Outlook Penyakit Ikan dan Udang 2018

Screenshot_2017-10-26-12-01-44

“Menjaga Stabilitas Produksi dan Memenangkan Kompetisi di Pasar Global”

Keberhasilan Indonesia dalam mencegah masuk dan tersebarnya penyakit Early Mortality Syndrome (EMS)/Acute Hepatopancreatic Necrosis Disease patut diapresiasi. Bagaimana tidak? Dampak serangan EMS telah menurunkan produksi udang secara nasional di beberapa negara seperti Tiongkok, Vietnam, Thailand, Malaysia, India, dan Meksiko. Tercatat, selama periode 2011—2013, produksi udang Thailand mengalami penurunan drastis sebesar 47%, sedangkan Vietnam mengalami penurunan sebesar 43%. Sebaliknya, keberhasilan Indonesia dalam menangkal masuknya EMS justru meningkatkan produksi udang sebesar 42,0% (Trisno Utomo, Kompasiana, 2016).

Indonesia pun aman dari wabah Tilapia Lake Virus (TiLV) yang mewabah di beberapa negara (beritadewata.com).

Tidak mengherankan jika kesuksesan Indonesia dalam mencegah dan mengendalikan berbagai penyakit ikan ini mendapatkan apresiasi dari masyarakat internasional. Fish Health Section–Asian Fisheries Society (AFS-FHS) pun menjadikan Indonesia sebagai tuan rumah dalam penyelenggaraan event 3 (tiga) tahunan Symposium On Disease in Asian Aquaculture yang ke-10 (DAA10) di Bali pada 28 Agustus 2017 lalu.

Meskipun demikian, keberhasilan yang telah diraih saat ini hendaknya tidak membuat industri perikanan budidaya Indonesia terlena. Kegagalan budidaya akibat KHV, WSSV dan IMNV pada masa lalu menjadi pelajaran yang jangan sampai dilupakan. Perubahan iklim global dan pola distribusi produk perikanan lintas negara akibat globalisasi menuntut kewaspadaan. Berbagai upaya mencegah penyebaran penyakit harus dilakukan secara menyeluruh demi keberlanjutan usaha budidaya dan peningkatan target produksi di waktu yang akan datang.

Melihat pentingnya sosialisasi cegah-tangkal penyakit yang potensial menyerang lahan perikanan budidaya, Majalah Info Akuakultur bekerjasama dengan Indonesian Network on Fish Health Management (INFHEM) dan Sekolah Tinggi Perikanan (STP) berinisiatif menyelenggarakan seminar nasional tentang Outlook Penyakit Ikan dan Udang 2018 dengan tema Menjaga Stabilitas Produksi Akuakultur dan Memenangkan Kompetisi di Pasar Global.

Dalam seminar ini akan diundang narasumber yang professional dalam bidang kesehatan ikan terutama penyakit ikan, udang dan piawai dalam penyampaiannya sehingga mudah dipahami dan dimengerti oleh peserta seminar yang berasal dari peneliti, praktisi, pelaku usaha akuakultur dan pemangku kepentingan yang terkait lainnya.

Deteksi dini penyakit dapat meminimalkan risiko kegagalan budidaya. Dengan mengikuti kegiatan ini, para peserta diharapkan mengetahui ragam jenis penyakit ikan, meliputi penyebab, karakteristik patogen, gejala klinis, pola penyebaran, diagnosis, serta cara pengendaliannya. Semakin banyak pelaku usaha di bidang perikanan budidaya yang memahami dan mengaplikasikan ragam upaya cegah-tangkal penyakit ikan tersebut, semakin optimis pula kemajuan yang akan diraih industri perikanan budidaya di masa datang. Dengan komoditas yang sehat dan kepastian stabilitas produksi, meraih juara di pasar global bukan sekadar impian.

Pembicara :

  1. Dr. Slamet Budi Prayitno (Guru Besar FPIK UNDIP)”
  2. Taukhid (Peneliti di Badan Riset dan SDM Kelautan dan Perikanan, KKP)
  3. Yuri Sutanto (Peneliti PT. Central Proteina Prima)
  4. Ir. Maskur, M.Si (Ketua Infhem) sebagai Moderator

Acara akan berlangsung pada:

  • Hari/ tanggal  : Rabu, 29 November 2017
  • Pukul                : 10.00 -14.00
  • Tempat             : Sekolah Tinggi Perikanan (STP), Jl. AUP Pasar Minggu, Jakarta Selatan
  • Biaya                 : Rp 400.000/ orang
  • Informasi selengkapnya hubungi: Rudi E Alamsyah hp 0812 8811 2073 , Rizky hp 0896 5473 3750.

Pelatihan Akuaponik – Bioflok

Peningkatan sistem efesiensi produksi akuaponik dengan aplikasi teknologi bioflok

Topik Pelatihan:

1. Overview perkembangan akuaponik dan bioflok di Indonesia

2. Dasar – dasar teknologi bioflok dan penerapannya untuk akuaponik

3. Desain sistem akuaponik dan bioflok berdasarkan metode dan jenis

4. Pengendalian hama dan penyakit

5. Manajemen dan penyelesaian masalah

6. Blue ekonomi dan urban farming

7. Produksi untuk komersial dan pemasaran

8. Identifikasi peluang pengembangan akuaponik – bioflok

9. Praktek

10. Fieldtrip

 

Tempat: Ruang Matoa SEAMEO BIOTROP,  Jl. Raya Tajur KM. 6 Bogor

Fasilitas: Seminar, praktek langsung, fieldtrip snack, makan siang

Persyaratan, peserta merupakan  pembudidaya ikan/ pelaku usaha atau hobiis akuaponik/ Sekolah vokasi/ Pegawai pemerintah/ CSR/ LSM/ Akademisi

PENDAFTARAN: isi formulir di www.biotrop.org dan kirim ke [email protected] paling lambat 10 September 2017

GRATIS terbatas untuk 30 orang peserta

 

Informasi selanjutnya hubungi: Dewi Yuniati 087875409235 email: [email protected]

Seminar Pencegahan TiLV di Indonesia Diperlukan Solusi Jangka Pendek dan Jangka Panjang

Pemerintah dan pelaku usaha perlu menjalankan lima langkah pengendalian penyakit TiLV jangka pendak dan dua langkah pengendalian jangka panjang

 

 

Demikian dikemukakan oleh Angela Mariana Lusiastuti, Peneliti dari Badan Riset dan Sumber Daya Manusia KKP dalam seminar “Pencegahan Penyakit Tilapia Lake Virus (TiLV) di Indonesiadi Gedung Mina Bahari IV, Jakarta, 9 Agustus 2017.

 

saat seminar TiLV menghadirkan Angela Mariana Lusiastuti (kanan), Maskur (tengah), Wiwin Wiyani (kiri). (dok. Resti)
saat seminar TiLV menghadirkan Angela Mariana Lusiastuti (kanan), Maskur (tengah), Wiwin Wiyani (kiri). (dok. Resti)

Seminar ini diselenggarakan oleh Majalah Info Akuakultur bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya  KKP dan INFHEM (Indonesian Network on Fish Health Management). Seminar disambut antusias oleh lebih dari  100 peserta yang hadir dari berbagai kalangan di pusat dan daerah di Indonesia antara lain pelaku budidaya, industri pakan ikan, obat ikan, peralatan budidaya, peneliti, karantina ikan, dan utusan dari Dinas Kelautan dan Perikanan dari Jambi, Lampung, Serang, Surabaya, Jawa Timur, Jogjakarta, Banjarmasin dan  sebagainya.

 

Hadir juga pejabat dari KKP serta eksekutif perusahaan, antara lain Asep Dadang Koswara (Kepala Balai Uji Standar Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan), Mukti Sri Hastuti (Kasubdit Hama dan Penyakit Ikan), Tri Aristiyani (Kasubdit Residu), Imam Barizi (Kasubdit Penataan Kawasan), Anang Hermanta (Sinta Prima Feedmill), Edi Prijono (Cargil), Andrew Darmawan (PT Biochem Zusatzstoffe), Rudi Antoni (PT Dian Natura Agrifarma), Yuri Sutanto ( CP Prima), Uus Surya (GPMT), Adnan Kharisma (PT Alltech Biotechnology), Luqman Raya (PT ISSU Medika Veterindo), Emmi Roosmasari (PT Marindolab Pratama), Dewi Nawang Palupi (PT Sanbe Farma), Muhibbuddin (Ocialis/ PT Wirifa Sakti), Ken Tami Palupi (PT Zoetis Animal Health Indonesia), Suhardi (PT Kalbe Farma), Hendi (PT CJFS), dll.

 

Peserta
Peserta

Seminar dipandu oleh Ketua INFHEM Maskur, menghadirkan pembicara Angela Mariana Lusiastuti dan Wiwin Wiyani (Pengendali Hama dan Penyakit Ikan/PHPI di Loka Pemeriksaan Penyakit Ikan dan Lingkungan/LP2IL Serang). Angela memaparkan tentang ciri-ciri penyakit TiLV dan strategi pengendaliannya, sedangkan Wiwin Wiyani menjelaskan metode uji laboratorium untuk menetapkan keberadaan penyakit TiLV.

 

Dalam paparannya Angela menyampaikan, Tilapia adalah komoditas perikanan yang sangat penting di Indonesia karena Indonesia adalah produsen Tilapia nomor 2 terbesar di dunia. Tiga negara produsen ikan Tilapia terbesar di dunia, adalah  China sebesar 1,78 juta ton, Indonesia 1,12 juta ton dan Mesir 0,88 juta ton.

 

“Oleh sebab itu, pengendalian penyakit pada Tilapia sangat diperlukan,” ujarnya. Khusus untuk mengendalikan penyakit TiLV, Angela menganjurkan pengendalian jangka pendek dan jangka panjang.  Tindakan jangka pendek untuk mengendalikan TiLV ada 5 langkah utama yakni biosekuriti, memusnahkan ikan yang terinfeksi, melakukan karantina ikan, pembatasan lalu lintas/perdagangaan ikan dan pengendalian vektor.

 

“Sedangkan untuk jangka panjang, pengendalian TiLV perlu dilakukan dengan vaksinasi dan seleksi tilapia tahan TiLV” ujar Angela.

 

“Di forum ini hadir juga perwakilan produsen obat ikan, diharapkan ke depan kita mampu memproduksi vaksin untuk TiLV,”tambahnya.

 

 

Langkah Pemerintah

 

Arik Hari Wibowo
Arik Hari Wibowo

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya yang diwakili oleh Direktur Kawasan dan Kesehatan Ikan, Arik Hari Wibowo, dalam sambutan pembukaannya mengatakan, sebagai salah satu negara penghasil Nila terbesar dunia, Indonesia perlu mewaspadai masuk dan tersebarnya penyakit Tilapia Lake Virus (TiLV) ke dalam wilayah Negara RI.

 

“Dapat dibayangkan jika penyakit TiLV ini masuk dan menyebar ke wilayah Republik Indonesia, maka budidaya ikan Nila akan mengalami nasib yang sama seperti hancurnya budidaya ikan mas akibat serangan penyakit Koi Herpes Virus (KHV) pada Tahun 2002 silam”, ujar Arik.

 

Ia menjelaskan, sejumlah langkah telah diambil pemerintah untuk mencegah masuknya TiLV diantaranya, pertama; Mengeluarkan surat edaran DJPB No. 3975/DJPB/VII/2017 tanggal 14 Juli 2017 tentang pencegahan dan pemantauan terhadap penyakit TiLV pada ikan nila. Kedua; melakukan pengetatan terhadap impor induk, calon induk dan benih ikan Tilapia dari luar negeri khususnya dari negara – negara yang sudah terjangkit penyakit TiLV.

 

Ketiga; Membatasi impor induk, calon induk dan benih ikan nila dari negara yang tidak terjangkit TiLV dengan ketentuan melampirkan hasil uji ikan hidup  serta melakukan uji mutu di pintu pemasukan ikan. Serta keempat; Menggunakan benih-benih ikan yang tersertifikasi TiLV, mendorong penerapan CBIB (Cara Budidaya Ikan yang Baik) dan CPIB (Cara Pembenihan Ikan yang Baik).

 

Kerjasama Berlanjut

 

saat seminar
saat seminar

Seminar ini menjadi demikian penting, karena Arik mengikuti acara ini sejak awal hingga akhir acara. Ia ikut aktif menanggapi pertanyaan peserta mengenai bagaimana langkah yang dilakukan pemerintah dalam mengatasi penyakit TiLV serta berbagai pertanyaan lainnya. Secara khusus Arik menyatakan “surprise” dengan hadirnya banyak peserta dari berbagai lembaga pemerintah dan swasta, serta para pembudidaya dari berbagai daerah.

 

Ia juga mengucapkan terima kasih kepada majalah Info Akuakultur dan INFHEM yang telah bekerja keras bersama Tim dari Ditjen Perikanan Budidaya  sehingga acara ini dapat berjalan dengan lancar.

 

“Kami siap bekerjasama di waktu yang akan datang untuk mensosialisasikan berbagai topik tentang kesehatan ikan yang dibutuhkan masyarakat,” tambahnya. (Resti/Bams)

 

 

Komentar Peserta

 

  1. Lilia Widajatiningrum, Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Jawa Timur
Lilia Widajatiningrum
Lilia Widajatiningrum

Seminar kali ini sangat up to date, karena jenis penyakit ikan yang dibahas terbilang baru jadi sudah tentu akan bermanfaat bagi para pelaku budidaya ikan air tawar di Indonesia.

 

 

 

 

  1. Hartadi, Sales Manager Pakan Ikan PT Sinta Prima Feedmill
Hartadi
Hartadi

Pesan yang disampaikan pada seminar kali ini dinilai sampai dan tepat sasaran untuk mengatasi permasalahan kasus kematian ikan yang belum jelas penyebabnya, semoga akan memberikan manfaat untuk para pembudidaya.

 

 

 

  1. Astuti, PHPI Madya, Koordinator Laboratorium Dinas Kelautan dan Perikanan DIY
Astuti
Astuti

Menambah wawasan dalam hal penyakit ikan dan memberikan pengetahuan bagaimana cara mendiagnosa akibat kematian ikan yang tidak jelas penyebabnya. Informasi bermanfaat ini juga akan di share sehingga kepada para pembudidaya yang ada di DIY.

 

 

 

  1. Muhibbuddin, Marketing Pakan Ikan Ocialis
Muhibbuddin
Muhibbuddin

Manfaatnya seminar ini sangat besar, TiLV merupakan hal yang baru pada era sekarang ini. Budidaya ikan di waduk beberapa musim suka mengalami kematian masal saat menjelang konsumsi. Makanya dengan acara seperti ini sangat berguna.

 

 

 

  1. Daniel Mastri Nugraha, Shrimp Technical Service Aquatic Health Center Dept. P.T. Central Proteinaprima Tbk

 

Daniel Mastri Nugraha
Daniel Mastri Nugraha

Seminar ini membuka mata bagi para pelaku usaha budidaya ikan air tawar mengenai penyakit TiLV, diharapkan ke depan juga diadakan seminar serupa dengan membahas ke arah penanganan penyakitnya.

 

SEMINAR PENCEGAHAN PENYAKIT TILAPIA LAKE VIRUS (TiLV) DI INDONESIA

IMG-20170721-WA0072

Sebagai salah satu negara penghasil Nila terbesar dunia, Indonesia perlu mewaspadai
masuk dan tersebarnya penyakit Tilapia Lake Virus (TiLV) ke dalam Wilayah Negara RI.
Dapat dibayangkan jika penyakit TiLV ini masuk dan menyebar ke wilayah Republik
Indonesia, maka dapat dipastikan budidaya ikan Nila akan mengalami nasib yang sama
seperti hancurnya budidaya ikan Mas akibat serangan penyakit Koi Herpesvirus pada
Tahun 2002 silam.
Langkah-langkah pencegahan yang sistematis, terintegrasi, serta terencana perlu
ditetapkan untuk kemudian dilaksanakan dengan penuh komitmen dengan melibatkan
seluruh stake holder. Informasi penyebab, karakteristik pathogen, gejala klinis, pola
penyebaran, diagnosis serta langkah-langkah pencegahan perlu disosialisasikan kepada
semua pihak. Untuk itu, maka atas inisiasi Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya dan
Majalah Info Akuakultur akan dilaksanakan “Seminar Sehari tentang Pengenalan serta
Pencegahan Penyakit TiLV di Indonesia”.

 

50 Pembudidaya Ikan Hias Kota Bandung Mengikuti Pelatihan di BPPPUIH Cianjur

bandung

Balai Pelestarian Perikanan Perairan Umum dan Ikan Hias (BPPPUIH) Cianjur bekerja sama dengan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Bandung menggelar pelatihan budidaya ikan hias di Cianjur, Jawa Barat. Tidak kurang sebanyak 50 perserta berpartisipasi untuk mengikuti kegiatan yang di gelar selama tiga hari dari tanggal 17 – 19 Oktober 2016.

Kepala Balai BPPPUIH Cianjur Endang HS, SP., MM mengatakan, pelatihan diversifikasi usaha budidaya ikan hias ini merupakan kegiatan dari Gerakan Citarum Bestari  (bersih, indah dan lestari) yang mana gerakan ini di cetuskan pada 2014 oleh Gubernur Jawa Barat di  Kecamatan Majalaya di Kab. Bandung.

Endang menambahkan, diversivikasi usaha dalam bidang perikanan ini diharapkan dapat memberikan alternatif bagi para petani sayuran yang ada di hulu sungai Citarum di Gunung Wayang dan sekitarnya seperti yang ada di Kecamatan Kertasari dan Kecamatan Pengalengan.

Foto 2Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Bandung Ir. Elly Wasliah mengatakan, maksud dan tujuan pelatihan bagi para petani ikan hias adalah sebagai wadah belajar bagi para pembudidaya ikan hias dalam meningkatkan wawasan, pengetahuan dan keterampilan dalam mengelola usaha budidaya ikan hias pada kesempatan ini  dikhususkan bagi para pembudidaya ikan hias yang berdomisili disekitar sempadan sungai.

“Dengan mengikuti pelatihan ini diharapkan para pembudidaya ikan hias yang berada di sepanjang aliran sungai selain dapat meningkatkan produksinya juga dapat memanfaatkan kearifan sumber daya alam yang ada di sepanjang sungai sehingga kelestarian lingkungan dapat terjaga,” tambah Elly.

Seperti yang sudah banyak diketahui, Jawa Barat merupakan penghasil ikan hias ke-2 terbesar di Indonesia setelah Jawa Timur, jenis ikan hiasnya cukup bervariasi, salahsatunya yang menjadi fokus adalah ikan koi.

Kepala Bidang Produksi Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Bandung Ir. Foto 3Galih Praasih menjelaskan, pasar ikan hias di Kota Bandung selain untuk memenuhi kebutuhan permintaan konsumen dalam Kota Bandung sendiri juga untuk memenuhi kebutuhan ekspor.

Permintaan kebutuhan ekspor peluangnya besar sekali, kata Galih, terutama untuk Ikan Siklid (frontosa) yang merupakan unggulan produksi, namun Kota Bandung masih belum bisa memenuhi kebutuhannya. “Sebagian besar kebutuhan pasar ikan hias di Kota Bandung masih didatangkan dari luar Kota Bandung hanya 4% saja yang dipenuhi dari produksi Kota Bandung sendiri,” ungkap Galih.

Kenapa ikan hias?

Para hobbies ikan hias di Indonesia saat ini sudah semakin menjamur, yang namanya sudah hobi pasti rela membelanjakan uanganya untuk memenuhi rasa cintanya terhadap ikan hias. Endang menjelaskan, fenomena ini yang kita lihat sebagai peluang dan sediakan sarana pelatihan bagi 50 pembudidaya ikan hias.

“Ada hal yang membuat orang tertarik dengan budidaya ikan hias karena harganya yang relatif bagus, mempunyai nilai ekonomis tinggi dan peluang pasarnya masih besar terutama untuk ekspor,” ujar Endang.

Untuk melakukan usaha budidaya ikan hias tidak membutuhkan lahan yang luas, lahan yang sempit pun sudah dapat menghasilkan seperti halnya di Kota Bandung dengan alih fungsi lahan yang tinggi keberadaan usaha ikan hias masih menjadi pilihan usaha dengan memanfaatkan pekarangan atau halaman, serta dak rumah.

Terjun ke lapangan

Setelah dua hari pelatihan di BPPPUIH Cianjur yang lebih membahas teori dan teknis budidaya ikan hias, hari ketiga kegiatan seluruh peserta mengunjungi Pasar Ikan Hias Laladon dan mengunjungi Kelompok Usaha Bersama Budidaya Ikan Hias di Kp. Jampang Pulo, Desa Jampang, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor.

Di situ dilihat langsung bagaimana budidaya berbagai jenis ikan hias dan melihat bagaimana pemasaran ikan hias. Dengan ada kegiatan ini, Petugas Teknis Pendamping dari Dinas Pertanian Ketahanan Kota Bandung Yudha Galtieri, S.Pt, mengungkapkan kami ingin meningkatkan kapasitas SDM khususnya di pembudidaya ikan hias.

“Jadi bagaimana caranya melalui pelatihan ini diharapkan pembudidaya ikan hias bisa lebih terampil, sehingga besar harapan SDM hasil dari pelatihan ini kedepannya dapat menunjang program pengembangan kampung ikan hias di kota Bandung,” kata Yudha.

Tidak jauh berbeda dengan Yudha, Koordinator Penyuluh Pertanian Lapangan Kota Bandung Cucum Sumiati, A.Md mengatakan, kegiatan ini bisa dijadikan sebagai wadah untuk ajang silaturahmi antar anggota dengan penyuluh, sebagai tempat wahana belajar, dan ajang diskusi tukar-menukar informasi untuk kesejahteraan peningkatan ikan hias.

“Para pembudidaya  ikan hias yang sudah dibekali dengan  ilmu dalam pelaihan ini diharapkan dapat meningkatkan produksinya sehingga meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan bagi keluarganya,” tutur Cucum. (Adv/Resti)

Testimoni

  1. Foto 4Jajang Nurjaman, Cibiru

Mengikuti pelatihan ini untuk menambah wawasan dan  ilmu pengetahuan tentang budidaya ikan hias, mempererat tali silaturahm antar pembudidaya atau kelompok pembudidaya ikan hias, serta bisa memperluas jaringan atau relasi yang bertujuan untuk ke arah yang lebih maju lagi.

  1. Foto 5Anna Agustina, Ujung Berung

Pelatihan ini sangat bermanfaat untuk para wirausaha di bidang budidaya ikan hias karena dipelatihan ini kami mendapatkan ilmu yang baru dan memotivasi kami untuk terus semangat pantang menyerah menjalankan dan mengembangkan usaha dibidang ikan hias yang sangat menjanjikan.

  1. Foto 6Asep Tristian, SP, Babakan Ciparay

Acara ini sangat bermanfaat sekali, di Bandung baru kali ini ada pelatihan semua pembudidaya ikan hiasnya di bawa ke balai, berbeda dari tahun-tahun sebelumnya yang hanya pelatihan skala dinas saja.

Pelatihan Budidaya Lele Sistem Bioflok

 

Pelatihan Bioflok Info Akuakultur

Pakar budi daya Lele Sangkuriang, Nasrudin menyebutkan, kebutuhan ikan Lele untuk pasar di wilayah Jabodetabek sebanyak 240 ton per harinya belum terpenuhi.

“Tapi sampai saat ini (peternak lele) belum mampu memenuhi kebutuhan pasar untuk wilayah Jabodetabek setiap harinya,” ujar Nasrudin saat ditemui di lokasi pembibitan Lele Sangkuriang miliknya di Desa Gadog, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor, Selasa (24/3).

Nasrudin mengatakan, dari 240 ton kebutuhan lele di Jabodetabek, yang baru bisa terpenuhi hanya 140 ton per harinya yang berasal dari peternak Lele di wilayah Bogor Raya yang memasok 80 ton hingga 100 ton sisanya dibantu dari peternak Lele wilayah Jawa.

Ia mengatakan, pemasaran Lele selain untuk konsumsi rumah tangga juga untuk gerai kuliner pecel Lele yang berjumlah 50.000 tenda tersebar di wilayah Jabodetabek. “Makanya kita tidak bisa mengekspor Lele karena untuk kebutuhan dalam negeri saja masih kurang,” ujar Nasrudin. (Sumber Republika Online)

Bioflok pada lele mulai banyak diminati. Tak heran, antusias masyarakat mengikuti pelatihan ini disebabkan sistem ini memiliki banyak keunggulan. Beberapa keunggulan sistem bioflok antara lain sebagai berikut.

Keunggulan bioflok #1. Hemat air

Sistem bioflok mampu menghemat penggunaan air, sedikit atau bahkan tanpa penggunaan air. Dalam sistem bioflok, amoniak yang menjadi musuh budidaya justru dijadikan sebagai salah satu sumber bahan baku protein untuk pakan ikan. Dengan penanganan yang tepat, penggantian air sedikit atau bahkan tidak perlu sama sekali.

Keunggulan bioflok #2. Hemat pakan

Selain menghemat air, sistem bioflok juga menghemat pakan ikan. Jika populasi  hingga diperoleh FCR 0,7. Artinya, dari 0,7 kg pakan yang diberikan mampu menghasilkan 1 kg daging. Mustahil!

Benar. Hampir mustahil mendapatkan nilai FCR tersebut jika menggunakan sistem budidaya yang biasa, cara budidaya yang biasa. Dengan sistem bioflok, pakan tidak hanya berasal dari pakan buatan atau alternatif yang diberikan, melainkan flok alami yang dihasilkan oleh sistem bioflok.

Keunggulan bioflok #3. Padat tebar tinggi

Jika cara tradisional hanya mampu menampung ikan sebanyak 100-300 ekor/m2, sistem bioflok mampu menampung 500 hingga 2.500 ekor/m2. Apakah mungkin?

Sangat mungkin, jika menggunakan sistem bioflok. Dengan sistem bioflok, air kolam sebagai media tempat hidup ikan akan terjaga kualitasnya.Ikan pun akan merasa nyaman meskipun agak sedikit hidup berdesakan.

Keunggulan bioflok #4. Bisa dibudidayakan di tempat terbatas/perkotaan

Dengan sistem bioflok, keterbatasan lahan tidak lagi menjadi masalah. Budidaya sistem bioflok bisa dilakukan meskipun lahan telah tertutup semen. Anda pun bisa membuat kolam di atas dak atap rumah jika memungkinkan kekokohannya.

Tak hanya membahas persoalan teknis budidaya lele dengan sistem bioflok, pelatihan yang diselenggarakan atas kerjasama Info Akuakultur dengan Farm 165 sebagai pihak yang ditunjuk sebagai P2MKP oleh DKP ini juga akan membahas mengenai cara membangun dan mengelola usaha. Tanpa pengetahuan dalam manajemen usaha, budidaya yang berhasil menghasilkan produksi tinggi bisa jatuh karena tidak mampu mengelola aset dengan baik. Oleh sebab itu, dibutuhkan ilmu manajemen pengelolaan usaha yang baik.

Segera daftarkan diri Anda, ikuti pelatihan budidaya ikan sistem bioflok plus plus ini.

Hubungi:

Rizky Yunandi 021 7829689, 089654733750

Infoakuakultur
Gedung ASOHI Grand Pasar Minggu
Jln. Raya Rawa Bambu No.88A
Pasar Minggu, Jakarta Selatan 12520