Teknik Stunting Budidaya Bandeng Bisa Panen 3-4 Kali Setahun

Oleh: Abdul Salam Atjo – Penyuluh Perikanan Madya

Ikan bandeng (Chanos-chanos Forks) masih menjadi komoditas andalan pembudidaya tambak di kabupaten Pinrang. Sejak udang windu banyak dilanda masalah maka beruntunglah petambak masih bisa panen bandeng.

Selama ini bandeng dibudidayakan secara polikultur dengan udang windu. Banyak pembudidaya masih bertahan diusaha tambak karena ditopang oleh ikan bandeng. Sejak dahulu bandeng sudah menjadi ikan peliharaan di tambak air payau. Selain tidak mudah terserang penyakit, cara budidayanya pun tidak sulit.

Teknologi budidaya bandeng  selama ini dilakukan tradisional secara turun-temurun. Hal inilah yang menyebabkan produksi belum meningkat secara signifikan. Sejak pertengahan tahun 2018, kelompok pembudidaya ikan (Pokdakan) Cempae desa Waetuoe kecamatan Lanrisang, Pinrang mencoba budidaya bandeng teknologi tradisional plus dengan penerapan teknik stunting (pengerdilan)

Teknik stunting atau menkerdilkan ikan bandeng sebelum dibudidayakan di tambak pembesaran merupakan teknik lama namun baru sebagian kecil petembak yang menerapkan. Padahal cara ini sangat menguntungkan pembudidaya. Selain produksi meningkat, waktu budidaya yang digunakan juga singkat. Sehingga dalam setahun petambak bisa melakukan panen 3-4 kali.

Pemilihan lokasi tambak budidaya bandeng merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan budidaya. Dalam memilih lokasi tambak paling tidak mudah dijangkau pasang surut air laut, bebas dari banjir dan tanah untuk pematang tambak tidak mudah bocor.

Dalam merancang bangunan tambak minimal ada satu petak pendederan dan satu petak pembesaran. Petak pendederan atau penggelondongan inilah yang digunakan untuk mengerdilkan pertumbuhan nener bandeng sebelum dipindah masuk ke petak pembesaran.   Pada lahan tambak percontohan di Pokdakan Cempae memiliki luas petak penggelondongan sekitar 1.500 m² ditebar 10.000 ekor nener langsung dari hatchery (pembenihan).

Mempersiapkan lahan tambak sebelum ditebar nener bandeng seperti hal yang sudah biasa dilakukan petambak pada umumnya. Lebih dahulu kita lakukan pengeringan dasar tambak agar dapat melepas gas beracun dan mematikan hama.

Selama masa pengeringan yang berlansung sekitar 15-20 hari juga dilakukan bersamaan perbaikan pematang dan pintu air tambak dari bocoran. Paling penting dalam mempersiapkan petak tambak adalah pemupukan dasar untuk meransang tumbuhnya makanan alami seperti lumut, klekap dan plankton.

Sambil mempersiapkan petak pembesaran yang luasnya sekitar 1 hektare, proses penggelondongan sudah berjalan di petak pendederan. Ketika makanan alami sudah tumbuh maka gelondongan bandeng sudah dapat dipindahkan ke petak pembesaran.

Untuk menyuburkan makanan alami di tambak dipupuk dengan Urea, SP36 dan petroganik. Pada pemupukan dasar digunakan dosis 200 kg urea, 100 kg SP36 dan 300 kg petroganik. Ketiga jenis pupuk tersebut dicampur rata kemudian disebar dibagian dasar pelataran tambak.

Pemupukan dasar dilakukan pada kondisi dasar tambak berair setinggi mata kaki lalu dibiarkan mengering sebelum dilakukan pemasukan air kembali. Hal ini dimaksdukan agar proses tumbuh klekap berjalan cepat.

Siklus pertama tambak ujicoba budidaya bandeng teknik stunting ditebar 3.200 ekor gelondongan bandeng yang berasal dari petak pendederan. Setelah dipelihara sekitar 60 hari bisa menghasilkan panen bandeng sekitar 825 kilogram.

Selama masa pemeliharaan yang selalu dipertahankan adalah kualitas air dan pertumbuhan makanan alami berupa plankton dan lumut. Memasuki bulan kedua jelang panen dipacu pertumbuhan dengan memberikan makanan tambahan berupa pellet sebanyak 30 kilogram perhari.

Setelah panen, petakan tambak  langsung dikeringkan dan persiapan untuk siklus kedua. Seperti hal dengan siklus pertama persiapan tambak meliputi peneringan, perbaikan bocoran pematang dan pintu air tambak, pemberantasan hama dan penumbuhan makanan alami.

Penebaran anakan bandeng dari petak pentokolan sebanyak 3.000 ekor  pada tanggal 19 Desember 2018. Anakan bandeng tersebut berukuran panjang 7-10 cm namun kerdil. Kerdil karena selama di petak penggelondongan makanannya tidak mencukupi dan ruang geraknya terbatas. Begitu di lepas di petakan tambak yang lebih luas dan padat makanan alami maka otomatis rakus makannya.

Itulah sebabnya, anakan bandeng yang dikerdilkan pertumbuhannya di patakan tambak yang luasnya terbatas setelah dipindah di petakan luas dan padat makanan alami maka pertumbuhan drastis dan cepat panen.

Tambak percontohan yang ditebar pada 19 Desember 2018 sudah panen pada 19 Februari 2019 lalu. Hasilnya mencapai sekitar 700 kilogram. Kini petambak sedang melakukan persiapan lahan untuk siklus ketiga kalinya.

Jadi dalam setahun petambak dapat melakukan budidaya  sebanyak 3-4 siklus. Setiap siklus petambak dapat peroleh omzet sekitar 10-15 juta. Bila dibanding dengan cara biasa yang selama ini dilakukan petambak hanya bisa dapat omzet sekitar 5-7 juta per panen atau 4-6 bulan sekali panen. (Ed: Adit)

Mengupas Tantangan Budidaya Udang di Pesisir Timur Lampung

Keuntungan berlipat yang diperoleh dalam waktu relatif singkat memang menjadi daya tarik budidaya udang vaname yang sangat memikat. Begitu pula potensi budidaya udang di pesisir timur Lampung. Namun, di balik keuntungan, ada pula tantangan yang harus dihadapi para petambak.

Pemilihan jenis udang vaname sebagai jenis udang unggulan dan favorit petambak udang di Lampung Timur bukan tanpa sebab. “Alasannya, kualitas benih yang bagus (SPF) tersedia,  tingkat kelangsungan hidupnya tinggi, pertumbuhannya cepat, produktivitas tinggi, dan bisa hidup dengan baik pada salinitas rendah,” ungkap Dr. Supono, S.Pi., M.Si., Kaprodi Manajemen Wilayah Pesisir dan Laut Universitas Lampung (Unila).

Meskipun memiliki tingkat kelangsungan hidup yang tinggi, udang vaname bukan lantas hidup tanpa masalah. Menurut Supono, penyakit menjadi penyebab utama kegagalan budidaya udang di Lampung Timur.

Penyakit yang paling sering menyerang budidaya udang vaname dan menyebabkan kegagalan panen adalah white spot syndrome virus (WSSV), myo, dan white feces disease (WFD). Penyakit tersebut menyebabkan kegagalan budidaya karena menyerang pada semua umur udang.

“Sebagai salah satu daerah produsen utama udang, kegagalan tersebut tentu menyebabkan penurunan produksi udang di Provinsi Lampung,” terangnya.

Hal tersebut juga diakui Muhyar petambak udang di Desa Labuhan Maringai, Kabupaten Lampung Timur. Menurut penuturannya, produksi budidaya udang menurun semenjak adanya serangan penyakit.

“Menurunnya produksi udang di wilayah Lampung Timur diduga disebabkan oleh WSSV, namun masih terus dicari sebab kebenarannya dengan dibantu oleh teknisi dari perusahaan obat,” tambah Muhyar.

Dari Penyakit Sampai Sedimentasi

“Sepengetahuan saya, penyakit sudah menjadi masalah sejak dulu. Tapi penyakit sekarang aneh jenisnya dan bermacam-macam. Ada myo, white spot, dan berak putih,” tutur Soleh, yang juga petambak udang di Desa Labuhan Maringai, Kabupaten Lampung Timur.

Menurut Soleh, serangan penyakit sangat berpengaruh pada pendapatan dari hasil panennya. Sebelum ada penyakit, modal Rp40 juta bisa menghasilkan Rp100 juta sampai Rp110 juta. Keuntungannya bisa Rp70 juta sampai Rp80 juta.

“Kalau sekarang, modal Rp40 juta, untungnya Rp 5 juta dalam 2 bulan. Kalau pas rugi, kerugiannya lumayan besar. Modal Rp40 juta bisa habis. Kalau tidak kita kontrol udangnya, dari modal Rp40 juta, kita bisa rugi Rp20 juta,” keluhnya.

Tidak jauh berbeda dengan Soleh, Bahrul Ilmi, yang juga merupakan petambak udang di Lampung Timur menuturkan, adanya penyakit yang menyerang tambak udang membuat aktifitas budidaya terganggu, ditambah cuaca yang tidak menentu mengakibatkan air di tambak mempengaruhi pertumbuhan udang.

“Petambak harus memperhatikan kualitas air baik dari awal masuk sampai akhir (panen). Untuk itu perlu dibuatkan irigasi air masuk dan air keluar sehingga dapat terkendali,” ujar Bahrul.

Menurut Herman Mude, A.Pi., MM., Kasi Tata Pelayanan di Balai Karantina Ikan, Pengendalian Mutu, dan Keamanan Hasil Perikanan (KIPM) Lampung, penyakit merupakan faktor pembatas dalam budidaya udang. Jenis penyakit yang disebabkan oleh virus di antaranya white spot syndrome virus (WSSV), infectious myonecrosis virus (IMNV), taura syndrome virus (TSV), infectious hypodermal and haematopoietic necrosis virus (IHHNV), yellow head virus (YHV), covert mortality noda virus (CMNV).

Penyakit udang akibat serangan bakteri di antaranya acute hepatopancreatic necrosis disease (AHPND) atau EMS. Sementara penyakit akibat parasit adalah enterocytozoon hepatopenaei (EHP) dan white feces disease (WFD).

“Beragam peyakit ini bisa menyebabkan kematian massal, panen dini, dan menurunkan hasil produksi budidaya udang,” paparnya.

Keterangan senada juga diungkapkan Dardjono, SP., Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Perikanan Budidaya Lampung Timur. Dari sisi penyakit, penyakit pada budidaya udang di  Lampung Timur—khususnya udang vaname—adalah WFD. Serangan penyakit ini ditandai dengan adanya kotoran putih yang mengambang pada permukaan media budidaya dan biasanya muncul pada DOC 35—45. Sebenarnya, WFD bisa dicegah dengan penerapan SOP manajemen dasar tambak yang baik, dengan penyiponan serta pemberian probiotik aerob maupun anaerob sejak awal.

Penyakit berikutnya adalah IHHNV yang ditandai dengan udang kerdil dan bagian kepala atau hepatopankreas membesar. Namun, penyakit ini masih sedikit ditemukan. Adapun penyakit WSSVditandai dengan munculnya bintik putih pada bagian karapas dan bisa mengakibatkan udang mengalami kematian masal.

WSSV sering muncul pada musim pancaroba, antara Bulan April—Mei dan September—Oktober. Pada Oktober tahun 2018, penyakit ini sempat menyerang budidaya udang di Lampung Timur yang berdampak pada turunnya produksi di triwulan I tahun 2019 hingga 30%. Kejadian serupa terjadi di hampir semua sentra produksi di Lampung.

Lebih lanjut, Joko Waluyo, Teknisi Behn Meyer, menjelaskan bahwa WSSV menyebabkan kerugian yang tinggi jika menginfeksi udang berumur kurang dari 30 hari. Udang tidak dapat dipanen karena ukuranya masih terlalu kecil.

Selain itu, WSSV pada awalnya hanya menyerang di musim hujan. Namun sekarang, infeksi penyakit yang paling merugikan ini banyak ditemukan sepanjang waktu. “Hal ini disebabkan pola budidaya di sana mengunakan sumber air yang sama, pembuangan dan pemasukan air berasal dari saluran yang sama,” terangnya.

Joko menambahkan, penyakit lain yang juga menyebabkan kerugian tinggi adalah WFD. Jika sudah terinfeksi, udang tidak mau makan sehingga pertumbuhan menjadi lambat, udang kropos, dan SR panennya rendah sehingga FCR-nya menjadi tinggi.

Sementara M. Ansori Maskur, Ketua Pokdakan Mina Sakti Mandiri, berpendapat bahwa dengan pola budidaya yang baru, tantangan yang paling menakutkan adalah penyakit dan cuaca ekstrim. Risiko yang paling berat adalah cuaca ekstrim karena sulit menduga penurunan kualitas udang.

“Kualitas air bisa turun mendadak. Solusi yang baik untuk mengantisipasi risiko cuaca ekstrim adalah menghindari tebar udang pada musim pancaroba, yaitu Bulan November sampai Bulan Februari. Pada bulan itu, komoditas diganti dengan nila salin sehingga bisa memutus rantai penyakit,” terangnya.

Selain masalah penyakit, H. Suparman, salah seorang petambak di Lampung Timur memaparkan terjadinya sendimentasi pesisir pantai. Hal ini membuat para petambak kesulitan mengambil air laut. Menurutnya, diperlukan pembenahan saluran air dari laut menuju ke tambak sehingga air masuk dengan air keluar tidak bercampur jadi satu.

Banyaknya perizinan yang muncul juga menjadi kendala seperti izin penggunaan air laut, izin genset,  izin penimbunan solar industri, izin amdal, sampai izin pipa pengambilan air laut. “Tak hanya itu, harga yang fluktuatif juga tidak mengenakkan para petambak,” ungkap Suparman.

Masalah harga juga diakui Dardjono menjadi faktor yang lebih berpengaruh terhadap produksi udang. “Harga udang yang murah, size 100 sekarang Rp47 ribu per kilo gram membuat pembudidaya menjadi kurang bergairah,” terangnya.

Menjawab Tantangan

Budidaya di Lampung Timur saat ini terus berkembang, pola budidaya pun mengalami pergeseran, dari  tambak tradisional (udang windu) dengan ukuran kolam 1—2 hektar menjadi tambak intensif (udang vaname) dengan ukuran kolam 1.000—2.000 meter persegi.

“Selalu ada tambak baru yang dicetak dengan investor dari luar Lampung,” ungkap Joko.

Menghadapi tantangan yang ada, solusi kongkret diperlukan agar usaha budidaya udang bisa berjalan secara berkelanjutan. Menurut Joko ada beberapa langkah yang bisa dilakukan, di antaranya: (1) penggunaan tandon filter biologis dan tandon treatment, (2) pengaturan waktu tebar, (3) komunikasi grup yang intensif, serta (4) perbaikan saluran inlet.  

Penggunaan tandon filter biologis dilakukan dengan memelihara ikan nila dan bandeng untuk mengetahui keamanan air media, baik yang masuk maupun keluar dari kolam tambak. Tandon treatment juga diperlukan untuk menjamin keamanan air laut yang masuk dari saluran ke dalam kolam. Jika mengunakan sumur bor, diperlukan tandon khusus untuk men-treatment parameter air sumur bor agar sesuai dengan kriteria air media yang diharapkan, terutama dari sisi kandungan mineral yang ada di dalamnya.

Pengaturan waktu tebar terkait dengan jumlah tebar benur ke dalam petak tambak. Biasanya, kasus serangan WSSV terjadi pada musim hujan. Untuk menghindari risiko kerugian yang besar akibat kematian, padat tebar disarankan dikurangi. Jika pada musim kemarau padat tebar bisa 100 ekor per meter persegi, pada musim hujan dikurangi menjadi 50—70 ekor per meter persegi.

Komunikasi grup yang intensif antar petambak bisa dilakukan lewat pembuatan grup chat WhatsApp (WA). Dengan berkumpulnya para petambak, komunikasi terkait teknis pengelolaan tambak, terutama dalam hal sumberdaya yang digunakan bersama, bisa dilakukan dengan cepat dan efektif.

Sebagai contoh, tambak yang diketahui terinfeksi WSSV dan sedang membuang air tambak memberikan informasi ke grup. Dengan begitu, petambak lain yang berdekatan tidak melakukan pengisian air dari saluran tersebut. Setidaknya, ini merupakan solusi pragmatis ketika saluran inlet dan outlet antar-tambak masih menjadi satu.

Komunikasi intensif akan lebih efektif dengan terbentuknya organisasi petambak. Dengan terbentuknya organisasi petambak, informasi teknologi budidaya udang dan penanggulangan penyakit bisa berjalan dengan lebih baik.

Organisasi menjadi wadah bagi petambak untuk menyampaikan permasalahan budidaya serta meningkatkan peran nyata pihak pemerintah daerah dan swasta dalam menyukseskan budidaya udang yang berkelanjutan.

Pendalaman dan pelebaran saluran inlet sangat diperlukan untuk menjamin pasokan air media budidaya di tambak. Mengingat pentingnya saluran ini, upaya pendalaman dan pelebaran—jika memungkinkan—dilakukan secara swadaya. Tentu saja, bantuan dari pemerintah, baik pusat maupun daerah, untuk pendalaman saluran air yang mengalami pendangkalan akibat sedimentasi sangat membantu meringankan beban petambak.

“Behn Meyer melalui teknisinya juga membantu melakukan pengukuran kualitas air di tambak langsung, supaya action permasalahan di tambak lebih cepat ditangani,” tutur Joko.

Joko menghimbau, pemerintah, melalui dinas perikanan dapat secara berkala mengandeng swasta—baik perusahaan pakan, benur, dan obat—untuk dapat lebih berperan aktif dalam mendukung budidaya udang yang berkelanjutan di Lampung Timur.

Hal senada juga disampaikan Muhammad Fitri, Teknisi Pakan Gold Coin. Menurutnya, antisipasi munculnya serangan penyakit—salah satunya—lewat manajemen pakan yang ketat. “Pakan harus kualitas baik dan menggunakan pakan protein rendah, yaitu 30—32%. Hal ini disebabkan padat tebar rendah di bawah 100 ekor per meter persegi,” terangnya.

Fitri berharap, terjalin kerja sama antara petambak, stakeholder, praktisi, dan dinas perikanan terkait untuk membuat SOP standar sesuai kondisi di Lampung Timur. Diperlukan adanya komunikasi antara petambak dan teknisi, pabrik pakan, hatchery, teknisi obat-obatan, dan pembeli udang.

“Harus ada keterbukaan antar petambak. Jika ada masalah penyakit harus saling memberi informasi dan ditangani bersama,” pungkasnya. (Rochim/Adit/Resti)

Teropong Geliat Tambak Udang di Lampung Timur

Dengan panjang pesisir 62 kilometer, Lampung Timur memiliki potensi perikanan budidaya air payau cukup besar. Tercatat, potensi luas tambak yang dimiliki kabupaten ini sekira 8.271 hektar.

“Dari potensi luas tersebut telah tercetak tambak seluas  5.865 hektar, terdiri dari tambak intensif 1.095 hektar, semi-intensif  970 hektar, dan  tradisional plus  3.800 hektar,” ungkap Dardjono, SP., Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Perikanan Budidaya Lampung Timur.

Menurutnya, jenis udang yang dibudidayakan oleh petambak di Lampung Timur adalah udang windu (Penaeus monodon) dan udang vaname (Litopenaeus vannamei). Sementara jenis udang yang lebih disukai petambak saat ini adalah udang vaname karena bisa dibudidayakan dengan kepadatan tinggi, permintaaan pasarnya tinggi, lebih tahan penyakit, dan harganya lebih tinggi pada size kecil.

Perkembangan budidaya udang di Lampung Timur, terutama udang vaname, diawali dengan Program Demfarm Udang Vannamei pada tahun 2014. Program kegiatan Tugas Perbantuan (TP) dari Kementerian Kelautan dan Perikanan—melalui Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Lampung Timur—di kelompok Mina Purwa I, Desa Muara Gading Mas, Kecamatan Labuhan Maringgai itu dirasa menguntungkan.

“Selanjutnya, program dilanjutkan dengan kegiatan Demfarm pada tahun 2015 di kelompok Sido Makmur dan kelompok Lestari Gemilang di Desa Purworejo, Kecamatan Pasir Sakti. Program menunjukkan hasil yang baik dan tumbuh hingga saat ini,” papar Dardjono.

Keberhasilan kegiatan Demfarm Budidaya Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) pada tahun 2014 dan tahun 2015 membangkitkan kembali semangat petambak untuk membudidayakan udang. Setelah melihat budidaya udang vaname dengan penerapan teknologi dan CBIB ternyata berhasil dan menguntungkan, masyarakat yang sebelumnya awam serta pembudidaya udang windu, bandeng, dan nila secara tradisional pun menjadi tertarik.

Keberhasilan ini tidak lepas dari ketersediaan sumberdaya manusia yang mendukung. Dengan tutupnya dua perusahaan tambak udang yang ada di Lampung (PT. CPB dan PT. DCD), arah  pasar pakan yang semula ke tambak inti perusahaan beralih ke pasar tambak rakyat, yang dibarengi dengan pendampingan oleh teknisi berpengalaman dalam budidaya dan alih teknologi. Apalagi harga udang vaname yang tinggi di pasaran membuat petambak bergairah untuk berbudidaya.

Potensi Usaha dan Terobosan Teknologi

Teknologi selalu berkembang, untuk saat ini, teknologi yang digunakan pembudidaya udang vaname di Kabupaten Lampung Timur adalah tambak mulsa. Selain itu, ada tambak semimulsa—yang hanya menggunakan mulsa pada dinding dan kaki tanggulnya—dan tambak tanah. Adapun luasannya berkisar 1.000 m2 sampai 5.000 m2.

“Penerapan teknologinya menggunakan tandon dan sumur bor; menggunakan aerasi kincir; memanfaatkan bioremediasi untuk pengolahan limbah tambak, baik aerob maupun anaerob; dan sebagian besar telah menggunakan SOP dengan kaidah CBIB,” jelas Dardjono.

Kepala UPTD Perikanan Budidaya Lampung Timur ini juga menjelaskan bahwa ke depan, dengan semakin kompleknya masalah yang dihadapi dalam budidaya udang, perlu penerapan teknologi terobosan seperti busmetik dan budidaya salinitas rendah.

Meskipun terkategori teknologi lama besutan Bagian Administrasi Pendidikan dan Pelatihan Lapangan (BAPPL) STP Serang, Teknologi Budidaya Udang Skala Mini Empang Plastik (Busmetik) dengan luasan antara 600 m2 hingga 1.000 m2 dan menggunakan plastik HDPE penuh diharapkan memiliki biosekuriti lebih bagus.

Selain hemat air dan mudah pembersihannya, ukuran kolam yang mini juga membutuhkan modal relatif kecil, mengingat di Lampung Timur hampir 100% adalah tambak rakyat. Ukurannya yang mini juga memudahkan penanganan saat terjadi masalah.

Adapun budidaya udang pada salinitas rendah sudah dicoba tebar pada salinitas 0 0/00 di Dempond atau percontohan Labuhan Maringgai pada tahun 2015. Menurut Dardjono, hasilnya baik dan sudah diaplikasikan di  beberapa pembudidaya. Ke depan sangat baik dikembangkan, apalagi sebagian besar potensi lahan adalah lahan tambak yang sekarang menjadi lahan pertanian.

Menurut Rudy Kusharyanto, Head of Sales & Marketing, PU & PI Regional Sumatera PT Matahari Sakti, terobosan yang bisa di lakukan oleh pabrik pakan untuk membantu meningkatkan produktivitas lahan adalah antara lain dengan terus mengadakan sharing budidaya ke semua petambak Lampung Timur agar pola-pola budidaya yang sustainable bisa di jalankan oleh petambak, dari pabrik pakan juga bisa me-support pakan yang berkualitas dan sesuai dengan kondisi perairan Lampung Timur.

“Potensi tambak sekarang lebih menjanjikan dibandingkan dulu,” ujar M. Ansori Maskur, Ketua Pokdakan Mina Sakti Mandiri. Ia pun memberikan gambaran bahwa penghasilannya dari mengelola tambak seluas 3 hektar dulu hanya cukup untuk makan sehari-hari.

“Mau menguliahkan anak masih mikir-mikir. Beda jauh dengan sekarang, mengolah tambak 4 kolam dengan ukuran 1.500 meter persegi per kolam, penghasilannya lebih dari cukup dan bisa untuk menguliahkan anak,” imbuhnya.

Dimulai pada tahun 1998,  usaha tambak Ansori menggunakan pola polikultur antara udang windu dengan ikan bandeng secara tradisional. Pada akhir tahun 2015, LIPI bekerja sama dengan Unila mengadakan program budidaya udang vaname salinitas rendah. “Berangkat dari kegiatan ini, saya termotivasi untuk beralih komoditas, dari udang windu ke udang vaname dengan pola monokultur dan teknologi semi-intensif,” kenang Ansori.

Dengan beralih teknologi, tambak milik Ansori bisa menghasilkan 1—1,5 ton udang per 1.500 meter persegi. Padahal, tambaknya dulu hanya menghasilkan udang sebanyak 2 kuintal dan ikan bandeng sekitar 3 kuintal per hektar.

Cerita senada juga diungkapkan H. Suparman, salah satu petambak udang di Lampung Timur. Ia memulai usaha budidaya udang windu dengan tambak tradisional sejak tahun 1987. “Kalau dulu, udang dibiarkan saja, kita bisa panen. Kalau sekarang harus melalui serangkaian SOP pengolahan air sebelum budidaya. Kalau dilihat dari tonase per hektar lebih menguntungkan sekarang, tetapi dengan syarat SOP sesuai CBIB,” ulasnya.

Dilansir dari Lampungpro.com, usaha budidaya udang vaname menjadi usaha paling menggiurkan. Meskipun berpotensi menimbulkan kerugian yang tidak sedikit bagi pembudidaya udang pemula yang tidak jeli dalam merawat udang. Hal ini disampaikan Marsan, warga Desa Sriminosari, Kecamatan Labuhan Maringgai.

Jika dilakukan dengan tekun dan telaten, satu hektar lahan tambak bisa menghasilkan keuntungan Rp380 juta per 90 hari. Untuk menghasilkan keuntungan tersebut, diperlukan modal setidaknya Rp250 juta untuk pembelian benur, pakan, biaya perawatan, dan listrik. Dengan penebaran benur menjelang musim kemarau, hasil panennya akan lebih banyak. Pasalnya, udang tidak mudah terserang virus dibandingkan musim hujan.

Potensi usaha budidaya udang vaname yang menggiurkan ini berdampak pada kenaikan harga lahan yang bergandengan dengan laut. Jika dulu harga tanah di lokasi dekat laut seperti tak ada harganya, kini banyak orang yang mencari untuk dijadikan sebagai lokasi bertambak udang.

“Jangankan membeli, disuruh garap sama pemilik lahan saja banyak yang tidak mau. Sebab, lahan terlalu becek ditanami apa pun susah. Tapi, sekarang orang pada berebut sewa. Dalam satu hektar mereka berani menyewa Rp100 juta. Per tahunnya, dua kali musim udang,” kata Marsan. 

Sinergi Peningkatan Produksi

Sebagai salah satu daerah yang diharapkan bisa menjadi lumbung udang di Provinsi Lampung, geliat usaha budidaya udang vaname perlu mendapatkan perhatian yang serius. Dari pihak Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Lampung Timur, beberapa langkah diupayakan dalam membantu peningkatan produksi udang. Sebagai contoh, penetapan Pasir Sakti dan Labuhan Maringgai sebagai kawasan Minapolitan.

Kawasan budidaya di kecamatan Pasir Sakti dan Labuhan Maringgai merupakan kawasan Minapolitan sesuai keputusan Menteri Kelautan Dan Perikanan (KKP), dengan Nomor KEP.32/MEN/2010 Tentang Penetapan Kawasan Minapolitan. Selanjutnya, keputusan tersebut diperbarui dengan KEP.35/MEN/2013 Tentang Penetapan Kawasan Minapolitan dan keputusan Bupati Lampung Timur Nomor: B.324/04/SK/2010 tentang Penetapan Kecamatan Pasir sakti dan Kecamatan Labuhan Maringgai sebagai kawasan Minapolitan Kabupaten Lampung timur.

Pengelolaan paskapenetapan kedua wilayah tersebut menjadi kawasan Minapolitan menjadi tanggung jawab lintas sektoral. Kegiatan normalisasi saluran primer dan sekunder dikerjakan oleh Kementrian PUPR melalui Balai Besar Pengelolaan Sungai Mesuji Sekampung dan sudah berjalan mulai tahun 2016. Ketersediaan listrik oleh PLN, yang ditandai dengan masuknya listrik ke tambak pada tahun 2018.

Normalisasi saluran tersier melalui program Pengelolaan Irigasi Tambak Partisipatif (PITAP) sudah dilakukan sejak tahun 2015 dan revitalisasi saluran dari Kementrian Kelautan dan Perikanan sejak tahun 2015. Pengecekan hama dan penyakit Ikan oleh BKIPM Lampung dan sertifikasi CBIB oleh DKP Propinsi Lampung.

“Adapun penyuluhan budidaya udang diselenggarakan melalui kerjasama KKN Unila, MAI Korda Lampung, serta Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Lampung Timur. Kami bersinergi untuk mensukseskannya,” ungkap Dardjono.

Kerjasama antara Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Lampung Timur dengan Universitas Lampung dan Dikti lewat Program Hi-Ling, dengan dibuatnya Tambak Pembelajaran Masyarakat  tahun 2015 di  desa Purworejo, Kecamatan Pasir Sakti. Tak ketinggalan pula peran serta penyuluh swadaya atau teknisi dari perusahaan pakan (CP Prima) yang mendampingi petambak dalam berbudidaya udang vaname.

Melalui dana TP dari KKP, Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Lampung Timur melaksanakan program Demfarm Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) sejak tahun 2014 sampai 2016. Sementara untuk tahun 2017 sampai 2018, Program Demfarm Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) dilaksanakan dengan dana APBD untuk menyosialisasikan bahwa budidaya udang masih menguntungkan jika dilakukan dengan penerapan teknologi dan CBIB, apalagi jika diikuti dengan harga jual di pasaran yang tinggi.

Kegiatan pembinaan dan pengembangan perikanan dilakukan secara rutin. Juga pemberian apresiasi penerapan Cara Berbudidaya Ikan Yang Baik (CBIB), yang didalamnya menekankan untuk penerapan SOP pada budidaya udang, penyuluhan di lapangan, dan  bantuan sarana prasarana budidaya seperti kincir air, plastik mulsa tambak, Plastik HDPE, pompa submersibel, genset listrik, pompa sedot lumpur untuk sipon, hingga pemberian benur dan pakan udang.

Lampung Timur adalah salah satu sentra pertambakan di lampung yang sejauh ini perkembangannya menunjukkan peningkatan terutama untuk produksi udang vaname. Namun, menurut Rudy, dengan semakin banyaknya penyakit yang baru-baru ini menjadi tren yang kurang baik bagi perkembangan budidaya khususnya udang vaname.

“Maka harapan untuk Lampung Timur di butuhkan koordinasi dan saling support semua penggerak budidaya udang agar bisa berbudidaya secara baik dengan mengikuti langkah-langkah SOP yang benar sesuai dengan perhitungan carrying capacity-nya sehingga budidaya udang di sana terus di tingkatkan serta berkesinambungan,” tutur Rudy. (Rochim/Adit/Resti)

Tabel 1. Produksi Udang di Kabupaten Lampung Timur

NO PRODUKSI TAHUN
  (Ton)   2014 2015 2016 2017   2018
1 Udang Vaname 507,3 974,05 1481,27 6.448,78 15.000
2 Udang Windu 318,38 384,47 382,22 467,02 346 

   Sumber: Statistik Perikanan Budidaya 2018

Tabel 2. Potensi Tambak dan Tambak tercetak di Kabupaten Lampung Timur

      LUAS TAMBAK TERCETAK (Ha)
NO KECAMATAN/ DESA POTENSI INTENSIF SEMI INTENSIF TRADISIONAL PLUS
1 2 3 4 5 6
1 LABUHAN MARINGGAI 2.974,00 335 210 2.702
  1. Margasari 330,00 30 10 265
  2. Sriminosari 357,00 50 20 240
  3. Muara Gading Mas 460,00 75 30 235
  4. Bandar Negeri 539,00 100 50 449
  5. Karya Makmur 431,00 50 50 210
  6. Karya Tani 857,00 30 50 640
2 PASIR SAKTI 5.801,00 760 760 2.516
  1. Pasir Sakti 920,00 50 30 334
  2. Mekar Sari 3,00 0 0
  3. Mulyosari 923,00 50 30 435
  4. Rejomulyo 5,00 0 0
  5. Kedung Ringin 3,00 0 0
  6. Purworejo 1.578,00 500 200 316
  7. Labuhan Ratu 1.369,00 150 100 426
  8. Sumur Kucing 1.000,00 10 20 250
    8.775,00 1.095 970 3.800

Sumber: Statistik Perikanan Budidaya tahun 2018

Budidaya Alga, Untuk Tingkatkan Nutrisi Pakan Ikan

Mikroalga, alga mikroskopis kaya nutrisi untuk kegiatan budidaya perikanan

Mikroalga, di samping kehadirannya menjadi ancaman bagi kegiatan akuakultur, beberapa jenis di antaranya justru menjadi berkah bagi perikanan. Pasalnya, kandungan nutrisinya dibutuhkan beberapa jenis ikan budidaya, terutama jenis herbivora.

Alga kerap kali dituding sebagai penyebab munculnya berbagai serangan penyakit dan kematian massal pada ikan maupun udang. Awalnya, terjadi ketidakseimbangan alga di dalam lingkungan perairan.

Selanjutnya, akibat dari komposisi jenis alga yang tidak seimbang, kualitas perairan munurun, tingkat kandungan oksigen dalam air berkurang. Bahkan, sejumlah jenis alga ditengarai mengeluarkan bahan toksik.

Daya tahan tubuh ikan dan udang menurun. Tidak dapat dihindari, penyakit pun merebak ketika daya tahan tubuh turun dan kondisi lingkungan memburuk. Pada akhirnya, terjadi kerugian telak akibat kematian massal pada ikan dan udang budidaya yang tak terhindarkan.

Benarkah alga menjadi biang dari malapetaka tersebut? jawabannya iya. Akan tetapi, kabar baiknya, alga tidak hanya melulu menimbulkan efek negatif bagi budidaya perikanan. Sejumlah alga diketahui berpengaruh positif dan bermanfaat bagi kehidupan manusia, misalnya untuk industri farmasi, kosmetika, pangan, dan industri lainnya.

Beberapa di antaranya diperlukan dalam kegiatan akuakultur sebagai sumber pakan untuk ikan. Sebut saja misalnya Chlorella vulgaris, Porphyridium cruentum, Dunaliella salina, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Jenis-jenis mikroalga tersebut dipandang menguntungkan karena dapat menyediakan nutrisi yang berlimpah bagi ikan budidaya. Bahkan, karena kandungan nutrisinya yang kaya, tidak sedikit jenis mikroalga tersebut banyak dibudidayakan secara massal mengingat nilai ekonominya yang tinggi.

Mengenal Alga Lebih Dekat

Menurut klasifikasi dalam ilmu biologi, alga merupakan sejenis organisma fotosintesis yang mengandung klorofil, menghasilkan O2 dan merupakan suatu thallus (jaringan vegetatif) yang tidak terdeferensiasi menjadi akar, batang dan daun. Jadi, organisme ini berbeda dengan lumut atau jenis tanaman lainnya.

Pada kerajaan tumbuhan (kingdom plantae), organisme sudah jelas diklasifikasikan berdasarkan organ daun, batang dan akar, sementara pada alga tidak demikian. Meskipun begitu, alga dan tumbuhan sama-sama mempunyai klorofil sehingga mempunyai kemampuan melakukan proses fotosintesis, yaitu mampu menyintesis makanannya sendiri dari sinar matahari dan sumber karbon.

Dengan demikian, seperti halnya tumbuhan, alga pun dapat menghasilkan zat asam (oksigen) sebagai produk samping dari proses fotosintesisnya dan karbohidrat (karbon) sebagai produk utamanya.

Menurut pemaparan Rahmania Admirasari, dari Pusat Teknologi Lingkungan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), alga sendiri diklasifikan menjadi dua berdasarkan ukurannya, yaitu:

Rahmania Admirasari
  • Makroalga, alga yang berukuran besar, sehingga dapat dilihat dan diamati oleh mata telanjang;
  • Mikroalga atau alga yang berukuran kecil (mikroskopis) dan bakteria fotosintetik oksigenik (Cyanobacteria).

Produk Bernilai Ekonomis Tinggi dari Mikroalga

Saat ini, di dunia sudah dikenal luas beragam jenis alga dengan produk utama yang bernilai ekonomis tinggi. Sebut saja misalnya spirulina. Jenis mikroalga ini menjadi salah satu bahan baku suplemen kesehatan bagi manusia karena kandungan proteinnya yang tinggi, kandungan beragam vitamin yang bermanfaat bagi tubuh, serta kandungan mineral dan asam lemaknya.

Di samping itu, masih banyak jenis alga lain yang bermanfaat dan menjadi komoditas penting. Berikut ini beberapa jenis mikroalga dan berbagai jenis produk yang dihasilkan.

  • Spirulina plantesis, Phycocyanin, produk yang dihasilkan berupa biomassa dan suplemen makanan kesehatan, serta bahan dasar kosmetika
  • Chlorella vulgaris, produk yang dihasilkan berupa biomassa, suplemen kesehatan, dan sumber pakan
  • Dunaliella salina, produk yang dihasilkan Carotenoids, ß-carotene, suplemen makanan, sumber pakan.
  • Haematococcus plavialis produk yang dihasilkan adalah Carotenoids, astaxanthin, yang digunakan dalam suplemen makanan, industri farmasi, dan pakan
  • Odontella aurita sebagai sumber asam lemak, dan bahan baku farmasi, kosmetika, dan sumber makanan.
  • Porphyridium cruentum, produk yang dihasilkan di antaranya adalah polisakarida untuk industri farmasi, kosmetika, dan pakan hewan
  • Isochrysis galbana, produk yang dihasilkan di antaranya adalah asam lemak untuk pakan ternak,
  • Phaeodactylum tricornutum, bahan yang dihasilkan di antaranya adalah lemak, asam lemak, nutrisi asam, serta bahan baku untuk bahan bakar.

Mikroalga, Bahan Bernutrisi Tinggi Bagi Ikan

Alga berperan tak kalah penting dalam kegiatan akuakultur. Beberapa jenis alga sudah dikenal luas sebagai sumber pakan alami bagi ikan jenis herbivora, seperti ikan bandeng, mas, dan lain-lain.

Menurut Rahmania, aplikasinya dalam bidang akuakultur dapat berupa pakan langsung pada fase pembesaran larva, juvenile, atau pun untuk sebagai pakan zooplankton yang pada akhirnya menjadi pakan alami bagi ikan.

  • Sumber pakan alami pada fase pembesaran larva dan juvenilles dari moluksa, crustacea dan ikan.
  • Sumber pakan bagi zooplankton (rotifer, copepoda, dll) yang pada akhirnya menjadi sumber pakan alami bagi ikan.
  • Sumber pakan bagi Ikan herbivore

Tabel 1. Beberapa jenis mikroalga dan manfaatnya bagi jenis hewan akuakultur

Alga Organisma Akuakultur
Chlorella Brachionus
Scenedesmus Artemia, Ikan mas
Skeletonema Tiram dan kerang
Nitzschia Tiram dan kerang
Chaetoceros Tiram dan kerang

Budidaya Mikroalga Skala Massal

Mengingat nilai ekonomisnya yang tinggi, tak sedikit praktisi yang sudah melakukan budidaya mikroalga secara massal. Jenis alga yang dibudidayakan tertentu untuk yang bernilai nutrisi tinggi atau digunakan untuk keperluan lainnya.

Selain itu, jenis yang dibudidayakan tersebut haruslah yang tidak beracun baik bagi hewan maupun manusia. Rahmania mengungkapkan, beberapa persyaratan budidaya mikroalga untuk kegiatan akuakultur harus memenuhi beberapa persyaratan, di antaranya adalah:

  • Non toksik atau tidak beracun;
  • Ukuran tubuhnya tepat untuk dikonsumsi oleh organisma yang akan dibudidayakan;
  • Dinding sel alga mudah dicerna;
  • Kandungan nutrisi cukup baik.

Pada dasarnya, dalam kegiatan budidaya mikroalga, ada beberapa komponen wajib yang harus ada, yaitu cahaya matahari, karbondioksida (CO2), air, nutrisi, dan peralatan pendukung. Gas karbondioksida dibutuhkan sebagai sumber karbon bagi alga.

Kehadiran air mutlak diperlukan sebagai sumber hydrogen dalam sintesis karbohidrat yang terdiri dari unsur Karbon (C), hydrogen (H), dan Oksigen (O). Sementara itu, kebutuhan nutrisi lainnya, di antaranya unsur Nitrogen, Fosfor, dan unsur-unsur mineral lainnya dapat dipenuhi dari pasokan air limbah budidaya perikanan.

Seperti diketahui, air limbah yang berasal dari budidaya perikanan banyak mengandung sisa-sisa pakan dan zat-zat eksresi ikan, misalnya ammonia, nitrat, nitrit, dan fosfat. Bahan-bahan tersebut merupakan unsur hara bagi mikroalga sehingga airnya dapat dimanfaatkan untuk kultivasi mikroalga.

Gambar 1. Metode budidaya mikroalga secara umum

            Gambar 2. Alur budidaya mikroalga dan waktu pemanenan yang tepat

Kultivasi mikroalga dapat dilakukan melalui dua cara, yaitu sistem terbuka dan sistem fotobioreactor (sistem tertutup). Pada metode terbuka, budidaya mikroalga dilakukan pada kolam/ bak-bak terbuka dengan ukuran yang luas.

Sementara itu, budidaya dengan metode fotobioreactor dilakukan di dalam reaktor-reaktor tertutup yang biasanya terbuat dari kaca/plastik transparan. Hal ini agar permukaan dapat ditembus cahaya matahari yang dibutuhkan dalam proses fotosintesis.

Masing-masing metode tersebut mempunyai kelebihan dan kelemahannya sendiri. Sebagai contoh, pada metode tertutup (fotobioreaktor), kelebihannya adalah terjaga dari kontaminasi, produktivitas lebih tinggi, serta tidak membutuhkan lahan yang relative luas. Meskipun demikian, metode ini mempunyai beberapa kelemahan, di antaranya adalah biaya investasi awal yang mahal.

Di lain pihak, jika budidaya dilakukan pada kolam terbuka, kelebihannya antara lain biaya investasi awal yang relatif rendah dan perawatan mudah. Akan tetapi, kelemahan yang ditimbulkan di antaranya adalah membutuhkan luas lahan yang besar, mudah terkontaminasi oleh mikroalga yang lain, sehingga dapat memicu terjadinya kompetisi. (Noerhidajat/Resti)

Penting, Ukur Kinerja Pertumbuhan Ikan Budidaya

Budidaya ikan erat kaitannya dengan memacu pertumbuhan ikan mencapai ukuran atau berat yang diharapkan. Semakin cepat laju pertumbuhan, semakin besar pula peluang pembudidaya untuk menekan biaya produksi. Ujung-ujungnya, hal ini akan berimbas pada keuntungan yang akan diperoleh pembudidaya di akhir periode pemeliharaan.

Banyak orang beranggapan, laju pertumbuhan ikan erat kaitannya dengan banyaknya pakan yang diberikan. Padahal, kedua aspek ini tidak selalu berjalan beriringan. Dalam aspek budidaya perikanan, komponen pakan menempati porsi yang sangat besar dalam keseluruhan biaya produksi yang dihabiskan.

Rika Rostika

Menurut peneliti perikanan dari Universitas Padjadjaran (Unpad), Tika Rostika yang juga menjabat sebagai Ketua Pusat Studi Pembangunan Perikanan FPIK dan Wahyu Dewantoro, pertumbuhan ikan erat kaitannya dengan faktor internal dan eksternal.

Faktor internal berhubungan dengan ikan itu sendiri seperti umur, dan sifat genetik ikan. sementara itu, faktor eksternal meliputi lingkungan tempat ikan hidup, antara lain kondisi fisik, biologis, dan kimiawi air.

Menurut Ketua Pusat Studi Pembangunan Perikanan FPIK Unpad tersebut, performa pertumbuhan ikan sangat dipengaruhi jumlah pakan yang diberikan. Hal ini mengingat jumlah pakan yang diberikan menjadi aspek yang relatif mudah diukur dibanding aspek lainnya. di samping itu, pakan juga menempati porsi paling tinggi dalam biaya operasional budidaya ikan, yakni dapat mencapai 60 – 70 % dari total biaya yang dikeluarkan.

Di bawah ini adalah beberapa parameter yang dapat dijadikan acuan untuk mengukur kinerja budidaya ikan. berikut ini adalah ringkasan yang disarikan dari tulisan kedua peneliti tersebut dan sejumlah referensi.

Pertumbuhan mutlak

Pertumbuhan mutlak adalah selisih antara bobot akhir ikan dengan bobot awal sebelum budidaya. Satuannya adalah gram atau kilogram. Angka ini hanya menilai besarnya pertambahan bobot ikan selama masa pemeliharaan, tanpa mempertimbangkan aspek lainnya, seperti banyaknya pakan yang diberikan, lama masa pemeliharaan, dan lainnya.

Dimana Pm adalah pertumbuhan mutlak (gram atau kilogram), Wt adalah bobot setelah budidaya (gram atau kilogram). Sementara itu, Wo adalah bobot sebelum dibudidayakan (gram).

Meskipun angka ini tidak terlalu mencerminkan besarnya biaya yang dikeluarkan, angka pertumbuhan mutlak erat kaitannya dengan nilai ekonomis yang akan didapatkan oleh pembudidaya. Hal ini karena besarnya pendapatan yang diperoleh akan berbanding lurus dengan bobot ikan yang dipanen.

Penambahan bobot harian rata-rata

Wahyu Dewantoro

Berbeda dengan pertumbuhan mutlak, penambahan bobot harian rata-rata merujuk pada pertambahan bobot ikan setiap harinya secara rata-rata. Jadi, angka penambahan bobot harian rata-rata memperhitungkan lamanya masa pemeliharaan ikan. Untuk memperoleh angka ini, digunakan rumus sebagai berikut:

Dimana SGR adalah penambahan bobot harian rata-rata (gram/ hari), Wt adalah berat akhir ikan setelah masa pemeliharaan (gram), dan Wo adalah berat atau bobot ikan sebelum masa pemeliharaan (gram). Sementara itu, t menunjukkan lamanya masa pemeliharaan (hari).

Konsumsi pakan harian

Konsumsi pakan harian merupakan jumlah pakan yang dihabiskan setiap harinya. Angka ini sudah memperhitungkan bobot ikan pada awal masa pemeliharaan, bobot ikan akhir masa pemeliharaan, dan lamanya waktu pemeliharaan. Untuk menghitungnya, digunakan rumus sebagai berikut:

Dimana FI adalah bobot pakan yang diberikan untuk ikan (g), Wo adalah bobot biomassa ikan sebelum masa pemeliharaan (gram), Wt merujuk pada bobot biomas ikan pada akhir masa pemeliharaan (g), dan T mewakili lama masa pemeliharaan (hari).

Efisiensi pemberian pakan

Konsumsi pakan yang tinggi belum tentu menunjukkan tingginya produktivitas pertumbuhan ikan. Boleh jadi, konsumsi tinggi tapi pertumbuhan ikan lambat. Pemberian pakan dikateakan efisien jika besarnya pakan yang diberikan sebanding dan optimal dalam memperoleh pertambahan bobot ikan secara maksimal.

Efisiensi pakan 90% berarti hanya 90% dari pakan yang diberikan menjadi pertambahan bobot ikan yang dipelihara. Untuk mengetahui efisiensi pemberian pakan, dilakukan perhitungan sebagai berikut:

Dimana F adalah jumlah pakan yang diberikan selama masa pemeliharaan (g), Wt adalah bobot rata-rata benih pada akhir masa pemeliharaan (g), dan Wo adalah bobot rata-rata benih pada awal masa pemeliharaan (g).

Dengan angka ini, pembudidaya dapat memperkirakan seberapa besar pendapatan bersih yang diperoleh setelah memperhitungkan pengeluaran untuk pembelian pakan. Sebagai contoh, jika dalam budidaya lele, angka efisiensi pakan mencapai 80%, artinya, setiap kg pakan yang diberikan akan memberikan pertambahan bobot ikan lele sebesar 800 gram.

Dengan memperhitungkan harga pellet ikan per kg dan harga jual lele per kg, akan didapatkan berapa selisih pemasukan dan pengeluaran yang diperoleh. Setelah itu, selisih ini juga harus dapat menutupi biaya lainnya, seperti biaya obat-obatan, probiotik, tenaga kerja, biaya transportasi, dan lain-lain.

Rasio konversi pakan (feed conversion ratio, FCR)

Rasio konversi pakan mewakili perbandingan antara jumlah pakan yang dihabiskan dengan laju pertumbuhan ikan. pada umumnya, rasio konversi pakan bernilai di atas angka 1. Sebagai contoh, jika rasio konversi pakan sebesar 1,6; artinya untuk memperoleh pertambahan bobot 1 kg ikan yang dipelihara, diperlukan pakan sebanyak 1,6 kg. Semakin kecil angka rasio ini, semakin besar efisiensi pemberian pakan.

Mengukur panjang ikan

Menimbang bobot ikan

Dimana FI adalah bobot kering pakan yang dikonsumsi (g), Wo adalah bobot biomas ikan pada awal pemeliharaan (g), sementara itu, Wt merujuk pada bobot biomassa ikan pada akhir pemeliharaan (g), dan terakhir, D mewakili bobot ikan yang mati (g).

Pada umumnya, angka konversi pakan di atas 1. Dengan demikian, efisiensi pakannya umumnya di bawah 100%. Akan tetapi, pada budidaya ikan menggunakan sistem bioflok, angka atau rasio konversi pakan ini dapat bernilai di bawah 1.

Hal ini karena di samping pakan yang diberikan, ikan memanfaatkan bakteri yang melimpah sebagai sumber makanannya. Dengan demikian, sumber makanan ini membantu pertumbuhan bobot ikan di samping dari sumber pakan utamanya.

Kelangsungan hidup benih (survival rate)

Angka kelangsungan hidup benih menunjukkan tinggi rendahnya benih dapat bertahan hidup selama masa pemeliharaan sehingga masa pemanenan. Semakin tinggi tingkat kelangsungan hidupnya, semakin besar juga ikan yang dapat dipanen.

Dengan demikian, semakin besar peluang pembudidaya dalam mendapatkan keuntungan. Istilah lainnya, kelangsungan hidup dikenal juga dengan sebutan tingkat kelulusan hidup benih. Kelangsungan hidup ikan dapat diukur dengan menggunakan perhitungan sebagai berikut:

Dimana Nt adalah jumlah ikan yang hidup pada akhir masa pemeliharaan (ekor) dan No adalah jumlah ikan pada awal masa pemeliharaan (ekor). Sebagai contoh, jika jumlah benih pada awal masa pemeliharaan sebanyak 1.000 ekor, dengan angka kelangsungan hidup 70%, pada tahap akhir masa pemeliharaan, diperoleh benih 700 ekor. (noerhidajat)

Panen, Indikator Evaluasi Usaha Budidaya

Panen udang merupakan kegiatan akhir dalam pembesaran udang. Hasil panen dapat dijadikan sebagai bahan evaluasi dan indikator keberhasilan usaha budidaya udang. Pemanenan pada pembesaran udang vaname, dilakukan dengan 2 metode yaitu panen parsial (sebagian) dan panen total. Bagaimanakah proses panen udang vaname skala mini?

Pemanenan udang vaname dilakukan setelah pemeliharaan udang vaname 90 -120 hari atau bergantung laju pertumbuhan udang dengan berat rata – rata udang (Average Body Weight = ABW) mencapai ukuran konsumsi 15 – 20 gram/ekor. Panen udang vaname pada tambak skala mini dilakukan pada masa pemeliharaan 100 hari.

Apabila ABW telah mencapai standar permintaan pasar (size 60-80 atau 60-80 ekor/kg) maka panen dapat dilaksanakan walaupun masa pemeliharaan belum 100 hari. Beberapa alasan mengapa pemanenan udang dilakukan yaitu udang sudah saatnya dipanen sehingga bila tetap dipertahankan, pertumbuhan udang tidak optimal lagi bahkan tidak tumbuh lagi, udang terserang penyakit dan telah menunjukkan gejala kematian jadi terpaksa dipanen untuk menghindari kerugian yang lebih besar, dan kondisi darurat yang mengharuskan udang harus dipanen.

Deni Aulia

Pemanenan udang pada tambak skala mini didahului dengan dengan persiapan pemananen meliputi penyiapan peralatan panen dan perencanaan pemanenan seperti antisipasi banyaknya udang yang mengalami ganti kulit dengan meminimalkan perubahan-perubahan yang ekstrim pada air tambak terkait dengan kualitas air.

Penambahan dan pengurangan air tidak dilakukan selama 3 hari sebelum pemanenan. Perlakuan air yang dilakukan satu minggu sebelum jadwal panen yaitu proses pengapuran setiap 2 hari sekali, dengan dosis 5-10 mg/l. Hal ini dilakukan agar pada saat panen, karapas udang dalam kondisi keras dan udang tidak molting, karena udang yang molting akan menurunkan harga jual.

Kegiatan yang dilakukan sebelum dilakukan pemanenan pada usaha budidaya udang skala mini yaitu melakukan sampling untuk mengetahui persentasi udang yang ganti kulit (molting), ukuran udang yang dipanen sesuai dengan permintaan pasar, menentukan metode panen yang digunakan, menurunkan tinggi air untuk memudahkan penanganan penangkapan.

Selain itu juga dilakukan persiapan air bersih untuk mencuci udang sebelum dimasukkan ke air dingin dan menyiapkan air dingin untuk menjaga rantai dingin agar kualitas udang tidak menurun. Pemanenan udang dapat dilakukan secara selektif maupun total. Panen selektif dilakukan untuk mengambil udang dalam jumlah tertentu sedangkan panen total yaitu panen yang dilakukan dengan mengambil seluruh udang yang dipelihara di dalam kolam.

Bahan yang digunakan dalam melakukan panen yaitu air bersih dan es, sedangkan alat yang digunakan meliputi jaring kantong, jala sebar, anco, keranjang/basket, serok dan bak penampungan serta peralatan lainnya untuk pemanenan.

Pencatatan dan penghitungan data hasil panen dalam pemanenan udang harus dilakukan sebagai bahan evaluasi usaha budidaya meliputi tingkat produktifitas, tingkat kehidupan dan konversi pakan udang sehingga dapat diketahui tingkat keberhasilan usaha budidaya yang telah dilakukan pada siklus tersebut.

Data hasil panen udang setiap siklus usaha juga dapat dibandingkan untuk mengetahui tingkat keberhasilan usaha pada masing – masing siklus. Metode budidaya pada siklus usaha yang memiliki tingkat keberhasilan terbaik dapat dijadikan rujukan metode usaha pada siklus – siklus usaha berikutnya. Hasil panen udang vaname teknologi Intensif yang baik yaitu sintasan/tingkat kehidupan minimal 75%, berat 15-20 gram dan produksi 15.000 kg/ha (SNI 01-7246-2006).

Panen Sebagian/Panen Selektif

Panen sebagian/panen selektif disebut juga sebagai panen parsial. Panen ini dilakukan dengan memanen udang sedikit demi sedikit, tergantung kebutuhan petambak atau jumlah yang dibutuhkan terbatas misalnya pada penjualan dalam bentuk hidup.

Artinya, berapapun hasil yang diperoleh disesuaikan dengan kebutuhan petambak saat itu. Oleh sebab dilakukan sebagian, air tambak saat panen tidak seluruhnya dikeringkan. Hal ini dilakukan untuk menghindari terjadinya stres. Panen sebagian dilakukan dengan menggunakan alat tangkap pasif berupa jala lempar dan dapat dilakukan sendiri oleh para petambak serta tidak memerlukan banyak tenaga pemanen, dengan begitu biaya panen yang dikeluarkan dapat diminimalisir.

Apabila secara penghitungan ekonomis telah menguntungkan untuk dilakukan panen maka panen parsial dapat dilakukan. Panen parsial tidak mempengaruhi tingkat stres udang sehingga panen parsial dapat dilakukan secara aman dalam upaya mengurangi biomassa udang agar berada pada tingkat daya dukung tambak. Salah satu alasan dilakukannya panen parsial karena biomassa udang melebihi kapasitas kolam.

Frekuensi panen parsial dapat dilakukan sebanyak 1-3 kali dalam setiap siklus dengan tenggang waktu 7 – 10 hari. Waktu panen parsial dilakukan sesuai dengan perkiraan biomassa udang pada periode tertentu setelah dilakukan sampling 2 minggu sebelum dilakukannya panen parsial.

Jumlah udang yang dipanen yaitu dengan mengurangi perkiraan jumlah udang yang masih bisa tertampung dalam 2 minggu kedepan didasarkan pada berat rata-rata udang (Average Body Weight = ABW) saat panen parsial dan rata-rata pertumbuhan harian (Average Daily Growth = ADG) udang saat sampling. Jumlah biomasa udang yang dimbil dalam setiap kali panen parsial yaitu sekitar 10 – 20 % dari estimasi biomasa udang dalam kolam.

Waktu panen parsial dilakukan pada sore/malam hari untuk meminimalisir udang yang tersisa dalam kolam agar tidak stress dan udang yang dipanen tidak mengalami kerusakan mutu. Tahapan panen parsial yaitu menyiapkan alat berupa jala, timbangan, sterofoam, blong panen, gerobak dorong, keranjang, meja sortir dan air bersih.

Selanjutnya mematikan kincir di sekitar lokasi penjalaan (hanya 1-2 kincir), menjala udang pada kolam dan memasukkan udang hasil jalaan ke dalam keranjang/basket dan dibawa menuju lokasi sortir untuk dilakukan pemilahan ukuran dan proses rantai dingin untuk mempertahankan kesegaran udang.

Panen Total

Panen total biasa dilakukan oleh petambak besar yang telah memiliki jaringan atau hubungan dengan pembeli yang siap menampung hasil panennya. Oleh sebab kebutuhan konsumen yang besar tersebut, jumlah yang dipanen pun harus dalam jumlah besar.

Dengan begitu, tidak ada cara lain selain melakukan pemanenan total. Udang yang ada di dalam kolam diambil seluruhnya, sehingga air yang ada di dalam kolam harus dikeluarkan seluruhnya. Panen total ini dilakukan pada malam hari untuk menghindari terik matahari yang dikhawatirkan akan mengurangi tingkat kesegaran udang yang dipanen.

Alat yang digunakan dapat berupa jaring listrik/selne net atau jaring kantong. Penggunaan salne net dalam proses pemanenan total membutuhkan tenaga kerja dan energi yang cukup besar karena harus membawa salne net berkeliling kolam untuk menangkap udang.

Panen juga dapat dilakukan dengan cara menggiring udang dengan jaring dan atau secara gravitasi bersamaan dengan pembuangan air ke pintu pengeluaran yang telah disiapkan perangkap berupa jaring kantong.

Pada tahap pertama petakan dikeringkan secara perlahan-lahan. Setelah mencapai kedalaman 20 cm, udang mulai ditangkap dengan menggunakan jala/jaring. Seiring dengan penjalaan, petakan terus dikeringkan sampai habis.

Pada kolam yang tidak memiliki pintu pengeluaran, pengurangan volume air menggunakan pompa, namun membutuhkan biaya yang cukup tinggi. Penggunaan pintu panen pada panen total yang digunakan pada kolam konvensional relatif lebih menguntungkan karena pengurangan volume air lebih cepat serta udang yang dipanen dapat mengikuti arus air keluar kolam sehingga petani dapat memasang jaring panen cukup di pintu panen saja.

Tahapan panen total yang dilakukan yaitu menyiapkan peralatan panen antara lain selne net, pompa panen, keranjang, dan alat angkut, dll. Memasang pompa panen untuk mengurangi volume air dalam tambak, pengurangan volume air ini dilakukan dengan menggunakan pompa, central drain dan outlet jika kolam tidak dilengkapi dengan pintu panen.

Membuang air dalam kolam melalui pintu pengeluaran air (outlet) dan central drain sampai tersisa 40-50 cm. Mematikan kincir  apabila air dalam tambak tinggal tersisa 50 cm. Melakukan penangkapan udang dengan menggunakan jaring panen (selne net) dan mengurangi volume air dengan menggunakan pompa panen secara perlahan – lahan.

Memindahkan udang pada jaring panen ke dalam keranjang, menarik keranjang udang ke atas pematang dan membawa udang menuju lokasi sortir menggunakan gerobak dorong atau alat angkut lainnya.

Penanganan Pasca Panen

               Udang yang dipanen harus segera ditangani dengan cepat dan tepat agar kesegarannya dapat dipertahankan. Penurunan mutu udang akan berdampak pada penurunan harga jual udang. Mempertahankan mutu pada panen udang vaname dilakukan dengan menggunakan rantai dingin. Udang yang dipanen akan dijual sesuai dengan ukurannya (size). Setiap size yang berbeda memiliki harga yang berbeda pula sehingga setiap ukuran udang harus dipisahkan.

            Tindakan yang perlu dilakukan pada penanganan pasca  panen udang vaname yaitu mencuci udang di tempat penampungan udang untuk menghilangkan kotoran atau lumpur yang menempel pada tubuh udang.

Kotoran ini mengandung bakteri pembusuk yang akan mempercepat penurunan mutu/kesegaran. Udang yang telah dicuci akan disortir dan kelompokkan berdasarkan ukuran dan kualitasnya (kegiatan ini biasanya juga dilakukan oleh pembeli) serta disesuaikan dengan harga pasar.

Udang yang telah disortir terlebih dahulu disampling dan ditimbang untuk menentukan size udang dan harga jual udang. Penimbangan udang dilakukan dengan menggunakan timbangan digital yang digantung atau timbangan duduk.

Udang yang telah disortir dimasukkan ke dalam keranjang/basket yang mampu menampung udang antara 25 – 35 kg/keranjang. Penimbangan udang dapat dilakukan apabila udang yang telah disortir berjumah 10 – 15 keranjang.

Tujuannya agar udang tidak terlalu lama berada diudara bebas karena akan mengalami kemunduran mutu. Udang yang telah ditimbang selanjutnya dapat dilakukan pengepakan.  Pengepakan udang dapat menggunakan coolbox, sterofoam atau kontainer yang berisi es agar suhu dingin tetap stabil sehingga udang tidak cepat busuk dan rusak.

Transportasi udang hasil panen dimulai dengan menata udang dalam coolbox dengan susunan berlapis antara udang dan es secara berselang-seling dengan bagian dasar dan atasnya tertutup oleh lapisan es sehingga kualitas udang tetap terjaga.

Perbandingan udang dan es adalah 2 : 1. Setelah udang ditata dalam wadah, maka siap dikirim ke tempat pasar, pabrik, atau rumah makan dan hotel yang menjadi pelanggan atau dapat segera dibawa ke cold storage.

Potensi Udang Vaname Di Jabar

Udang merupakan komoditas unggulan di Indonesia khususnya Provinsi Jawa Barat (Jabar) yang terus dimaksimalkan potensinya. Dulu, udang windu pernah menjadi primadona Jabar tahun 1980-an dengan angka produksi menembus 100 ton lebih per bulan, namun kini seiring berjalannya waktu, masyarakat pembudidaya Jabar beralih ke budidaya udang vaname yang dinilai memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi dari udang windu.

Kepala Bidang Perikanan Budidaya Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Barat Dodi Sudenda, menjelaskan produksi udang vanname tahun 2014 sebanyak 60.120,24 ton atau 106,16% dari target yang telah ditetapkan 56.634,00 ton, kemudian mengalami peningkatan 1,33% menjadi 60.920,49 ton atau 102,45% dari yang ditargetkan sebesar 59.465,70 ton pada tahun 2015.

Lanjut Dodi, pada tahun 2016 ditargetkan sebesar 62.438,99 ton, namun hanya tercapai 62.124,02 ton (99,50%). Walaupun demikian dari segi volume, produksi udang vaname tahun 2016 mengalami peningkatan sebesar 1,98% dari tahun sebelumnya.

“Target Produksi udang vaname Jawa Barat tahun 2018 sebesar 65.560,94 Ton,” ungkap Dodi.

Produsen udang vaname tahun 2016 didominasi oleh Kab. Indramayu sebanyak 48.722,21 ton atau 78,43% dari total produksi udang vanname Jawa Barat, kemudian disusul Kab. Subang 5.230,08 ton (8,52%), dan Kab. Cirebon 4.408,92 ton (7,10%).

Menurut Dodi, kendala yang sering muncul di awal pengembangan budidaya udang vaname adalah penurunan kualitas benur dan sumberdaya air, seperti: ketidakstabilan lingkungan dan penerapan sistem terbuka tanpa tandon dan treatment air.

Serta merebaknya penyakit, seperti: TSV (taura syndrome virus), WSSV (white spot syndrome virus) dan IHHNV (infectious hypodermal hematopoetic nicrosis virus) tahun 2003, dan IMNV (infectious myonecrosis virus) tahun 2005.  Kemudian mulai tahun 2009 sampai sekarang, beberapa tambak di kawasan pantai utara dan selatan ditemukan terjangkit penyakit TSV, IMNV dan IHHNV.

Oleh sebab itu, kata Dodi, untuk mengatasi kendala dalam pengembangan budidaya udang vaname dilakukan dengan dua cara yakni Pengembangan Unit Pembenihan Udang (Hatchery) Tanpa Antibiotik yang meliputi penerapan biosecurity, penggunaan induk unggul, SPR (Spesific Pathogen Resistant), penggunaan Immunostimulan sebagai suplemen pakan, dan pengolahan air baku dan pembenihan yang baik.

Kemudian kedua Pengembangan Unit Pembesaran Udang (Tambak) Berkelanjutan meliputi penerapan biosecurity, plesterisasi/plastikisasi tambak, menebar benur berkualitas dan SPR dengan Kepadatan 80 -100 ekor/m2, serta pengolahan air dengan Ikan Nila sebagai pengendali bahan organik dan penekan bakteri vibrio pada tambak plastik.

Seperti yang sudah diketahui, Dodi mengatakan, pemenuhan benur udang vaname di Jawa Barat diperoleh dari UPT Pusat, UPTD Provinsi, Swasta, maupun Petambak Oslahan. Seperti Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Situbondo, Balai Pengembangan Ikan Air Payau dan Laut Wilayah Selatan (BPIAPLWS) Pangandaran, PT. Surya Tani Pemuka (STP) Lampung, PT. Central Pangan Pertiwi (CPP) Eretan Indramayu dan Anyer, PT. Windu Sukses Indramayu dan Petambak Oslahan/Pengoslah.

Selanjutnya Baca di majalah Info Akuakultur

Manfaatkan Biofilter pada Tambak Sistem Resirkulasi

Satu sisi, teknologi dan metode budidaya udang mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Namun, di sisi lain, kualitas lingkungan sebagai faktor pendukung dalam keberhasilan budidaya mengalami kerusakan yang semakin parah.

Kerusakan lingkungan tak terlepas dari beragam faktor, misalnya pertambahan jumlah penduduk, perluasan kawasan industri, pertanian, peternakan, bahkan industri perikanan. Sebagai contoh, para petambak di kawasan pekalongan menghadapi menurunnya kualitas air tambak karena cemaran industri. Hal ini menjadi salah satu masalah utama para petambak dan budidaya udang vaname dan udang windu.

Menurunnya kualitas lingkungan yang tercemar ikut andil dalam memicu terjadinya serangan penyakit pada udang budidaya. Lingkungan yang buruk, terutama air tambak dapat memicu perkembangan bibit penyakit sehingga menyebabkan wabah bahkan kematian pada udang.

Pada udang windu, serangan penyakit biasanya terjadi setelah 1 hingga 2 bulan penebaran di tambak. Pasalnya, pada waktu tersebut, banyak bahan organik yang sudah tertimbun di dalam air tambak. Hal ini tentu saja menurunkan kualitas air sehingga dapat memicu terjadinya serangan penyakit.

Budidaya udang windu

Meskipun skala produksi tidak sefantastis udang vaname, budidaya udang windu masih diminati oleh sejumlah kalangan para petambak, terutama para petambak kecil. Hal ini tak terlepas dari masih tingginya permintaan pasar terhadap jenis udang ini. Faktor tertinggalnya industri udang windu dibanding udang putih vaname, karena sejumlah faktor. Salah satunya yaitu akibat wabah penyakit WSSV yang memukul telak industri udang windu nasional beberapa dasawarsa silam.

Selanjutnya, faktor lainnya terkait dengan kendala teknis. Seperti diketahui, udang windu, tidak seperti vaname, memiliki daya tahan yang relative rendah. Di samping itu, sulitnya rekayasa genetis pada udang windu membuat para ilmuwan mengalami kendala dalam menghasilkan benih unggul yang tahan terhadap serangan penyakit.

Faktor teknis lainnya yaitu akibat menurunnya kualitas dan daya dukung lingkungan. Kondisi ini sangat berpengaruh pada daya tahan udang windu. Kondisi lingkungan buruk yang tercemar memicu merebaknya bibit penyakit dan menurunkan daya tahan udang terhadap serangan penyakit. akibatnya bisa ditebak, tingkat kelulusan hidup udang menjadi sangat rendah yang sangat merugikan petambak.

Tambak biofilter sistem resirkulasi

Sistem resirkulasi merupakan satu jawaban untuk mengatasi dua persoalan. Pertama, sistem ini menjadi solusi untuk menyiasati buruknya kualitas lingkungan, terutama air tambak yang dipadukan dengan menerapkan teknologi biofilter. Teknologi ini diakui mampu memperbaiki tingkat kualitas air sehingga dapat digunakan untuk budidaya. Yang kedua, teknologi ini diharapkan mampu menekan laju pencemaran perairan umum, misalnya yang ada di sungai dan laut dari cemaran organik dari industri akuakultur. Pasalnya, air buangan dari tambak tidak serta merta dibuang ke badan air umum. Alih-alih, air buangan dialirkan kembali ke saluran masuk tambak dengan mengalami pengolahan terlebih dahulu.

Menurut Rahmat Fadil, peneliti dari Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, sistem akuakultur resirkulasi telah lama diterapkan oleh sejumlah negara maju, seperti negara-negara Eropa dan Amerika. Merunut ke asalnya, sistem akuakultur resirkulasi ini pertama kali diperkenalkan di Amerika Serikat di tahun yang terbilang cukup lama, 1960. Muasalnya, sistem ini diterapkan karena adanya temuan air sungai yang tercemar bahan organik yang berasal dari industri akuakultur. Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah setempat mulai menggunakan RAS untuk kegiatan akuakultur.

Sistem tambak biofilter resirkulasi sangat cocok diterapkan pada daerah-daerah yang memiliki keterbatasan sumberdaya air. Selain itu, sistem ini juga sangat tepat digunakan pada daerah yang kualitas sumber airnya rendah, misalnya karena adanya cemaran rumah tangga, industri, dan lain sebagainya.

Selanjutnya Baca di majalah Info Akuakultur

Budidaya Udang di Bak Beton

Pertumbuhan cepat, mudah di kontrol, dan penggunaan padat tebar tinggi, budidaya udang di bak beton bisa jadi solusi terbatasnya lahan budidaya.

 

Di era yang serba praktis saat ini, melakukan usaha budidaya udang tidak melulu dilakukan ditambak-tambak konvensional. Akibat permintaan pasar akan udang, seperti di Ambon misalnya, karena keterbatasan lahan BPBL Ambon berupaya melakukan uji coba budidaya udang vaname di bak beton bulat.

 

Koordinator Divisi Produksi benih, Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL) Ambon, Heru Salamet mengatakan, di pasaran permintaan udang di Ambon cukup tinggi karena dengan adanya kebijakan pelarangan trowl, jadi pasokan di alam kurang sehingga potensi budidaya cukup menjajikan.

 

“Awalnya bak bulat beton ini sebagai tempat pemeliharaan induk-induk ikan laut dan sekarang digunakan untuk budidaya udang vaname, bahkan kita sudah dua kali panen”, ujar Heru.

 

Bak beton yang digunakan sebagai tempat pemeliharaan udang vaname memiliki kapasitas 30 dan 300 ton. BPBL Ambon manfaatkan bak bekas induk ikan, dengan kedalaman 2,5 meter serta diameter 10 meter dengan padat tebarnya 500/ m2, masa pemeliharaan 85 hari, bisa mendapatkan size 80.

 

Mengenai kelebihan budidaya di bak beton bulat, kata Heru, lebih cepat pertumbuhan, mudah di kontrol, penggunaan padat tebar tinggi. Namun ada kekurangannya seperti kontrol oksigen dan air harus lebih banyak dan kualitas air terutama kandungan oksigen diatas 4 mg/l amoniak dibawah 0,02, nitrit dibawah 0,02.

 

Selain itu suplay pakan juga minimal 40% kandungan proteinnya, untuk di bak beton pengontrolan lebih detil dari hal pemberian pakannya juga airnya bisa kontrol langsung.

 

Pemberian pakan sehari 5-7 kali /hari, caranya lihat anco untuk mengecek jika kurang bisa diberi pakan lagi. Jadi setiap 2 jam diberi pakan atau tergantung kondisinya. Pakan yang ada di anco berkisar 1-2% dari total yang diberikan.

 

Heru menyarankan, dalam budidaya udang di bak beton yang penting selalu menjaga kualitas air, DO minimal 4, amoniak nitrit rendah, juga pakannya diperhatikan. Selama masa pemeliharaan di dapat survival rate (SR) 50-60 %, tapi masih bisa tingkatkan sampai 80 %.

 

Dari situ, tambah Heru, akan selalu ada perbaikan-perbaikan, seperti kualitas air dari oksigennya akan dinaikan lagi. Sebelumnya oksigen terlarut (DO) masih di 3-4 ppm, karena pada bak beton belum menggunakan kincir dan masih pakai aerasi serta blower untuk oksigen di dalam airnya, untuk penebaran berikutnya direncanakan akan menggunakan kincir.

 

Saat ini sudah ada perbaikan bisa ditingkatkan berkisar DO di 4-5 ppm, karena udang semakin banyak kebutuhan oksigen semakin besar. Untuk menjaga kadar oksigen, kata Heru, akan dilakukan panen parsial atau sebagian, kadang juga seluruhnya. Seperti jika panen parsial di size 100, panen yang kedua size 80.

 

“Karena terlalu padat mengganggu pertumbuhan udang lainnya sehingga kita panen parsial”, pungkas Heru. (Resti)

Uji Multilokasi Udang Vaname Nusantara G-4

VN G-4 jadi alternatif pengganti untuk budidaya udang vanname F1

Komoditas perikanan budidaya terutama jenis udang masih merupakan komoditas unggulan dalam program ekspor perikanan Indonesia. Di wilayah tropis seperti di Indonesia, udang vaname diproduksi secara massal dengan penerapan teknologi skala sederhana hingga super intensif dengan beberapa karakter yang spesifik bila dibandingkan dengan jenis udang lainnya.

Untuk mendukung usaha budidaya vaname yang berkelanjutan tidak terlepas dari faktor penyediaan benih yang berkualitas (unggul). Benih udang merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan budidaya di tambak, karena benih juga merupakan komponen sarana produksi yang harus memenuhi standar mutu yang dipersyaratkan untuk menjamin keberhasilan mutu produk dan keamanan pangan serta ramah lingkungan.

Susetyo Pramujo mengatakan, benih unggul hanya dapat diproduksi dari induk yang secara genetik unggul disamping pengaruh kualitas air dan pakan juga memegang peranan yang penting dalam pemeliharaannya. Pemuliaan yang telah dilakukan adalah Cross Breeding (kawin silang) dan Selective Breeding (seleksi).

Pemuliaan yang dilakukan BPBAP Situbondo ini, kata Susetyo, agar nilai pengembangbiakan (breeding value) dari suatu populasi dapat meningkat melalui kawin silang dan seleksi, serta menghasilkan udang yang lebih baik (udang yang tumbuh lebih besar, lebih berat,  lebih tahan penyakit, dan sebagainya).

Program pemuliaan  udang vaname nusantara (VN) melalui seleksi famili telah diperoleh induk – induk udang VN generasi keempat (G-4). Induk VN G-4 selanjutnya dikawin silangkan kembali dimana benih hasil persilangan tersebut akan disebarkan ke beberapa lokasi untuk dilakukan ujicoba di masyarakat.

Uji multilokasi performa benih udang VN G-4 dilakukan di tambak tradisional plus, semi intensif dan intensif. Udang vaname dibudidayakan di Sidoarjo dengan sistim tradisional plus dengan  kepadatan 10 ekor/m2, di Situbondo dengan sistim semi intensif dengan kepadatan 50 ekor/m2 dan di IBAP Lamongan dan di Probolinggo dan Bangil dengan sistim  intensif dengan kepadatan 100 ekor/m2.

“Tujuan uji multilokasi di beberapa lokasi adalah untuk mengetahui pertumbuhan udang vaname nusantara hasil pemuliaan dengan seleksi famili pada generasi keempat di tambak tradisional plus, semi intensif dan intensif”, tambah Susetyo.

Tujuan akhir adalah agar induk udang yang terpilih dapat menurunkan sifat keunggulannya pada turunannya. Apabila hal ini terjadi, ungkap Susetyo, maka generasi berikutnya akan memiliki nilai lebih karena  udang dapat tumbuh lebih cepat sehingga dapat meningkatkan hasil produksi, dan pertumbuhan udang akan lebih efisien.

 

 

Hasil uji multilokasi

Siti Subaidah menjelaskan, udang dipelihara sesuai SOP yang berlaku, monitoring dilakukan 3 kali selama masa pemeliharaan yang meliputi: kualitas air (pH, alkalinitas, Oksigen, Amonia, Nitrit), jenis plankton, penyakit (bakteri dan virus).

Dari hasil pengamatan bobot udang VN G-4 yang dibudidayakan secara tradisional sampai umur 90 hari bisa mencapai berat 12 gram atau size-nya sekitar 83 gram. Sementara untuk yang dibudidayakan pada tambak semi intensif sampai pemeliharaan di dua lokasi di kab. Situbondo dan Kab. Lamongan sampai umur 70 hari bisa mencapai bobot 8,0-8,3 gram atau size sekitar  120- 125 gram.

Sedangkan untuk benur  yang dibudidayakan pada tambak intensif di Prolinggo dan Bangil udang VN G-4  sampai umur 90 hari masa pemeliharaan didapatkan bobot  9,10 gram – 9,40 gram atau size-nya sekitar 108 gram.

“Dari hasil didapat, dengan demikian kiranya udang VN-G4 bisa sebagai alternatif pengganti udang vanname F1”, ujar Siti.

Selanjutnya baca di majalah Info Akuakultur