Webinar Outlook Penyakit Ikan dan Udang 2021

Sejak Presiden RI Joko Widodo menetapkan subsektor perikanan budidaya sebagai sumber utama untuk meningkatkan produksi sektor kelautan dan perikanan, saat itu dorongan peningkatan dilakukan dalam berbagai upaya dan cara.

Di antara komoditas perikanan, udang vaname merupakan hewan akuatik budidaya yang paling penting. Banyak pengusaha mulai melirik bisnis budidaya udang vaname karena hasilnya cukup menggiurkan. Saat ini produksi udang vaname baru mencapai 860 ribu pada 2020 dari target pemerintah 2 juta ton per tahun.

Salah satu cara agar produksi perikanan budidaya bisa stabil dan terus meningkat, adalah penggunaan antimikroba yang bertujuan untuk mengobati infeksi atau penyakit pada komoditas perikanan yang sedang dikembangkan pada kolam atau tambak.

Di sisi lain, penggunaan antimikroba juga harus dilakukan atas petunjuk dari tenaga medis atau dokter hewan. Dengan demikian, pengobatan infeksi bisa menjadi tepat dan produksi pada tambak akan berjalan seperti yang diharapkan.
Antimikroba sendiri adalah obat yang di dalamnya terdapat berbagai organisme seperti virus, bakteri (bios/biotik), jamur, dan protozon atau parasit. Kandungan di dalam antimikroba tersebut penting karena bisa menjadi obat untuk mengobati infeksi pada komoditas perikanan.

Jika dilakukan secara sembarangan dan bahkan berlebihan, antimikroba akan menyebabkan resistensi pada komoditas perikanan yang sedang diobati. Dari tujuan awal untuk mengobati, jika terjadi resistensi maka yang muncul adalah ancaman kematian pada komoditas perikanan.

Mengingat pentingnya antimikroba untuk mengobati infeksi pada komoditas perikanan yang diakibatkan serangan organisme jahat, maka penggunaannya menjadi penting untuk dilakukan oleh para pembudidaya ikan. Namun, antimikroba yang akan digunakan juga harus dalam jumlah yang tepat.

Penggunaan antimikroba yang sembarangan dalam produksi perikanan budidaya, dinilai berbahaya karena bisa menyebabkan kematian pada komoditas yang sedang dikembangkan. Obat yang bertujuan untuk menghentikan infeksi, justru menjadi resisten jika tidak tepat penggunaannya dan berbahaya bagi keberlangsungan produski dan bisnis akuakultur.

Resistensi kuman pada antimikroba mengancam kesehatan masyarakat secara global. Untuk itu, penanggulangannya harus multisektor dengan pendekatan one health atau terintegrasi. Ada tiga elemen penting implementasi penanggulangan resistensi antimikroba. Tiga elemen itu adalah pencegahan, deteksi, dan respons.

Webinar yang diadakan dengan kerjasama INFHEM dan Majalah Info Akuakultur serta GITA EO mengangkat judul “Mitigasi Resistensi Antimikroba untuk Keberlangsungan Produksi dan Bisnis Ikan dan Udang di Indonesia”. Acara ini merupakan agenda tahunan, dengan menghadirkan narasasumber yang ahli di bidangnya. Semoga bisa menjadi solusi, para pembudidaya usahanya maju, bisa mengatasi penyakit pada budidayanya, dan panennya optimal.

Salah satu tujuan webinar ini juga untuk sharing pengalaman dan menambah wawasan mengenai penggunaan obat-obatan anti mikrobia dan Mitigasi Bakteri Resistensi Antimikroba untuk Keberlangsungan Produksi dan Bisnis Ikan dan Udang di Indonesia.

Topik Narasumber:
1. Dr. Ir. S. Budi Prayitno, M.Sc (Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Diponegoro). “Kebijakan dan Peraturan Penggunaan Antimikrobia dalam Akuakultur”
2. Dr. drh. Angela Mariana Lusiastuti, M.Si (Peneliti di Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar dan Penyuluhan Perikanan, Bogor BRSDMKP). “Mekanisme kerja Antimikrobia dan aplikasinya dalam budidaya ikan”
3. Dr. Ir. Heny Budi Utari, M.Si (Head Divisi Free Market Technical Service Shrimp and Laboratory Service PT Central Proteina Prima). “Antinikrobia dan Pengendalian Penyakit Udang”

Moderator:
Dr. Muhammad Rifqi, S.Pi, M.Si (Sekretrais INFHEM)

Link Pendaftaran:
https://bit.ly/outlookikan-udang2022

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.