Inovasi Budidaya Presisi: IoT, Sidat, dan Hilirisasi Teknologi

Transformasi teknologi mulai menjadi kata kunci dalam pengembangan akuakultur modern. Integrasi data, sensor, hingga sistem pemantauan berbasis Internet of Things (IoT) kini membuka jalan menuju praktik budidaya presisi yang lebih efisien, produktif, dan berkelanjutan. Tema tersebut menjadi fokus dalam Webinar Nasional AQUATALK #5 yang diselenggarakan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Budidaya Air Tawar, Organisasi Riset Pertanian dan Pangan (ORPP), Kamis (12/3/2026).

Kegiatan ini diikuti oleh peneliti, akademisi, dinas kelautan dan perikanan dari berbagai daerah, serta praktisi industri. Diskusi menyoroti bagaimana inovasi riset, teknologi digital, dan hilirisasi dapat memperkuat daya saing industri budidaya ikan air tawar Indonesia.

Fahrurrozi, Kepala Pusat Riset Budidaya Air Tawar BRIN menyampaikan bahwa inovasi teknologi budidaya presisi diharapkan dapat mendukung program pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan nilai ekonomi sektor perikanan. Ia juga menekankan pentingnya sinergi antara riset dan implementasi di lapangan agar teknologi yang dikembangkan dapat benar-benar dimanfaatkan oleh pembudidaya.

Webinar yang dimoderatori oleh Iding Chaidir, Perekayasa Ahli Utama Pusat Riset Budidaya Air Tawar, ORPP, BRIN, menghadirkan tiga narasumber dari kalangan industri dan peneliti.

Budidaya Presisi Berbasis Data

Aryo Wiryawan, Co-Founder dan Chairman JALA Tech,  menekankan bahwa budidaya ikan memiliki potensi besar menjadi salah satu pilar ketahanan pangan dan pertumbuhan ekonomi nasional, termasuk melalui peluang ekspor.

Namun, menurutnya, potensi tersebut hanya dapat diwujudkan jika inovasi teknologi diintegrasikan dengan pendekatan industri yang terstruktur.

“Budidaya presisi yang memanfaatkan data, sensor, dan analisis mampu meningkatkan efisiensi produksi sekaligus mengurangi risiko lingkungan,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa pemanfaatan teknologi digital memungkinkan pembudidaya memantau kondisi kolam secara real-time, mulai dari kualitas air hingga performa produksi. Dengan pendekatan ini, pengambilan keputusan menjadi lebih cepat dan berbasis data, sehingga produktivitas dapat meningkat secara signifikan.

Selain itu, hilirisasi teknologi juga menjadi faktor penting agar inovasi dari lembaga riset dapat diterapkan secara nyata di lapangan, terhubung dengan rantai pasok, serta menciptakan nilai ekonomi bagi pembudidaya dan industri.

Peluang Besar Budidaya Sidat

Dalam sesi lain, Deny Firmansyah, CEO PT. Laju Banyu Semesta, mengangkat potensi besar budidaya sidat di Indonesia. Ia menyampaikan bahwa permintaan pasar dunia terhadap sidat masih sangat tinggi, sementara ketersediaan benih di beberapa negara seperti Eropa, Jepang, dan Amerika terus menurun.

Sebaliknya, Indonesia memiliki potensi benih sidat yang relatif melimpah di alam. “Peluang usaha sidat sangat menjanjikan. Harga ikan sidat tinggi dan pasar ekspor terbuka lebar,” jelasnya.

Meski demikian, ia menilai pengembangan sidat di dalam negeri masih terbatas. Salah satu penyebabnya adalah rendahnya tingkat pengenalan masyarakat terhadap komoditas ini, sehingga peluang bisnisnya belum banyak dimanfaatkan oleh pelaku usaha perikanan nasional.

Hilirisasi Riset dan Inovasi

Sementara itu, Fauzan Ali, Peneliti Ahli Utama PRBAT BRIN, menyoroti pentingnya percepatan hilirisasi hasil riset agar inovasi teknologi dapat segera dimanfaatkan oleh masyarakat.

Menurutnya, berbagai hasil penelitian dan inovasi dari lembaga riset sebenarnya sangat dinantikan oleh pelaku usaha untuk meningkatkan kinerja dan produktivitas mereka. Namun dalam praktiknya, proses pengurusan paten dan lisensi seringkali memakan waktu cukup lama.

Ia menilai penyederhanaan regulasi terkait pengusulan paten dan proses lisensi akan membantu mempercepat pemanfaatan teknologi oleh pengguna. Selain itu, kebijakan pimpinan BRIN yang mendorong percepatan hilirisasi inovasi dinilai menjadi langkah positif untuk memperkuat keterhubungan antara riset, industri, dan pasar.

Menuju Industri Akuakultur Tangguh

Diskusi dalam webinar ini menunjukkan bahwa masa depan akuakultur Indonesia tidak hanya bergantung pada peningkatan produksi, tetapi juga pada kemampuan mengadopsi teknologi, mempercepat hilirisasi inovasi, serta membangun kolaborasi antara peneliti, industri, dan pemerintah.

Dengan pendekatan tersebut, budidaya ikan air tawar diharapkan dapat berkembang menjadi industri yang lebih tangguh, transparan, dan berdaya saing global. (Resti)

banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.