Sinergitas Supply Chain Pelaku Usaha Perikanan

Sinergitas Supply Chain Pelaku Usaha Perikanan

Oleh:
Atikah Nurhayati
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran

Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 45 Tahun 2009 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 Tentang Perikanan, bahwa Perikanan merupakan semua kegiatan yang berhubungan dengan pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya ikan dan lingkungannya mulai dari praproduksi, produksi, pengolahan sampai dengan pemasaran yang dilaksanakan dalam suatu sistem bisnis perikanan.

Ikan merupakan segala jenis organisme yang seluruh atau sebagian siklus hidupnya berada di dalam lingkungan perairan, sedangkan hasil produk perikanan merupakan ikan yang ditangani, diolah, atau dijadikan produk akhir yang berupa Ikan, hidup, ikan segar, ikan beku, dan olahan lainnya.

Penangkapan ikan merupakan proses kegiatan untuk memperoleh ikan di perairan yang tidak dalam keadaan dibudidayakan dengan menggunakan alat tangkap, termasuk kegiatan yang menggunakan kapal untuk memuat, mengangkut, menyimpan, mendinginkan, menangani, mengolah, atau mengawetkannya.

Pembudidayaan ikan merupakan proses kegiatan untuk memelihara, membesarkan, atau membiakkan ikan serta memanen hasilnya dalam lingkungan yang terkontrol. Bahan baku ikan merupakan Ikan termasuk bagian-bagiannya yang berasal dari hasil tangkapan maupun budidaya yang dapat dimanfaatkan sebagai faktor produksi dalam pengolahan hasil produk perikanan.

Komoditas perikanan memiliki karakteristik produk yang bersifat unik dibandingkan dengan komoditas lainnya, secara fisik dari aspek struktur tubuh ikan termasuk ukuran dan berat serta kandungan protein, lemak, vitamin serta senyawa lainnya yang bersifat heterogen antara satu species dengan species yang lainnya.  Kandungan air yang tinggi pada tubuh ikan menyebabkan mudah dicerna oleh enzim autolisis sehingga menyebabkan ikan menjadi mudah busuk (perisable) dan kandungan asam lemak tak jenuh mengakibatkan oksidasi sehingga menyebabkan bau tengik pada ikan.

Oleh karena itu diperlukanan penanganan yang tepat dan relevan dalam penanganan dan saluran distribusi dari setiap pelaku usaha perikanan untuk mempertahankan mutu dan kualitas ikan, dengan jalur rantai pasok (supply chain) dari pelaku usaha perikanan ke konsumen akhir yang harus efisien dan efektif.

Pelaku usaha perikanan yang meliputi nelayan, pembudidaya, pengolah dan pemasar produk perikanan. Usaha perikanan dilaksanakan dalam sistem bisnis perikanan, meliputi praproduksi, produksi, pengolahan, dan pemasaran.  Pelaku usaha perikanan dalam melaksanakan bisnis perikanan harus memperhatikan standar mutu hasil perikanan.

Apa itu SCFM?
Supply Chain Fisheries Management (SCFM) memegang peranan penting bagi pelaku usaha perikanan yang meliputi nelayan, pembudidaya, pengolah produk perikanan dalam memasarkan produknya untuk sampai kepada konsumen akhir.

SCFM merupakan proses input sampai output produk perikanan yang melimputi penyediaan input produksi perikanan seperti benih ikan, pakan, alat tangkap perikanan, kapal, karamba jaring apung, tenaga kerja, inovasi teknologi, modal dan sebagainya. Sampai menghasilan ouput perikanan berupa ikan segar untuk konsumsi, olahan ikan dan sebagainya dalam memasuki pasar sampai ke konsumen akhir, sehingga menitikberatkan pada bagian proses distribusi yang dapat digunakan untuk mencari titik optimum jalur distribusi.

Titik optimum dimaksudkan untuk menentukan jarak tempuh terpendek dan waktu tempuh tercepat dengan mempertimbangkan faktor tekait distribusi produk perikanan seperti waktu tempuh, jarak, pasokan dan permintaan produk perikanan. Titik optimum ini yang menentukan value creation pada produk perikanan disamping value added produk perikanan.

Kesenjangan antara pasokan produk perikanan dan permintaan produk perikanan merupakan salah satu masalah dalam rantai pasok perikanan yang dapat digambarkan dalam routing problem yang merupakan suatu permasalahan penting yang terdapat pada sistem transportasi yang bertujuan meminimalkan jarak tempuh agar biaya pengoperasian efisien atau trasnportasi dari pelaku usaha perikanan sampai ke konsumen akhir dengan titik optimum.

Setiap konsumen memiliki preferensi produk perikanan yang berbeda-berbeda, hal ini berkaitan dengan bagaimana pelaku usaha usaha mampu menyediakan produk perikanan secara kuantitas, kualitas dengan harga yang tepat untuk sampai ditangan konsumen akhir.

Produk perikanan yang berkualitas tergantung dari input produksi yang dipergunakan selama proses produksi, penanganan panen, penanganan pasca panen sehingga diharapkan mampu mencapai proses produksi yang efisien.

Perhatian pemerintah terhadap rantai pasok produk perikanan tertuang pada Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No 5/PERMEN-KP/ 2014 tentang Sistem Logistik Ikan Nasional (SLIN).

SLIN yang bertujuan untuk: (1) meningkatkan kapasitas dan stabilisasi sistem produksi dan pemasaran perikanan nasional; (2) memperkuat dan memperluas konektivitas antara sentra produksi hulu, produksi hilir dan pemasaran secara efisien; dan (3) meningkatkan efisiensi manajemen rantai pasokan ikan, bahan dan alat produksi, serta informasi dari hulu sampai dengan hilir.

Kebijakan pengembangan pemasaran produk perikanan di dalam negeri didorong menuju peningkatan daya saing dengan memperhatikan preferensi konsumen dan target pasar melalui dukungan penguatan: konektivitas, market intelligence, kelembagaan, sarana prasarana dan meningkatkan  permintaan produk perikanan. Kebijakan Supply Chain Fisheries Management (SCFM) berfokus pada sinergitas supply chain dari pelaku usaha perikanan (hulu) termasuk proses produksi termasuk industri pengolahannya hingga pemasarannya untuk sampai kepada konsumen akhir (hilir). (Ed: Adit)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.