Marikultur Tangguh, Ekonomi Pesisir Tumbuh

Oleh: Atikah Nurhayati
Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran

Di tengah tekanan perubahan iklim dan dinamika pasar global, pelaku usaha marikultur dituntut semakin adaptif dan efisien. Bukan sekadar menjaga produksi, strategi bisnis yang tepat menjadikan marikultur sebagai penggerak utama pertumbuhan ekonomi pesisir yang berkelanjutan.

Wilayah pesisir Indonesia menyimpan potensi besar sebagai motor pertumbuhan ekonomi biru. Di tengah tekanan fluktuasi ekonomi global dan perubahan iklim, marikultur—budidaya organisme laut di habitat alaminya—menjadi salah satu strategi kunci dalam memperkuat ketahanan ekonomi pesisir sekaligus menjawab kebutuhan protein nasional.

Marikultur mencakup berbagai komoditas bernilai tinggi, mulai dari ikan seperti kerapu dan kakap, krustasea seperti lobster, moluska seperti kerang mutiara dan tiram, hingga tanaman laut seperti rumput laut. Sistem budidayanya pun beragam, seperti keramba jaring apung (KJA), longline, hingga raft culture, yang disesuaikan dengan karakteristik komoditas dan perairan.

Dari sisi pasar, peluang marikultur masih sangat menjanjikan. Permintaan ekspor ikan kerapu hidup ke pasar Asia Timur seperti Tiongkok dan Hong Kong tetap kuat, dengan harga berkisar Rp150.000–200.000/kg pada 2025. Lobster dari genus Panulirus juga memiliki pasar global yang luas, terutama ke China, Australia, dan Vietnam. Sementara itu, komoditas seperti kerang mutiara dan rumput laut—terutama Eucheuma cottonii dan Gracilaria—terus menunjukkan prospek ekspor yang stabil.

Namun, di balik peluang tersebut, marikultur menghadapi tantangan struktural yang tidak ringan. Perubahan iklim menjadi faktor dominan yang memengaruhi produktivitas. Kenaikan suhu laut dapat mengganggu metabolisme organisme budidaya, menurunkan nafsu makan, hingga meningkatkan kerentanan terhadap penyakit. Fenomena gelombang panas laut bahkan berisiko memicu kematian massal. Di sisi lain, pencemaran laut akibat limbah dan sampah plastik semakin memperburuk kualitas lingkungan budidaya.

Tekanan juga datang dari sisi ekonomi. Guncangan pasar global dapat menurunkan daya beli dan memperlemah rantai pasok. Biaya logistik yang tinggi, keterbatasan fasilitas cold storage, serta ketimpangan informasi harga masih menjadi hambatan klasik dalam sistem pemasaran hasil marikultur.

Dalam konteks ini, resiliensi menjadi kata kunci. Pelaku usaha marikultur dituntut tidak hanya adaptif, tetapi juga strategis dalam mengelola risiko. Salah satu pendekatan penting adalah penerapan Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) yang dipadukan dengan efisiensi input produksi. Selain itu, sistem polikultur atau Integrated Multi-Trophic Aquaculture (IMTA) mulai dilirik sebagai solusi untuk meningkatkan efisiensi ekologi sekaligus nilai ekonomi.

Transformasi teknologi juga memainkan peran penting. Pemanfaatan sensor berbasis early warning system memungkinkan pemantauan kualitas air secara real time, sehingga risiko akibat perubahan lingkungan dapat diantisipasi lebih dini. Digitalisasi dalam pemberian pakan menjadi solusi atas keterbatasan tenaga kerja sekaligus meningkatkan efisiensi operasional.

Dari sisi pembiayaan, penguatan akses terhadap asuransi perikanan dan sumber modal digital menjadi langkah strategis untuk menjaga keberlanjutan usaha. Peran kelembagaan seperti koperasi juga penting dalam memperkuat posisi tawar pelaku usaha, khususnya dalam menghadapi dinamika pasar.

Ke depan, pengembangan kawasan marikultur terintegrasi dari hulu hingga hilir menjadi keniscayaan. Pendekatan berbasis kawasan yang memperhatikan kesesuaian parameter oseanografi seperti suhu, salinitas, dan pH akan meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan. Integrasi rantai nilai, mulai dari penyediaan input, produksi, pascapanen, hingga pemasaran, menjadi fondasi dalam menciptakan sistem bisnis marikultur yang tangguh.

Pada akhirnya, resiliensi marikultur tidak hanya ditentukan oleh kemampuan bertahan terhadap krisis, tetapi juga oleh kapasitas untuk bertransformasi. Ketika teknologi, manajemen risiko, dan kelembagaan berjalan seiring, marikultur bukan sekadar aktivitas produksi, melainkan pilar penting dalam membangun ekonomi pesisir yang berdaya saing dan berkelanjutan.

Marikultur yang adaptif dan terintegrasi bukan hanya menjaga keberlanjutan usaha, tetapi juga memastikan pesisir tetap menjadi pusat pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian global.

banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.