyakit.

Dalam pertumbuhannya, fitoplankton membutuhkan mineral sebagai nutrisinya. Sebagai produsen primer, fitoplankton mampu mengubah C-anorganik (CO2) menjadi karbohidrat melalui proses fotosintesis dengan bantuan sinar matahari. Fitoplankton mengambil N dalam bentuk ammonium (NH4+) atau nitrat (NO3) untuk menyusun protein. Diperlukan pula mineral lain seperti orthophosphate (H2PO4 dan HPO4=) untuk menyusun ATP; magnesium untuk membentuk klorofil; serta trace element untuk pembentukan enzim dan hormon, serta untuk proses biokimia yang terjadi di dalam sel.

Seperti halnya plankton, bakteri juga membutuhkan mineral. Bakteri mengambil N, baik dalam bentuk organik maupun anorganik. Bakteri heterotrofik memanfaatkan N-anorganik (ammonia maupun nitrat), tergantung pada nilai C/N ratio. Jika C/N ratio tinggi (lebih dari 12) maka bakteri heterotrofik menggunakan N-anorganik seperti ammonia sebagai sumber nitrogennya (Ebeling et al, 2006). Bakteri juga menyerap P, baik dalam bentuk anorganik maupun organik. Selain itu, bakteri membutuhkan mineral seperti K, Na, Cl, Ca, Mg, S, serta mikro mineral seperti Fe, Mn, Mo, Cu, Zn, Co, B, Ni, maupun mikro mineral lainnya.

Terbatasnya persediaan mineral dalam lingkungan tambak dapat menyebabkan ekosistem menjadi tidak stabil dan tidak seimbang. Plankton menjadi tidak stabil dan mikroba pun tidak dapat berkembang dengan baik. Akibatnya, lingkungan menjadi goncang dan tidak stabil sehingga kualitas air menjadi tidak baik. Udang atau ikan pun menjadi mudah stress dan mudah terserang penyakit.

Sering ditemukan kasus udang yang terlihat kram saat dipantau perkembangannya lewat anco. Hal ini bisa disebabkan udang kekurangan mineral dan stress akibat dominasi plankton blue-green algae atau dinoflagellata. Selain itu, sering pula ditemukan kasus kulit udang lembek serta tidak bisa mengeras akibat kekurangan mineral kalsium dan fosfor.

Kasus kematian udang, yang sering ditemukan dengan kondisi banyaknya udang tanpa kulit, diduga akibat kekurangan mineral. Sementara PH dan alkalinitas yang terlalu rendah diduga sebagai penyebab utama terjadinya molting massal pada udang.

Selanjutnya Baca Majalah Info Akuakultur Edisi April 2018

Tahun 2018, Tahun Waspada Penyakit Ikan & Udang,

Indonesia diakui berhasil menangani berbagai macam penyakit ikan dan udang. Namun janganlah terlena dengan keberhasilan ini. Tahun 2018 semua pemangku kepentingan perikanan harus waspada terhadap tantangan penyakit.

IMG_20171129_143012Demikian terungkap dalam seminar nasional tentang Outlook Penyakit Ikan dan Udang 2018 dengan tema Menjaga Stabilitas Produksi Akuakultur dan Memenangkan Kompetisi di Pasar Global, yang berlangsung di ruang seminar STP (Sekolah Tinggi Perikanan) Pasar Minggu,  Rabu, 29 Nopember 2017. Seminar diselenggarakan oleh  Majalah Info Akuakultur bekerjasama dengan dengan Indonesian Network on Fish Health Management (INFHEM) dan Sekolah Tinggi Perikanan (STP) diikuti lebih dari 100 orang dari berbagai kalangan dan berbagai daerah, meliputi pelaku budidaya, industri pakan, industri obat ikan, peralatan budidaya perikanan, asosiasi bidang perikanan, para dosen, utusan pemerintah, peneliti. Beberapa di antaranya hadir dari Riau, NTT, lampung, Sidoarjo dan sebagainya.

Pelantikan Infhem oleh Dirjen Perikanan Budidaya
Pelantikan Infhem oleh Dirjen Perikanan Budidaya

Ketua STP Heri Edy memberikan sambutan pembukaan dilanjutkan dengan pengarahan oleh Dirjen Perikanan Budidaya Slamet Soebijakto yang sekaligus membuka secara resmi seminar nasional tersebut, dilanjutkan dengan melantik pengurus Infhem periode 2017-2020 yang dipimpin oleh Maskur (mantan Direktur Kesehatan Ikan dan Lingkungan).

Ketua STP maupun Dirjen menyambut baik acara seminar nasional ini dan mengharapkan seminar ini bermanfaat bagi peserta dan dapat menjadi agenda tahunan bagi Infhem maupun Info Akuakultur.

Dirjen Perikanan Budidaya menyampaikan berbagai upaya pemerintah dalam meningkatkan produksi perikanan serta berbagai upaya untuk mengendalikan penyakit ikan dan udang serta masalah-masalah lingkungan. Upaya menangani kasus upwelling misalnya, saat ini tengah diupayakan secara serius agar semakin berkurang di tahun mendatang. Ia mengharapkan peran serta semua pihak dalam mengendalikan penyakit. Infhem diharapkan memunyai peran besar untuk memberi masukan kepada pemerintah dalam upaya mengendalikan penyakit ikan dan udang.

IMG_20171129_142927Sesuai rencana , seminar menghadirkan 3 pembicara dengan kompetensi masing-masing yang sudah diakui reputasinya oleh publik, yakni Prof Dr. Slamet Budi Prayitno (Guru Besar FPIK UNDIP), Ir. Taukhid, MSc  (Peneliti di Badan Riset dan SDM Kelautan dan Perikanan, KKP), Dr. Yuri Sutanto (Peneliti PT. Central Proteina Prima). Seminar dipandu oleh Ir. Maskur, M.Si (Ketua Infhem) sebagai Moderator. Slamet Budi Prayitno menyampaikan paparan umum tentang situasi penyakit ikan dan udang serta prediksi penyakit tahun 2018, Taukhid memaparkan penyakit ikan  dan prediksi 2018, sedangkan Yuri Sutanto menyampaikan penyakit udang dan prediksi 2018.

Pemberian plakat oleh Maria dari STP
Pemberian plakat oleh Maria dari STP

Harapan terhadap Infhem juga muncul dari peserta seminar dalam sesi tanya jawab. Seorang peserta dari Lampung mengharapkan Infhem melibatkan kalangan industri pakan, dan pelaku budidaya, khususnya mereka yang berada di lapangan. “Para technical service perusahaan pakan mengikuti permasalahan lapangan setiap saat sehingga dapat berkontribusi besar dalam menyampaikan informasi kepada Infhem”,ujarnya.

Peserta lainnya ada yang menyayangkan perubahan struktur organisasi KKP dimana Direktorat Kesehatan Ikan dan Lingkungan dihapus, padahal masalah kesehatan ikan dan linIMG_20171129_152024gkunan adalah dua hal yang menyatu dan menjadi permasalahan utama kalangan pembudidaya.

Info selengkapnya mengenai hasil seminar akan dimuat di Majalah Info Akuakultur edisi desember 2017. (Bams)***

Kenali Fitoplankton dari Ciri dan Potensinya

Bagai dua sisi mata pisau, fitoplankton pun ada yang baik dan dan buruk. Kenali jenis dan cirinya agar budidaya udang tetap aman.

 

Keberadaan dan ketersediaan plankton dalam air media pemeliharaan udang khususnya jenis fitoplankton yang menguntungkan dan persentase dominanasi (keseimbangan) sangatlah dibutuhkan, baik dari segi keanekaragamannya maupun kemelimpahannya.

 

Darmawan Adiwidjaya Prekayasa di BBPBAP Jepara menjelaskan, fungsi dan peranan plankton pada air media pemeliharaan udang  diantaranya adalah sebagai pakan alami untuk pertumbuhan awal udang yang dipelihara dan sebagai penyangga (buffer) terhadap intensitas cahaya matahari.

Beberapa contoh jenis plankton (blue Green Algae) yang beracun, jenis yang harus diwaspadai keberadaannya di tambak udang

 

Selain itu, tambah Darmawan, plankton juga berfungsi sebagai indikator kestabilan lingkungan air media pemeliharaan. Pembuangan jenis plankton melalui pintu air, plankton negatif dan posistif yang ditemukan dalam air tambak dapat dikendalikan populasinya dengan manajemen pembukaan pintu air (monik), dengan mengenal karakteristik lapisan air yang disenangi masing-masing plankton (seperti terlihat pada Tabel 1).

 

Tabel  1.        Lapisan air yang dihuni berbagai jenis plankton dalam jangka waktu berbeda

 

Lapisan air

di Tambak

Pagi pk  08.00 Sore  pk 15.00 Tengah malam pk 03.00
1.      Permukaan

 

 

Cyanophyceae Ciliophora

Phytoflagellata

Annelida

Dinoflagellata

Arthropoda

Rotifera

2.      Tengah Air

 

 

Ciliophora

Phytoflagellata

Dinoflagellata

Arthropoda

Rotifera

3.      Dasar

 

 

Annelida (cacing)

Dinoflagellata

Arthropoda

Rotifera

Cyanophyceae Ciliophora

Phytoflagellata

Annelida

Keterangan:        Biota dengan huruf tebal  (bold)  merupakan jenis yang harus diperhatikan kemelimpahannya (tidak boleh lebih dari 50 % ) melalui  pengamatan pada  sedwich rafter atau haemocytometer.

 

Darmawan mengatakan, untuk mempertahankan kondisi kestabilan plankton tersebut maka dilakukan pemupukan awal dengan dosis 5 – 10 ppm (jenis pupuk yang siap pakai, pupuk hasil permentasi kombinasi) dan pemupukan susulan dengan dosis 3 – 5 ppm.

 

Karena pada awal pemeliharaan biasanya sering terjadi fluktuasi pertumbuhan dan kemelimpahan plankton, maka dilakukan inokulasi plankton secara periodik (susulan) dengan dosis disesuaikan dengan kecerahan air.

 

Kecerahan air akibat keberadaan plankton yang baik pada petak pembesaran jenis udang putih lokal ini adalah berkisar antara 40 – 50 cm, sedangkan kecerahan air pada petak distribusi air suplai diusahakan selalu di atas 50 %.

 

“Apabila pada petak pembesaran terjadi kepekatan (blooming) plankton (kecerahan air di bawah 25 cm), maka dilakukan pengenceran air dengan cara menambah air baru yang sudah steril (disuplai dari petak air baku siap pakai/petak karantina),” ujar Darmawan.

Selanjutnya Baca di majalah Info Akuakultur

 

 

GRATIS Seminar Info Akuakultur : Sustanaible Shrimp Culture, Strategi Petambak Thailand Melawan WFD

Dalam rangka pameran Indo Fisheries Expo & Forum yang berbarengan dengan pameran Indolivestck Expo & Forum di Grand City Convex Surabaya 17-19 Mei 2017, Majalah Info Akuakultur menyelenggarakan seminar tentang Sustanaible Shrimp Culture dengan topik Strategi Petambak Thailand Melawan WFD.
 
Dalam seminar ini akan dibahas pula topik khusus:  “White Feces Syndrome & IMNV Diseases with INVE Solution” dengan pembicara Dr. Tavatchai Chidchomsrichantra 
Acara ini  GRATIS untuk 30 pendaftar pertama.
Berikut informasinya :
Hari, tanggal  : Jum’at 19 Mei 2017
Pukul               : 14-30-16.30 wib
Tempat            : Ruang Theater 1 Indolivestock Expo & Forum 2017
                             Grand City Convex, Surabaya
Pembicara       : Dr. Tavatchai Chidchomsrichantra 
Moderator       ; Wawan Siswanto
Susunan Acara:
  1.  Registrasi ulang & coffee break
  2.  Pembukaan
  3.  Presentasi Pembicara
  4.  Tanya Jawab
  5.  Penutup

Seminar ini didukung oleh PT Inve Indonesia 

Pendaftaran, segera hubungi Mariyam Hp 0877 7829 6375 

 

Waspada, Kini WFD Serang Udang Lebih Dini!

Biasa menyerang udang di usia 60 hari, kini WFD terdeteksi menyerang di usia 40 hari.

Penyakit berak putih atau White feces diseases (WFD) sangat meresahkan karena mulai menyerang udang pada umur 60-an hari, ketika akumulasi limbah organik meningkat serta kepadatan plankton tinggi (kecerahan <50 cm). “Namun demikian akhir-akhir ini ada beberapa kasus terjadi pada umur 40-an hari,” ujar Ketua Program Magister Manajemen Wilayah Pesisir dan Laut Universitas Lampung, Dr. Supono, S.Pi.M.Si.

Penyakit WFD sebenarnya merupakan penyebab utama kegagalan budidaya udang windu pada akhir tahun 1990-an  setelah penyakit white spot syndrome virus (WSSV).  Tidak seperti WSSV yang menyebabkan kematian secara sporadis, WFD menyebabkan kematian secara perlahan-lahan yang didahului dengan penurunan nafsu makan udang, saluran pencernaan tidak penuh (putus-putus) dan munculnya kotoran putih di permukaan air.  Apabila kondisi ini berlanjut maka akan muncul kematian udang secara masal.

Pada awal munculnya budidaya udang vaname awal tahun 2000-an, WFD tidak ditemukan lagi pada budidaya udang.

“Hal ini memunculkan anggapan bahwa habitat udang vaname yang hidup di kolom air menyebabkan terbebas dari serangan WFD,” tukas Supono.

 

Namun seiring berjalannya waktu, kepadatan penebaran vaname diitingkatkan, limbah organik meningkat menyebabkan degradasi kualitas air, menurunkan daya dukung lingkungan sehingga merangsang tumbuhnya patogen dalam tambak. Pada tahun 2013 WFD sudah mulai banyak ditemukan petambak di Indonesia.

Laporan kegagalan budidaya udang vaname akibat WFD telah meresahkan petambak sehingga bayang-bayang kegagalan budidaya udang windu mulai terasa.  Perusahan udang besar di Lampung maupun perusahaan udang skala menegah dan kecil mulai mengalami kegagalan akibat WFD.

Begitu juga dengan sentra-sentra tambak udang di Pulau Jawa juga mengalami permasalahan yang sama.

“Permasalahan penyakit kotoran putih ini jika tidak ditangani secara serius akan menyebabkan kegagalan budidaya udang vaname secara masal  di Indonesia seperti halnya penyakit WSSV pada budidaya udang windu,” Paparnya.

WFD ini menyebabkan nafsu makan udang mengalami penurunan terus-menerus serta  pertumbuhan terhambat. Jika tidak cepat ditangani, udang akan mengalami kematian secara masal sehingga menimbulkan kerugian petambak.

Tambak yang terserang WFD akan mengalami kehilangan banyak biomasa udang sehingga FCR (Feed Convertion Ratio) akan meningkat.  Penyakit ini sangat meresahkan petambak udang karena sampai saat ini penggunaan obat-obatan belum secara pasti dapat menyembuhkan.

Selanjutnya Baca di Majalah Info Akuakultur